Syair Sendirian Untuk Kita
Bulan pun tak berpendar seakan paham dan fikir rasa selurus arus terjun, hilir fikir mengombak tombak
Mentari Pagi akan muncul berseri menyambut pagi, sembari , mengikuti tatanan wajahmu yang sangat berarti
Wahai Bintang nan jauh di sana bisakah kau tetap bersinar? bisakah temui aku dan tatap aku walau sejenak ? Biaskan cahaya indahm, bagi aku cahaya itu.
Kelip Bintang memancarkan sinarnya untukmu, menemanimu, dan merayumu dengan kedipannya
Oh, langit malam tak kuasa aku menahan rindu pada Bintang yang bahkan belum pernah kulihat kerlipannya, bagaimana biasnya
Malam ini kulihat kerlipannya dalam dunia dan langit yang semu.. pada langit maya.. langit terbatas.. langit terang namun buta
Bisakah kau celikkan mata ini ? atau hapuskan batas terpa yang mendampar tebar!
Bintang tak sekedar menampakkan wujudnya ,sinarnya selalu memercayakanmu akan keindahan yang akan datang
Sinarnya senantiasa tak membosankan malam yang selalu menemanimu, sinarnya kan kau raih,kan kau dapat, kan kau rasa hingga saat itu tiba
Kuharap harapan ini bukan hanya asa namun bisa menjadi fakta.. entah kapan bisa terwujud.. bagaimana mampu terkabul ?
Apapun caranya kurasa itu rahasia dunia, yang kutahu hanyalah cahaya biasmu yg menenangkan aku, cahaya bias yang mampu mengukir senyum pada pipi yang sudah selalu basah ini akan hujan rintik mata.
Terima kasih Bintang akan cahayamu, terima kasih langit malam yang sudah mempertemukan
Bumi berputar pada porosnya, hingga benda - benda langitpun mengedarkan dalam sebuah lintasnya, cinta berbias takkan salah pada pusatnya karena cinta ini takkan terbatas oleh ruang dan waktu
Hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu.. biasanmu adalah kekuatan , Terima kasih.
Jauh bukan pemisah, tapi penguat sebuah perasaan, karena jarak mengajarkan kita akan selalu menyebut namanya dalam sebuah lantunan doa karena kasih yang sempurna, dimana kita saling mnyebutkan namanya dalam lantunan doa.
Iya. semoga jarak ini hanya membuat jauh dan bukan jatuh.. jatuh pada lembah keheningan dan kesendirian.
Ketika ekspresi rindu adalah doa, tidak ada cinta yang lebih mulia dari itu.
Ketika Rindu melanda masih kusimpan setangkup kerinduan. di sudut hati, dimana keresahan membias sendu hingga hati temani sepiku.
Masih sanggupkah tangan ini tuk melukis langit dan menggambarkan garis - garis pucat wajahmu, diantara rindu yang menghempaskanku?
Tolong jangan bersendu meradu, maka aku akan berpadu pada rindu yang semu.. senyumlah wahai Pangeran, yang tampan dan senyum malaikat.
Lukiskan hanya dalam hatimu, jangan percaya pada langit yang terkadang menjadi pembelot, langit terkadang tak berpikir paham dan sepihak pada apa yang kita rasa.
Dalam semu rinduku membiaskan wajahmu yang seolah dalam semu itu tetap dirimu, tapi kadang aku melihatmu dalam langit, dalam awan, dalam sebuah tebaran pesona pancaran cahaya langit yang sangat mempesona. seiring takjubku terpesona melihat bayangmu..
Cinta itu abadi, tak akan bisa pudar tak bisa hilang... akan selalu hadir dalam sebuah lamunanmu
Cahayaku, bisakah kau buat malam pertemuan kita di langit malam maya ini tidak berakhir?
Lihatkah gerhana bulan penuh kemarin? orang - orang berkata itu Blood Moon, bulan merah seperti darah...
Iya, itu darahku lukaku karena jarak keterpisahan ini, mereka menikmati pemandangan bulan merah itu, apakah mereka tidak tahu apa cerita dibalik merahnya sinar bulan malam kemarin ?
Apakah mereka tidak peduli pada sengsara keterpisahan ini? mereka menikmati keperihan ini ? bahagia di atas derita yang tengah kita rasakan ?
Mereka tidak akan peduli, mereka takkan pernah mengertimu karena mereka tak melihat dengan hati. hanya aku yang tau deritamu hingga pedihmu, dan hanya kau yang mampu melihat dalam hatiku, tentang asa dan rasa hanya untukmu.
Bahagia jika kumilikimu selamanya, bisakah tembok pemisah ini dihancurkan? bisakah kita bangun jembatan tanpa hambatan dari Istanamu menuju gubug kecilku disini?
Jangan mengahuncurkan tembok yang sangat kokoh ini, genggam tanganku dan aku akan erat memeluk, berjalan berdampingan melewati tembok yang sangat kokoh ini dengan sebuah kesetiaan yang akan meleburkan kekokohan tembok yang sangat keras ini
Terima kasih Pangeran Cahaya, kau slalu menerangi jalan dan fikiranku yang kelam.
Jangan berterima kasih denganku, Kita harus berterima kasih pada asa dan rasa ini.