Tell me when I'm wrong, trust me when I'm right. I'm just a face in the crowd and a silent in the dark. I'm just like everybody else, I'm doing things. No hard feelings! :)
Pagi ini tepat pukul 05.00. Aku terbangun ditemani gelapnya ruang kamar. Sambil perlahan-lahan mengumpulkan sisa-sisa serpihan energi yang telah ku pakai tadi malam, aku bergerak meraba-raba keadaan, berharap bisa memenangkan saklar lampu untuk bisa menerangkan sesuatu berukuran 3 x 2,5 meter ini. Mau ke mana hari ini? Aku pun tidak tahu. Sepertinya inspirasi enggan untuk mau mengetukkan jari tengahnya ke pintu ideku pagi ini. Setelah aku bersiap, ku biarkan pikiran randomku membawaku ke suatu tempat nantinya. Sesampainya di kereta, aku setel frekuensi radio di telefon genggamku ke stasiun favorit. Sambil mendengarkan mbak bersuara renyah yang ada di seberang sana (sampai hampir terlelap), tiba-tiba sebuah lagu yang menjadi favoritku dilantunkan melalui headset murahan ini. Tembang dari sebuah band asal Amerika yang bernama Parachute yang berjudul Kiss Me Slowly, mengalun dengan indah di telingaku. Setiap beat-nya merasuk ke dalam pikiran dan secara tidak sadar aku mengangguk-anggukan kepalaku terhadapnya. Sambil melihat keluar jendela kereta, ku nikmati sajak bernada yang dinyanyikan oleh sang vokalis, Will Anderson tersebut. Ditemani kencangnya laju kereta, aku menjadi teringat akan satu kutipan. Bunyinya adalah:
âOne good thing about music, when it hits you, you feel no pain.â
Kutipan tersebut merupakan kutipan dari salah satu musisi terkenal bernama Bob Marley. Tetapi apa yang terjadi bila musik itu sendiri merupakan suatu penyakit (pain) bagi seseorang? Oh, aku tidak bisa membayangkannya. "Tanpa musik, kehidupan adalah sebuah kesalahan", itulah yang dikatakan Friedrich Nietzche dalam bukunya yang berjudul Twilight of The Idols. Tetapi aku pernah membaca sebuah buku yang berjudul Musicophilia karya Oliver Sacks. Oli (sapaan akrab yang ku buat untuknya) mengangkat sebuah studi kasus tentang Ibu L (besar kemungkinan ini merupakan nama samaran). Bu L adalah seorang wanita tua berusia 67 tahun. Bisa dikatakan, dia adalah wanita yang cerdas, tetapi dia tidak mengerti istilah âbernyanyiâ. Dalam buku tersebut, Bu L mendeskripsikan musik sebagai âsuara yang terdengar seperti panci dan wajan yang dilempar berkali-kali di dapur.â Dia berkata bahwa saat dia mendengar musik opera, dia mendengar seperti sebuah teriakan.
Kondisi Ibu L tersebut bukan merupakan sesuatu yang aneh. Sekitar 4% dari populasi menderita sejak lahir yang disebut dengan âamusiaâ. Amusia adalah sebuah ketidakmampuan otak dalam memproses hal-hal yang berbau musikal. Seringkali, Amusia disebut juga âtuli akan nadaâ di mana sesorang tidak bisa membedakan nada-nada dan mengenali nada dalam musik. Dalam hal lain, Amusia dapat dianggap sebagai âtuli akan ketukanâ, yaitu ketidakmampuan untuk bergerak sesuai dengan tempo atau ritme musik. Dalam kasus yang lebih buruk, seseorang bisa jadi tidak dapat mengenali informasi tentang musik sama sekali. Studi terbaru mempelajari tentang mengapa orang-orang yang âtuli akan ketukanâ tidak mampu untuk menjaga tempo atau ritme musik. Para partisipan, dua orang menderita âtuli akan ketukanâ dan sisanya adalah control group diminta untuk terus-menerus mengetuk-ngetukan jarinya terhadap suatu ritme di meja untuk menguji kepekaannya. Pertama-tama, dengan mengira-ngira ritme denyut nadinya sendiri. Selanjutnya, mereka diminta untuk mendengar sebuah metronom dengan ritme yang biasa. Lalu, mereka diminta untuk mendengar sebuah metronom dengan ritme yang acak. Para peneliti menemukan bahwa para partisipan dengan âtuli akan ketukanâ mengetuk-ngetukan jarinya lebih konsisten dibanding partisipan control group saat mengira-ngira denyut nadinya. Tetapi pada saat diperdengarkan dengan metronom dengan ritme biasa dan acak, mereka memberikan hasil yang lebih buruk. Proses penerimaan ritme musik pada auditory cortex mereka dan menerjemahkannya ke dalam suatu gerakan ternyata telah rusak. Para peneliti juga masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saat pemrosesan tersebut karena bagian-bagian otak yang terlibat dalam memproses musik ada di beberapa bagian. Kemampuan untuk bergerak diiringi ritme musik (contohnya menari) bukanlah sesuatu yang unik bagi otak. Spesies lain memiliki kemampuan belajar vokal seperti lumba-lumba, atau burung kakak tua yang bahkan sempat menjadi viral di youtube bernama Snowball. Snowball merupakan partisipan dari sebuah penelitian di mana para peneliti memainkan lagu dari sebuah boyband bernama The Backstreet Boys berjudul âEverybodyâ dalam tempo yang berbeda dan meninggalkannya sendirian di dalam suatu ruangan untuk melakukan yang biasa dia lakukan. Hal yang menjengkelkan ditunjukkan oleh Snowball. Dia sama sangat bersemangat mengangguk-anggukkan kepalanya saat lagu dimainkan dengan tempo yang cepat, sedangkan pada saat temponya dilambatkan, dia tidak merespon. Dan kepalanya yang mengangguk dilakukan secara alami oleh dirinya sendiri tanpa meniru keadaan sekitarnya. Snowball menunjukkan bahwa dia sangat senang menari pada lagu dengan tempo yang cepat. Dan jika burung kakak tua bisa mengikuti ritme, hal itu menunjukkan bahwa sebagian kecil dari spesies burung dapat menderita amusia, layaknya manusia. Ada sebuah kasus juga di mana burung yang memiliki tuli nada tidak bisa mendengar dan merasakan panggilan dari pasangannya. Hal itu dapat mengganggu struktur social dari burung tersebut. Seperti bu L, nada dan musik hanya sekedar lewat di depan matanya tanpa masuk ke dalam rongga telinganya. Â
Referensi:
Sacks, O. (2010). Musicophilia: Tales of music and the brain. Random House LLC.
Palmer, C., Lidji, P., & Peretz, I. (2014). Losing the beat: deficits in temporal coordination. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 369(1658), 20130405.
SowiĹski, J., & Dalla Bella, S. (2013). Poor synchronization to the beat may result from deficient auditory-motor mapping. Neuropsychologia, 51(10), 1952-1963
Grahn, J. A., & Brett, M. (2007). Rhythm and beat perception in motor areas of the brain. Journal of Cognitive Neuroscience, 19(5), 893-906
Patel, A. D., Iversen, J. R., Bregman, M. R., & Schulz, I. (2009). Experimental evidence for synchronization to a musical beat in a nonhuman animal. Current Biology, 19(10), 827-830
Have you ever felt so down that thereâs nothing that motivates you to get back up? That feeling when you look up and thereâs no bright light, so you would prefer not to move at all. Have you ever felt like in these moments there is no one in this whole entire world that could relate to you. The feeling when you feel like you have nothing to live for so you choose to give up. Everything is so negative; you donât even want to be you. You donât want to live the life you have.
I want you to know something. What you feel is not only normal, but itâs extremely common. You arenât alone, in fact thereâs millions out there who are feeling just as alone as you are. Remember what Islam teaches us?
If we have nothing; we always have Allah, and when we have Allah - we have everything. As long as you have Allah, nobody can take anything away from you. Everything you desire exists with Allah!
The most amazing man to walk this earth, the teacher of ALL teachers, the scholar of ALL scholars, the man of all MEN, the Habib of Allah, the NABI of Allah, the Rasool of Allah, the receiver of divine revelation, the man with the most certainty of Islam - even HE experienced a taste of sadness in his life just like you. He didnât just go through a moment of grief, he didnât even just pass through a phase of sorrow. Prophet Muhammad (saw) experienced depression to such a degree he actually considered ending his life.
This is a man who was faultless. He was amazing in his character and conduct, literally the âchosen oneâ. If our beloved Prophet could feel sadness being as perfect as he was, we should realize itâs only our human nature to feel both good and bad. I want you to take one lesson out of this; you should NOT feel ashamed for feeling the way you do. Shame is an emotion that is from the shaytaan.
You and I are people who have messed up plenty in life. Our scales are full of sin and a lot of the time when we look at Nabi (saw), we feel like we can never be as good as he was because we arenât Prophets. We disobey Allah (swt) a lot in comparison to him so living up to his standard seems impossible. Letâs remember that Allah sent Muhammad (saw) down because he was the perfect role model and example that we would be able to follow. And we can see in this example that feeling emotions arenât a sin. They arenât a sin as long as they donât get acted upon. If Muhammad (saw) didnât rise up after his fall, there would be no Islam. His rise was extremely beneficial, not just for him but for the whole of human kind. Donât underestimate the special abilities Allah put in every person to make them different from one another. With the help of Allah, your rise will be beneficial not just for yourself but for the people around you aswell, inshaa Allah.
Islam isnât here to extinguish sadness. Allah put it there for a reason. What Islam does do though, is it navigates it in a healthy way. And the fact of life is your going to get tribulations because that is the nature of the dunya. Nothing ever happens to you that wasnât specifically meant for you. Your problems were distinctively meant for you, and that difficulty hit its target. But donât forget a musibah isnât always necessarily a bad thing. Itâs something Allah wanted to happen to you. Donât forget that it is by Allah (swt)âs permission that you are going through whatever you are going through.
âThat to your Lord is the final goal; that it is He who grants laughter and tears. And that it is He who grants death and lifeâ (Quran 53:43-44)
So just be patient. Remember that there are hidden mercies in suffering. Remember that it is okay and you are going to be okay. You want to know why? Because even though it is by Allahâs will you might be hurt right now, Allah never burdens a soul more than it can bear. That is one of the marvelous promises of Allah (swt).
âVerily, with every hardship comes easeâ (Quran 94:6)
Allah doesnât leave any of his slaves. At times like this you just need to open your eyes and see that Allah is actually standing right in front of YOU reaching his hand out to YOU waiting for YOU to take it. Allah understands when you fall, but itâs not about how hard the fall is. Itâs about how beneficial the rise is.
Donât let these tribulations make you forget who Allah (swt) is.
When everything starts to look down, donât forget that He is âThe Most Highâ ( Al - Aliyy ).
When everything feels dark and gloomy, remember that He is âThe Lightâ ( An-Nur ).
When you feel lonely and thereâs no one who hears your pain, remember that He is âThe All-Hearingâ ( As-Sami ) and âThe All-Seeingâ ( Al-Basir ).
When you feel like youâve been patient for too long, remember that He is âThe Appreciativeâ ( Ash-Shakur ).
If you feel your being punished, remember that He is âThe Loving Oneâ ( Al-Wadud ).
Allah is your Protecting Friend ( Al-Waliyy ) donât you ever forget that.
Ngomongin Buku: Catcher In The Rye, Kedepresian Remaja dan Terbunuhnya John Lennon
        Buku adalah salah satu karya sastra yang paling gue apresiasi di dunia ini, di bawah puisi. Untuk informasi awal, buku ini adalah novel berbahasa Inggris pertama yang pernah gue baca. Premis tentang bukunya yang biasa banget, yaitu tentang seorang remaja yang selalu mengeluh tentang kehidupannya membuat gue gak berekspektasi banyak tentang buku ini. Gue cuma dibuat penasaran dengan salah satu kasus pembunuhan paling hebat dalam sejarah yang membuat buku ini terlibat. Mark David Chapman, seorang berkebangsaan Amerika Serikat membunuh salah seorang musisi terkenal, legend banget juga, John Lennon, karena membaca buku Catcher in the Rye. Dang! Kok bisa sih baca buku doang jadi pengen ngebunuh orang? Ini gak masuk akal bagi gue. Karena rasa penasaran gue udah gak terbendung lagi, akhirnya gue cari deh tuh buku yang katanya adalah salah satu buku paling kontroversial dalam sejarah.
         Awalnya gue mencari buku ini di toko-toko buku bekas yang biasanya ada di pinggiran jalan atau stasiun. Ternyata sama sekali gak ada yang jual! Sengaja gue gak nyari di toko-toko buku megapolitan dulu, soalnya gue agak gak yakin bakal ada. Ini buku jadul keluaran tahun 50-an, mana mungkin ada di toko-toko buku begitu, pikir gue tadinya. Setelah udah gue ubek-ubek toko-toko buku kelontongan di sekitaran Depok dan Bogor, gue belum nemu juga tuh buku. Lalu gue juga nyari di toko buku online. Ternyata stoknya pada kosong. Akhirnya gue menemukannya di Gramed Depok. Perjuangan banget nyari nih buku ternyata ketemunya di daerah deket rumah. Yaudahlaya. Agak kaget juga sih sebenarnya pas liat penampakan bukunya untuk pertama kali secara langsung. Bukunya tipis banget, kecil kayak buku pocket gitu, terus gak ada sinopsisnya. Pas gue liat harganya, mengernyitlah dahi gue. Itu buku yang bisa dibilang mahal banget untuk buku seukuran dan "setebal" itu. Kata abang-abang Gramednya itu stoknya tinggal satu, hapah?! Setelah gue timbang-timbang, dengan berat hati gue putuskan untuk gak jadi beli, haha.
         Singkat cerita, setelah uang gue terkumpul pada akhirnya pun gue beli-beli juga bukunya di Gramed Boquare. Stoknya masih ada enam dan berbahasa Inggris. Ini buku yang sama persis anatomi-nya dengan buku yang waktu itu ada di Gramed Depok. Oh, ternyata bahasa Inggris. Padahal gue berharap dapat yang bahasa Indonesia aja. Soalnya di Internet ada, tapi judulnya diganti jadi Keresahan Seorang Remaja, hahaha. Agak geli ya sama judul terjemahannya, apalagi itu beda banget sama arti judul bahasa Inggris-nya. Karena rasa penasaran gue mengalahkan semuanya, gue akhirnya beli Buku karangan J.D. Salinger itu.
         Satu hal yang membuat gue tertarik dengan buku ini adalah gak ada sinopsisnya. Ada apa sebenarnya dengan buku ini? Gue semakin penasaran. Buku yang diterbitkan oleh Little Brown and Company pada tahun 1951 ini membuka kalimat awalnya dengan:
       If you really want to hear about it, the first thing youâll probably want to know is where I was born, and what my lousy child was like, and how my parents are occupied and all before they had me, and all that David Copperfield kind of crap, but I donât feel like going into it, if you want to know the truth. Â
        Kalimat itu adalah perkenalan pertama dari sang pelaku utama yang bernama Holden Caulfield. Novel dengan gaya pemaparan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama ini adalah tentang kehidupan seorang remaja tanggung bernama Holden Caulfield yang dikeluarkan dari salah satu sekolah asrama terbaik, Pencey Prep School, dan melakukan perjalanan ke New York dengan tujuan akhir ingin menemui adiknya yang bernama Phoebe. Holden merupakan anak ke-dua, di mana dia juga memiliki seorang kakak bernama D.B. yang bekerja di Hollywood, dan seorang adik lagi bernama Allie yang telah meninggal akibat kanker. Dari kalimat pembuka novel-nya saja kita sudah bisa menebak bahwa Holden ini merupakan seorang remaja yang sepertinya bermasalah. Dia hanya memandang semuanya dari sudut pandang remaja-nya secara negatif. Di setiap penggalan kata-katanya, dia selalu mengeluh, menghujat, dan menyumpahi segala hal yang dia temui. Dia benci semuanya, dia benci orang-orang di sekitarnya. Dia sangat tidak suka dengan yang namanya Phony. Mungkin satu-satu-nya yang dia cintai adalah dirinya sendiri, bahkan mungkin tidak sama sekali. Lalu bagaimanakah perjalanan-nya selama di New York? Apakah dia berhasil menemui adiknya Phoebe? Bagaimanakah akhir perjalanannya? Bisa dibaca langsung di novelnya langsung, hehe.
        Balik lagi tentang kasus Mark David Chapman. Kenapa dia begitu tega untuk membunuh seorang John Lennon hanya karena membaca buku ini? Padahal kalo gue baca beritanya, Si MDC ini (disingkat aja kali ya) adalah penggemar berat John Lennon. Ternyata semuanya berawal dari pernyataan kontroversial John Lennon yang mengatakan bahwa The Beatles lebih populer ketimbang Yesus Kristus. Secara MBC adalah umat kristiani yang sangat taat, marah dong dia. Saat itu langsung dia menganggap kalo John Lennon itu Phony, sesuatu yang sangat dibenci oleh Holden Caulfield. Menurut sumber yang gue baca, katanya si MBC ini pengen ngebunuh orang lain yang dia anggap Phony, selebritis yang jadi idolanya juga, cuma gak jadi karena pernyataan kontroversial John Lennon tersebut.  Memang sih, novel ini penuh dengan kata-kata umpatan dan kefrustrasian yang sangat dalam dari si tokoh utama. Mungkin itu yang menyebabkan MDC jadi tersugesti. Padahal kalo kita telusuri riwayat si MBC ini, dia adalah orang yang kayaknya normal-normal aja, malah cenderung pintar. Dia merupakan lulusan Teknik Elektro dan memiliki IQ diatas rata-rata. Cuma katanya, dia ini punya kekecewaan yang sama dengan yang Holden Caulfield rasakan, dan dia jadi fanatik banget sama novel ini. Oiya, ada filmnya yang menceritakan tentang kasus ini, judulnya Chapter 27, yang main Jared Leto (aktor favorit gue, setelah Jim Carrey) dan Lindsay Lohan (saat masih waras).
        Jika kita telaah, sebenarnya si Holden ini hanya seorang remaja yang resah dengan kehidupan sekitarnya. Tipikal remaja-remaja tanggung pada umumnya yang benci untuk jadi orang dewasa. Tapi apa yang membuat dia sebegitu membeci dunianya ya? Sampai-sampai dia selalu melihat segala hal dari sisi negatifnya. Kalo menurut gue, ini adalah novel paling jujur sekaligus paling depresi dengan ending paling mengharukan yang pernah gue baca. Gue agak merinding sih pas bagian yang di carrousel itu. Selesai membaca novel ini, gue menjadi berasa naïf banget. Gue baru tau, oh ternyata gini ya, ternyata gitu ya. Novel ini membuka sudut pandang gue menjadi baru tentang hal-hal yang terjadi di sekitar gue. Sesuatu yang tadinya gak pernah gue rasakan sebelumnya, gak pernah gue pikir sebelumnya. Di tiap bagiannya, gue merasakan kadang kasihan juga sama si Holden, kadang mengira kalo dia itu brengsek, tapi malah kadang jadi bikin kita mikir oh ternyata bener juga apa yang dikatakan sama si Holden itu. Agak telat sih sebenernya, harusnya gue udah baca novel ini pas gue kelas 1 SMP. Malahan, sekolah-sekolah di Amerika Serikat sudah menjadikan novel ini sebagai novel wajib untuk para siswa/i-nya. Gak heran sih, walaupun ini novel jadul, tapi masih relevan banget sama keresahan-keresahan remaja yang terjadi saat ini. Bahkan mungkin sampe generasi-generasi berikutnya. Novel ini jadi membuat gue tersadar betapa pentingnya untuk berpikir positif. Berpikir positif adalah hal yang mutlak perlu dilakukan. Karena pada kenyataannya dunia itu emang kebanyakan negatifnya daripada positifnya.
âAnyway, I keep picturing all these little kids playing some game in this big field of rye and all. Â Thousands of little kids, and nobody's around - nobody big, I mean - except me. Â And I'm standing on the edge of some crazy cliff. Â What I have to do, I have to catch everybody if they start to go over the cliff - I mean if they're running and they don't look where they're going I have to come out from somewhere and catch them. Â That's all I do all day. Â I'd just be the catcher in the rye and all. Â I know it's crazy, but that's the only thing I'd really like to be.â
Suatu hari aku bertanya kepada seorang gadis muda
Usianya masih 7 tahun
Dia memegang sebuah balon
Ibunya menemani di sampingnya
Aku bertanya, "Berapa usiamu?"
Dia hanya diam, menengadahkan kepalanya ke atas melihat balonnya
Ibunya menjawab, "Usianya baru 7 tahun"
Lalu aku bertanya kepadanya lagi, "Kenapa kamu suka balon?"
Akhirnya dia menjawab, "Aku gak suka sama balon"
"Lalu kenapa kamu membelinya?", tanyaku
"Ibuku, Dia terlanjur beliin ini buat aku", jawabnya polos
"Kalau kamu tidak suka, kenapa kamu masih mempertahankannya?", tanyaku lagi
"Kalau aku buang, nanti bakal ada dua hal yang akan aku kecewain", tanggapnya. Kali ini dia menanggapinya sambil melihat wajahku
"Apa itu?", tanyaku, agak bingung
"Pertama, ibuku. Dia udah beliin buat aku, gak mungkin dong aku buang. Dia nanti sedih."
"Lalu yang kedua?", harapku, untuk mendapatkan jawabannya lagi.
"Balonnya. Nanti kalo aku lepasin, dia bakal kecewa banget. Dia bakal terbang terus ke langit sampe tinggi dan gak akan pernah turun lagi nemuin aku.", pungkasnya
"Gadis yang pintar", ucapku dalam hati
"Berapa umur kakak?", dia melanjutkan kalimatnya
"Dua puluh tahun", kataku dengan yakin
"Aku gak yakin bakal sampe umur segitu", katanya. Kali ini dia sambil melihat balon yang dipegangnya
Aku tersentak dengan apa yang baru saja dia katakan
"Kakak beruntung banget ya, bisa ngalamin hal-hal yang gak akan pernah aku alamin. Kata dokter Syarif, umur aku tinggal dua bulan lagi."
Sesaat waktu seperti berhenti sejenak, hatiku terenyuh. Rasanya seperti tersayat sedikit.
"Mamah bilang, mamah pengen bikin aku seneng terus. Tapi akulah yang bakal ngelakuin hal-hal yang bikin mamah jauh lebih seneng dibanding hal-hal yang udah mamah lakuin untuk bikin aku seneng.", tambahnya lagi
Setelah aku terdiam, mereka segera pamit kepadaku
Lambaian tangan mereka mengisyaratkan tidak ada hal apa-apa yang akan terjadi terhadap mereka
Tahukah apa yang tadinya ingin aku ucapkan kepada gadis muda itu?
Sebelum kau berumur dua-puluh tahun nanti, kejarlah apa yang menjadi cita-citamu
Jangan hiraukan orang lain, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan
Lakukan segalanya dengan ikhlas dan tanpa beban
Walaupun uang bisa saja membuatmu bahagia, tapi uang bukanlah segalanya
Hindarilah kekecewaan, kesedihan. Janganlah melakukan kesalahan yang berulang-ulang
Lawanlah ketakutanmu, jangan hindari musuh-musuhmu
Rangkul orang-orang yang pernah menjadi teman-temanmu. Jangan tinggalkan, jangan lupakan mereka
Kekhawatiran hanya akan membuatmu sengsara dan biasanya tidak akan terjadi
Cinta di masa sekolah kebanyakannya adalah cinta yang semu
Dan jangan pernah putus asa dalam keadaan apapun, karena selalu ada harapan. Selalu ada harapan
Pertemuan dengan gadis muda itu yang hanya 7 menit, tadinya aku yang ingin mengubah hidupnya
Malahan, sekarang aku yang belajar banyak dari dia
Dan aku pun sekarang mengerti kenapa aku adalah orang yang sangat beruntung
No, Iâm not color blind. I know the world is black and white
Try to keep an open mind, but I just canât sleep on this tonight
 Stop this train, I wanna get off and go home again
I canât take the speed. Itâs movin in
I know I canât. But honestly, wonât someone stop this train?
 Donât know how else to say it, Donât wanna see my parents go
One generationâs left away from find the life all on my own
 Stop this train, I wanna get off and go home again
I canât take the speed. Itâs movin in
I know I canât. But honestly, wonât someone stop this train?
 So scared of getting older. Iâm only good at being young
So I play the number games to find the way to say that life has just begun
Had a talk with my old man, said âHelp me understandâ
He said, âTurns sixty eight, youâll renegotiateâ
Donât stop this train. Donât bother minute change the place youâre in
Donât think I couldnât never understand. Iâve tried my head
John, honestly weâll never stop this train
 Once in a while when itâs good and it feels like it should
And they are still around
And theyâre still safe and sound
And you donât miss a thing till you cry when youâre drivin away in the dark
 Singing, stop this train. I wanna get off and go home again
I canât take the speed. Itâs movin in
I know I can. Cause now I see Iâll never stop this train
Sebelumnya, gak tau nih kata-kata di liriknya ada yang salah atau nggak. Soalnya ngetiknya pake feeling, hehe. Gak ngecek lirik official-nya di internet.
        Lagu John Mayer favorit gue tadinya adalah In Your Atmosphere. In Your Atmosphere bagi gue punya petikan-petikan gitar yang unik. Makanya gue suka banget sampe ngulik habis-habisan nih lagu. Tapi semua berubah. Gue akhir-akhir ini lagi suka banget sama Stop This Train. Tadinya gue gak tau sama sekali liriknya. Gue cuma sering dengerin-dengerin biasa aja, cap-cip-cup cap-cip-cup. Ehh pas pertama kali gue baca liriknya di internet, Boom! Ternyata liriknya dalem banget melebihi celana dalem manapun. Dan sekarang gue deklarasikan kalo ini adalah lagu John Mayer favorit gue.
        Lagu yang diambil dari album Continuum (2006) ini punya makna yang sungguh-sungguh deep dan universal banget. Gue yakin semua orang pasti pernah mengalami kebingungan yang sama dengan yang si Bang John (kemaren baru kenalan) tuangkan di lagu ini. Petikan-petikannya yang menenangkan sekaligus bikin penasaran membuat lagu ini menjadi begitu magis ditambah liriknya yang menggugah begitu sadis. Cocok banget sama judulnya, lagu ini enak banget pasti kalo lagi didengerin sendirian di gerbong kereta malem-malem gitu sambil menikmati betapa kencangnya laju kereta sampai-sampai kita pun gak kuasa menahan kuatnya gaya newton III dan tertidur pulas sampe stasiun Pocin.
No, Iâm not color blind. I know the world is black and white
Try to keep an open mind, but I just canât sleep on this tonight
Setuju dah sama Bang John. Dunia itu abu-abu banget. Segala macam yang ada di dunia fana ini pasti ada positif dan ada negatifnya. Segala sesuatu itu ada konsekuensinya. Dan yang kita perlukan cuma membuka diri dan pikiran kita pada setiap hal, tapi terkadang itu malah ngebuat kita jadi bingung sendiri karena pada dasarnya, yaa, dunia itu abu-abu. Salah-salah, malah nantinya bisa membuat kita jadi gak tidur nyenyak.
Stop this train, I wanna get off and go home again
I canât take the speed. Itâs movin in
I know I canât. But honestly, wonât someone stop this train?
Kalo hidup itu dianalogikan sebagai kereta, gue setuju banget sih. Kita melakukan perjalanan tanpa henti, berangkat dan berhenti dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain, sampai akhirnya kita berhenti di satu stasiun yang benar-benar kita ingin tuju. Sedap sedap. Tapi gak tau kapan nyampenya dan berapa lama. Kadang bosen juga terus terbesit pikiran, âAh, mending gue pulang aja dehâ.
Donât know how else to say it, Donât wanna see my parents go
One generationâs left away from find the life all on my own
Bagi yang masih punya orang tua, membayangkan kehilangan orangtua mungkin bakal jadi kejadian yang paling menyesakkan sepanjang sejarah. Bagaimanapun, sebenarnya kita gak mau itu terjadi. Tapi inilah hidup. Mungkin kejadian itu bakal ngebuat kita terpuruk, tapi ingat, ini hanyalah salah satu bagian dari kehidupan. Satu per satu generasi keluarga kita akan pergi dan kita harus tetap berjuang untuk berlari memegang tongkat estafet yang generasi sebelumnya telah titipkan.
Stop this train, I wanna get off and go home again
I canât take the speed. Itâs movin in
I know I canât. But honestly, wonât someone stop this train?
Balik lagi nih, ya namanya juga reff :D kurang lebih sama lah ya maknanya kayak yang di atas.
So scared of getting older. Iâm only good at being young
So I play the number games to find the way to say that life has just begun
Had a talk with my old man, said âHelp me understandâ
He said, âTurns sixty eight, youâll renegotiateâ
Donât stop this train. Donât bother minute change the place youâre in
Donât think I couldnât never understand. Iâve tried my head
John, honestly weâll never stop this train
Damn! This is the best part of the lyrics. Gue membayangkan kalo misalnya gue bisa ketemu sama diri gue sendiri dari masa depan yang umurnya udah 68 tahun terus ngobrolin segala macam hal tentang dunia yang belum pernah gue lewatin sebelumya, diiringi musik yang nenangin banget macam Oasis â The Masterplan. Pastinya lokasinya di pantai, lagi duduk-duduk memandang ke depan lautan yang sepertinya gak ada ujungnya itu. Beuh! pecah sih itu. Terus pas gue lagi curhat-curhat gitu, diri gue yang umur 68 tahun itu bilang, âGa, kita gak akan pernah berhenti. Walaupun kayaknya masa kecil lo menyenangkan, cobain deh lo terus berjuang sampe umur lo udah tua banget nanti. Gue bakal jamin kalo masa muda lo gak lo sia-siain, lo gak akan menyesal di masa tua lo. Ikutilah kata hati lo, karena hati punya logikanya sendiri. Yang perlu lo lakukan adalah bertahan dan tetap melakukan sesuatuâ. Merinding sih ini gue juga ngetiknya. Oke, gue yang udah umur 68 tahun!
Once in a while when itâs good and it feels like it should
And they are still around
And theyâre still safe and sound
And you donât miss a thing till you cry when youâre drivin away in the dark
Karena analogi lagu ini adalah di kereta, penggalan ini kayaknya nyeritain saat kita tersadar bahwa kita emang sebenarnya lagi duduk di suatu sudut di gerbong kereta setelah perjalanan yang melibatkan batin di lirik-lirik sebelumnya. Saat kita tersadar, gak lama kemudian kita menyadari udah banyak banget orang-orang di sekitar kita. Ada banyak sekali macam-macam orang. Â Betewe, gue pribadi sebenernya suka banget kalo naik kereta. Menurut gue kereta itu tuh udah kayak tempat berkumpulnya berbagai macam orang. Anak SMP yang lagi galau ujian, pasangan yang lagi dimadu cinta, bos gendut yang pulang buat ketemu anaknya yang umur 5 tahun, dll. Kita semua merasakan hal yang sama. Kebingungan yang sama. Walaupun masanya aja mungkin yang beda. Dan sesaat itupun kita sadar bahwa kita tuh gak sendiri. Saat kita melewati terowongan gelap dan kereta melaju begitu cepat, gak kerasa air mata kita pun netes karena menyadari hal yang udah terjadi.
Singing, stop this train. I wanna get off and go home again
I canât take the speed. Itâs movin in
I know I can. Cause now I see, Iâll never stop this train
Kata terakhirnya pas banget untuk nyimpulin semuanya. Cause now I see, Iâll never stop this train.
Ini sebenernya lirik lagu sih. Nadanya udah ada, tinggal di rekam aja. Tapi karena waktu itu lagu ini sama "leaving you" jadinya barengan, jadi harus milih salah satu. Akhirnya dipilihlah "leaving you" duluan. Dan karena satu dan lain hal, eh yang ini sampe sekarang belum direkam-rekam walaah. Oiya btw kalo ada yang gak mau denger lagu gua yang lain, jangan dicek sonklot gua di sini yaa wkwkw Ini dia liriknya:
Setiap detik waktu yang enggan berlalu
Dan tak akan pernah ku ulangi
Sebab pikiranku habis tentangmu
Melumpuhkan langkah yang ku sesali
Kaulah pelita di gelapnya sudut kota
Kaulah syair yang membuatku tersihir
Bait demi bait baris puisi
Menggoreskan tentangmu yang menjelmaku
Karena kamu darahku
Yang Mengalir seiring denyut nadi
Tak berhenti dikala sunyi
Karena kamu jantungku
Yang berdetak sampai ke relung hati
Membungkam sepi ku menikmati engkau di sini
Terbangun di kala malam tetap terjaga
Menatap langit sambil membius luka
Menghitung sudut berdirinya bulan dengan tempatku berpijak
Menyadari bahwa kita berada di bawah langit yang sama
Kamu
Adalah jawaban atas segala pertanyaan
Alasan pada setiap pernyataan
Solusi saat masalah membendung
Dahaga saat semuanya layu
Embun yang memberikan kesejukan
Selimut mewah yang memberikan kehangatan
Langkah di setiap napak tilas
Senyuman di dalam keramaian
Irama dalam tiap alunan nada
Nyawa di dalam kehidupan
Cahaya saat semuanya tak berpijar
Setiap goresan pada kertas putih
Kerindangan dalam setiap musim panas
Kaulah musim semi
Kaulah musim gugur
Kaulah salju
Kaulah sang biadab yang membuatku menulis
Kaulah sang berengsek yang menyita banyak waktuku
Aku hanyalah
Secarik puisi murahan
Sedang, kaulah kerinduan
Yang kudekap erat tanpa kulepaskan
Pernahkah kau merasa hal yang sama denganku?
Membendung mimpi dan melakukan hal-hal yang bersifat tai
Kau yakin ini hanya sementara dan kilauan-kilauan itu semakin dekat
Berdiri tepat di hadapan mereka
Disinari cahaya, agak tinggi
Sudah terlalu lama kau menunggu kehampaan ini
Kesunyian yang belum berakhir
Berharap ada lilin kecil yang menemanimu
Yang selalu setia walau hatimu redup
Di sini dingin sekali
Tak terdeteksi, tak ada yang menghampiri
Ingin sekali aku cepat-cepat membuka pintu
Menghampiri keramaian & segala keanehan di balik sana
Pohon-pohon rindang, burung-burung bernyanyi, dan manusia-manusia brengsek
Dihadapkan pada kehidupan, aku tak akan terlena dipermainkan
Saat matahari tenggelam, aku mencoba bangkit dari keterpurukan
Pagi buta adalah saksiku menjalani hidup ini
Rasa sesal yang pernah kunikmati, kutinggal dan tak ku bawa pergi
Menjemput rona-rona dan segala macam gelak tawa
Mungkin nanti akan ada
Rasa bosan & kesal yang mengalahkan gunung
Tapi aku adalah bumi
Yang memang kecil di galaksi ini
Tapi kehidupan mengistimewakan
Terus menerjang segala rintangan, memupuk segala ambisi
Hingga gelap memaksaku untuk terlelap
Aku punya semacam kelemahan. Aku sulit mengerti diriku sendiri. Siapa aku? Apa yang sebenarnya aku mau?
Aku punya semacam kesulitan. Aku sulit memahami kehidupan ini. Untuk apa aku dilahirkan? Apa yang bisa ku perbuat untuk dunia?
Kau merasa akan seperti itu, tapi yang terjadi malah seperti ini.
Kau melakukakan itu terhadap mereka, tapi yang mereka lakukan malah seperti ini.
Kau menginginkan yang itu, tapi di lain sisi kau sebenarnya membutuhkan yang ini.
Kau merencanakan, tapi yang kau lakukan spontan.
Kau melakukan spontan, tapi diselimuti ketakutan.
Kau memberi, tetapi tak ada yang menengadahkan tangan.
Kau menerima, saat tangan sudah tak menutup enggan.
Mereka iri, disaat dirimu menikmati.
Mereka dengki, saat dirimu mengasihani.
Langkah kakimu cepat, namun kau mengabaikan sekitar.
Langkah kakimu melambat, malah tertangkap saat dikejar.
Kau mendapatkan, tetapi kau cepat puas.
Kau melewatkan, mukamu malah jadi pias.
Kau berlari untuk mengejarnya, tanpa menyadari kau ada di sampingnya.
Kau berusaha, tetapi kok lama?
Kau menyerah, tetapi buat apa?
Kau merasa kesepian, teman tak ada yang datang.
Kau di tengah keramaian, malah tak ada yang memperhatikan.
Kau patuh terhadap dunia, tetapi dunia menindas sengaja.
Kau melawan dunia, tetapi dia malah tak mempedulikannya.
Kau bernyanyi untuk menyembuhkannya, walau puisi dapat menguak realita.
Kau ingin menjadi ilmuwan, saat dirimu adalah olahragawan.
Kau ingin menjadi seniman, saat dirimu adalah wirausahawan.
Kau ingin menjadi aktor, sedangkan dirimu sangat kotor.
Kau ingin menjadi bos, tetapi mengabaikan tahap jongos.
Kau ingin dicintai, tetapi kamu malah membenci.
Kau sangat mencintai, tetapi mereka malah menyakiti.
Kau tidak pernah sepenuhnya sempurna, saat Tuhan maha sempurna.