Berjalanlah, maka kau akan menemukan banyak hal
   Nyetrit bw Berjalanlah, maka kau akan menemukan banyak hal
Xuebing Du
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

izzy's playlists!
official daine visual archive
noise dept.

Kaledo Art
tumblr dot com
art blog(derogatory)
wallacepolsom
No title available

@theartofmadeline

JVL
I'd rather be in outer space 🛸
h
No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sweet Seals For You, Always
d e v o n
Not today Justin
Stranger Things

seen from United States

seen from India
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Tunisia
seen from United States

seen from Germany
seen from Poland
seen from Australia
seen from Malta
seen from Chile
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@dariterbitmatahari
Berjalanlah, maka kau akan menemukan banyak hal
   Nyetrit bw Berjalanlah, maka kau akan menemukan banyak hal
Selasa 9 agustus lalu saya berkesempatan datang dan memotret acara kesaksian Rendra yang digelar di teater Amphi Taman Ismail Marzuki. Dalam acara ini beberapa seniman yang tergabung dalam empat komunitas membawakan sajak – sajak ciptaan Budayawan besar Indonesia, WS Rendra.
Sebenarnya ini momen pertama bagi saya melihat secara langsung bagaimana karya- karya Rendra di pentaskan. Entah kata – kata apa yang pantas disematkan untuk menggambarkan karya – karya luar biasa yang diciptakan Sang Burung Merak.
Para penampil dalam acara kesaksian Rendra saya rasa sangat berhasil membawakan karya – karya beliau, meski, saya tak bisa mengkomparasikan penampilan mereka dengan Rendra sendiri. Ya, saya tak pernah melihat langsung Sang Burung Merak membawakan karyanya secara langsung. Tapi bagi saya mereka tetap berhasil. Minimal bagi saya mereka berhasil mengenalkan pada saya bahwa Indonesia pernah punya seorang penyair besar.
Ada satu penampilan yang membuat saya sangat terkesan, tanpa mengecilkan seniman yang lain. Ine Febriyanti, malam itu seolah menghipnotis para penonton yang hadir. Membawakan sajak Nyanyian Angsa, Ine membuat tokoh Maria Zaitun, seorang pelacur yang dibuang seperti hadir ditengah – tengah penonton. Semua hening, sayapun takjub sekaligus iba kepada Maria Zaitun. Bagi saya yang awam dengan dunia sajak teater dan kawan – kawannya, penampilan Ine sangat luar biasa.
Foto – foto dibawah ini merupakan penampilan Ine Febriyanti yang saya ambil saat ia membawakan Nyanyian Angsa karya WS Rendra.
Setelah mengambil beberapa gambar, saya merasa gambar – gambar saya tak menampilkan suasana yang saya rasakan saat itu. Jadi saya memutuskan mengambil beberapa gambar lagi yang sangat berbeda. Nikmatin aja.
 Nyanyian Angsa
Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya: “Sudah dua minggu kamu berbaring. Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilkan uang. Malahan kapadaku kamu berhutang. Ini beaya melulu. Aku tak kuat lagi. Hari ini kamu harus pergi.”
(Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya tegas dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Maka darahku terus beku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang sengsara. Kurang cantik dan agak tua).
Jam dua-belas siang hari. Matahari terik di tengah langit. Tak ada angin. Tak mega. Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran. Tanpa koper. Tak ada lagi miliknya. Teman-temannya membuang muka. Sempoyongan ia berjalan. Badannya demam. Sipilis membakar tubuhnya. Penuh borok di klangkang di leher, di ketiak, dan di susunya. Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah. Sakit jantungnya kambuh pula. Ia pergi kepada dokter. Banyak pasien lebih dulu menunggu. Ia duduk di antara mereka. Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka. Ia meledak marah tapi buru-buru jururawat menariknya. Ia diberi giliran lebih dulu dan tak ada orang memprotesnya. “Maria Zaitun, utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter. “Ya,” jawabnya. “Sekarang uangmu brapa?” “Tak ada.” Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang. Ia kesakitan waktu membuka baju sebab bajunya lekat di borok ketiaknya. “Cukup,” kata dokter. Dan ia tak jadi mriksa. Lalu ia berbisik kepada jururawat: “Kasih ia injeksi vitamin C.” Dengan kaget jururawat berbisik kembali: “Vitamin C? Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.” “Untuk apa? Ia tak bisa bayar. Dan lagi sudah jelas ia hampir mati. Kenapa mesti dikasih obat mahal yang diimport dari luar negri?”
(Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya iri dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Aku gemetar ketakutan. Hilang rasa. Hilang pikirku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang takut dan celaka.)
Jam satu siang. Matahari masih dipuncak. Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu. Dan aspal jalan yang jelek mutunya lumer di bawah kakinya. Ia berjalan menuju gereja. Pintu gereja telah dikunci. Karna kuatir akan pencuri. Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu. Koster ke luar dan berkata: “Kamu mau apa? Pastor sedang makan siang. Dan ini bukan jam bicara.” “Maaf. Saya sakit. Ini perlu.” Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau. Lalu berkata: “Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu. Aku lihat apa pastor mau terima kamu.” Lalu koster pergi menutup pintu. Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan. Ada satu jam baru pastor datang kepadanya. Setelah mengorek sisa makanan dari giginya ia nyalakan crutu, lalu bertanya: “Kamu perlu apa?” Bau anggur dari mulutnya. Selopnya dari kulit buaya. Maria Zaitun menjawabnya: “Mau mengaku dosa.” “Tapi ini bukan jam bicara. Ini waktu saya untuk berdo’a.” “Saya mau mati.” “Kamu sakit?” “Ya. Saya kena rajasinga.” Mendengar ini pastor mundur dua tindak. Mukanya mungkret. Akhirnya agak keder ia kembali bersuara: “Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?” “Saya pelacur. Ya.” “Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!” “Ya.” “Santo Petrus!” Tiga detik tanpa suara. Matahari terus menyala. Lalu pastor kembali bersuara: “Kamu telah tergoda dosa.” “Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.” “Kamu telah terbujuk setan.” “Tidak. Saya terdesak kemiskinan. Dan gagal mencari kerja.” “Santo Petrus!” “Santo Petrus! Pater, dengarkan saya. Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya. Yang nyata hidup saya sudah gagal. Jiwa saya kalut. Dan saya mau mati. Sekarang saya takut sekali. Saya perlu Tuhan atau apa saja untuk menemani saya.” Dan muka pastor menjadi merah padam. Ia menuding Maria Zaitun. “Kamu galak seperti macan betina. Barangkali kamu akan gila. Tapi tak akan mati. Kamu tak perlu pastor. Kamu perlu dokter jiwa.”
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya sombong dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Aku lesu tak berdaya. Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang lapar dan dahaga.)
Jam tiga siang. Matahari terus menyala. Dan angin tetap tak ada. Maria Zaitun bersijingkat di atas jalan yang terbakar. Tiba-tiba ketika nyebrang jalan ia kepleset kotoran anjing. Ia tak jatuh tapi darah keluar dari borok di klangkangnya dan meleleh ke kakinya. Seperti sapi tengah melahirkan ia berjalan sambil mengangkang. Di dekat pasar ia berhenti. Pandangnya berkunang-kunang. Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar. Orang-orang pergi menghindar. Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran. Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan. Kemudian ia bungkus hati-hati dengan daun pisang. Lalu berjalan menuju ke luar kota.
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya dingin dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Yang Mulya, dengarkanlah aku. Maria Zaitun namaku. Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)
Jam empat siang. Seperti siput ia berjalan. Bungkusan sisa makanan masih di tangan belum lagi dimakan. Keringatnya bercucuran. Rambutnya jadi tipis. Mukanya kurus dan hijau seperti jeruk yang kering. Lalu jam lima. Ia sampai di luar kota. Jalan tak lagi beraspal tapi debu melulu. Ia memandang matahari dan pelan berkata: “Bedebah.” Sesudah berjalan satu kilo lagi ia tinggalkan jalan raya dan berbelok masuk sawah berjalan di pematang.
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya tampan dan dengki dengan pedang yang menyala mengusirku pergi. Dan dengan rasa jijik ia tusukkan pedangnya perkasa di antara kelangkangku. Dengarkan, Yang Mulya. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang kalah. Pelacur terhina).
Jam enam sore. Maria Zaitun sampai ke kali. Angin bertiup. Matahari turun. Haripun senja. Dengan lega ia rebah di pinggir kali. Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya. Lalu ia makan pelan-pelan. Baru sedikit ia berhenti. Badannya masih lemas tapi nafsu makannya tak ada lagi. Lalu ia minum air kali.
(Malaekat penjaga firdaus tak kau rasakah bahwa senja telah tiba angin turun dari gunung dan hari merebahkan badannya? Malaekat penjaga firdaus dengan tegas mengusirku. Bagai patung ia berdiri. Dan pedangnya menyala.)
Jam tujuh. Dan malam tiba. Serangga bersuiran. Air kali terantuk batu-batu. Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang dan mengkilat di bawah sinar bulan. Maria Zaitun tak takut lagi. Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya. Mandi di kali dengan ibunya. Memanjat pohonan. Dan memancing ikan dengan pacarnya. Ia tak lagi merasa sepi. Dan takutnya pergi. Ia merasa bertemu sobat lama. Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya. Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya. Ia jadi berduka. Dan mengadu pada sobatnya sembari menangis tersedu-sedu. Ini tak baik buat penyakit jantungnya.
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya dingin dan dengki. Ia tak mau mendengar jawabku. Ia tak mau melihat mataku. Sia-sia mencoba bicara padanya. Dengan angkuh ia berdiri. Dan pedangnya menyala.)
Waktu. Bulan. Pohonan. Kali. Borok. Sipilis. Perempuan. Bagai kaca kali memantul cahaya gemilang. Rumput ilalang berkilatan. Bulan.
Seorang lelaki datang di seberang kali. Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?” “Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan. Lelaki itu menyeberang kali. Ia tegap dan elok wajahnya. Rambutnya ikal dan matanya lebar. Maria Zaitun berdebar hatinya. Ia seperti pernah kenal lelaki itu. Entah di mana. Yang terang tidak di ranjang. Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia. “Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu. Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya. Sedang sementara ia keheranan lelaki itu membungkuk mencium mulutnya. Ia merasa seperti minum air kelapa. Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu. Lalu lelaki itu membuka kutangnya. Ia tak berdaya dan memang suka. Ia menyerah. Dengan mata terpejam ia merasa berlayar ke samudra yang belum pernah dikenalnya. Dan setelah selesai ia berkata kasmaran: “Semula kusangka hanya impian bahwa hal ini bisa kualami. Semula tak berani kuharapkan bahwa lelaki tampan seperti kau bakal lewat dalam hidupku.” Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya. Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar. “Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya. “Mempelai,” jawabnya. “Lihatlah. Engkau melucu.” Dan sambil berkata begitu Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu. Tiba-tiba ia terhenti. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya. Di lambung kiri. Di dua tapak tangan. Di dua tapak kaki. Maria Zaitun pelan berkata: “Aku tahu siapa kamu.” Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya. Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya jahat dan dengki dengan pedang yang menyala tak bisa apa-apa. Dengan kaku ia beku. Tak berani lagi menuding padaku. Aku tak takut lagi. Sepi dan duka telah sirna. Sambil menari kumasuki taman firdaus dan kumakan apel sepuasku. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya.)
Karya: W S Rendra
Memotret “Maria Zaitun” Selasa 9 agustus lalu saya berkesempatan datang dan memotret acara kesaksian Rendra yang digelar di teater Amphi Taman Ismail Marzuki.
Tips membeli kamera
Fotografi diera digital semakin berkembang pesat. Berbagai pilihan kamera tersedia bagi para pecinta fotografi maupun meraka yang baru akan terjun dalam dunia fotografi. Terkadang banyaknya pilihan membuat kita bingung menentukan kamera mana yang tepat untuk kita yang baru akan menekuni dunia fotografi.
Berikut ini beberapa tips membeli kamera . Oh iya cerita sedikit soal tips, jadi tips yang…
View On WordPress
Pasar dan Cinta
Pagi ini aku mengendarai sekuterku, masuk dalam hiruk pikuk pasar. Sangat jarang aku ketempat ini walau hanya untuk mengantarkan ibuku. Biasanya ia berbelanja ditemani ayah. Ia sedang sakit, jadi aku yang menemani.
Hari ini pasar tampak lebih kotor. Mungkin efek hujan pagi tadi. Jalanan pasar digenangi air, ditambah lagi sampah – sampah sisa sayuran turut memperburuk keadaan pasar.
Pasar disini…
View On WordPress
Merdeka!!!!
Tujuh belas agustus tahun empat lima Itulah hari kemerdekaan kita Hari merdeka nusa dan bangsa Hari lahirnya bangsa Indonesia Merdeka Sekali merdeka tetap merdeka Selama hayat masih di kandung badan Kita tetap setia tetap setia Mempertahankan Indonesia Kita tetap setia tetap setia Membela negara kita
View On WordPress
Ada perbincangan menarik saat saya mendaki gunung Gede beberapa bulan lalu. Saat perjalanan turun saya beserta dengan teman – teman mampir di pos relawan Montana untuk menunggu hujan reda sore hari itu. Montana merupakan sebuah organisasi relawan yang bergerak dalam bidang konservasi ekosistem, khususnya ekosistem yang ada di gunung Gede Pangrango.
Sore itu pos relawan montana cukup ramai oleh beberapa wisatawan yang sedang menunggu hujan, ada juga beberapa relawan yang sedang beristirahat di pos itu. kedatangan saya dan rombongan yang terdiri dari 9 orang pun langsung disambut oleh beberapa relawan. Sambutan hangat ditengah dinginnya daerah pegunungan membuat saya merasa nyaman berada disana.
Beberapa relawan yang senang dengan kedatangan kamipun mulai meluncurkan pertanyaan – pertanyaan untuk mengetahui asal – usul kami. Perbincangan kami terasa begitu hangat dan bersahaja.
Beberapa teman saya mencoba mencari informasi – informasi seputar Montana itu sendiri. “Kita (montana) itu organisasi relawan yang memperhatikan kelestarian ekosistem yang ada di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP)” jawab salah seorang relawan. Montana juga melakukan edukasi kepada penduduk sekitar dan para wisatawan untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem dengan mengikuti aturan – aturan yang sudah ditetapkan oleh TNGP itu sendiri. Masih banyak penduduk maupun wisatawan yang melagar aturan – aturan yang sudah ditentukan, mulai dari menggunakan sabun, merusak tumbuhan hingga membuat api unggun di kawasan TNGP.
Mendengar penjelasan dari para relawan, sayapun memutar kembali memori ingatan saya kembali saat saya dan beberapa teman mulai melangkahkan kaki pertama kali kemarin. Adakah saya sudah melanggar aturan – aturan yang sudah ditentukan demi kelestarian ekosistem? saya sendiri merasa sudah mengikuti aturan dengan baik namun tetap tak berani memastikan hal itu, takut – takut ada pelanggaran kecil yang terlewatkan. Sekecil apapun pelanggaran dapat berdampak bagi kelangsungan ekosistem itu sendiri. Bayangkan, jika setiap wisatawan melakukan kesalahan kecil, bagaimana dengan nasib lingkungan kita 10 – 20 tahun mendatang?
Ada penjelasan menarik dari para relawan yang saya ingat, intinya seperti ini. Kegiatan konservasi sendiri sebenarnya sangat bertentangan dengan kegiatan wisata. Semakin sedikit wisatawan semakin baik bagi kegiatan konservasi lingkungan. Namun, ada dilema tersendiri di Indonesia. Negeri tercinta kita ini memiliki potensi wisata alam yang sangat besar dan sayang jika tidak dimanfaatkan. Jalan terbaik untuk kelestarian lingkungan dan wisata itu sendiri ialah dengan melakukan edukasi kepada wisatawan maupun penduduk sekitar tempat wisata untuk ikut menjaga kelestarian alam yang dijadikan destinasi wisata.
Sebenernya tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri sendiri yang sangat suka melakukan kegiatan di alam terbuka untuk tetap menjaga kelestarian alam kita. Tulisan ini juga sebagai ajakan bagi teman – teman yang membaca untuk tetap peduli dan tidak seenaknya saja ketika sedang melakukan kegiatan di alam terbuka. Potensi wisata alam Indonesia dapat dinikmati secara maksimal jika alam kita tetap terjaga kelestariannya.
Don’t be selfish and careless guys. Your money can’t buy Mother earth, but good attitude can help.
Konservasi VS Wisata Ada perbincangan menarik saat saya mendaki gunung Gede beberapa bulan lalu. Saat perjalanan turun saya beserta dengan teman - teman mampir di pos relawan Montana untuk menunggu hujan reda sore hari itu.
Father of potrait and etno photography
Mungkin Edward S. Curtis pantas dinobatkan sebagi bapak dari fotografi potrait. hampir semua karya foto Edward merupakan foto potrait seseorang. Selain sebagai seorang fotografer, Curtis merupakan seorang etnographer. Ia menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya untuk mempelajari dan mengabadikan suku Indian, penduduk asli Amerika .
Berawal dari sebuah proyek pemerintah yang dilaksanakan oleh J.P Morgan untuk mengenal lebih lanjut tentang penduduk asli Amerika, Curtis yang diberi mandat untuk menjalakan tugas inipun menyetujui niat pemerintah. J.P Morga memberikan dana sebesar $75.000 untuk menjalakan penelitian dengan hasil penelitian yang dicetak dalam 20 jilid terbitan yang didalamnya terdapat 1500 foto. Dengan pendanaan itu Edward mempekerjakaan beberapa orang lagi untuk membantu penelitian ini.
Hasil foto Edward membawa pengaruh besar saat itu. Dengan hasil – hasil penelitiannya Edward berhasil memperkenalkan suku asli Amerika kepada masyarakat luas yang sebelumnya sama sekali buta dengan suku Indian yang merupakan penduduk asli Amerika.
Berikut beberapa hasil karya foto Edward S. Curtis :
Curtis_Portfolio5_d 001
Neg#70POP.tif
Sumber :Â https://en.wikipedia.org/wiki/Edward_S._Curtis
Edward S. Curtis Father of potrait and etno photography Mungkin Edward S. Curtis pantas dinobatkan sebagi bapak dari fotografi potrait.
Pameran: 1771Goresan Juang Kemerdekaan
Pameran: 1771Goresan Juang Kemerdekaan
Dalam rangka memperingati Hut Republik Indonesia ke 71, Istana Kepresidenan Republik Indonesia menggelar pameran sejumlah koleksi lukisan dan foto-foto kepresidenan. sebuah momen langkah yang sayang untuk dilewatkan.
Dalam pameran ini kita bisa menikmati karya – karya pelukis kenamaan Indonesia yang berkisah tentang sejarah bangsa Indonesia, mulai dari tokoh – tokoh pahlawan maupun cerita…
View On WordPress
the Lord's prayer
the Lord’s prayer
 View On WordPress
Rhein II karya Andreas Gursky The most expensive photograph ever sold Mungkin sudah banyak yang tau karya foto Andreas Gursky yang di beri judul Rhein II merupakan karya foto termahal di dunia.
Belajar
Sebeneranya belajar itu sebuah proses yang ga ada abisnya dan akan terjadi terus terus dan terus. KPJ X ini akan membahas segala pelajaran yang saya dapat selama menempuh pendidikan di Kelas pagi Jakarta.
Buat yang belom tau, kelas pagi sendiri itu kaya semacam sekolah fotografi gratis berbasis komunitas. Di kelas pagi ini setiap anggota baru bakal menjalani pendidikan selama setahun dan di akhir…
View On WordPress
Mimpi
Kalau bermimpi saja sudah tak berani kalau bermimpi saja sudah dibatasi jangan salahkan kalau kelak bangsa ini tanpa harap
-pemikiran naif saya
Kalau mimpi kita ketinggian, kadang kita perlu dibangunkan oleh orang lain – Marmut Merah Jambu -” ― Raditya Dika
Setiap manusia memiliki mimpi. Ada yang mengejar dan mewujudkannya. Ada yang mundur dan membuangnya. Ada pula yang diam dan hanya…
View On WordPress
Cemilan legendaris
Damn sampahnya aja bikin ngiler
salah satu cemilan yang melegenda menurut gw. Perpaduan wafer, caramel, crispy, coklatnya itu ruar biasa. bikin naggih parah dan pastinya 1 aja ga bakal cukup.
View On WordPress
Every Journey have Story
 Perjalanan kali ini sebenarnya perjalanan saya dan kawan – kawan sebelum pendakian gunung gede yang sudah saya ceritakan terlebih dahulu. Ceritanya waktu itu mau naik gunung gede tapi ga dapet kuota. Udah kebelet banget mau jalan, jadi akhirnya saya beserta kawan – kawan berubah haluan dari gunung Gede ke tetangga dekatnya yaitu, gunung salak. Pertimbangan memilih gunung salak karena gunung ini tidak ada kuotanya dan sangat jarang dipilih oleh para pendaki. Benar saja, kami hanya bertemu dengan beberapa pendaki saja disana, itu pun mereka tidak melakukan pendakian namun hanya melakukan pelatihan mapala di kaki gunung Salak.
Gunung Salak dikenal cukup angker, mungkin ke”angker”annya inilah yang mengakibatkan gunung Salak kurang diminati oleh para pendaki, maklum masyarakat Indonesia masih gemar dan percaya akan mitos – mitos yang ada. Bukan bermaksud meremehkan mitos – mitos seram yang kerap melekat pada gunung – gunung di Indonesia. Bagi saya mitos merupakan sebuah hukum yang berlaku di suatu tempat agar kita tetap berlaku sesuai norma – norma yang ada. Jadi selama kita tetap menjaga kelestarian alam selama melakukan pendakian dengan tidak meninggalkan sampah, merusak, menebang pohon, membuat api unggun dan tindakan – tindakan perusakan alam lainnya, niscaya kita akan aman dalam pendakian. Gitu boiii.
 Foto oleh Daniel Mangoli
puncak gunung salak hanya 2211 meter diatas permukaan laut (mdpl) namun jangan pernah anggap remeh gunung ini. Trek pendakian Salak sangatlah menantang, kita beberapa kali harus berjalan hati hati agar tidak tercebur dalam kubangan lumpur yang cukup dalam. Jalan – jalan yang dilaluipun terbilang sangat terjal. buat teman – teman yang ingin mencari tantangan gunung Salak patut kalian coba. Buat yang mencari pemandangan yang indah, gunung ini sangat tidak disarankan, meskipun bagi saya kerapatan hutan di gunung ini sangat indah. Tangtanganya ga abis sampe di terjalnya jalan saja, mendekati puncak gunung kita harus bener konsentrasi dengan jalan yang kita lalui karena jika lengah sedikit saja nyawa jadi taruhannya. Ya, mendekati puncak kami harus menyusuri jalan setapak yang cukup datar dengan satu sisinya langsung menjorok kebawah, bahasa singkatnya Jurang!!!
Gatau kenapa gw lagi suka ngasih tips – tips gt, jadi paragraf ini tips buat kalian yang punya rencana naik gunung Salak:
1. lewatlah jalur resmi, karena kalo kalian ilang ada yang nyariin, lagipula gak repot kok ngurus simaksi di Salak. Kalian tinggal daftar di Pos aja. Oh iya, jalur resmi gunung salak ada di Cidahu sama gunung bunder, kalo nyari deket mending lewat cidahu. Jalur gunung bunder itu jauh banget jalannya dan ada kemungkinan kalian bakal nyasar di kawah ratu karena jalan menuju ke simpangan bajurinya cukup sulit dicari.
2. Yang kedua ini cukup penting, jadi di inget baik – baik. Gunung salak itu airnya cuma ada di bawah, tepatnya setelah simpangan bajuri. Setelah melewati simpangan Bajuri kalian akan bertemu dengan kubangan lumpur besar, PERHATIKAN sebelah kiri kalian ada jalan lagi yang mengarah ke sebuah sungai kecil disitu kalian bisa isi persediaan air kalin. Kapan lagi minum AQUA dari sumbernya langsung.
3. Olahraga dulu seminggu atau dua minggu sebelum pendakian biar kuat.
4. Hindari pendakian malam, karena banyak jurang, takut salah jalan malah jatoh ujung2nya.
5. Bawa perbekalan yang cukup. Jangan ngarep ketemu pendaki disana, Sepi banget bos.
Udah gt aja dulu, buat yang mau naik dan udah naik boleh loh share – share cerita sama saya, mau denger juga kesan – kesannya.
Pendakian Gunung Salak Every Journey have Story Perjalanan kali ini sebenarnya perjalanan saya dan kawan - kawan sebelum pendakian gunung gede yang sudah saya ceritakan terlebih dahulu.
Liburan Keluarga
Tepat seminggu lalu saya beserta keluarga besar berlibur bersama ke daerah puncak jawa barat. Ga jauh emang, bahkan cenderung bosan juga dengan wilayah puncak yang gt – gt aja. namun, berbeda rasanya ketika berlibur bersama keluarga, semuanya terasa lebih hangat. Bercengkrama bersama, gokil – gokilan bareng, mabok bareng (gak deng boong). ya pokoknya the bestlah.
Sebenernya liburan ini terbilang…
View On WordPress
wanita tak berwajah
Iseng dimalam hari sambil nunggu bola, dari pada dengerin komentator ngoceh mulu. Jadilah karya ini. Sebenernya doi itu pendukung Belanda, berhubung Belanda ga masuk EURO 2016 padahal udah mesen tiket buat ke Prancis demi mendukung negara tercinta. Apa daya, Belanda pun tak mampu lolos ke putaran final, jadi dia gw jadiin model ajah.
View On WordPress
“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang.”  – Leila S. Chudori
 “Kok belum pulang?”
 “Jadi kapan mau pulang?”
 “I am still at home”
Rumah "Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang." Â - Leila S. Chudori "Kok belum pulang?" "Jadi kapan mau pulang?" "I am still at home"