Benang Merah antara Surat Yusuf dengan Surat Al Qashash
Allah menceritakan kisah Yusuf dengan kalimat pembuka yang sangat menggugah;
{نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ... }
Kami ceritakan padamu sebaik-baik kisah... (QS.Yusuf:3)
Sebuah opening yang memancing rasa penasaran pembaca. Apalagi di Al Qur'an juga ada Surat Al Qashash yang memuat kisah-kisah.
Adakah korelasi di antara keduanya?.
Dan setelah ditadabburi, ternyata kedua surat ini bukan hanya berkorelasi, namun menyimpan mutiara-mutiara hikmah yang indah sekali. Mari kita telusuri!
Di Surat Yusuf, Allah kisahkan tentang anak kecil (Yusuf) yang dibuang oleh para saudara tiri ke dalam sumur yang gelap sekali. Sementara di Surat Al Qashash, Allah kisahkan tentang bayi (Musa) yang dilarung oleh ibundanya ke Sungai Nil.
Di Surat Yusuf disebutkan sebab dibuangnya Yusuf ke dalam sumur adalah bisik-bisik setan yang berhasil menghembuskan rasa hasad dan dengki ke dalam hati para saudara tiri. Sementara di Surat Al Qashash diterangkan bahwa ibunda Musa melarung bayi mungilnya ke sungai Nil atas ilham dari Rabb-nya.
Surat Yusuf mengisahkan bahwa para kakak lelaki adalah sebab perpisahan Yusuf dengan orangtuanya. Sementara Surat Al Qashash mengisahkan; bahwa kakak perempuan adalah washilah pertemuan kembali antara adik bayi dengan ibunda tercinta yang kelak dipercaya untuk menyusui bayi Musa setelah diadopsi Fir'aun dan Istrinya.
Di Surat Yusuf, sosok orang tua yang disoroti adalah Sang Ayah (Nabi Ya'qub). Bagaimana sedihnya, tangisnya dan aduannya pada Allah. Kisahnya dimulai dari kekhawatiran sang ayah, yang mengetahui ta'wil dari mimpi yang diceritakan Yusuf kecil kepadanya. Mimpi yang berpotensi menimbulkan hasad dan dengki di hati para saudara tiri jika mereka mengetahui.
Sementara di Surat Al Qashash, sosok orang tua yang disoroti adalah sang ibu. Bagaimana galaunya, bimbangnya, sedihnya ia saat harus melarung bayinya atas perintah Allah. Kisahnya dimulai dari kekhawatiran sang ibu yang melahirkan bayi laki-laki di tahun itu, tahun di mana Fir'aun perintahkan agar setiap bayi laki-laki yang lahir di bunuh, sebab ketakutan Fir'aun atas ta'wil dari mimpi yang ia alami.
Di Surat Yusuf kita dibuat bertanya-tanya, "Di mana ibunya?", Sementara di Surat Al Qashash kita dibuat bertanya-tanya, "Di mana ayahnya?". Seolah-olah ingin memberikan hikmah pada para ayah dan para ibu, tentang pentingnya berpasangan dan berkolaborasi dalam melaksanakan tugas pengasuhan.
Di Surat Yusuf dikisahkan, perpisahan dengan sang ayah akan berlangsung bertahun-tahun lamanya. Sementara di Surat Al Qashash dikisahkan, perpisahan dengan sang ibu hanya akan terjadi beberapa saat saja.
Di Surat Yusuf, yang menemukan sang anak (Yusuf kecil) di pasar budak, kemudian membelinya, adalah lelaki Bangsawan yang dalam Al Qur'an Allah mention dengan sebutan Al 'Aziz. Sedangkan di Surat Al Qashash, yang menemukan sang bayi di tepian sungai Nil adalah Si Permaisuri, yang dalam Al Qur'an Allah mention dengan sebutan Imro'atu Fir'aun.
Menariknya lagi, kedua penemu ini, sama-sama berkata, " 'Asaa an yanfa'anaa aw nattakhidzahu walada... (boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita, atau kita ambil saja dia sebagai anak)." Kata-kata mereka Allah abadikan di Surat Yusuf ayat 21 dan di Surat Al Qashash ayat 9. Selanjutnya, Yusuf diambil manfaatnya dengan dijadikan budak. Sementara Musa diambil manfaatnya dengan diangkat sebagai anak.
Baik Yusuf maupun Musa, keduanya diuji oleh Allah ketika beranjak dewasa. Yusuf diuji di dalam istana tuannya, dengan nafsu syahwat. Sedangkan Musa diuji di luar istana ayah angkatnya, dengan nafsu amarah.
Dalam ujian yang menimpanya, Yusuf terbukti tidak bersalah. Sementara dalam ujian yang menimpa Musa, Musa dinyatakan bersalah karena kehilafannya melayangkan satu kali pukulan, yang di luar dugaan Musa, ternyata satu pukulan darinya itu Allah takdirkan jadi sebab terbunuhnya seseorang.
Yusuf dan Musa sama-sama punya saksi dalam peristiwa di mana masing-masing mereka diuji. Bedanya, saksinya Yusuf meringankannya dengan menunjuk baju yang sobek di belakang. Sementara saksinya Musa nyaris membuat Musa terkhilaf untuk yang kedua kalinya.
Plot twist nya, Yusuf yang tak bersalah justru masuk penjara. Sementara Musa yang bersalah, lolos melarikan diri ke Madyan.
Kisah Yusuf bermula di luar Mesir, dan berakhir di Mesir. Sedangkan Musa sebaliknya, kisahnya bermula di Mesir, dan berakhir di luar Mesir.
MasyaAllah tabarakararrahman! Sungguh menakjubkan kisah dan perumpamaan yang ada dalam Al Qur'an.
Afalaa yatadabbarunal Qur'an?. Tidakkah hati kita tergerak untuk mentadabburi Al Qur'an?.