Mengakhiri Tawa dengan Kata Maaf
Melalui sambungan telepon kantor, aku dan seorang teman mengobrol di penghujung jam pulang kerja di hari Sabtu:
🧕: Saf, kamu mau kemana hari ini?
👩🏻💼: gak kemana-mana kak
🧕: Nunggu masmu ta?
👩🏻💼: Iya kak, kenapa?
🧕: Ayo ikut aku saf, kamu nunggu masmu sampe jam 3 kan?
👩🏻💼: Iya, mau kemana emang?
🧕: Dah lah, ayoo ...
Kemudian terciptalah foto ini
Sepertinya saat itu adalah pertama kalinya kami jalan berdua saja, padahal biasanya berempat. Di perjalanan, yang tentu saja aku dibonceng, aku berpikir keras, kakak adalah sosok yang cukup pendiam, dan aku gak pandai mencari topik, jadi aku merasa sedikit awkward jika nongkrong cuma berdua.
Tapi ternyata, itu adalah awal dari keakraban kami berdua untuk pergi main atau sekadar makan siang berdua :')
Aku masih ingat betul, di awal aku masuk kerja, aku tidak begitu banyak bicara. Aku hanya sesekali menjawab pertanyaan atau menimpali percakapan orang-orang di depan dan samping mejaku. Saat itu, dia duduk berseberangan denganku dengan posisi meja dan kursi yang saling membelakangi. Dia menoleh kebelakang, mengajak teman yang duduk di sebelah kiriku untuk nongkrong sepulang kerja. Kemudian aku dengar dia setengah berbisik, "Ajak Safira juga."
Jujur saja, saat itu aku merasa senang, mengingat aku bukan orang yang mudah beradaptasi di lingkungan baru. Selain itu juga karena Allah mengijabah doaku agar aku dikelilingi oleh orang baik di tempat kerjaku yang pertama ini. Sejak saat itu, aku, dia dan dua temanku yang lain sering menghabiskan waktu berempat.
Aku memanggilnya "Kakak" karena di keluarganya dia dipanggil "Kakak" dan kebetulan, di circle berempatku, dia satu-satunya yang anak pertama, sedangkan lainnya adalah anak bungsu semua. Saat aku tahu bahwa dia anak pertama dari 4 bersaudara, aku seolah memahami betapa beban berat di pundaknya sebagai anak pertama, perempuan pula. Terbukti, dia jarang sekali mengeluh. Dia sangat berbakti pada orangtuanya. Bahkan di tengah rasa sakitnya pun dia masih berusaha tanggung jawab dengan pekerjaannya. Kadang sesekali kumarahi dia, jika sampai tengah malam masih sibuk ngurusin pekerjaan.
Di pertengahan tahun kemarin, dia akhirnya dapat mewujudkan impiannya yaitu melangsungkan pernikahan dengan tambatan hati yang sebelumnya tidak terlalu banyak di-spill. Dia sosok yang sepadan untuk kakak, seorang wanita tangguh yang sesekali memiliki jiwa kekanakan.
Di masa-masa perjuangannya untuk pulih, dia sempat beberapa kali masuk kerja dengan kondisi lemas dan pucat. Entah dia ingin mengalihkan pikiran dan berkegiatan atau bagaimana, tapi aku yakin keputusannya itu diambil setelah berkonsultasi dengan dokter. Yaa.. meskipun beberapa saat kemudian dia drop lagi. Aku bersyukur dia menemukan sosok yang benar-benar setia mendampingi dan menghiburnya di masa-masa sulit itu. Sampai di penghujung tahun 2025 hingga Januari 2026 dia mulai keluar-masuk rumah sakit dan benar-benar off dari pekerjaan, entah untuk kontrol ataupun rawat inap.
Kalau orang-orang memiliki trauma dengan sirine ambulans, maka aku ada trauma dengan mimpi dan bunyi telepon.
Persis beberapa hari sebelum hari terakhir itu, aku melihat dia tersenyum ceria (sama seperti foto di atas) di dalam mimpiku. Sempat berpikir itu pertanda baik, tapi dering telepon WA yang berulang di pagi hari, Kamis tanggal 29 Januari 2026, membuat perasaanku tidak tenang dan menghancurkan harapanku. Sempat merasa enggan untuk menjawab karna rasa traumaku, tapi akhirnya kuberanikan diri untuk menjawab. Ya, bertambah lukaku, sobat Gen Z yang selalu baik padaku pergi untuk selamanya. Rasanya masih tidak nyata, sosok yang begitu tulus, ceria, care, loyal, dan kuat, telah pergi jauh ke alam yang berbeda. Tapi ini lah kehidupan. Ada datang dan pergi, ada pertemuan dan perpisahan. Namun perpisahan yang seperti ini adalah perpisahan yang tidak akan pernah siap kuhadapi.
Sekarang aku udah gak punya temen buat cari makan siang lagi, setelah mbak anggie resign, dan kamu pergi untuk selamanya, kak. Terima kasih yaa dulu kamu rela masak dan bawa porsi dobel, satunya khusus buat aku, untuk bekal maksi di kantor. Terima kasih udah nemenin aku sampe jemputanku datang. Terima kasih udah ngenalin aku dengan dunia anak muda yang kekinian tapi tetep agamis. Aku bersyukur kita pernah ketemu dan bercengkrama meskipun hanya dalam waktu yang singkat. Terima kasih sudah berjuang hingga akhir denyut nadimu 🥹🫶🏻
Terima kasih untuk setiap kebaikan yang kamu kasih ke aku, kak. Maaf aku belum bisa membalasnya dengan hal yang sepadan. Semoga terang di alam kuburmu dan dimudahkan jalanmu menuju surga, aamiin 🤲🏻
Sampai jumpa, kak.
We miss you and we always love you 🤍
Maskinah Amelia
Al-fatihah 🌸

















