Bukan karena kamu memilikinya sekarang itu berarti kamu tidak akan pernah kehilangan. Jangan sesumbar.
- diagramalur

izzy's playlists!

No title available
Jules of Nature

@theartofmadeline

No title available
Xuebing Du
Sweet Seals For You, Always
No title available

JVL
Game of Thrones Daily

roma★
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Alisa U Zemlji Chuda

Kaledo Art
cherry valley forever
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
todays bird
occasionally subtle
sheepfilms
seen from Bangladesh
seen from Brunei

seen from Malaysia

seen from Nigeria

seen from Nigeria

seen from Poland

seen from Nigeria
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Uruguay
@diagramalur
Bukan karena kamu memilikinya sekarang itu berarti kamu tidak akan pernah kehilangan. Jangan sesumbar.
- diagramalur
Mengenal Perempuan
Pernikahan akan membuatmu mengenal perempuan lebih dari yang kamu sangka selama ini. Kamu akan mengenal kekhawatirannya dan mengapa itu terjadi. Kamu akan berhenti menilainya lemah setelah melihat bagaimana ia bekerja setiap hari. Kamu akan semakin mencintai ibumu, seketika kamu melihat betapa berat perjuangannya ketika mengandung dan melahirkan anakmu.
Pernikahan akan mengajarkanmu tentang perempuan. Setelah selama ini kamu hanya mengenalnya dari mata, dari kata, dan dari buku-buku yang menurutmu paling mutakhir dan terpercaya. Perempuan lebih kompleks dari itu dan kamu akan mempelajarinya setiap hari. Kamu akan belajar tentang air mata yang tidak selalu bermakna sedih sebab mereka memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyentuh hatinya. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan.
Pernikahan akan membuatmu mengerti bahwa keberadaannya mampu membuatmu memiliki energi yang berkali lipat lebih besar dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak kamu dapatkan dari hubungan-hubungan dengan perempuan sebelum itu. Ini juga akan membuatmu mengerti bahwa cintamu kepadanya mungkin tidak akan pernah bisa sebesarnya cintanya kepadamu. Dengan segala kerendahan hati, kamu mungkin perlu mengakui itu. Dan untuknya, sudah seharusnya kamu bersyukur.
Yogyakarta, 5 Mei 2017 | ©kurniawangunadi
Berharap lelaki(ku) kelak membaca ini
Coba di pikir lagi. Yakin sikap yang kamu ambil itu untuk kepentingan bersama dan bukan egomu semata? Yakin nih???
- diagramalur
Mungkin kau akan mendapatkan yang kau inginkan, tapi ketika kau terlalu fokus dengan keinginanmu bisa jadi kau kehilangan yang kau miliki. Pelan tapi pasti.
- diagramalur
Berawal dari diri sendiri yang memang sedang dalam masa galau menjadi apa dan harus bagaimana. Setelah lulus kuliah pemikiran saya harus ini, harus itu, tidak ini, jangan itu, tidak mungkin bisa begitu. Padahal mungkin saat itu kalau saya mau membuka pemikiran yang lebih luas, banyak kesempatan yang hadir. Namun saya tidak perduli, karena saya berfikir tujuan saya bukan itu.
Dan setelah usia lebih dari 20 tahun ini banyak kesempatan yang hadir, namun enggan mengambil hanya karena sudah nyaman dengan keadaan. Sudah nyaman dengan pekerjaan walaupun sebenernya pas-pasan.
Padahal sebagai manusia, sebenernya kita tidak tau pasti. Dimana rejeki kita, kita yang harus mencarinya. Kita tidak tahu jalan mana yang sesunguhnya Alloh siapkan untuk menjadi jalan kita, jalan yang diridhoi Alloh yang diujungnya terdapat kebaikan-kebaikan yang tidak disangka.
Semangat berjuang. Kau tidak tau pasti, mana yang memang ditakdirkan menjadi jalanmu. Tugasmu hanya berusaha dan mencoba semua peluang yang mungkin.
Aku rindu, ketika mata ini saling menatap dan tangan saling menggenggam seperti kita banyak cerita dalam tatapan.
Diagramalur
“You are never too old to set another goal or to dream a new dream.”
— C.S. Lewis
AKIBAT SUKA SHOLAT DI UJUNG WAKTU
Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.
Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.
Dia menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan; bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu bersedekah dan rajin membaca al-Quran.
Dia terus menjerit lagi, namun tidak ada seorangpun yang tampil membantunya.
Para malaikat terus menyeret dia. Dan … mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.
Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat …
Tidak! Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Bagaimana bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran, begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari dari dosa-dosa mereka”
Dia menjerit lagi sekuat tenaga:
“Solat saya? Solat saya? Doa saya?”
Kedua malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka. Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.
Dia menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.
Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.
Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.
Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.
Dia ditarik kembali ke atas.
Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.
Pria itu kelihatannya sangat daif.
Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:
“Siapakah anda?”
Orang tua itu menjawab: “Akulah sholat anda”
“Mengapa kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa …?.”
Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:
“Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!”
“Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..
“Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.
“Kamu ingatkah itu semua ??”
Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur …
Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan …
Ya Allah.. Aku mimpi…
Tapi seperti nyata ..
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan di kumandangkan menandai masuknya waktu shalat ashar.
Dia bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah mendapat petunjuk yang maha benar.
Sebarkan kisah ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak
Rasulullah S.A.W bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)
Perjalanan masih terlalu panjang untuk dapat kita menerka-nerka apa yang akan terjadi setahun, dua tahun, atau bahkan 3 tahun kemudian. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Entah itu kemungkinan yang baik, pun sebaliknya. Sebagaimana dunia ini adalah sebuah permainan. Di mana kita pemeran dalam skenario yang telah ditetapkan oleh semesta.
Bila benar ingin bersama, mengapa harus banyak alasan? Mengapa harus menyuruhku menunggu dalam kurun waktu yang tidak sebentar? Bila ingin sekadar bermain-main belaka, maka pergilah jauh-jauh. Hatiku tidak butuh sosok pengecut seperti dirimu.
Tolong jangan membuat aku berharap terlalu dalam. Hingga lupa bahwa mencintai juga perlu kewarasan. Tolong jangan berjanji untuk sebuah masa depan yang bahkan kita sendiri pun tak tahu akan seperti apa. Tolong, jangan!!
Bila benar ingin bersama, mengapa harus menunggu sampai mapan? Bukankah sebaik-baiknya cinta adalah yang turut andil dalam perjuangan kekasihnya? Aku juga ingin berjuang bersama-sama. Aku ingin merasakan bagaimana cintamu memperlakukan aku saat kita tak punya apa-apa, dan saat kita berada dalam keberlimpahan.
Ketahuilah, bahwa tidak semua perempuan memprioritaskan harta. Sebagian yang kukenal, mereka menikah memang karena Allah. Urusan rezeki, biar Allah yang mendatangkan. Begitu katanya. Dan aku ingin, kita pun demikian. Menikah dengan uang seadanya, lalu memulai hidup baru yang mungkin masih pas-pasan.
Menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan. Dan kau menyuruhku untuk melakukannya? Ah, aku tidak sebodoh yang kau kira. Aku bukanlah perempuan yang senang dengan janji-janji. Bukannya tidak percaya padamu, hanya saja hatiku sudah terlalu muak dengan omongan yang tanpa bukti.
Bila memang ingin bersama, mari kita bicara dari hati ke hati. Kita selesaikan segala masalah yang menjadi penghalang. Kita lipat segala gengsi juga ego yang masih bersarang. Asal jangan kau paksa aku untuk menunggu tanpa kepastian. Karena sejatinya, hanya Allah pemilik kepastian itu sendiri.
Jangan membuatku dilema seperti ini. Ingin menikah denganmu namun tak berminat untuk menunggu. Ingin hidup bersamamu namun tak bersedia bila harus menanti hingga bertahun-tahun.
Sebagai perempuan yang cerdas, aku mungkin akan memilih untuk menjadi seseorang yang tidak lagi mencintaimu. Tak mengapa bila harus kurelakan segala angan yang pernah kulangitkan; bersamamu dulu. Hanya untuk membuatku tetap sadar, bahwa cinta tidak perlu segila itu untuk meraihnya dalam ketidakpastian.
📝@gadisturatea #gadisturatea
“Tuhan, Jika ia baik bagiku. Baik bagi agamaku. Baik bagi kehidupanku. Baik bagi masa depanku. Maka dekatkanlah ia kepadaku. Mudahkanlah jalannya menujuku. Dan berkahilah seluruh cara yang kami tempuh untuk mendapatkan restuMu.”
— Amin
Saya ingin cerita tentang perasaan saya,
Tentang 15/3 kemarin.
Tadi saya secara ga sengaja melihat postingan teman di FB yang membagikan postingan gambar-gambar ini..
Saat saya baca semua, saya menyadari betul, mereka memang bukan orang-orang New Zealand (NZ) asli.
Ya. Mereka adalah para imigran, orang -orang yang mencari perlindungan, yang pergi dari negara mereka sendiri, negara-negara yang membuat setiap detik hidup mereka dihantui perasaan hidup dan mati. Negara-negara penuh konflik, penuh perang dan penuh kesedihan. Tak ada rasa aman, apalagi bahagia.. (Meski mungkin di kehidupan kedua nanti mereka jauh lebih bahagia..)
Mereka, yang berasal dari negara-negara seperti syiria, pelestina, bangladesh, pakistan, india dan lain-lainnya tentu datang ke NZ bukan hanya untuk hidup yang lebih baik, namun juga untuk ibadah yang lebih tenang, ibadah yang lebih panjang karena adanya rasa aman.
Sesaat hati ini sesak membandingkan diri saya.
Seorang muslim yang tinggal di negara yang jauh puluhan atau bahkan ratusan kali lipat sangat aman dibanding negara-negara mereka.
Seorang muslim yang tinggal di negara yang hampir tiap 2 kilometernya punya tempat beribadah, masjid atau mushola kecil yang terletak di banyak sekali tempat, sungguh sangat mudah menemukan masjid di Negeri ini. Dengan rasa aman kita bisa berlama-lama di dalamnya, bahkan dengan tambahan waktu panjang untuk mengobrol denganNya. Ya. Semua dengan rasa aman..
Berbeda dengan mereka, ya Allah, sungguh berbeda. Mereka, di negara asal mereka, sholat dan berdiam diri di MasjidMu tak bisa selama kami disini, karena panggilan Jihad tentu tak mampu membuat mereka egois meninggalkan teman-temannya bertempur sedang mereka duduk dengan tenang, tak ikut turun tangan.
Mereka, di negara asal mereka, tak mampu berlama-lama duduk dengan tenang karena tentu mereka khawatir dengan keluarga di rumah, barangkali saat mereka pergi ke Masjid untuk menunaikan panggilanNya, rumah mereka beserta sosok-sosok tercintanya di habisi oleh orang-orang ‘itu’.
Akhirnya mereka pun memutuskan pergi ke suatu tempat yang mereka anggap lebih aman untuk kehidupan yang lebih baik. NZ menjadi salah satu pilihan.
Namun takdir berkata lain, aman dan tenang saat beribadah hanya mimpi bagi mereka, bahkan hingga jauh ke Negara yang disebut-sebut menjadi salah satu negara teraman dan ter-ramah untuk muslim, mereka masih saja dirasa oleh sebagian orang sebagai beban, menjadi imigran di negara terbaik dan terindah tanpa perangpun tetap saja membuat mereka ‘tak diterima’. Bahkan hanya untuk sekedar sujud padaNya..
Ya Rabb.. sungguh malu… Dan sedih menengok diri ini…
Saya sedih melihat diri saya yang masih sangat jauh dari maksimal saat beribadah, masih tidak selama itu saat duduk menghadapNya, masih kurang ini dan kurang itu dalam beribadah..
Padahal sungguh, keberadaan saya di negara yang aman untuk beribadah menjadikan saya bukan berada di jalur yang tepat untuk tidak maksimal dalam beribadah.. Ya Rabb…. rabbighfirli….
Apa yang akan saya katakan ketika di hari itu kelak, dihari kita semua dikumpulkan, Allah bertanya sudah sejauh mana saya berjuang untuk maksimal dalam beribadah kepadaNya.. Padahal Allah telah memberiku nikmat hidup di Negara yang aman.. Padahal Allah telah memberikan nikmatNya untuk terlahir di Negara tanpa peperangan.. di Negara yang tak ada alasan untuk tak bisa maksimal dalam beribadah….
“Dan… sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Ya Allah…
rabbighfirli… 😔
#sebuahrenunganpribadi
Semarang, 17 Maret 2018
Ya Allah betapa tak tahu malu dan egoisnya diriku yang membandingkan masalah hidupku yang bahkan tidak sampai 1/50 nya dengan mereka. Sebagaimana mereka matikanlah kami dalam keadaan iman dan islam. Dan matikanlah kami dalam keadaan sebaik-baik mati
Jika kau merasa ingin menyerah, ingatlah mengapa kau berusaha begitu lama.
Antoine Griezmann
yang harus selesai
gini loh, dek. habis menikah itu, masalah tuh tambah banyaaak, bukan jadi berkurang. kamu harus mikirin keuangan keluarga, kesehatan keluarga, pendidikan anak-anak, aktualisasi masing-masing anggota keluarga. itu dalam lingkup besarnya. dalam lingkup kecilnya? mikirin hari ini mau makan apa, jemuran sudah kering belum, pintu sudah dikunci belum. banyak yang diurus.
jadi, kalau memang niat menikah, ya kamu harus selesai dulu, dek, sama hal-hal dasar yang jadi pasaknya rumah tangga. kepercayaan, percaya nggak sama calon pasangan? kejujuran, bisa nggak kamu jujur sama diri sendiri dan sama calon pasangan? komitmen, kesetiaan, mau menerima, hal-hal seperti itulah.
kalau kamu dan calon pasanganmu sudah selesai sama hal-hal dasar itu, artinya kalian sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah. belum benar-benar siap menikah loh. kenapa? karena habis itu yang harus diobrolin masih banyak.
gimana kalian mengatur keuangan keluarga. mau tinggal di mana dengan cara apa, ngontrak kah nyicil rumah kah. gimana caranya bertukar sepatu biar sama-sama baik sebagai menantu. besok kalau punya anak gimana mendidiknya. apa bentuk melayani dan taat menurut masing-masing. rencana jangka panjang masing-masing dan gimana kalau itu harus dilebur. bahkan, bisa sampai seputar mau punya ART apa enggak. suka ngosek kamar mandi enggak. mau punya anak berapa (ini kendali Allah memang tapi bisa juga direncanakan).
juga, yang mungkin tabu diomongin di depan, seperti gimana kalau sampai terjadi masalah dan amit-amit harus berpisah. apa arti kekerasan dalam rumah tangga menurut masing-masing. dan lain-lain.
wajar sih, kalau saat mau menikah, kamu diselimuti kekhawatiran. akan langgeng nggak ya, dia akan setia nggak ya, akan bahagia nggak ya. itu memang tugasnya setan supaya yang mau menikah ragu-ragu dan nggak jadi menikah.
tapi, dek. ada banyak banget yang lebih penting dan utama untuk dipikirkan dan direncanakan daripada itu, apalagi daripada masa lalunya atau kekhawatiran tentang kesetiaan dia di masa depan.
intinya ya dek, setiap orang pasti punya masa lalu sehingga kamu nggak usah mikirin masa lalu calon pasanganmu. nggak usah, nyusahin. sekaligus, kamu jangan berharap deh bahwa kamu bisa mengubah seseorang. kalau sayang ya pasti dia menjadi dirinya yang terbaik. lagian, nggak enak menjalani hubungan yang penuh dengan tuntutan.
dah, selesaikan dulu yang dasar-dasar. kalau sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah, persiapkan diri (dan calon pasangan) untuk menikah. baru deh menikah.
prinsipnya kan, nanti gimana bukan gimana nanti. semangat persiapannya!
Beberapa hari lagi . . . .
Beberapa hari lagi … .
Akan ku temui senyum merekah nan polos dari bibir-bibir adikku yang masih lugu. Bola mata tanpa dosa yang masih putih tanpa noda ku tatap lekat-lekat, kan ku pastikan kalian baik-baik saja. Akan ku tanya satu per satu perihal apa yang mereka lalui sewaktu aku tak di rumah. Yah, terlalu bahagia mendengar celoteh lucu dan menggemaskan dari dua anak keturunan adam yang telah kehilangan ayahnya beberapa tahun lalu. Walau dalam hatiku menjerit, kenapa Tuhan terlalu berbaik hati memberikan cobaan kepada mereka yang belum terlalu bisa membedakan manis dan asin ? Tak sanggup aku memeluk mereka, karena nanti aku akan menangis sejadi-jadinya yang justru menimbulkan banyak tanya.
Beberapa hari lagi … .
Akan ku temui senyum bahagia dari rona wajah yang kian menua. Ku sapa seraya ku cium tangan kanannya. Ah, dia. Manusia yang terlalu berharga untuk ku cerita kan kepada kalian semua. Dia yang terlalu banyak berkorban untuk siapa-siapa yang ada dirumah. Dia yang dengan sikap kerasnya mendidik aku hingga seperti ini. Dia yang terbiasa hidup tak bergantung memberikan aku pelajaran bahwa tak setiap waktu kita bisa mengandalkan orang lain. Ah ibu, kenapa kau selalu mampu membuat aku menangis walau hanya seperti ini yang ku tulis ? Dadakus esak mengingat semuanya ibu.
Beberapa hari lagi … .
Aku akan kembali menyapa siapa-siapa yang menemani hari-hariku semenjak kecil. Dan akan ada satu sosok lelaki yang dengan tegap menunggu aku di rumah lain. Mengunggu untuk aku sapa terlebih dahulu. Apakah dia tidak lebih sempurna dari ibu ? Sama. Dia justru tak kalah luar biasa. Tanpa banyak bicara dia memenuhi kebutuhanku, ntah dengan cara apa saja aku tak tahu. Anak macam apa aku ini ? Bagaimana kadang aku lupa tentang seorang yang selalu berjuang hanya untuk aku ? Tuhan, maafkan aku atas semua muanya. Dan lagi, sesak dada lebih terasa, saat ada bayangnya menyelinap dalam ruang ini.
Mencintai Seseorang
Apa yang sebenarnya kita cari dari mencintai dan dicintai? Dan mengapa pada akhirnya kita menikahi seseorang?
Setiap orang akan menikah, menyatukan dua keluarga, mengumpulkan banyak uang, membangun rumah sendiri, menyekolahkan dan menikahkan anak, berwisata ke suatu tempat, beberapa yang berumur panjang akan menimang cucu, lalu mati.
Kemana sebenarnya kita sedang menuju dari siklus-siklus ini? Dimana mulanya dan dimana muaranya lika-liku rasa dan pilihan yang kita jalani selama ini? Adakah ternyata kita telah menjadi orang bodoh yang tak tahu tujuan tapi banyak singgah semaunya dalam perjalanan?
…
Please dude, meski dimulai dari mata lalu turun ke hati kemudian berbunga-bunga, hubungan percintaan ga sesederhana: “Gue suka lo. Lo mau sama gue apa enggak?”
Ini soalan yang rumit serumit siklus yang sudah kita sebutkan tadi: “Apakah lo adalah orangnya, orang yang dipersiapkan Yang Kuasa untuk menemani gue menyelesaikan siklus-siklus tadi sampai akhir? Atau ada hal dan tempat lain yang ingin kita tuju bersama-sama?”
Benar bahwa ini adalah pertanyaan rumit yang hanya akan selesai dengan keyakinan dan keberanian. Meski begitu, kita tetap harus bertanya saat hendak memulai. Karena penyesalan selalu sedia mengintai siapa saja yang tak punya rencana.
Telitilah dulu sebelum membeli.
Mampang Prapatan | © Taufik Aulia
Pribadi yang kuat, biasanya memiliki akar yang kuat. Dan akar yang kuat ini berkorelasi pada kehidupan masa lalu yang biasanya tidak mudah. Entah yang berkaitan dengan keluarga, ekonomi, atau apapun yang membuat seseorang di masa kecilnya harus tumbuh lebih dari usianya. Uraian airmata, luapan emosi, dan ketidakberdayaan membuat dirinya bertekad untuk bertahan apapun keadaannya saat itu, meski dalam keadaan tidak mengerti sama sekali mengapa semua itu terjadi pada dirinya. Saat ia tumbuh dewasa, akar kehidupannya telah menghujam kuat. Mudah baginya u/ mengambil keputusan, meski itu keputusan yang sulit. Biasa tidak mendengar apa kata orang lain, bertahan dalam lingkungan yang toxic karena imunnya sudah baik, harga dirinya yang terjaga dengan baik dan tidak mudah lepas dan dihancurkan lagi, ia berhasil mengenal dirinya dengan baik, lebih dari itu, ia telah berhasil memahami hidupnya, semua hal yang terjadi, dan mensyukuri segala sesuatu yang sudah terjadi. Seseorang yang kuat, banyak dari mereka tumbuh dari masa lalu yang sulit. Apakah, kamu? https://www.instagram.com/kurniawan_gunadi/p/BuF9uM3FydI/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=mj0mfh5t404r
RTM : Pasti Ragu
Sebelum sampai di hari H, meski kamu sudah bertemu dengan orang yang kamu rasa tepat, kamu akan tetap menemukan keraguan. Sesuatu yang menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang akan menikah.
Kalau kamu mengalami, itu adalah hal yang biasa dan wajar, tidak perlu berlebih-lebihan. Apalagi membuatmu memperpanjang kekhawatiran tersebut menjadi asumsi, menjadi praduga, dan berkhayal yang terlalu jauh.
Karena memang itulah hakikatnya, menikah adalah sebuah keputusan besar, bernilai setengah agama. Karena nilainya yang sebesar itulah, setan akan menggodamu dari begitu banyak sisi agar kamu menjadi ragu-ragu, merusak keyakinanmu untuk menikah dengan orang yang telah kamu pilih sendiri.
Kalau setan gagal membuatmu ragu sebelum menikah, ia tak akan berhenti berusaha merusak pernikahanmu. Sebab, selepas menikah nanti, keraguan itu tidak akan hilang tiba-tiba. Kamu akan mendapati hal-hal buruk yang tadinya tak terlihat, menjadi terlihat dari pasanganmu. Kamu akan melihat, orang di luar sana terlihat lebih menarik dan lebih mengerti kamu daripada pasanganmu.
Kalau sudah sampai sana, kalian, berbicaralah satu sama lain. Ingat-ingat lagi mengapa dulu kalian mengambil keputusan untuk hidup bersama.
yogyakarta, 28 januari 2019 | ©kurniawangunadi