setia itu upaya, bukan permainan bahasa.
Semisal, di dunia ini bahasa tidak tercipta, kira-kira dengan apa ya aku harus mengungkapkan padamu, tentang segala perasaan di dalam dada?
Semisal, di dunia ini bahasa tidak ada, kira-kira dengan apa ya, perumpaan indah dirimu bisa digambarkan dengan kata-kata?
Katanya dunia ini fana, tapi apa benar kalau cinta itu abadi? Aku tidak tahu pasti, yang kutahu; kamu senantiasa ada di dalam hati.
Bahasa itu benar-benar mempengaruhi kehidupan kita. Dengan bahasa, hatiku jadi mudah retak hanya karena kata-katamu. Kepalaku jadi mudah pusing hanya karena omongan semalammu. Ternyata benar, bahasa punya sumbangsih besar dalam perkara perasaan.
Kemarin kamu bilang, kamu tidak akan pergi kan? Tapi nyatanya kamu mengabaikan aku, dan sayangnya itu cuma terjadi padaku. Betapa besar efek dari sebuah kata-kata, mampu membuat hati kita terluka.
Di bulan bahasa ini aku hendak merayakan, sebuah perayaan yang tidak kupersembahkan untuk orang lain. Sebab kata-kata cinta adalah milikmu, meski kau abaikan aku dalam puluhan paragraf dan tanda tanya yang berakhir dengan centang biru. Perihnya ternyata selama ini kamu hilangkan pinned chatku. Kata-kataku, berakhir menjadi tidak berarti dan sebatas basa-basi yang kau hindari.
Selamat bulan bahasa ya, ada banyak rasa yang tidak bisa kuterjemahkan dalam bahasa. Kalau kamu tanya perasaan macam apa itu, tentu diksi cinta dan sayang tidak ada artinya. Bagiku kamu bukan sekadar soal pemilihan kata-kata. Untuk apa puitis kalau kisah ini berakhir dengan tangis.
Kamu tidak perlu khawatir, penerimaan maafku selalu hadir meski tanpa kau minta. Itu niscaya. Sebab aku paham betul manusia itu tempatnya salah dan lupa, mungkin saat itu; kamu hanya sedang tidak sadar kalau sedang menyakitiku saja. Jadi tidak apa-apa. Toh apa beda bodoh dengan cinta, bagiku itu sama. Tidak ada beda.
Kita tidak butuh kata-kata, mari kita berupaya. Kalau ikrar setia itu harus dengan tindakan nyata, bukan permainan bahasa. Meskipun almamater kita beda jauh, meski tingkat pendidikan kita beda, meski kecerdasan kita di bidang yang tak sama, jangan khawatir. Aku selalu nyambung dengan bicaramu, mau itu ilmiah ataupun basa-basi, percayalah aku jauh lebih cerdas dari teman-temanmu satu prodi.
Selamat merayakan bahasa. Jangan pergi lagi, ya? Aku tidak tahu harus menulis apa, kalau kamu tidak ada. Sebab di dalam hatiku, kamu benar-benar ada dan memberikan rasa yang tidak bisa kuterjemahkan dalam ribuan bahasa.
dalam rangka merayakan bulan bahasa dan sastra.