Menjadi diri yang damai bukan secara otomatis bisa dilakukan begitu saja. Kedamaian dalam diri dapat dirasakan dan didapat melalui proses pemikiran yang baik tentang diri dan Semesta..
dirt enthusiast
cherry valley forever

pixel skylines
Claire Keane
$LAYYYTER
Stranger Things
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Xuebing Du
h

Janaina Medeiros
Show & Tell
Alisa U Zemlji Chuda

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi

Love Begins
almost home
we're not kids anymore.

PR's Tumblrdome

★
sheepfilms
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Mexico
seen from Ireland
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@cahyatieaeaa
Menjadi diri yang damai bukan secara otomatis bisa dilakukan begitu saja. Kedamaian dalam diri dapat dirasakan dan didapat melalui proses pemikiran yang baik tentang diri dan Semesta..
Quality over Quantity.
Dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah bahwa, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu lebih utama dari memperbanyak amalan.”
Sebagaimana dalam QS. Al-Mulk: 2, “Untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Allah Subhanahu Wata’ala tidak memfirmankan, “Yang paling banyak amalannya.” (Sifatush Shalah, 170)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa, “Jadilah orang-orang yang lebih semangat dan fokus pada diterimanya amalan.”
Sebagaimana dikisahkan dalam QS. Al-Ma’idah: 27 tentang kedua putra Nabi Adam ‘alaihis salam yang mempersembahkan kurban, namun hanya satu yang diterima (Habil) sedang (Qabil) tidak diterima. Qabil berkurban dengan hasil pertaniannya dan yang diberikan bermutu rendah, sedang Habil berkurban dengan kambing pilihannya yang baik.
“Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa’.”
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu pun mengatakan bahwa, “Andaikan aku yakin bahwa Allah Subhanahu Wata’ala menerima satu saja dari salatku, itu lebih aku cintai daripada seluruh dunia dan seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/166)
“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah), dengan hati penuh rasa takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim rahimahullah oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha,
“Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ayat ini, ‘Apakah yang dimaksud dengan ayat ini ialah orang yang berzina, dan meminum khamar atau mencuri?, dan karena itu ia takut kepada Tuhan dan siksa-Nya?’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, ‘Bukan demikian maksudnya, hai putri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengerjakan salat, berpuasa dan menafkahkan hartanya, namun dia merasa takut kalau-kalau amalnya itu termasuk amal yang tidak diterima’.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Hal yang patut diperhatikan juga dikoreksi oleh setiap individu.
Mereka yang melakukan amalan saleh perhatiannya akan terpusat pada dua hal ini sebagai syarat diterimanya sebuah amalan yaitu,
Ikhlas mengharapkan Wajah Allah Subhanahu Wata’ala dan ittiba yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ikhlas mencakup: merawat niat, meninggalkan syirik, ihsan (beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, (ketahuilah bahwa) sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala melihatmu), senantiasa khusyuk serta menyembunyikan amalan, dsb.
Ittiba mencakup: mempelajari fikih ibadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan bidah, memperbaiki tata caranya, berusaha mengerjakan yang paling utama dari beberapa pilihan, dsb.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang beramal tanpa dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Diriwayatkan pula oleh Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Dikatakan oleh Syaikh Ibnu Qasim rahimahullah bahwa, “Perkataan dan amalan manusia tidaklah benar sampai ia mendasarinya dengan ilmu.”
Dikatakan pula oleh Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani rahimahullah bahwa, “Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)
Untuk itu, dahulukan ilmu sebelum amal.
Doa yang senantiasa dibaca setelah salat Subuh,
“Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa.”
”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah no. 925, sahih)
Wallahu waliyyut taufiq.
Dan seyogianya langkah awal memperbaiki diri pun wajib dimulai dari tauhid, akidah dan iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Dimulai dari rukun iman no 1. agar hati takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala kemudian mudah mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya hanya karena takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala bukan karena ikut-ikutan atau apa pun.
Seperti metode Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan tauhid selama 13 tahun di Mekah kepada para sahabat, bukan dimulai dari ayat-ayat larangan seperti dilarang zina, khamr, disuruh salat, puasa dkk, agar apa?
Agar mengenal Allah Subhanahu Wata’ala lebih dulu, hati takwa, jadi ketika ada larangan dan perintah langsung sami'na wa atha'na tersebab kenal dan takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Bukan tidak boleh dimulai dari yang sunah-sunah semisal cadar, dsb. Namun perlu dibarengi pula dengan tauhid agar selaras dengan hati yang takwa dan niat yang lurus bukan sekadar ikut-ikutan, sehingga memperbaiki dirinya mesti karena dalil, takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan tahu hakikat dari apa yang dikerjakan.
Sebab jika dimulai selain dari tauhid, belum tentu hatinya takwa, contoh: hijab karena ikut-ikutan, banyak yang lepas kemudian, bercadar karena ikut-ikutan, tetap unggah foto.
Tetapi yang bertauhid dan hatinya takwa (takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala), dirinya pasti berhijab, melakukan perintah dan perlahan meninggalkan larangan-larangan-Nya tersebab hatinya takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Begitulah perbedaan Muslim yang memulai Islamnya dengan pondasi/akar (tauhid), temboknya kokoh, batangnya kuat.
Dan Muslim yang memulai Islamnya dengan selain tauhid (tiang, atap, tembok) cepat runtuh, tidak ada perubahan dan kekuatan.
Coba saja membangun rumah dimulai dari pintu, tiang, jendela, atap, bisa berdiri tidak? Ada angin dikit (ujian hidup), ambruk, luluh lantah, remuk.
Ada yang menghina/nyinyir langsung bete, kesal, panas tersebab hatinya tidak bertauhid, tidak mengenal Allah, Ar-Rabb yang Maha Mengatur hidup hamba-Nya. Jika dihina, itu adalah pengaturan Ar-Rabb kan? Sabar, rida, penghapus dosa.
Tetapi jika membangun rumah dimulai dari pondasi yang kuat, in syaa Allah ada angin kencang atau gempa, paling retak-retak saja.
Pengingat dari teh angie حَفِظَهُ اللهُ.
Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali rahimahullah pun memaparkan apalah artinya ibadah tanpa ilmu dan makrifat; tidak ada. Sebab dalam penerapannya seseorang harus tahu hakikat dari apa yang dikerjakan.
Inilah keniscayaan agar dapat beribadah dengan sebenar-benarnya, bukan tersebab ikut-ikutan atau kebiasaan.
Analogi antara ibadah dan ilmu bagaikan pohon dan buahnya. Ilmu adalah pohon sedang ibadah adalah buah. Ibadah tanpa dibekali oleh ilmu maka akan lenyap bagaikan debu ditiup oleh angin. Kedudukan pohon lebih utama sebab pohon adalah inti namun buah memiliki fungsi yang lebih utama. Itulah sebabnya seseorang harus memiliki keduanya. (al-Ghazali, 2009: 15, dikutip oleh Shinta Yuniati حَفِظَهُ اللهُ)
Sehingga setelah mengawali dengan rukun iman no 1. di mana semakin mengenal Allah Subhanahu Wata’ala, seseorang akan bersungguh-sungguh pula untuk mempelajari cara beribadah kepada-Nya.
Tauhid dulu, fikih kemudian.
Dan Allah Subhanahu Wata’ala telah mengutus Rasul-Nya sebagai pemberi petunjuk bagaimana beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya,
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)
Sehingga mulailah perbaiki ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Teladani bagaimana sifat salat dan wudu Nabi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR. Bukhari)
Dan ibadah-ibadah lainnya.
Kesimpulannya: maka beribadahlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala telah menetapkan cara-Nya. Bukan dengan caramu sendiri.
Ditulis; untuk mengingatkan diri sendiri.
Kesudahan yang Baik.
Ada sebuah istilah mengatakan, “Hidup itu seperti roller coaster. Ada pasang surutnya. Tapi itu pilihanmu untuk berteriak atau menikmati perjalanannya.”
Barangkali hidup juga bisa dianalogikan seperti mendaki gunung, adakalanya medan yang dilalui bisa kamu nikmati namun adakalanya pun membuat napasmu terengah-engah.
Meski sudah berhati-hati, berpegangan dengan batang pohon cantigi atau trekking pole adakalanya pun terjungkal juga. Kehati-hatianmu tidak bisa menolak kada dan kadar-Nya sebab ketika Allah Subhanahu Wata’ala telah menghendaki sesuatu terjadi maka terjadilah.
Hidup tentu tidak akan selalu baik-baik saja. Ujian demi ujian akan senantiasa melingkupi hingga akhir usia. Sebagaimana perjalanan hidup Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang kisahnya termaktub di dalam Alquran.
Allah Subhanahu Wata’ala menguji beliau berupa dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya, dijual sebagai budak, godaan dari istri menteri dan berakhir di penjara.
Namun, kesudahan yang baik selalu berpihak pada mereka yang bertakwa dan bersabar. Mana mungkin Allah Subhanahu Wata’ala tidak menolongnya?
Terbukti dengan Allah Subhanahu Wata’ala mengeluarkannya dari dalam sumur, melindungi dari godaan wanita, mengeluarkannya dari penjara lalu menjadikannya penguasa dan berkumpul kembali dengan keluarganya.
“Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS. Yusuf: 56-57)
Seyogianya masing-masing individu harus memiliki sifat sabar yang baik tanpa mengeluh atau merutuk sebab yang perlu dilakukan adalah sepenuhnya percaya sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala tidak menyia-nyiakan kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihis salam ketika dizalimi oleh saudaranya, lalu di penjara yang disebabkan oleh istri menteri.
Dan pahala akhirat adalah tujuan tertinggi daripada imbalan dunia.
Seyogianya pula masing-masing individu tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya.
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Bukankah termasuk sunatullah bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala akan memberikan kemudahan setelah kesulitan bagi mereka yang berbaik sangka pada-Nya?
“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)
Sungguh Allah Subhanahu Wata’ala tidak menyia-nyiakan pahala mereka yang bertakwa pada-Nya dalam segala kondisi dan bersabar menghadapi ujian yang menimpa serta menjauhi segala kemaksiatan.
Dan termasuk sunatullah pula bahwasanya kesudahan yang baik akan selalu dan selamanya berpihak pada mereka yang bertakwa dan bersabar, hanya saja kesudahan tersebut tidak disyaratkan harus segera terwujud sebagaimana kesudahan yang dialami Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang terwujud setelah puluhan tahun berlalu.
Ref: Kisah-kisah dalam Alquran versi Tadabur. Menyelami berbagai Hikmah dari Kisah-kisah dalam Alquran.
Pelangi pagi itu setelah diguyur hujan semalam, Merapi 2015.
“Andai kamu tahu bagaimana Allah Subhanahu Wata’ala mengatur urusan hidupmu, niscaya hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya.” (Ibnul Qayyim rahimahullah)
Wujud Ketuntasan Amanat; dari Keterampilan Hidup menjadi Gaya Hidup.
Salah satu amanat dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah tubuh.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 172, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” sebagai perintah untuk memelihara asupan bagi tubuh.
Sebagaimana dalam tafsirnya yaitu makanlah dari rezeki yang baik yang sehat, aman dan tidak berlebihan dari yang Kami berikan kepada kamu melalui usaha yang kamu lakukan dengan cara yang halal sehingga mempelajari literasi gizi adalah keniscayaan sebagai salah satu wujud ketuntasan amanat (menjalankan perintah-Nya) baik laki-laki maupun perempuan.
Atas taufik-Nya tergerak untuk membaca unggahan drtanremanlay beberapa hari lalu yang kemudian menjadi sarana kontemplasi sekaligus evaluasi terkait pemenuhan gizi bagi tubuh.
Tubuh adalah rumah jiwa memberinya makanan sesuai kebutuhan membuat jiwa tenteram dan aman. Mencuranginya di akhir minggu demi nafsu yang menunggu membuat jiwa gelisah dan resah. Dan suatu hari akan ada lagi yang dicurangi atau diselingkuhi dan sejuta dusta telah ditata untuk berkata, ‘Ah tak mengapa’. (*)
Barangkali bukan hanya di akhir minggu namun dalam keseharian tubuh dicurangi dengan asupan berkedok candu bukan butuh.
Kebiasaan menzalimi tubuh: mestinya bisa makan benar, akhirnya beli ‘ganjal perut’ karena rasanya ‘ehm kok enak ya?’ Akhirnya jadi kebiasaan. Kebiasaan makan nggak benar. (*)
Kebiasaan suka jajan, misalnya tanpa disadari turut andil dalam mengacaukan pola makan sehat, apalagi di zaman sekarang godaan makanan yang sedang viral sangat mewabah dan makanan tersebut belum tentu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika tidak mampu menangkalnya maka akan menjadi kebiasaan yang mengakar.
Kebiasaan menggantungkan diri pada istilah praktis. Padahal dalam hidup banyak hal harus melalui proses. Akhirnya jadi kebiasaan menghargai hasil belaka bukan proses. (*)
Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra proses (UPF); salah satunya. Hal ini terbukti dari hasil capaian industri makanan dan minuman sebagai salah satu sektor andalan penyokong pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional.
Produk ultra proses mengandalkan teknologi (termasuk pemanasan) untuk mengubah bahan segar kehilangan konten air, mineral dan antioksidan. Jika ada promosi ‘kaya vitamin dan antioksidan’ di kemasannya, itu karena proses lagi. Penambahan secara artifisial. Bukan asli dari bahan bakunya.
Tinggalkan kemasan, perbanyak kupasan. (*)
Sebab pada hakikatnya yang dibutuhkan tubuh adalah makanan yang tidak melalui pemrosesan atau sedikit sekali mengalami pemrosesan (unprocessed and minimally processed food).
Punya rempah, kaya beraneka, tersimpan nutrisi antioksidasi eh diganti aneka saus dan kecap teriyaki.
Punya matahari sepanjang tahun, ditukar kapsul ajaib katanya bikin keropos raib.
Punya sayur dan buah melimpah, mestinya dimakan dan dikunyah biar gigi sehat gula darah terawat, justru mesti beli blender mahal demi kepraktisan dan kemalasan.
Punya ikan ribuan jenis, berlemak baik dan protein tinggi, ternyata mitos salmon negeri seberang punya rating bersaing.
Punya berbagai umbi yang bikin badan sehat, malah sengaja impor gandum jadi terigu agar ekonomi kuat. (*)
Sebuah ironi nutrisi jika tidak berbarengan dengan literasi gizi.
Smoothies atau juice?
Bahasa aslinya berarti melembutkan semua yang biasa dikunyah sehingga tinggal ‘tenggak’. Di sini dibilang jus. Padahal jus bahasa aslinya berarti mengambil cairannya saja, buang serat.
Kalau punya gigi dan bisa mengunyah, mengapa pusing harus beli alat mahal, kehilangan bonus mengunyah sebagai mekanisme menguatkan gigi dan sirkulasi liur, kehilangan serat lebih konyol lagi. Pun jika masih diminum dengan seratnya, kenapa proses pencernaan yang kodratnya 3 jam mesti digas jadi 3 menit? Ada yang lebih pintar dari Tuhan?
Minum air atau infused water?
Berdalih apa pun air diminum dan buahnya dimakan lebih maksimal ketimbang pakai rumusan osmosis.
Para pakar sepakat infused water hanya transisi bagi para peminum softdrink untuk bisa pindah ke air minum sesungguhnya. Infused water hanya memberi nuansa rasa. Tidak ada studi yang membuktikan peminum infused water lebih sehat.
Fermentasi bahan-bahan yang direndam dalam infused water? Wah ngeri ya. Tahu nggak bedanya fermentasi dan pembusukan? Fermentasi harus menggunakan mikroba atau jenis jamur khusus sebab prosesnya bertujuan. (*)
Perlu mengembalikannya pada fitrah agar upaya dalam menyelesaikan masalah tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Organ tubuh, tulang, daging dan otak manusia terbuat dari susunan sel dan organel yang sama. Artinya hampir semua manusia membutuhkan zat gizi sama.
Yang membedakan: kebutuhan menurut usia, aktivitas, dan kondisi khusus (hamil/menyusui, terlanjur punya penyakit tertentu, masalah kelainan herediter). (*)
Kemenkes pun telah memberikan patokan isi piring makananku yang terbagi menjadi 3: PMBA (6-23 bulan), porsi balita (2-5 tahun) dan dewasa terdiri dari makanan pokok, protein hewani, buah/sayur, buah-buahan dan kacang-kacangan.
Tidak semua orang makan-makanan yang sama (jenisnya apalagi jumlahnya).
- Di mana siklus hidup Anda sekarang? Sedang tumbuh kembang, usia produktif, atau usia lanjut? Anak Anda, keponakan, cucu, mungkin sedang tumbuh kembang. Karenanya butuh makan-makanan untuk itu. Anda kembang ke mana?
- Apa aktivitas Anda sekarang? Kuli bangunan? Jaga toko? Rajin Webinar? Kuli atau atlet butuh makan dengan jenis dan jumlah yang menunjang kebutuhan energinya. Bayangkan jika Anda makan seperti yang mereka makan.
- Apakah Anda sedang hamil atau menyusui? Calon ibu dan ibu menyusui membutuhkan jenis dan jumlah kalori karena ia berbagi ‘gizi’ dengan anak yang sedang diasuh dalam kandungan atau buaian. Bayangkan jika Anda ngemil dan makan seperti mereka. (*)
Cukup adalah kunci dengan disesuaikan pada kebutuhan berdasarkan usia, aktivitas dan kondisi.
Buat sehat tidak ada kastanya. Artinya jika mau sehat harus beli alat masak dulu, mesin ini itu, produk tertentu, wah orang miskin tidak ada yang bisa sehat dong?
Tuhan itu adil. Di mana pun manusia berada sudah dicukupi bahan pangan yang membuatnya sehat dan berumur panjang. (*)
Hal terpenting dari sehat adalah ilmu bukan latah hingga tidak perlu mengikuti ‘aliran’ sana-sini untuk menunjang pemenuhan gizi.
Berapa banyak yang bisa dihemat jika Anda hidup sehat?
Yang pasti, memilih, meracik dan mengolah makanan sendiri jauh lebih murah. Lemari dapur tidak sesak karena botol saus, kecap apalagi bubuk-bubuk penyedap.
Tidak perlu pembersih khusus dapur untuk menghilangkan minyak yang nempel bekas menggoreng. Tidak butuh suplemen/racikan ajaib.
Tidak perlu beli alat blender atau juicer. Tidak perlu keseringan berobat pastinya! (*)
Lebih hemat lagi jika memiliki lahan untuk bercocok tanam atau memanfaatkan media lain, media tanam hidroponik misalnya.
Banyak orang menginginkan tubuhnya bekerja sesuai keinginannya: melek dan tidur tidak kenal waktu. Makan ugal-ugalan, olahraga gila-gilaan.
Padahal justru keinginan dan perilaku kita yang harusnya disesuaikan dengan irama dan kebutuhan tubuhnya sebab saat malam tubuh butuh tidur bukan lembur. Saat makan tubuh butuh pangan utuh bukan bahan olahan. (*)
Allah Subhanahu Wata’ala pun berfirman di antaranya dalam QS. Al-Qashash: 73, QS. An-Naba: 9, QS. Al-Furqan: 47 bahwa Dia menciptakan malam atau tidur untuk beristirahat.
Pola makan, istirahat dan olahraga, ketiganya harus berimbang. Jika pun harus shift malam maka pilihlah makanan terbaik yang tidak mengacaukan pola makan sehat.
Saya kepada saya; semoga tidak hanya sekadar tahu namun memiliki kesadaran pula untuk membenahi.
(*) : drtanremanlay
Advice for 2021
1. Be wise in your friendships, and in choosing whom you’ll trust.
2. Love others deeply, and enjoy relationships.
3. Plan for the future - and work hard to succeed.
4. Practise being mindful and being present in ‘the now’.
5. Choose to be happy - despite life’s challenges.
6. Remember that life changes, and most storms pass with time.
7. You only live life once, so take risks, and seize the day.
Energy Management
A human-based organization method
click on images for better resolution; images also available here (link to google drive)
Other posts that may be of interest:
Getting stuff done: How to deal with a lack of motivation
Flexible time-blocking: A more breathable way to get things done
The ABCDE Method
Ilmu.
Kenapa butuh ilmu? Supaya seimbang.
Tidak terpuruk berlebihan ketika kehilangan. Tidak senang berlebihan ketika mendapat sesuatu. Hidup tenang, senang, seimbang.
Menuntut ilmu mengubah pola pikir, membuat seseorang lebih seimbang. Tidak senang berlebihan ketika mendapat sesuatu yang diinginkan dan tidak terpuruk hancur ketika apa yang terjadi di luar perkiraan.
Bayangkan para orang tua yang harus kehilangan anaknya. Jika ilmunya berbeda, pola pikirnya berbeda, efeknya pun berbeda. In syaa Allah.
Belakangan ini yang menjadi perbincangan adalah pandemi, betapa banyak yang meninggal, termasuk anak-anak. Ada juga yang orang tuanya sudah berusaha menjaga ketat protokol.
Jika pola pikir sebagai orang tua adalah nyawa sang anak direnggut corona. Betapa sakitnya hati, merasa sia-sia sudah berusaha membesarkan anak dari bayi, balita, bahkan remaja atau yang baru saja lulus dari kuliahnya. Belum “Sukses jadi apa-apa”, sudah meninggal dunia.
Orang tua yang sekadar menyangkutkan mimpi tinggi agar anaknya menjadi orang yang berhasil di dunia saja, dan tidak menjadikan tauhid sebagai pondasinya.
Ketika musibah itu datang, dihadapi dengan pola pikir yang seperti tadi apa jadinya?
Bandingkan dengan pola pikir yang semestinya dipakai berdasarkan dalil, dengan ilmu yang Allah Subhanahu Wata’ala ajarkan dan sampaikan melalui firman-Nya, dan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bahwa semua, pada akhirnya akan merasakan mati juga. Dan tidak ada yang tahu kapan datangnya.
Maka sejak awal, prioritas orang tua adalah mendidik anaknya menjadi hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang taat, dengan harapan akan husnul khatimah kapan pun meninggalnya.
Bukannya menjadi tidak bersedih ketika anaknya meninggal. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika ditinggal anaknya.
Sedih pasti, namanya juga kasih sayang orang tua. Tetapi orang tua dengan pola pikir yang benar mereka tahu, bahwa kalaupun diambil di waktu yang tidak terduga.
Semua itu sudah tercatat sejak 50.000 tahun sebelum bumi dan langit dicipta. Dan pasti ada hikmahnya.
Mereka pun kenal, siapa yang mengambil anak kesayangannya.
Bukan corona, bukan penyakit yang mematikan, bukan kecelakaan. Itu hanya cara meninggalnya saja. Tetapi Allah Subhanahu Wata’ala yang mengambil anak mereka, kembali pada-Nya.
Dan siapa yang bisa menyayangi seorang anak lebih baik dari orang tuanya, selain Allah Subhanahu Wata’ala?
Lalu dirinya sabar dan rida, menggantungkan harap hanya pada-Nya, sebab dirinya tahu, perpisahan ini sementara.
Dengan berharap pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala dirinya move on dan terus melanjutkan perjuangan selanjutnya menjadi hamba yang taat, agar bisa dipertemukan di surga-Nya.
Jadi mari, jangan berhenti menuntut ilmu lagi dan lagi.
Terus mengganti pola pikir yang salah, sesuaikan dengan apa yang Allah Subhanahu Wata’ala sampaikan dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.
Agar selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat nanti. Sebab seseorang tidak bisa bahagia tanpa ilmu yang bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawabi.
Disarikan dari petuturan Ust. Muhammad Nuzul Dzikri حَفِظَهُ اللهُ dalam pembahasan, “Wanita Terbaik itu Naik Unta.” yang ditulis oleh loveshugah, thegangoffur.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-Kahf: 68,
“Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
Butuh kesabaran untuk menjalani hidup, sabar dalam ketaatan, sabar menghadapi musibah, sabar untuk tidak bermaksiat ketika susah maupun senang.
Dalam hidup ini, sejatinya seseorang selalu diuji, pindah dari kotak ujian yang satu ke kotak ujian yang lain.
Dan PRnya adalah tahu “Cara bermain”.
Bagaimana bisa menang, jika tidak paham aturan dan tidak memiliki tujuan?
Jadi yuk sama-sama mulai lagi benahi diri dari pijakan pertama: menuntut ilmu.
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,
“Manusia butuh ilmu, lebih dari butuhnya mereka terhadap makan dan minum, karena dalam sehari manusia butuh makan dan minum hanya satu atau dua kali, sedang kebutuhan terhadap ilmu adalah di setiap hembusan napas.” (Kitab Madarijus Salikin)
Ditulis oleh loveshugah, thegangoffur.
Dewasa itu tentang pengendalian
Manusia diciptakan Tuhan dengan kenaturalannya untuk tumbuh dan berkembang. Setiap mahluk hidup dibumi pasti akan berada pada fase itu. Tumbuh-tumbuhan, hewan dan termasuk kita sebagai manusia aku merasakanya juga. Namun, Tumbuh dan berkembangnya mereka diciptakan dengan sangat unik dan beragam.
Manusia dalam fase pertumbuhnya dimulai dari balita, anak-anak, remaja , dewasa dan tua. Itulah fase dimana perubahan-perubahan secara fisik mulai terjadi. Dalam fase ini pun laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Itulah kekuasaan Tuhan dalam penciptaannya.
Lalu bagaimana dengan perkembangannya. Perkembangan adalah perubahan kecakapan, kematangan fisik, emosi dan pikiran menuju dewasa. Disinilah kita akan belajar bagaimana mengontrol emosi, tingkah laku dan sudut pandang kita terhadap dunia.
Kedewasaan adalah proses perkembangan yang akan selalu berproses tergantung bagaimana amunisi kita yang terhadap tubuh dan pikiran kita. Karena dewasa bukan berkaitan tentang pertumbuhan. Namun tentang perkembangN terhadap pengendalian diri yang baik tentang kehidupan.
Maka mari kita belajar bagaimana menjadikan diri kita menjadi pribadi yang selalu bertumbuh dan berkembang dengan baik tergantung dari bagaimana kita memperlakukan diri kita dengan baik. Makan dengan 4 Sehat 5 sempurna, olahraga, berpikir positif dan bagaimana caranya kita belajar mengenal diri kita dengan baik.
Under God’s Blanket | my_soulwax
“Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku.” - Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
Sebab, suka dan duka sudah digariskan maka yang seharusnya dicari adalah ketenteraman hati.
“Hamba yang sukses ialah hamba yang hati, perasaan, dan indranya senantiasa tidak dilalaikan terhadap nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya pada setiap keadaan, situasi dan kondisi bagaimanapun. Dan setiap fenomena yang ia hadapi, ia senantiasa berada dalam keadaan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya terhadap segala nikmat yang diberikan berupa nikmat Islam, kesehatan, kelapangan, dan keselamatan dari setiap kejahatan.” - Khalid Al-Husainan
“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa melafazkan doa ini agar terlindung dari rasa sedih.
”Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani, yang artinya Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana dan rasa sedih.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fisik vs Visi
Karena fisik, seseorang bisa jatuh cinta dengan mudah pada pandangan pertama. Namun kian hari cinta itu bisa memudar, bahkan barangkali tak bertahan lama. Sebab fisik kelak bisa berubah, menjadi tak sesuai harapan. Sebab fisik pula, bukan penanda kesetiaan seseorang. Juga karena fisik, ada banyak pernikahan yang tak mampu bertahan.
Karena visi, seseorang bisa jatuh cinta berkali-kali pada sosok yang sama. Bahkan kian hari, cinta mereka makin erat. Menggenggam dan menguatkan satu sama lain. Sebab visi, adalah soal hati, pandangan hidup ke depan, bahkan perencanaan soal bagaimana kelak saat kembali menghadapNya. Yang tentu saja hal-hal seperti itu jauh lebih dibutuhkan untuk mengarungi kehidupan.
Karena Fisik, seorang lelaki bisa mudah terpesona. Pada manisnya senyuman, pada wajah yang meneduhkan, pada suara yang penuh kelembutan. Namun ketika waktu berjalan, yang pada akhirnya menghilangkan satu demi satu kecantikan, bisa jadi pesona itu pudar, dan cinta lelaki itu pun melebur bersama pudarnya pesona perempuan
Karena Fisik, seorang perempuan bisa dengan mudah merelakan hatinya. Pada tingginya badan, dada yang tegap, tampannya wajah, suara yang penuh keberanian. Namun kelak ketika waktu perlahan memunculkan kerutan di wajah, menggerogoti segala kekuatan, maka hati itu pun akan terbawa, pada pandangan lain yang jauh lebih menyejukkan.
Karena Visi, seorang lelaki takkan pernah bosan dalam mencintai pasangannya. Pada kecantikan pikirannya, ilmu yang terus direguknya, kelembutan akhlak dan tutur katanya, serta khidmah terhadap segala perintahnya. Sebab pada akhirnya, dalam perjuangannya menafkahi keluarganya, yang ia butuhkan adalah ketentraman di rumahnya, rumah yang betul betul menjadi rumah bagi jiwa dan raganya.
Karena Visi, seorang wanita akan terus setia pada suaminya. Tak peduli seberapa besar materi yang diberikannya, ia jauh lebih terpesona pada bagaimana kelamah-lembutan perilaku dan tutur katanya, bagaimana kepekaannya, bagaimana saat mampu menjadi pendengar yang baik atas segala keluh kesahnya, dan bagaimana ia menatap masa depan dengan penuh perjuangan dan keikhlasan. Sebab pada akhirnya, jalan ia menuju surga ada pada ridha suamiNya.
Jika kelak kamu mencari seseorang, maka carilah karena visi-nya. Karena visi yang takkan pernah pudar seiring waktu berjalan, Sebab pada akhirnya, nilai-nilai yang tertanam dalam hatinya itu jauh lebih dibutuhkan untuk hubungan yang panjang, yang abadi hingga kelak di surgaNya.
Malang, 9 September 2020, 06.12 Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Laksana Lentera.
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Dalam tafsirnya dijelaskan bahwa ada 2 macam kelemahan manusia berdasar ayat di atas;
Ketidaksesuaian perkataan dan perbuatannya; kelihatannya mudah diperbaiki namun faktanya sukar dilaksanakan. Banyak yang pandai berbicara, suka menganjurkan perbuatan baik namun ia sendiri tidak melaksanakannya.
Ingkar janji.
Sebagaimana dikisahkan dalam Alquran terkait celaan Allah Subhanahu Wata’ala terhadap sikap Bani Israil,
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Dalam tafsirnya dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ayat di atas dilatar belakangi ada di antara orang-orang Yahudi di Madinah yang memberi nasihat kepada keluarganya supaya tetap memeluk agama Islam namun mereka sendiri tidak mengamalkannya.
Tidakkah seseorang menyalahi kata-katanya sendiri? Ia yang menyuruh orang lain berbuat kebajikan namun dirinya sendiri tidak melakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabatnya sebuah doa, “Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang memberikan petunjuk dan diberi petunjuk.”
Inilah kunci kebaikan, di mana ia memberikan petunjuk kepada orang lain, dan ia pun berada di atas petunjuk, sebab ada orang-orang yang memberikan nasihat, mengajak untuk berbuat baik ternyata jalannya tidak benar. Dalam benaknya, dirinya adalah kunci kebaikan namun tersebab dirinya tidak berada di atas petunjuk (dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) maka akhirnya ia justru menyesatkan orang lain.
Dikatakan oleh Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, “Gambaran yang tepat untuk orang yang menasihati orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah laksana lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi sekelilingnya.” (Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih, 1/195)
Maka jadilah lentera yang bercahaya untuk dirinya dan orang lain. Setiap orang perlu berjuang melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan mengajak orang lain.
Disarikan dari petuturan Ust. Syafiq Riza Basalamah.
Hadanallah waiyyakum ajma'in.
“Allaahumma zayyinnaa biziinatiil iimaani waj’alnaa hudaatan muhtadiin, yang artinya Ya Allah, hiasilah (diri) kami dengan perhiasan (keindahan) iman, serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk (dari-Mu) dan memberi petunjuk (kepada orang lain).“ (HR. An-Nasai: 3/54-55 disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih An-Nasai: 1/281)
Aamiin Ya Mujibassailin.
Kita Tahu Jalannya tapi Tidak Mau Melewatinya
Seperti misalnya, kita tahu bahwa untuk bekerja dengan posisi tertentu. Kita harus menguasai bahasa inggris, tapi kita tidak mau belajar bahasa inggris. Meluangkan waktu untuk ikut kursus, keluar biaya, dan lain-lain.
Kita ingin hidup sehat, ya olahraga, tidur yang cukup, makan yang sehat. Tapi lagi-lagi, kita juga tidak mau repot-repot melakukannya.
Kita pengin banget punya jejaring yang luas seperti teman kita yang lain, atau seperti sosok panutan kita. Tapi, kita tidak mau repot berkomunitas, memulai perkenalan dan percakapan baru, membuka diri, merantau, atau melakukan perjalanan jauh untuk ikut pelatihan dan sebagainya. Kita berlindung dibalik alasan-alasan yang kita buat dalam pikiran kita; aku kan introvert, aku ga nyaman berada di lingkungan yang baru, aku tu anaknya sulit akrab sama orang baru, aku tu gak bisa kalau mau ngajak ngobrol duluan.
Usia kita udah matang buat menikah. Lingkaran pertemanan kita itu-itu saja. Sampai-sampai kita mengatakan bahwa tidak ada nih orang yang oke yang ku kenal, ya karena kenalanmu terbatas. Disarankan untuk masuk dan berada di lingkaran pertamanan baru yang lebih luas, sejuta alasan keluar. Mulai dari sibuk bekerja, tidak punya waktu luang, takut untuk keluar dari zona nyaman di daerahnya, dan semua hal yang pada dasarnya kita tahu. Kalau mau itu, harus melakukan ini.
Tapi, lagi-lagi, tidak ada aksi. Kita tidak bisa meringkas proses, tidak ada jalan pintas. Semua proses itulah yang membuat kita menjadi bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih matang untuk mengemban tanggungjawab baru.
Apa dikira, kalau circle kita meluas, tanggungjawab kita tidak bertambah? Apa dikira, kalau kita kemudian berhasil naik posisi atau dapat bekerjaan sesuai keinginan, tidak tambah tanggungjawab? Kesiapan kita itu ditempa melalui proses.
Ambil jalan itu, jalani proses itu. Nikmati setiap langkah kakinya, terjal jalannya, liku jalannya, bingungnya saat ketemu persimpangan, dan semua hal yang membuat perjalanan kita menuju hal-hal yang kita inginkan, semakin membuat hal tersebut menjadi lebih berharga. ©kurniawangunadi
Kamu terlalu baik atau aku yang begitu jahat? Sulit sekali untuk menjabarkannya.
Rasa ketidaksyukuran kepada Tuhan atas apa yang Tuhan kirimkan untukku. Aku merasa disitulah sisi ketidakbaikanku. Entahlah terkadang akupun masih mencari bagaimana caranya agar aku bisa mensyukurinya. Alih-alih aku bersyukur mengapa justru aku menganggap bahwa itu adalah sebuah beban untukku. Saat Tuhan hadirkan orang-orang baik padaku, orang-orang yang selalu ada dengan sabarnya untuk menemaiku , orang-orang siap membantu saat aku butuh pertolongan, orang-orang yang tulus dengan kata indah untuk menasehatiku saat aku kehilangan arah. Tapi mengapa bukan rasa syukur yang seharusnya hadir namun justru rasa khawatir , tanggung jawab dan ketakutan.
Aku selalu berpikir dan bertanya mengapa Kebaikan orang adalah sesuatu yang membuatku khawatir ,takut dan bahkan beban menurutku. Mungkin karena apa yang aku lakukan tidaklah cukup bahkan jauh dari apa yang mereka sudah lakukan untukku. Aku menganggap bahwa saat aku membalas semua kebaikannya itu semua tidaklah cukup , disitulah aku merasa ketidakbaikan ada didalam diriku, selalu takut , khawatir dan bingung Aku tak tak cara untuk membalas semua itu.
Bahkan aku seperti merasa lebih baik saat orang lain berlaku tidak baik terhadapku. Karena aku merasa lebih bebas untuk tidak memiliki beban untuk bagaimana cara membalas perlakuan meraka.
Hmmm sejahat itukah aku? Banyak orang-orang mengingankan orang lain berlaku baik padanya. Tapi mereka seperti tidak punya beban untuk berfikir bagaimana caranya membalasnya. Namunn itu tidaklah berlaku untukku. Aku mungkin akan merasa menjadi manusia jahat saat aku tidak mampu membalas segala kebaikan mereka.
Cara terbaik yg bisa aku lakukan hanyalah do'a yang tulus untuk mereka orang-orang baik. Karena aku percaya tak ada cara terbaik untuk membalas semua kebaikan seseorang selain kebaikan dari keindahan prilaku , ahlak dan kesediaan kita agar selalu ada untuk meraka serta do'a terindah untuk mereka yang tulus yang bisa memghantarkan mereka untuk tetap menjadi orang-orang baik Yang Tuhan lindungi.
Orang tua dan sahabat adalah contoh orang-orang baik yang mereka butuhkan bukan hanya sikap baik kita terhadapnya namun doa yang kita panjatkan adalah jalan agar Tuhan ikutserta dalam segala kebaikan. Karena disitulah sumber kebaikan yaitu Tuhan yang Maha baik dengan segala kebaikannya.
Akupun sadar bahwa disitulah cara diamana agar aku mensyukuri mereka orang-orang baik yang hadir di kehidupanku yaitu berbuat baikah sebisa kita perbuat dan doakan mereka dengan doa sebaik yang itu baik untuk mereka.
Semoga Tuhan menjaga mereka
20:41 August 20 2020
Dewasa itu...
"Talang air pecah tadi malam. Mungkin kepanasan. Regulator gas udah mulai ga ngunci. Plafon kamar mandi lubangnya udah mulai besar. TV dari kemarin ndak ada suaranya. Listrik suka mati karena gak kuat, mesti naikin daya. Ini mau kemarau. Air sumur biasanya suka kering. Mending pasang air pam aja."
Waktu kecil, masalah harian, bulanan atau tahunan di atas tidak pernah saya ambil pusing. Tanggung jawab saya hanya berangkat sekolah, ngerjain PR dan makan tepat waktu. Itu saja. Masalah lain saya anggap angin lalu, sebab saya percaya semua pasti beres.
Di dalam pikiran saya, Orang tua saya hebat. Pasti punya tabungan yang cukup untuk bertahan hidup dan memperbaiki ini itu. Semua orang tua, saya pikir juga demikian. Semua orang tua pasti sudah punya tabungan banyak sebelum memutuskan menikah dan siap mengurus anak dan memperbaiki ini itu. Mental orang tua pasti kuat dan punya seribu satu cara mencari uang dan menyelesaikan masalah.
Dulu waktu kecil, semua masalah pasti beres. Entah bagaimana beresnya. Entah berapa uang yang dikeluarkan. Entah di mana beli ini itu. Entah lebih penting itu atau itu, prioritas ini dulu atau itu dulu. Entah dari mana sendok dan piring datang. Entah dari mana panci, gunting, korden jendela datang. Tiba-tiba saja semua ada.
Ketika merengek minta uang dan mereka bilang tak punya, saya yakin mereka sebetulnya punya. Tapi memang tak mau terlalu boros. Entah di mana mereka menyimpan uang, pasti di suatu tempat ada persediaan uang yang banyak yang betul-betul mereka atur dan pasti dikeluarkan saat kondisi mendesak. Jadi tak perlu khawatir.
Sekarang, setelah orang tua saya menganggur dan saya bekerja, saya mengerti. Bagaimana tidur dengan pikiran mengganjal. Besok mesti memperbaiki ini itu. Membayar ini itu. Beli ini itu. Saya paham jika ini tidak dibeli maka ini tidak bisa ada di rumah. Jika ini dibeli maka uang berkurang dan keperluan lain tertunda. Jika keperluan yang lain tertunda bisa jadi nanti berantakan. Tidak bisa masak. Tidak bisa mandi.
Sekarang, saat sumber keuangan datangnya hanya ke saya (dalam keluarga) maka otomatis tanggung jawab semua keperluan ada di pundak saya. Jika ini itu tidak diperbaiki maka tidak akan diperbaiki. Jika plafon kamar mandi tidak diganti maka akan terus seperti itu. Jika oli motor tidak diganti maka tidak akan diganti. Tidak ada yang bisa diandalkan lagi, sebab saya sudah dewasa dan punya pemasukan.
Menjadi dewasa artinya sadar diri dan sadar lingkungan. Jika ini rusak dan saya ikut menggunakannya maka saya juga bertanggung jawab ikut memperbaikinya. Tidak bisa mengandalkan tetangga. Tetangga sudah punya masalah mereka sendiri. Tidak bisa mengandalkan orang tua lagi. Orang tua juga punya masalah dan perjuangan mereka sendiri.
Sekarang, setelah memegang uang sendiri saya tahu bahwa jika tak punya uang artinya memang tak punya. Bahwa dalam kondisi mendesak pun jika tak punya uang maka betul-betul tak punya. Bahwa ternyata orang tua saya pun bisa tak punya uang. Bisa tak memegang uang. Bisa stuck seperti anak kecil yang kehabisan uang saku saat di sekolah. Bahwa orang tua tak selalu punya. Bahwa kadang orang tua pun bisa sangat senang mendapat uang 10 ribu.
Menjadi dewasa artinya mesti belajar banyak hal. Belajar mengganti regulator, memperbaiki stopkontak. Mesti belajar cara memasang pralon dan keran air untuk menghemat uang. Mesti tahu tarif wajar tukang saat ada genting bocor, antena patah atau mau membangun kamar mandi baru. Berapa harga semen dan pasir. Beli di mana yang lebih hemat. Merk semen apa yang bagus. Keramik apa yang paling cocok untuk kamar mandi dan murah.
Menjadi dewasa artinya mesti pandai bersikap dan menanggapi situasi. Mesti tahu informasi hidup orang-orang sekitar, mesti pandai memilah kata sebelum diucapkan supaya tidak menyinggung. Mesti tahu ibu ini pihak mana ibu itu pihak mana. Mesti tahu bapak itu punya masa lalu buruk dengan bapak A atau B. Juga mesti membesarkan hati dan siap karena saya akan mulai menjadi salah satu objek pembicaraan orang di sekitar.
Menjadi dewasa artinya masuk ke dalam sistem sosial. Bahwa saya juga bisa sakit dan perlu berobat. Mendaftarkan diri ke puskesmas. Mengantri di poli klinik rumah sakit. Menebus obat di apotek. Mengurus SIM, bayar pajak di samsat, iuran bpjs. Semua tidak akan didapat jika saya tidak bergerak. Saya tidak bisa sembuh jika tidak berobat. Waktu kecil. Saat sakit yang jadi masalah hanya rasa sakit. Menahan sakit. Masalah biaya, masalah pergi berobat, masalah administrasi sudah ada yang mengurus. Sudah ada yang memikirkan. Saat dewasa, sakit pun mesti memikirkan biaya obat, biaya menginap, biaya konsultasi dokter, biaya transportasi.
Menjadi dewasa artinya menjadi warga negara. Bahwa nama telah tercantum dalam beberapa kartu dan surat-surat penting. Bahwa nama bukan lagi hanya sekedar nama panggilan. Bahwa saya memiliki suara untuk memilih. Bahwa apa yang saya putuskan dan lakukan bisa berdampak besar. Bahwa jika melakukan kesalahan atau kejahatan saya bisa dipidana.
Menjadi dewasa artinya kesadaran makin tinggi dan luas. secara tak sadar saya mesti mengamati tatapan mata orang lain, cara mereka bicara, adakah yang disembunyikan. Senyum yang tulus atau tidak. Basa basi atau serius. Dia suka dengan saya atau tidak. Bagaimana saya mesti menguasai suasana. Berpakaian sesuai suasana. Bersikap sesuai suasana. Rasa malu pun juga menjadi sangat besar dan sensitif.
Waktu kecil, bahkan saya tidak peduli saya di mana. Mau di rumah, pasar, loket kereta, di dalam bus, di tengah hajatan, saya hanya fokus dengan apa yang membuat saya tertarik. Saya tidak peduli dengan yang lain. Saya hanya peduli teman saya bersembunyi di mana. Semak-semak atau di belakang rumah. Saya hanya peduli dengan dunia yang baru saja jadi tepat saat kawan dan saya menentukan siapa yang berjaga siapa yang bersembunyi.
Menjadi dewasa artinya kesadaran semakin dalam. Mau tidak mau pikiran secara tidak sadar memperhatikan hal-hal kecil dan artinya mesti belajar bahwa hal-hal kecil pun sebenarnya penting dan tidak bisa dianggap remeh. Bahwa bilang begini belum tentu orang menerimanya dengan baik. Bahwa hal yang sepele pun bisa menyakiti orang lain.
Menjadi dewasa artinya kepekaan semakin sensitif. Peka ketika orang lain membicarakan saya dan saya mesti belajar pura-pura tidak mendengarnya. Peka ketika ada yang tidak suka dengan saya. Peka ketika ada yang butuh bantuan tapi tidak berani bilang. Peka dalam memahami apa yang bahkan tidak dikatakan. Peka terhadap maksud orang lain yang disembunyikan. Peka ketika ada tamu dan mesti mencarikan cemilan dan minum. Peka ketika ada orang yang suka dengan saya tapi saya mesti menjaga jarak. Kepekaan itu datang dengan sendirinya dan semakin sensitif dari waktu ke waktu.
Menjadi dewasa artinya rasa malu semakin besar. Sering tidak pede dengan bentuk badan atau wajah sendiri. Tidak bisa bersikap sesuai dengan keinginan hati. Tidak bisa makan sambil lari ke sana ke mari. Tidak bisa memakai pakaian seenak hati. Tidak bisa banyak tingkah di tengah banyak orang.
Menjadi dewasa artinya menjadi bagian dari masyarakat. Mulai diperhatikan dan dibicarakan. Tidak seperti anak-anak yang diabaikan segala tingkahnya. Menjadi dewasa, segala sikap, ucapan dan pikiran akan diperhatikan dan dinilai orang lain. Tidak bisa nyelonong ke sana ke sini dan berharap diabaikan banyak orang.
Menjadi dewasa artinya sadar terhadap sistem dunia dan menjadi lebih realistis. Bahwa jika tak membeli maka tak punya. Bahwa jika tak punya maka tak bisa memakai. Bahwa jika tak punya kulkas maka tak bisa mendinginkan air dan menambah usia sayur. Bahwa jika tak punya mesin cuci maka mesti mencuci dengan tangan. Bahwa jika tak beli sabun maka tak bisa mandi. Bahwa jika tak bekerja maka tak punya pemasukan. Bahwa jika pengeluaran lebih besar dari pemasukan maka akan terlilit hutang. Bahwa jika tak bergerak maka tak bisa beli ini itu. Bahwa jika tak punya uang berarti memang tak punya uang. Bahwa jika tak punya keahlian tertentu maka akan tertinggal.
Bahwa teman-teman lebih butuh lunas cicilan motor daripada main hujan atau petak umpet. Bahwa senang-senang dan tertawa sepanjang hari tidak bisa membuat kenyang. Bahwa semua butuh uang. Bahwa uang penting. Bahwa uang meski bukan segala-segalanya tapi hampir segala-galanya butuh uang. Bahwa jika tak punya uang segalanya jadi sulit. Bahwa orang baik pun butuh uang. Bahwa hidup bukan hanya masalah makan minum.
Bahwa hidup tidak seperti film yang hanya fokus pada kerangka cerita saja. Bahwa hidup artinya menjalani inci demi inci, aroma demi aroma, kenangan demi kenangan, keringat demi keringat, air mata demi air mata. Bahwa hidup puncaknya bukan happy ending. Bahwa ketika berada di puncak kebahagiaan bisa jadi besok jatuh lagi. Bahwa ending dalam hidup adalah kematian, bukan terwujudnya impian.
Bahwa masa tua yang berat dan lemah pun mesti dijalani, bahagia atau tidak. Suka atau tidak suka. Bahwa ketika kehilangan seseorang artinya memang kehilangan. Tidak bisa ditawar tidak bisa merengek supaya ia kembali.
Menjadi dewasa artinya mesti belajar merelakan. Merelakan orang yang sangat disayang tiada. Merelakan kegagalan. Merelakan kekecewaan. Merelakan hal-hal yang tidak berjalan dengan baik. Merelakan waktu dan tenaga yang terkuras namun tidak menghasilkan apa-apa.
Merelakan kesalahan saat memutuskan. Merelakan kejadian yang mengubah banyak hal. Merelakan keadaan yang menempatkan diri dalam posisi sulit. Merelakan ketidakberuntungan. Merelakan posisi diri yang berbeda dengan orang lain.
Menjadi dewasa artinya mesti sabar. Tak bisa meluapkan emosi dengan tangisan (supaya yang diingini segera ada). Tak bisa meminta simpati orang lain dengan tangisan. Tak bisa merengek minta ini itu kepada orang lain.
Tak bisa memencet tombol skip untuk melewati waktu yang sulit, melewati malam hari saat sakit, melewati bulan yang buruk, melewati waktu magang yang tidak mengenakan, melewati tahun yang menyebalkan, melewati beberapa jam saat antre. Tak ada tombol skip.
Menjadi dewasa artinya mesti ikhlas dan tidak terlalu bergantung pada emosi. Tidak terlalu kecewa ketika sesuatu tidak berjalan baik. Tidak terlalu marah ketika es buah yang sudah disimpan dikulkas dimakan orang lain. Tidak terlalu kecewa ketika keinginan tidak terwujud. Tidak terlalu marah ketika barang kesayangan jatuh dan rusak.
Pada akhirnya hanya perlu bilang "ya sudahlah.tak apa." lalu lebih fokus memperbaiki apa yang rusak, mencari jalan keluar, mencari cara mengatur ulang rencana daripada merengek dan kecewa berlarut-larut.
Lebih ingin segera menyelesaikan masalah dengan cepat dan sederhana. Malas memperuncing permasalahan dan suasana. Malas mengeluarkan energi lebih.
Menjadi dewasa artinya tidak seantusias dulu waktu kecil. Tidak terlalu ingin naik bianglala, tidak terlalu antusias datang ke pasar malam, tidak terlalu antusias bermain air, tidak terlalu antusias pergi piknik. Saat dewasa banyak yang sudah dialami, banyak yang sudah dirasakan. Hal-hal yang dulu membuat antusias menjadi biasa saja, membosankan dan terkesan merepotkan.
Malas basah-basah, mesti bawa plastik, menyimpan baju basah, ganti baju di kamar mandi umum, nanti pulang mesti bilas mandi, mesti nyuci baju basah. Pergi piknik pun malas. Mesti nyiapin pakaian, uang, barang ini itu, bekal, outfit yang sesuai dengan tempat dan tidak membuat malu.
Menjadi dewasa artinya masuk ke dalam norma sosial. Mesti memperhatikan norma-norma di setiap tempat. Mesti memperhatikan sikap diri sendiri, sikap orang lain dan penilaian orang lain. Mesti membangun persona tertentu. Mesti menahan diri.
Menjadi dewasa artinya mesti mengikuti irama waktu. Bahwa ada yang bisa ditunda ada yang harus segera. Ada yang prioritas ada yang bisa dikesampingkan. Ada yang kebutuhan ada yang keinginan. Ada yang sekarang ada yang nanti. Ada kemarin, ada sekarang, ada besok. Ada masa lalu, masa kini dan masa depan.
Menjadi dewasa artinya menjadi manajer diri. Mesti mengatur waktu, mengatur keperluan, mengatur pengeluaran dan pemasukan. Mengatur emosi dan mood. Mengatur rencana ke depan. Sebab tidak ada orang lain yang akan melakukan itu semua untuk saya.
Menjadi dewasa artinya menjadi pemimpin diri. Mesti memutuskan keputusan-keputusan sulit. Mesti memikirkan konsekuensi ke depan. Terhadap diri saya sendiri dan orang lain. Mesti memikirkan untung dan rugi. Baik dan buruk. Pantas dan tidak pantas
Menjadi dewasa artinya pikiran semakin luas dan sibuk. Banyak yang mesti dipikirkan. Dari hal-hal sepele sampai besar. Rencana-rencana ke depan sampai masa lalu. Dari kejadian kemarin sore sampai kejadian tadi pagi. Dari hal-hal yang sudah terjadi sampai hal-hal yang belum terjadi, yang masih diawang-awang:
Besok ketemu ini itu. Bicara di depan banyak orang. Kira-kira baju apa yang bagus. Pakai kaos kaki atau tidak. Rambut perlu potong tidak. Presentasi ini perlu dijelaskan atau tidak. Saat pembukaan lebih baik begini atau begitu. Berapa orang yang hadir. Jam berapa sebaiknya mandi.
Tahun depan mau ngapain. Kerja di mana. Nikah umur berapa. Mending kontrak atau di rumah aja. Kalau ikut mertua enak atau ndak. Gimana kalau konflik dengan mertua. Mending anak 1 atau 2. Nanti sekolahnya di negeri atau swasta. Nanti uang cukup ndak untuk kebutuhan sehari-hari. Makan, pakaian anak istri, bantu orang tua juga. Bagaimana jika anak tidak bahagia dan merasa kekurangan. Bagaimana jika istri merasa susah karena tidak punya kulkas, mesin cuci, rumah tidak terlalu bagus. Bagaimana jika nanti saya bosan dengan istri sendiri. Bagaimana jika ada konflik. Bagaimana jika nanti kita bertengkar. Bagaimana jika nanti begini begitu.
Saya tidak sedang membicarakan makna kedewasaan secara hakiki atau psikologis. Saya juga tidak sedang membicarakan usia. Saya membicarakan kondisi seseorang yang sadar bahwa dirinya sudah bukan bocah lagi.
Selamat tinggal masa kecilku.
LUAS . . Bapak berpesan dan bilang, kita seharusnya memiliki keluasan. Keluasan Hati, keluasan fikiran, keluasan pandangan dan bahkan keluasan untuk mengenal Alam. Keluasan adalah bagian dari kebebasan yang tak tertekan dengan segala himpitan penderitaan yang terjadi. Karena keluasan ada kebebasan yang damai. #beach #sun #nature #water #TFLers #ocean #lake #instagood #photooftheday #beautiful #sky #clouds #cloudporn #fun #pretty #sand #reflection #amazing #beauty #beautiful #shore #waterfoam #seashore #waves #wave#gaomeiwetland #taichungexplore #taiwan #taichung (at 高美濕地 Gaomei Wetland) https://www.instagram.com/p/CDLhqDKnOA9/?igshid=17tinb9affkpg
Makna Makna di dalam Adzan
Tulisan ini saya tulis kembali dari mutiara hikmah yang disampaikan oleh Habib Ali Al - Jufri. Sengaja saya sarikan dan rangkum di sini, agar semoga menjadi perenungan bagi kita bersama. Barangkali, adzan yang kita dengar lima kali sehari, jikalau belum jua mampu mengetuk pintu hati, semoga selepas merenungi melalui tulisan ini, kita semakin merefleksikan diri.
Jika shalat adalah pertemuan dengan Allah, maka sudah seyogianya kita menjadikan diri ini senantiasa bersiap menyambut pertemuan denganNya. Jadikanlah ini sebagai kaidah tetap kita, yakni, bersiap untuk shalat sebelum datang waktunya. Maka jadikanlah kondisi di mana seringkali kita dikejutkan oleh adzan, menjadi kondisi yang jarang terjadi dalam keseharian kita. Sebab Azan, memiliki makna yang begitu dalam
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Hidupkanlah makna “Allahu Akbar” dalam hati kita, saat kita menjawab seruan tersebut dengan kalimat yang sama. Yang dituju dari ucapan kita, “Allahu Akbar” bukanlah berarti bahwa Allah lebih besar dari selain Dia. Sungguh bukan ini maksudnya yang hakiki. Sebab sudah jelas, bahwa tak terbantahkan Allah SWT Mahabesar, hingga tak dapat dibandingkan dengan segala sesuatu pun.
Namun maknailah Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Dia lebih besar dari segala yang terbersit ke dalam hati kita selain Dia, pada saat Dia memanggilmu untuk datang menghadapnya
Allahu Akbar, Allah Maha Besar, dan Lebih Besar untuk dihampiri daripada saat kita mementingkan diri kita, keluarga kita, harta kita, dan sesuatu yang besar ataupun yang kecil dari makhluk apapun juga
Allahu Akbar, Allah Maha Besar dan Lebih Besar dari segala kesibukan kita selain kepadaNya
Allahu Akbar, Allah Maha Besar dan Lebih Besar dari segala sesuatu yang kita sangkakan, yang kita yakini, dan segala yang aku berbaik sangka terhadapNya
Karena seperti apapun baik sangkaan kita kpeadaNya, pasti Dia lebih besar dari segala sangkaan baik kita kepadaNya. Seperti apapun kita mencintaiNya, pasti Allah Lebih Besar dari cinta kita kepadaNya. Bahkan seberapa besarnya harapan kita terhadap segala karuniaNya, pasti karuniaNya lebih besar dan lebih agung dari segala harapan kita.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah
Bilamana kita senantiasa menghidupkan makna kalimat ini di hati kita, niscaya kita akan senantiasa gundah gulana karenaNya, di setiap adzan yang berkumandang.
Sebab makna “Asyhadu (aku bersaksi)”, adalah kalimat yang padanya terdapat makna saat-saat engkau menaiki tingkatan derajat di sisi Allah SWT. Dia menududukkan hamba-hamba yang dicintaiNya di atas derajat itu, untuk disandingkan dengan kesaksianNya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 38, bahwa yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah adalah Allah sendiri. Kemudian Dia menyandingkan kesaksianNya itu dengan kesaksian para malaikat sebagai pertanda tingginya kedudukan mereka. Allah juga menyandingkan kesaksian para ahli ilmu dengan pertanda yang sama.
Maka bilamana mendengar Asyhadul allaa ilaaha illallaah, kita menjawab dengan lisan dengan kalimat yang sama, sementara rasakan dalam hati kita bahwa syahadat kita (kesaksian kita) berkaitan dengan syahadatNya terhadap DiriNya sendiri, Allah SWT.
Kemudian, dalam kalimat tersebut, kita menafikan melalui ucapan “laa ilaaha (Tiada Tuhan)…”, keluarkan segala sesuatu selainNya dari hatimu. Hadirkanlah makna itu. Kemudian pada kalimat, “illallaah (selain Allah)”, kita membayangkan bahwa tiada sesuatu pun yang tersisa di hati kita melainkan Allah.
Asyhadu Anna Muhammmadar Rasuulullaah…
Sampailah kita pada kalimat di mana nama sang kekasih tercinta disebut. Manusia yang sudah seharusnya menjadi sosok yang paling dicinta dalam hati kita. Ketika kita mendar nama “Muhammad”, bagaimana respons hati ini? Adakah kita seperti Bilal yang bahkan tak sanggup melanjutkan adzannya manakala mengumandangkan selepas Rasulullah berpulang?
Maka hendaknya kita merasakan keagungan makna kalimat “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah…”, yang jika karena bukan beliau, Baginda Nabi Muhammad SAW, niscaya kita takkan pernah mengenal adzan, takkan mengenal shalat, dan tidak pula mengenal laa ilaaha illallaah, yang tidaklah sempurna iman kita sampai Rasulullah SAW lebih engkau cintai dari diri kita sendiri, dan dari orang orang di sekitar kita. Allah menjadikan cintaNya berkaitan dengan cinta kepada Rasulullah SAW, yang bahkan Allah SAW tidak mengaitkan cinta kepadaNya dengan seseorang pun dari hambaNya selain Baginda Nabi Muhammad SAW.
Maka kala adzan dikumandangkan, kala syahadaturrasul diucapkan, hadirkanlah dalam hati, perasaan cinta yang menggebu, perasaan kerinduan yang membuncah untuk dapat bertemu dengan Rasulullah SAW.
Hayya ‘Alash Shalaah….
Ketika mendengar kalimat ini, maka hadirkan dalam hati kita makna izin, sebab Allah telah berkenan dan mengizinkan kita untuk bertemu. Sanggupkah kita untuk tetap berdiam duduk di tempat kita setelah mendengar muazin menyerukan kumandang ini: “hayya ‘alash shalaah…” Mari Menuju Shalat. Maka kita jawab dengan “laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, sebab itu bermakna bahwa tidaklah kita mampu berdiri dengan kekuatan dan kuasa kita sendiri, melainkan dengan taufik dari Allah SWT kepada kita.
Hayya ‘alal falaah…. Allahu Akbar Allaahu Akbar… Laa ilaaha illallaah…
Demikian pula dnegan kalimat ini, bahwa kita hendaknya merasakan yang lebih luhur dari “sekedar” membesarkan atau mengagungkan Allah, seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Dapat kita pahami, bahwa azan diawali dengan nama Allah, dan diakhiri pula dengan namaNya. Dimulai dengan kalimat Allahu Akbar, dan diakhiri dengan “laa ilaaha illallaah”. Hal ini bermankna bahwa seluruh hidup kita bermula dari Allah SWT, dan pungkasannya menuju Allah SWT.
Usai muazin selesai mengumandangkan azan, bershalawatlah kepada Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim: 384
Bilamana kita mendengar muazin, jawablah seperti apa yang diucapkan muazin. Kemudian bershalawatlah kepada Rasulullah, karena sesungguhnya siapa yang satu kali bershalawat kepad Rasulullah, Allah bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.