Rezeki yang Utuh
Pasti ada momen dalam hidup ini, kita merasa kurang. Khususnya kurang harta. Saat pengin sesuatu, ternyata tidak cukup. Atau sesuatu yang kita miliki sebelumnya kemudian berkurang, misal karena berganti pekerjaan, perdagangan yang lagi sepi, dan sebagainya. Rasa kurang itu, kalau tidak terkelola dengan baik akan mempengaruhi cara pandang kita di kemudian hari. Cara pandang kita terhadap harta.
Lalu seiring berjalannya waktu, ngobrol kesana kemari, nemu satu perspektif yang menarik. Bahwa rezeki yang kita terima ini selalu utuh. Tidak dikurangi dan juga tidak dilebihkan. Apa yang kita terima saat ini adalah rezeki kita, berapapun itu jumlahnya. Kita diminta untuk mensyukurinya agar nikmat dari rezeki itu bertambah. Nikmatnya yang ditambahkan, bukan serta-merta jumlah yang kita terima saat itu yang kemudian bertambah. Jika kita bisa menikmati rezeki yang kita dapatkan, di situlah keberkahannya.
Perspektif yang kutemukan ini menegaskan kembali hal-hal yang mungkin sering kita amati, mengapa orang tua kita mungkin atau orang lain yang kita kenal, yang total pendapatannya tidak sebanyak kita ternyata bisa menyekolahkan kita atau anak-anak mereka begitu tinggi dan berhasil. Lebih bahagia, bisa memiliki sesuatu yang bagi kita rasanya mustahil sekarang ini. Bahkan dengan apa yang kita dapatkan saat ini, kita ragu apa bisa beli/bangun rumah, bisa gak ngasih pendidikan yang baik dan layak buat anak-anak nanti, dsb.
Perspektif yang juga sangat menegaskan bahwa ukuran rezeki setiap orang itu telah diatur sedemikian rupa dan kita tidak akan dimatikan hingga seluruh rezeki yang menjadi jatah kita, kita dapatkan. Tinggal kitanya yang lebih mawas diri terkait jalan apa yang mau kita tempuh untuk meraih rezeki tersebut dan bagaimana kita menggunakannya. Mudah-mudahan kita semua diberikan perasaan cukup, kemudahan dalam bersyukur, dan keberkahan. Aamiin

















