Kepadamu, Lelaki Yang Entah Siapa.
Jika nanti kau baca tulisan ini, pahamilah.
Bahwa kelak mungkin aku akan menjadi sedikit posesif. Untuk kita yang tidak perlu mengumbar apa pun di sosial media kita masing-masing. Baik foto bahagia atas pernikahan kita atau sebingkai foto keluarga. Baik itu foto pribadi kita atau foto berdua.
Kupikir untuk hal yang begitu rahasia, baiknya cukuplah kita dan orang-orang sekitar saja yang menjadi saksinya. Tidak perlu lagi para tamu dunia maya turut menjadi penonton atas bahagia yang kita tampilkan dari balik layar kaca.
Tidak peduli jumlah followers kita sebanyak apa.
Rumah tangga adalah rahasia yang harus kita jaga dari banyak pasang mata. Rumah tangga bukanlah pertunjukan sirkus yang layak dijadikan bahan tontonan demi memuaskan ribuan mata. Rumah tangga adalah kehidupan paling rahasia yang harus dijaga bahkan kepada ibu-bapak kita.
Rumah tangga adalah ibadah kita kepada-Nya. Sesuatu yang harus dilakukan sembunyi-bunyi agar tidak mengundang hasad dan dengki. Sesuatu yang harus dibangunkan padanya tembok paling tinggi agar jerat-jerat 'ain tidak menodai.
Kelak untuk urusan dunia maya, aku mungkin akan mati-matian mengingatkanmu tentang kita yang tidak perlu dipublish walau hanya sesekali. Atau mungkin tentang betapa bahagianya memiliki buah hati.
Silakan berdakwah di sana, silakan untukmu menebar risalah Rasulullah, menulis atau mungkin men-share kebaikan-kebaikan yang bisa mendatangkan hidayah pada hati siapa saja.
Namun tolong, jangan jadikan rumah tangga kita sebagai alasan untukmu berdakwah. Jangan jadikan romantisme keluarga kita sebagai alasan untukmu menampilkan apa saja yang tidak layak ditampilkan.
Karena benar, 'ain itu ada.
Dan aku tidak ingin jika dengki yang tertanam di hati para penonton kita, justru mendatangkan celaka bagi keluarga kecil kita.
Maka jika kau ingin segalanya benar-benar berjalan sesuai apa yang sudah kita ikrarkan bersama, mulailah dari sekarang. Tahan jemarimu untuk menampilkan apa pun yang tidak perlu. Tahan keinginan hatimu untuk dilihat dan disaksikan banyak orang.
Karena tampil atau tidak, semuanya tidak begitu penting, kan?
Kita pun tidak akan meraih nilai sempurna pada meja penonton akibat pertunjukan yang kita tampilkan itu, kan?
Jadi tolong, rahasiakan dirimu dari fitnah. Seperti engkau yang senantiasa berpesan pada banyak laman sosial media agar para wanita merahasiakan dirinya dari mata pria.
Karena perihal ini memang terdengar sederhana, namun dampaknya begitu luar biasa.
Sebab 'ain bisa menimpa siapa saja, termasuk benda mati yang tak bernyawa. Apalagi kita yang statusnya hanya seorang hamba.
Bukankah hal-hal baik adalah kebiasaan yang dibentuk sejak dini?
Maka tentang kebiasaan pamer diri adalah sesuatu yang bisa diubah, juga dicegah.
Aku menyayangimu dan kupastikan aku akan menjadi wanita yang paling pencemburu saat hidup bersamamu nanti.
Karena tentang bahagia, ia adalah apa yang menjadi milik kita semata. Bukan sesuatu yang perlu disaksikan jutaan mata.
Karena tentang bahagia, ia adalah apa yang kita rasakan bersama. Bukan sesuatu yang berdasar dari penilaian manusia.
Apalagi jika semua hanya berkisar dalam bingkai sosial media.
10:47 p.m || 20 Oktober 2020