Karena saya yakin, matematika Tuhan dan kita berbeda.
Pak Joko Mulyanto (via rainbowformonday)
No title available
Not today Justin
YOU ARE THE REASON
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Cosmic Funnies

Janaina Medeiros

Discoholic 🪩
Misplaced Lens Cap
ojovivo

祝日 / Permanent Vacation
occasionally subtle
Sade Olutola

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

★

Andulka

izzy's playlists!
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty
Cosimo Galluzzi
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Argentina

seen from Venezuela

seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@cokelatchacha-blog
Karena saya yakin, matematika Tuhan dan kita berbeda.
Pak Joko Mulyanto (via rainbowformonday)
Tulisan : Bertumbuh (bagian 2)
Tulisan ini adalah tulisan edisi kedua dari tulisan hari sebelumnya yang judulnya “Bertumbuh”.
Quarter Life Crisis ini memang menarik. Kita sedang menghadapi fase dimana dulu pastinya, orang tua kita juga pernah mengalami fase yang sama. Hanya saja, tidak semua orang tua kita hari ini bisa kita ajak berdiskusi tentang fase ini dan bagaimana kita bisa melewatinya. Maka, beruntunglah kita yang dikelilingi oleh orang-orang baik, yang menguatkan, yang mendukung, yang saling mengingatkan dan menjaga.
Saya sering berdiskusi dengan teman-teman di lingkaran saya, terutama teman yang sedang dan sudah melewati fase ini. Saya ingin belajar bagaimana melewati fase ini dari orang yang sudah melewatinya, baru saja melewatinya, dan sedang melewatinya.
Ada beberapa hal yang juga ingin saya bagikan kepada teman-teman terkait hal-hal apa saja yang menjadi tantangan dan mantra apa saja yang bisa kita gunakan untuk melewati fase ini.
1. Everything Shall Pass
Ditulisan saya sebelumnya, saya sudah membahas ini. Mantra ini bahkan akan saya tulis sebagai grafity di ruang tamu Langitlangit di Yogyakarta. Bila nanti teman-teman berkunjung ke Langitlangit, jangan heran kalau tembok rumah saya seperti dinding di pinggir jalanan, banyak coretan.
Segala sesuatu pasti akan kita lewati. Kita tentu tidak menyangka bahwa kita sudah lewat fase SMA dimana dulu kita mungkin bertanya-tanya, menjadi apa kita di masa depan, kuliah dimana, dan lain-lain. Bahkan dulu kita takut tidak lulus UN. Hari ini kita sudah sampai pada jawaban dari kekhawatiran kita dulu bahwa apa yang kita khawatirkan ternyata tidak terjadi. Sama halnya dengan hari esok, siapa jodoh kita, apa pekerjaan kita, kita tinggal dimana, berapa anak kita, kapan kita menikah, dan lain-lain. Jawaban itu ada di masa depan, tidak di hari ini. Dan tugas kita akan mempersiapkan itu semua dengan menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Tugas kita adalah mempersiapkan, karena bila jawaban itu datang. Kita sudah siap pada jawaban itu. Allah tentunya akan memberikan sesuatu bila memang hamba-Nya sudah sampai pada kapasitas itu. Kalau kita belum bertemu dengan jawaban pertanyaan-pertanyaan resah itu hari ini, berarti kita sedang diberi waktu untuk mempersiapkan diri dan meningkatkan kapasitas diri kita. Isilah hari ini dengan segala kebaikan dan tunjukkan kepada Allah bahwa kita sudah siap dan kita siap.
2. Lepaskan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Email yang masuk beberapa hari ini, hampir saya jawab dengan jawaban serupa. Karena masalah yang dihadapi oleh teman-teman yang berbagi cerita juga mirip. Takut sekali kehilangan sesuatu. Kehilangan orang yang perhatian, kehilangan kesempatan ini dan itu. Takut melepaskan seseorang. Dan banyak hal lainnya.
Ujian di Quarter Life Crisis berikutnya adalah tentang melepaskan. Untuk tumbuh, seseorang harus bersedia berkorban untuk mendapatkan apa yang lebih baik. Kita tidak perlu mengikatkan diri pada seseorang yang tidak jelas kepastiannya, tidak jelas perasaannya kepada kita, juga tidak jelas bagaimana rencana hidupnya dengan kita.
Kita mungkin ada yang khawatir, bagaimana kalau kita tidak pacaran tapi bisa mendapatkan jodoh. Kita terjebak pada “hubungan tanpa status” atau “ikatan tanpa komitmen” dari orang lain. Perasaan kita terlanjur luluh, terlanjur merasa terikat. Tapi sejatinya, ikatan itu tidak ada sama sekali. Menjelang usia pernikahan, kita akan diuji dengan kehadiran orang lain. Dan ujian ini tidak sama lagi dengan masa-masa puber dulu. Bahwa ujian ini sudah tidak lagi berbicara tentang perasaan, tapi keimanan dan ketakwaan. Bagaimana kita lebih mengutamakan ketakwaan diatas perasaan kita. Bagaimana kita bisa memenuhi aturan-Nya tanpa harus melanggar larangan-Nya.
Allah akan menguji kita dengan kehadiran seseorang. Bisa jadi ia adalah jodoh, bisa jadi juga ujian. Tugas kita adalah menjaga diri, menjaga kehormatan, sampai orang yang memang dipersiapkan untuk kita itu datang.
3. Menghargai kesempatan.
Di usia ini juga, rasanya begitu banyak sekali kesempatan datang. Kesempatan pekerjaan, kesempatan karir, kesempatan menikah, kesempatan dengan orang yang baik, dan lain-lain. Sebenarnya, kita sedang diuji pada keteguhan hati. Tidak semua kesempatan yang datang itu harus kita ambil, kadang kesempatan datang hanya untuk menguji keteguhan hati kita.
Untuk yang sudah memutuskan berkomitmen dengan seseorang, ujiannya adalah diperlihatkan dengan orang-orang yang sepertinya lebih baik. Untuk yang sudah bekerja, godaannya adalah kesempatan untuk berpindah-pindah. Dan masih banyak lagi ujian yang akan kita hadapi. Keteguhan hati atas pilihan yang sudah kita ambil akan menjadi ujian yang cukup berat di usia ini.
4. Hati-hati dalam mengambil keputusan.
Dalam tulisan sebelumnya juga sudah saya bahas bahwa banyak sekali keputusan di usia ini yang sifatnya permanen. Bahwa sekali kita memutuskan suatu hal, itu akan menggema ke anak cucu kita. Terutama keputusan dengan siapa kita akan menikah. Maka, mantra pada poin nomor 2 akan sangat berguna. Kita harus hati-hati mengambil keputusan ini. Bahwa orang yang menikah dengan kita nanti akan menjadi orang pertama yang berpengaruh pada dunia dan akhirat kita. Anak-anak kita nanti berhak mendapatkan yang terbaik dan adalah kewajiban kita hari ini, mencarikan yang terbaik. Sosok (calon) ayah dan ibu yang terbaik.
Kalau hari ini perasaan kita sedang diuji dengan orang lain. Kita lebih mengutamakan perasaan kita tanpa memikirkan bagaimana nanti bila dia menjadi pasangan hidup kita, apa kabar nanti anak-anak kita bila memiliki sosok ayah/ibu seperti dia, apa kabar nanti keluarga kita. Apakah lebih dekat ke surga atau ke neraka. Adalah ikhtiar kita hari yang perlu kita optimalkan.
Keputusan menikah dengan siapa tidak lagi semata keputusan pribadi, tapi kita melibatkan (calon) anak-anak kita nanti, melibatkan akhirat kita nanti, melibatkan banyak hal yang mungkin kita lupa mempertimbangkannya hanya karena perasaan kita yang sudah memenuhi hati dan pikiran kita. Hingga tidak ada ruang untuk berpikir jernih.
Padahal untuk membuat keputusan di usia ini, komposisi logika dan perasaan harus seimbang. Pastikan pada saat kita mengambil keputusan, kita sedang dalam kondisi yang tenang, pikiran yang lurus, hati yang bersih. Agar kita paham betul bahwa keputusan tersebut tidak diambil dengan dorongan hawa nafsu. Kita akan mempertanggungjawabkan keputusan itu nanti.
* * * * * * * *
Empat hal ini dulu yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman, masih banyak pembelajaran berharga dari diskusi saya dengan orang-orang yang sudah melewati fase ini. Saya berusaha menyarikannya dengan tulisan, semoga tulisan ini mungkin menjawab keresahan hati kita. Sekaligus menunjukkan bahwa kita tidak sendirian. Banyak orang yang sedang berjuang melewati fase ini. Mari menangkan! :)
Dan pesan terakhir :
“Semoga Allah masih menjadi yang pertama :)”
Rumah, 25 Juli 2015 | ©kurniawangunadi
Mungkin ini benar. Semua jalan kita itu memilih yang dipilihkan, berusaha untuk menyerahkan yang terbaik dengan harapan dalam doa yang selalu baik. Sesederhana itu kah rasa(ku) pada(mu) ?
dokterfina
Apakah cinta yang sederhana itu?
Apakah sesederhana kata-kata yang tak sempat terucap? Apakah sesedehana kayu kepada api yang menjadikannya abu? Apakah sesederhana isyarat yang tak sempat dikatakan oleh awan kepada hujan yang menjadikannya tiada?Cinta yang sederhana.
Sesederhana cinta seorang Abdurrohman bin Auf yang begitu rela meninggalkan semua harta bendanya yang berada di Makkah demi mengikuti Rosulullah hijrah ke Madinah.
Sesederhana cinta Abdullah bin Mas’ud yang rela dipukuli kaum Quraisy demi melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara lantang didepan Ka’bah guna bisa meluluhkan hati kaum Quraisy.
Sesederhana seorang Zaid bin Haritsah yang rela tubuhnya terluka parah ikut berdarah-darah demi melindungi Rosulullah yang dilempari batu oleh penduduk Thiaif untuk mengajak mereka memeluk agama Islam.
Sesederhana seorang Uwais Al-Qarni yang harus rela memendam rindu untuk bertemu dengan Rosulullah demi untuk merawat ibunya yang sudah tua dan buta serta sakit-sakitan.
Sesedernana cinta seorang Abu Bakar yang kakinya rela digigit ular di Gua Tsur demi tak ingin membangunkan Rosulullah yang tertidur pulas dipangkuannya.
Sesedernana Abu Dzar Al-Ghifari yang berjalan sendirian dalam jarak ratusan kilometer untuk menyusul mengikuti ekspedisi perang Tabuk.
Sesederhana Rafi’ bin Harist yang rela meninggalkan Maria, wanita nasrani tunangannya, yang amat dicintai, demi agama Islam yang waktu itu baru saja dipeluknya.
Sesederhana Bilal bin Rabbah yang rela dipanggang dan disiksa dibawah panasnya batu besar pada teriknya suasana gurun demi tetap berpegang teguh kepada agama Islam.
Sesederhana Umair bin Wahab yang rela berjalan kaki berbolak-balik dari Makkah menuju Laut Merah lalu ke Makkah lagi dan kembali lagi ke Laut Merah demi mengajak agar sahabatnya, Sofwan bin Umayyah, bisa mendapat hidayah Islam seperti dirinya.
Sesederhana Khabbab bin Art yang begitu sabar ketika besi panas diletakkan dikepalanya dan diinjak dadanya demi mempertahankan keIslamannya meskipun tak ada satupun yang membelanya waktu itu.
Sesederhana apakah cinta kita dibandingkan dengan perjuangan-perjuangan ini? Sesederhana apakah cinta kita terhadap teman-teman kita? Sesederhana apakah cinta kita kepada Allah? Mungkin, hanya kita yang mengetahui jawabannya.
(via dokterfina)
Making new bone in the lab
Researchers at the University of Southampton are creating bone in the lab to help patients who suffer damage to their joints through injury or disease.
By combining bone stem cells with a 3D printed scaffold, Professor Richard Oreffo and team have been able to recreate hip implants custom designed for the patient.
There’s a place for synthetic implants, but by repairing your own body with your own tissue there is less chance of rejection.
In the video above you can see cells ‘proliferating’ or increasing in number. The team use and apply scaffolds in a range of materials, including titanium which are then seeded with the patient’s own bone stem cells and a bone graft. This 3D printed, custom designed implant can then be inserted into the patient.
There are tens of thousands of bone injuries in the UK each year. With an increasingly ageing population, this method for creating bone is an exciting concept. Professor Richard Oreffo hopes that given their data from 3 patients over the last 12 months, within 5-7 years the procedure could become mainstream, routine practice.
To read the full interview with Professor Oreffo visit: http://www.bbsrc.ac.uk/news/people-skills-training/2014/141106-f-gbbf-science-behind-exhibit-scaffold-and-cells/
#SebarkanWalauSatuAyat
Lagi bantu sebar project barunya teman, Oki Dermawan (Seni Musik UPI, 2010). Subhanallah, menebar kebaikan itu bisa dengan cara apa saja ya :)
Jika Kamu Diperbolehkan Masuk
Jangan pernah meremehkan kehormatan yang diberikan seseorang untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Karena sebelumnya, kehidupannya tidak pernah melibatkan kamu. Namun, dia melapangkan sebagian ruang untuk kemudian kamu masuki, mungkin bahkan kemudian kamu tinggali.
Seperti apa pun ruangan itu, jangan pernah menganggapnya sesuatu yang kecil. Tidak semua orang dengan mudah membiarkan orang lain masuk ke dalam rumahnya, baik itu yang berupa istana maupun yang sesederhana gubuk reyot.
Kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi di sana selama puluhan tahun sebelum kamu tiba.
©N
Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah
Bismillah … Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah dan kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan anak-anaknya.
Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri.
Begitulah seperti dikisahkan Mr. Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan bahwa H. Agus Salim hidup sebagai Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakkan ke kontrakkan lain.
Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi Khusus Agus Salim)
Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber. Zainatun Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang membuang kotoran istirnya menggunakan pispot.
Kasman Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama), dalam ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal: “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dll.
Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.”
Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’ Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.” Ya, seorang diplomat ulung, menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah.
Seorang yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat.
Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah Istana dan Senayan.
Contoh aktivasi budaya.
Role Model. The Hero.
#sebuah inspirasi kisah nyata yang di broadcast viq whatsapp
"…bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat." :’>
Semua ga cuma indah pada waktunya. Tapi semua waktu, punya keindahannya. Bersyukur ya.
(via kuntawiaji)
Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.
Imam Syafi’i (via tanteyas)
Rela
Haura : Deg-degan, Bun..
Bunda : Dalam menanti sesuatu, ada satu hal yang paling penting untuk dipersiapkan, Sayang..
Haura : ...
Bunda : Apakah itu? Yaitu kesiapan atas kemungkinan terburuk.
Haura : ...
Bunda : Dan keridhaan atas segala ketetapan Dia.
Haura : ...
Bunda : Maka ketika kita sudah mempersiapkannya, tidak akan ada kecewa.
Haura : ...
Bunda : In syaa Allah apapun hasilnya, disanalah ridhonya Allah buat kamu berada, Nak.
Mau share ini lagi ah, bagus bgt soalnya :’)
"Tahukah kamu nak? Perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang laki -laki adalah perjalanan ke masjid. Sebab banyak orang kaya yang tak sanggup melaksanakannya. Jangankan sehari 5 waktu, bahkan banyak sekali yang seminggu sekali pun terlupa. Tidak pula seumur hidup singgah kesana.
Tahukah kamu nak? Perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang laki -laki adalah perjalanan ke masjid. Karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya, walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas Eropa, pun ke Amerika, mudah melangkahkan kaki ke Jepang, Australia, dan Korea dengan semangat yang membara. Namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S-3.
Tahukah kamu nak? Perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang laki – laki adalah perjalanan ke masjid. Para pemuda kuat bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid. Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman diajak kali.
Tahukah kamu nak? Perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang laki laki adalah perjalanan ke masjid. Maka berbahagialah wahai anakku. Bila sejak kecil kau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid. Karena bagi kami sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke masjid.
Biar aku beritahu rahasia kepadamu. Sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan menuju keselamatanmu, Itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabimu, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang – orang yang lupa akan Rabbnya.
Tahukah kamu nak? Perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang laki laki adalah perjalanan ke masjid. Maka lakukanlah walaupun engkau harus merangkak dalam gelapnya subuh demi mengenal Rabbnya.”
Btw itu mainan paris dikasih si motivator hebat yang gak bosen bosennya berprestasi, Fiqho Falderiko :D sering gak sadar sih kalo sering sekelas sama mapres.. saking humblenya beliau ya kan @shintyarahmadeni @nurulfairuzaa @ridhadevita :’>
Siapa?
Kata Aa Gym, kita harus periksa siapa yang mencuri hati kita. Yang dominan kita ingat. Yang namanya sering kita sebut. Yang dalam pikiran kita ingat terus. Mau ketemu, tidak mau jauh. Mau berkorban untuknya, melakukan apapun yang disukainya. Takut mengecewakannya. Siapa?
Tahukah Anda, Mengapa Bayi Pengemis Selalu Tertidur?
Wanita itu duduk di lantai kotor dan di sampingnya terletak sebuah tas. Dalam tas itu orang melempar uang. Di tangan wanita, tidur seorang bayi berusia dua tahun. bayi itu berpakaian kotor. Banyak orang yang lewat akan memberikan uang.
Selama sebulan aku melewati pengemis yang sama dan dengan waktu yang berbeda- beda. Dan ada hal yang mengganjal dalam benakku. Bayinya selalu tertidur saat aku lewat. Ya bayinya tidur. Tidak pernah menangis atau menjerit , selalu tertidur di dalam gendongan pengemis itu. "Kenapa dia tidur sepanjang waktu?" Aku bertanya (kepada pengemis), menatap bayi.
Pengemis pura-pura tidak mendengar saya. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di kerah jaket lusuh nya. Aku mengulangi pertanyaan itu. Wanita itu mendongak , melhatku, seakan kesal dengan pertanyaanku. "B*ngs*t" , bibirnya bergumam.
Di belakangku seseorang menaruh tangannya di bahuku. Aku menoleh ke belakang . Seorang pria tua itu menatapku tidak setuju: “Apa yang Anda inginkan darinya? kamu tidak melihat seberapa keras kehidupannya?.” Dia mengambil beberapa koin dari sakunya dan melemparkannya ke kantong pengemis tsb.Pengemis itu menunjukkan raut wajah wajah berterima kasih dan kesedihan pada umumnya. Orang itu melepaskan tangannya dari bahuku dan berjalan keluar dari stasiun.
Hari berikutnya aku menelepon teman. Dari temanku itu, aku baru mengetahui bahwa pengemis itu adalah bisnis, meskipun terlihat spontanitas, jelas terorganisir dan diawasi oleh lingkaran organisasi kejahatan.
Anak-anak yang digunakan adalah anak hasil “menyewa” dari keluarga pecandu alkohol, atau hasil penculikan. Lantas mengapa bayi itu selalu tidur? Dan dengan tenang temanku menjawab, “Mereka diberikan heroin, atau vodka” Aku tercengang . “Siapa yang diberikan heroin atau vodka?!” Dia menjawab, ” Anak itu, sehingga ia tidak berteriak. Wanita itu akan duduk sepanjang hari dengan dia, bayangkan bagaimana caranya anak yg sewajarnya rewel tidak merengek seperti itu kalau bukan dengan obat bius atau semacamnya?”
Untuk membuat bayi tidur sepanjang hari, ia dicekoki dengan vodka atau obat-obatan. Tentu saja, tubuh anak-anak tidak mampu mengatasi bahan2 keras tersebut. Dan anak-anak seringkali tewas. Hal yang paling mengerikan - kadang-kadang anak-anak meninggal selama “hari kerja” . Dan seorang “ibu” harus memegang mayat anak kecil di tangannya sampai malam. Ini adalah aturan.
Bila Anda melihat seorang wanita dengan seorang anak, mengemis, berpikirlah sebelum Anda menyumbang. Pikirkan tentang hal itu, jika bukan karena ratusan ribu pemberi sedekah, bisnis seperti ini tidak akan lagi ada. Bisnis akan mati dan bukan anak-anak. Jangan melihat anak yang sedang tidur dengan kasih sayang. Lihatlah dengan logika dan pengetahuan yang luas. Karena Anda membaca artikel ini , Anda tahu sekarang mengapa anak tersebut selalu tertidur di tangan pengemis.
TOLONG REBLOG
doa sejuta para single didunia, mari aminkan :)
Salam - @dokterfina
Cinta itu memberi, bukan meminta. Kau tak perlu meminta, karena orang yang kau cintai—jika ia mencintaimu—akan memberi secara alami. Begitu pula dengan dirimu; tanpa diminta kau pun akan memberi. Cinta itu saling memberi, bukan saling meminta.
(via tumbr1)
Musa meyakini bahwa apapun yang akan dikaruniakan Allah padanya adalah lebih baik dari semua dugaan dalam permohonannya. Maka Allah memberinya kelimpahan tak terbayangkan.
Salim A. Fillah dalam bukunya Lapis-Lapis Keberkahan (via catatanbesarku)
yes, indeed!