Jembrana, 8 November 2024
Sedikit rangkaian cerita yang tidak rapi dari seorang wanita single yang memilih merantau ke Bali diusianya yang ke 27th. Ada beberapa point penting dalam tulisan ini yaitu "merantau, single dan Bali".
Sebuah kehidupan yang nyaman, walaupun ini bukan impiannya. Sekalinya merantau langsung ke luar pulau Jawa, yang kalau pulang kampung harus melewati segara, atau lautan.
Tapi kalau nggak gini, enggak tau kan, kalo akses dari Bali PP ke Jawa itu banyak banget pilihan transportasi umumnya, dan bisa dijangkau dari segi harga. 😃
Walaupun sebenarnya, banyak teman yang kaget dan heran. Ada yang bilang aku nekat, karena hanya demi mengejar status pegawai saja aku rela jauh dari orang tua. Hiks sedih, tapi setelah kupikir pikir sekarang emang aku sedikit sedih juga jauh dari orang tua. Mana mereka sudah tua, walaupun masih produktif. 🥲
Lalu sekarang kita bicara tentang statusku ini, hmm dimulai dari alasanku berangkat kesini adalah ada andil motivasi dari seseorang yang sudah lebih dulu menjadi "pegawai" di kampung halamanku. Seseorang yang bilang, gampanglah LDR. Tapi, singkat cerita menurut POV ku dia malah menghilang seiring berjalannya waktu. Tepatnya setelah aku sampai sini, dia makin lama makin jauh dan akhirnya kita lost contact.
Akhirnya untuk sekarang, dalam waktu 6 bulan aku dibali aku belum menemukan seseorang yang menggantikannya. Walaupun aku sudah merasakan jatuh cinta di Bali. 😌
Dan untuk Bali sendiri, nyaman. Tempat terindah untuk tinggal. Tapi aku masih belum ada bayangan untuk pendidikan anakku kedepan. Wkwk masih belum nikah ni, dah ngomongin anak aja. Tapi memang menurut ku, Bali itu cocok untuk kita yang sudah mengerti hal yang baik dan buruk. Jika kita masih putih bersih, sangat "rawan"
Bali tempat healing setiap hari. Beneran deh. Pantai, gunung, semua jalan mudah diakses. Cafe juga banyak, estetik. Dan aku merasa santai sekali bekerja disini. Dan juga, tau tau sudah banyak tagihan paylater haha 😃.