Twenty Something Years Young
Umur 20an atau 20ish atau kalau orang jawa biasa bilang “umur kur-kuran”. Iyap! 20 something years old. Emang beneran something sih. Pas masuk ke usia ini nggak punya ekspektasi bakal kaya apa. Terutama tentang diri sendiri. Kirain apa yang udah aku tau, ya memang itu adanya. Ternyata enggak. Banyak perubahan tentang pola pikir, cara bersikap, cara merespon, dan lain sebagainya.
Pola pikir. Banyak hal. Bener-bener BANYAK HAL yang ku kira sudah tepat, ternyata enggak. Semakin tambah umur semakin banyak ilmu yang kita ingin tau. Semakin banyak ilmu yang didapat, semakin banyak fakta yang muncul ke permukaan. Catatan pentingnya adalah tidak semua fakta bersifat baik dan mendamaikan. Ada beberapa fakta yang mengharuskan kita berdamai dengannya. Ujung-ujungnya perubahan pola pikir ini akan mengarahkan kita pada penerimaan. Betul, penerimaan. Penerimaan tentang diri sendiri, penerimaan tentang keadaan keluarga serta masa lalu masing-masing anggota keluarga, dan penerimaan tentang proses.
Cara bersikap dan cara merespon. Pola pikir yang berubah akan mengarahkan pada perilaku yang berubah pula. Iya, saling mempengaruhi. Umur 20an ngajarin ilmu tentang melakukan yang diri sendiri sebenernya nggak mau. Ketika dihadapkan pada suatu hal yang nggak mau ku lakukan biasanya aku menghindar, dulu sih gitu. Tapi sekarang? Hadapi. Beberapa bacaan ngasih tau aku kalau menghindar memang salah satu sifat alami manusia. Menghindar adalah respon dari adanya bahaya katanya. Sampai aku tau bahwa semua ketidaknyamanan harus dihadapi. Namanya juga ketidaknyamanan ya pasti nggak nyaman. Hal yang paling menakutkan ternyata bukan film hantu atau Rumah Sakit Hantu di Jatim Park, tapi diri sendiri. Yup! Ulangi lagi sekali ya, hal yang paling menakutkan adalah menghadapi diri sendiri. Selama ini secara nggak langsung aku cuma cari tau gimana caranya jadi orang yang lebih, lebih, dan lebih lagi tapi aku lupa kalo aku juga harus pelan-pelan menyadari dan menerima kekuranganku. Sadar kalo aku ya manusia, bikin salah, bikin kecewa, tapi nggak jarang aku bikin happy juga. Belajar menolak juga sedang ku pelajari akhir-akhir ini. Aku sangat amat nggak nyaman ketika menolak orang, tapi harus dihadapi. Awal-awal pasti berat sekali, tapi nanti aku yakin aku bakal belajar tentang kapan harus menolak dan kapan harus menolong, apa yang harus ditolak dan apa yang harus diterima.
Proses. Menghargai proses. Kadang proses nyakitin banget. Bikin sering nangis, bikin gemes sendiri, bikin marah juga kadang. Tapi menghargai proses adalah salah satu solusi untuk mengurangi hal-hal negatif yang muncul. Tahap menemukan cara menghargai proses ini lumayan susah. Harus masuk hutan dulu dan kesasar di “5 stages of grief” (kapan-kapan kalo sempet, pengen nulis tentang ini. Aamiin).
Selain hal-hal di atas aku juga belajar hal lain.
Pertama tentang tolong menolong dan memberi.
Menolong tanpa kelihatan menolong. Karena ternyata sudut pandang tolong menolong itu ada dua, yaitu si penolong dan yang ditolong. Jangan sampai menolong malah bikin orang yang ditolong jadi nggak nyaman. Juga, berhenti menolong ketika orang yang niatnya mau kita tolong ternyata nggak mau ditolong. Hal itu adalah salah satu cara menghargai diri kita.
Memberi juga sama, jangan sampai memberi jadi bikin orang yang diberi malah merasa nggak nyaman. Padahal kan tujuan kita baik ya, bikin orang lain seneng. Tapi tujuan baik juga ada caranya, cara yang terbaik.
Kedua tentang mencari diri sendiri.
Isu tentang mencari diri sendiri harusnya sudah muncul ketika masuk masa pubertas. Tapi ternyata pencarian jati diri bisa terulang di usia-usia yang tidak diduga-duga. Bisa jadi usia dewasa awal yaitu 20an atau bisa juga usia 40an. Mencari diri sendiri itu questionable karena bisa jadi ada jawabannya atau bisa jadi enggak. Tapi yang ku dapet ketika aku mencari diriku sendiri yang ke dua kali adalah “Semakin kita mencari diri kita, maka semakin nggak ketemu. Tapi semakin kita mendekat sama Tuhan, maka pelan-pelan Tuhan bakal kasih petunjuk”. Stay still aja.
Kurang lebih itu ringkasan yang bisa ku tulis untuk menggambarkan ketidaktahuanku dan pelajaran yang ku dapet ketika memasuki umur 20an. Mungkin masih banyak yang belum tersampaikan, semoga bisa buat refleksi tapi bukan pijat refleksi (haha lucu). Misalnya “oh iya nih aku juga” atau “enggak ah, aku nggak sampe segininya”. Bisa juga kalau ada yang kurang tepat tolong sampaikan ya, jangan dipendem sendiri. Aku mana tau kalo dipendem sendiri kan?!
Sekian tulisanku, semoga ada manfaatnya. Terima kasih.












