Ekspektasi dan Hal-hal Kecil yang Terlupakan
Seorang teman berkata:
“Orang yang paling bahagia adalah orang yang tak pernah berharap.”
Kata-kata itu sungguh membuatku tercekat.
Apa yang kulakukan selama ini apakah termasuk toxic postivity?
Manusia sering kali berusaha mengkontrol hidupnya namun lupa bahwa banyak hal yang tidak dapat kita kontrol dalam hidup. Berekspektasi tinggi terhadap suatu hal atau orang lain umum kita lakukan, namun kita jarang untuk bersiap menghadapi kegagalan dan penolakan. Seringkali kegagalan dan penolakan membuat kita merasa sedih, marah, ataupun kecewa. Kemudian hal itu terus berlarut-larut dan membawa dampak negatif bagi kita. Sadar tak sadar, kebiasaan ini justru membuat kita lebih sulit untuk berbahagia.
Karena terbiasa berekspektasi tinggi, sering kali kita membanding-bandingkan banyak hal. Kita pun jadi sulit bersyukur dan menghargai suatu proses. Kebiasaan melihat sesuatu dari hasli maupun kulit luar saja tentu membutakan kita ketika menyikapi suatu hal. Enggan melihat lebih dekat tentu membuat kita jauh dari sikap bijaksana dalam menilai sesuatu. Hasilnya, kita seringkali lupa dengan berkat-berkat lainnya yang ada disekeliling kita.
Kita lupa bersyukur akan tempat tinggal.
Kita lupa bersyukur akan penghasilan.
Kita lupa bersyukur akan kemudahan-kemudahan lainnya.
Mungkin saat ini adalah saat terbaik kita untuk tenang sejenak, bersyukur dengan nikmat yang kita terima. Yang mungkin bagi kita biasa, tapi di luar sana banyak yang menganggap hal itu istemewa. Tak usah terlalu berharap, jalani saja hidup ini sebaik yang kita bisa. Nikmati prosesnya dan detali-detail kecil di dalamnya. Semoga dengan ini dapat membuat kita lebih bijaksana dalam memandang segala sesuatu.
Karena lebih bahagia jika tidak berharap.
Secukupnya saja.
Karena ketenangan batin dan mental merupakan hal terpenting bagi jiwamu.
Love, Hedia.













