Saya lahir ke dunia, dilahirkan oleh wanita hebat yang saya sebut Ibu, dengan susah payah dan bertaruh nyawa, bayi perempuan dengan berat 3,7 ons yang memilih jalan lahirnya sendiri dengan operasi. Ibu saya bukan dari keluarga yang berada, tapi beliau mengusahakan saya bersama bapak untuk lahir ke dunia ini. Saya perempuan yang dilahirkan tanpa privilege.
Saya tumbuh sebagai seorang anak perempuan yang dari kecil dibiasakan berani kemana-mana sendiri. Bahkan sejak saya PAUD, saya hanya diantar satu kali oleh Ibu saya waktu pendaftaran, setelah itu saya harus berangkat sendiri dan saat pengambilan rapot PAUD saya mengambilnya sendiri. Begitupun saat SD, Ibu membiarkan saya berangkat sendiri. Dulu, saya berpikir bahwa Ibu saya tega dengan saya, tapi tidak sekarang.
Sejak kecil, saya merupakan seorang anak yang hampir sempurna kasih sayangnya, walau memang saya merasa perlakuan untuk saya dan kakak saya berbeda, lebih condong kepada saudara laki-laki saya. Saya hampir tidak pernah mempermasalahkan mengenai hal ini. Daridulu, saya adalah anak perempuan yang bisa dikatakan tidak pernah menuntut, apapun itu.
Ketika saya menginginkan sebuah barang yang harganya cukup mahal, handphone misalnya, saya hanya diam. Sesekali saya hanya bilang "bagus ya" tapi saya biasanya memang hanya memakai barang second dari kakak saya.
Ibu saya adalah wanita yang berprinsip kuat, sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan adalah nomer satu untuknya. Sehingga saya harus les dimana-mana saat itu dengan sepeda cica setiap sore. Mulai dari les pelajaran harian, les bahasa inggris, dan les fisika. Semua saya lakoni. Saya juga dituntut untuk menjadi anak yang berprestasi, walaupun tuntutan ini tergolong berat untuk saya saat itu. Alhamdulilah, selalu bisa menjadi tiga besar. Namun, hal yang saya ingat saat kelulusan SD, saya mengecewakan Ibu saya dengan hasil minim yang saya dapatkan walau rata² masih jauh dari 8,50.
SMP saya ditemani Ibu saya hanya cukup hingga kelas 7 menjelang kenaikan kelas. Ibu saya tiada, Ibu saya kembali kepada Allah tepat pada tanggal 16 Mei 2012 pukul 23.50. Saya masih ingat betul kejadian itu, saya tau Ibu saya tiada saja dari speaker masjid seusai sholat subuh, tidak ada satupun orang yang memberi tahu saya kala itu. Hancur. Tidak tau harus bagaimana, semuanya rasanya usai. Hal yang paling saya takutkan sudah terjadi.
Kehidupan saya setelah Ibu pergi berbalik 180°. Sulit, berat, penuh rintangan dan perjuangan. Saya ingat bahwa orang berkata doa Ibu adalah kunci. Setelah Ibu tiada, doa itu sudah tidak membersamai saya lagi. Ibu mendoakan saya jangka panjang memang, namun saya tidak bisa meminta restu lagi atas apapun yang saya kerjakan.
Hubungan keluarga kami renggang, saya sudah hampir malas dan muak dengan perbedaan yang ada. Saya tinggal sendiri di kampung, bapak dan kakak saya ke Ibukota. Kehidupan saya di kampung berjalan dari transferan tiap bulan oleh Bapak saya, yang kemudian saat akhir SMA dari kakak saya. Orang lain bilang, hidup saya enak, berkecukupan. Padahal nyatanya tidak, saya harus membagi uang tersebut untuk segala sesuatu. Apalagi saat SMA, saya harus membayar SPP juga. Disisi kebutuhan dari dulu yang sudah berjalan seperti listrik, belanja bulanan, iuran warga, dsb.
Pernah suatu waktu, uang ditangan saya hanya sisa dua ribu rupiah saja. Tidak ada apapun di rumah, hanya ada beras. Akhirnya, saya harus memutar otak dengan masak apapun yang ada dan bisa dibeli dengan harga seribu. Saat SMA, saya juga melakoni bisnis online, apapun saya jual. Asalkan saya bisa sedikit bahagia dengan penghasilan saya sendiri. Cukup berat, tapi saya happy menjalaninya. Pulang sekolah, saya langsung ke kabupaten untuk mengambil barang, hujan² pun tetap berangkat. Tiap hari pulang sore karena harus COD dll.
Saya daridulu hampir tidak pernah meminta tambahan uang diluar jatah kecuali sangat mendesak. Itulah mengapa, saya sangat tidak suka ketika mendengar omongan bahwa saya sering meminta uang. Dengan keadaan seperti ini, saya tahu harus berlaku bagaimana.
Teman-teman saya pun juga tahu, bagaimana saya ketika saya menginginkan sesuatu, tidak akan langsung saya beli. Pakaian saya pakaian murah, bahkan saya tidak memakai cream apapun itu, hanya sabun cuci muka itupun saya pilih yang promoan. Saya tidak pelit, tapi saya tau mana yang harus saya prioritaskan terlebih dahulu untuk hidup saya, saya tahu saya harus bagaimana.
Tidak ada satupun manusia menurut saya yang ingin terlahir dengan tubuh gendut, hitam, keriting, atau apapun itu yang bukan menjadi standar cantik orang Indonesia terutama. Begitupun saya, saya adalah perempuan yang pendek, gendut, kulit wajah kusam dan sawo matang, dst. Apakah saya malu? Awalnya tidak, tapi selalu ada saja orang yang mematahkan percaya diri saya, sampai saya harus ngaca berkali-kali dan meyakinkan saya cantik dengan cara saya sendiri.
Saya tumbuh dengan bullying sejak saya SD. Saking pendiamnya saya, saya harus dipalak setiap hari saat itu, belum lagi saya disuruh mengerjakan tugas teman saya lalu dia mengerjakan punya saya yang otomatis nilai saya jelek dan dia bagus, tidak punya teman saat saya tidak mau memberikan contekan, sering dikata-katain ngga enak, bahkan perkataan tersebut nyangkut paut sama masa depan saya.
Saya selalu belajar dan berusaha menjadi perempuan yang independen, tidak mengandalkan atau bergantung siapapun. Selama saya bisa melakukan sendiri, why not?
Mungkin, hingga detik saya menulis ini dengan mata sembab habis nangis, overthinking saya kambuh, saya masih tetap menjadi perempuan jelek, gendut, seperti tidak terawat, dan sering disindir tidak ada laki-laki yang mau dengan saya.
Tapi, saya butuh waktu maksimal 5 tahun untuk merubah hidup saya, saya akan menjadi perempuan independen, perempuan cantik, perempuan yang tidak mengandalkan paras, beretika serta bermoral.
Saat ini, saya bangga dengan diri saya bahwa saya tidak mudah membuat perkataan yang menyakiti perempuan lain, saya bangga bisa mengontrol diri saya saat berbicara, saya bangga dengan apapun yang saya miliki, dan saya bangga saya masih punya mimpi.
Mungkin, itu cuplikan dari seorang saya. Saya akan berusaha. Cerita ini pendek, bahkan terkesan memotong, namun inilah penyemangat saya, bahwa saya mampu melewatinya. Tidak semua saya cantumkan disini, banyak sekali kejadian privasi yang tidak dapat saya ceritakan.
Tangsel, 26 Okt 2019 ; 1.10