beberapa waktu lalu lagi booming kan pembahasan supaya ga pamer hampers, atau hampers cuma dikasi untuk yg berpunya. padahal banyak orang lain yg membutuhkan tapi dikasinya malah sembako seadanya.. naah sejujurnya pembahasan kaya gitu tuh lumayan menyita pikiranku😅
aku sebagai yang juga penerima hampers merasa bingung dan tertahan buat share pemberian dari rekan rekan. ikutan merasa bersalah kalo share :’) karena disatu sisi aku setuju bab “membuat orang sedih dengan kita bagikan kepunyaan kita”
aku paling khawatir dengan hal itu. paling menghindari hal hal yang mendatangkan kepiluan bagi orang lain.
tapi, aku juga berusaha mengerti,
perasaan manusia lain adalah sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan.
mungkin dicegah bisa, misal dengan berusaha memperhatikan hal hal yang nampak kayak tutur kata, timing, cara, atau gesture. tapi kalo maksa orang untuk ga sedih, ini sungguh perkara yang berat.
orang sedih liat hampers kita tu sebabnya boleh jadi banyak. misal dia habis dimarahi atasan, barusan kesenggol sudut meja, sedang kehilangan dompet, atau musibah lainnya yang menuntun kondisi hatinya ga baik baik aja. akhirnya liat apa aja tu bawaannya mellow dan bete.
dari dulu aku juga ngerti kalo hubungan dengan manusia (hablumminannaas) itu rumit. lebih mudah rasanya mengurusi habluminallaah karena Rabb kita sudah memahami semua keadaan. tanpa kita perlu repot repot menjelaskan. adab dan cara yang baik justru dinilai pahala oleh Allaah sebagai upaya kita bersikap baik kepada Dzat Pencipta.
dan bagiku, instead of thinking bahwa orang pamer, gimana kalo orang itu hanya berusaha mensyukuri pemberian Allaah melalui si pemberi? gimana kalo ternyata dugaan pamer itu hanya sebatas prasangka kita yang keliru. mungkin kan kalau ternyata hati kita yang bermasalah, bukan orang lain.
lagilagi perkara hati, adalah sesuatu yg ghaib. yang diluar batas nalar kita. melampaui bentuk fisik bahkan keadaan lahiriah seseorang. paras yang tegas tak selalu berarti hatinya sombong. paras yang ayu tak juga berarti hatinya pasti bersih. sekerat daging itu betul betul tak bisa ditebak. mudah berbalik dan berubah.
pada akhirnya kita semua ini manusia. lemah dan punya banyak salah. we’re all humans with flaws and mistake. karenanya, keraslah pada diri kita; dalam perkara niat.
kita share buat apa? caranya gimana? bagaimana tutur kata kita saat menampakkannya? ini tugas utama kita sebenernya.
aku bantu contohkan niat niat baik ketika membagikan pemberian, mudah mudahan berguna bagi kita yang memposting. atau saat kita melihat orang lain diberi, ini juga aku harap membantu kita mudah mengedepankan prasangka baik.
- berniat menampakkan kebaikan seseorang. mungkin dia sempat tercoreng nama baiknya, atau ada yg tidak mengenal orang baik seperti dia.
- berniat mensyukuri pemberian Rabb kita. mungkin hari itu kita sedang butuh sesuatu lalu Allaah berikan melalui orang lain. karenanya kita bersyukur. atau mungkin hari itu kita sedang bersikap kurang ajar pada hak hak Allaah tapi Allaah malah memberikan kita kebaikan, ini jadi membuat kita malu dan makin bersyukur pada pemberian Allaah melalui orang itu
- berniat tahadduts bin nikmah. ini sama dg yg diatas. intinya kita boleh menyembunyikan atau menampakkan nikmat yang Allaah berikan. kita mengabarkan pada orang orang bahwa kita punya Rabb Yang Maha Pemurah. yang benar benar memelihara kita dan menjamin segala keperluan hambaNya. kita mengabarkan bahwa kita adalah ‘abdurrahiim.. hamba dari Yang Maha Penyayang :’) kita berharap dengan ini orang orang yang terbersit menyepelekan Rabb kita, mudah mudahan jadi sebab taufiq dan hidayah untuknya.
- berniat jadi sebab orang berdoa untuk mendapatkan nikmat yang lebih baik. kita mungkin lupa kalo kita liat orang diberi nikmat, maka kita dianjurkan mengucapkan doa:
اللّٰهُمَّ زِدْهُ مِنْ فَضْلِكَ وَأَعْطِنِيْ أَفْضَلَ مِنْهُ
ALLAHUMMA ZID HU MIN FADHLIKA WA A’THINII AFDHALA MINHU
ya Allaah, tambahkanlah karunia-Mu kepada saudaraku tersebut dan berilah aku karunia yang lebih utama (baik) darinya.
ini menunjukkan bahwa kita boleh meminta lebih dari yang Allaah berikan pada orang lain. lihatlah betapa agama kita juga dibangun diataskan kasih sayang :’)
- berniat mengabarkan pada hamba lain bahwa kita dalam keadaan baik baik saja. agar orang tidak khawatir atau merasa kita dalam keadaan butuh ditolong. ini sikap yang mulia bila ternyata sebenarnya saat itu kita sedang susah dan kesulitan. yang hari ini posting hampers/pemberian, belum tentu tak punya masalah atau ujian sendiri.
- berniat mensyukuri pemberian orang dengan upaya terbaik. doa doa, menyempatkan tag, menyempatkan share, itu semua tidak mungkin tidak tercatat selama dalam perkara baik.
- terakhir, berniat menjadi sebab perantara rezeki atau kebaikan bagi si pemberi. mungkin diantara viewers kita ada yang sedang nyari pemberian serupa untuk diberikan pada orang lain, atau bila pemberi itu adalah seorang pedagang mungkin diantara sekian viewers kita ada yg sedang mencari penjual gamis/kue/printilan.
barangkali masih banyak potensi niat niat baik yg bisa diupayakan, tapi intinya, yang lebih utama untuk jadi perhatian itu adalah hati kita.
sebab, itu yg akan dihisab nanti. karenanya persoalan ini sebetulnya adalah perkara yang membinasakan kalau kita tak pandai mengelola yang di dalam dada. jadi.. tidak penting kalau kita dikira pamer. yang penting adalah apa yang kita niatkan, kemudian dibarengi dengan cara yang baik.
mudah mudahan tulisan kecil ini bisa menjadi sebab kebaikan dan memperkaya sudut pandang.