Selepas nanti tangismu telah diseka, jangan sampai lupa jika kamu punya Allah yang melipur lara.
Selepas nanti hatimu tak lagi kecewa, jangan sampai lupa jika kamu punya Allah yang selalu ada.
Selepas nanti marahmu telah mereda, jangan sampai lupa jika kamu punya Allah yang melapangkan dada.
Selepas nanti rindumu tak lagi terasa, jangan sampai lupa jika kamu punya Allah yang menemanimu kapan saja.
Selepas nanti dukamu perlahan mulai sirna, jangan sampai lupa jika kamu punya Allah yang mengobati luka.
Nggak apa-apa, namanya kita hanya manusia. Maka tetaplah menjadi manusia—dan memanusiakan. Termasuk memanusiakan diri kita sendiri. Izinkanlah diri kita untuk menerima rasa dan belajar dari apa yang tengah kita alami. Nanti, di titik kita menyadari betul bahwa kita hanyalah manusia biasa, maka di situlah akan tumbuh rasa jika kita memang tak sama sekali memiliki daya upaya. Apalah kita tanpa kasih sayangNya. Hanyalah Allah yang menguasai segalaNya.
Dan dari sanalah pula nanti yang akan mampu melahirkan kesadaran. Melahirkan keyakinan bahwa ketika Allah masih sayang dengan kita, masih membersamai kita, kita selalu punya kesempatan. Selalu punya harapan.
Maka, untuk apapun yang kita telah lewati, untuk apapun yang sedang kita takuti nanti, dan untuk apapun yang telah terjadi hari ini, jangan pernah meniadakan kehadiran Allah di hati.
Ingatlah jika selalu ada Allah di atas segala kehidupan ini. Ada Allah. Sungguh, ada Allah. Selalu ada Allah.














