Ada sebuah rumah yang berdiri di ujung jalan sepi,
Dindingnya memang terlihat masih tegak, atapnya belum runtuh keseluruhan, namun di dalamnya cahaya sudah terlalu lama jarang dinyalakan,
Beberapa ruang telah lama terkunci. Debu menumpuk di sudut² yang dulu ramai. Di ruang tengah, hanya ada satu lampu kecil yang dibiarkan menyala—bukan untuk menerangi, melainkan agar rumah itu tak sepenuhnya gelap,
Rumah itu pernah menahan badai sendirian. Pernah menutup jendelanya rapat² agar angin tak melihat betapa rapuhnya fondasi,
Ia terbiasa memperbaiki retaknya sendiri, meski bahan baku yang dipakai kerap bercampur dengan lelah dan banyaknya penyesalan. Tapi malam² belakangan terasa lebih panjang. Sunyi tak lagi hanya diam, ia menggema,
Mengisi setiap ruangan yang kosong, membuat tembok²nya terasa makin jauh satu sama lain,
Dan untuk pertama kalinya, rumah itu tidak hanya berharap ada yang singgah. Ia ingin diketuk. Ingin pintunya dibuka dari luar, lalu seseorang masuk tanpa takut pada berantakan yang ada, pada rusaknya yang terlihat. Bukan untuk membangun ulang seluruhnya. Bukan untuk menanggung retak yang tercipta dulu. Hanya untuk berdiri di ruang tengah, menyalakan lampu² yang telah lama padam, dan berkata bahwa rumah ini masih layak untuk dihuni,
Jika boleh…, rumah itu ingin dipeluk oleh kehadiran. Ingin ditarik perlahan dari gelap yang mulai menetap, sebelum ia benar² percaya bahwa sepi adalah satu²nya penghuni yang tersisa,
Dan semalam untuk pertama kalinya di bawah langit yang terlalu luas, rumah itu pada akhirnya berani memanggil untuk sebuah nama diujung rapuh yang hampir membuatnya benar² runtuh tak bersisa—bukan karena tak mampu berdiri sendiri lagi, melainkan karena ia lelah menjadi kuat sendirian selama ini.