Tiap hubungan sosial nyaris selalu bercorak peran jenis. Bahkan, belum juga lahir, bayi sudah diharapkan dan diperlakukan mengikuti ide jenis kelamin tertentu. Pendidikan dan pengasuhan mengkondisikan individu pada peran jenis yang diharapkan oleh lingkungannya.
Lelaki adalah peran jenis yang dihasilkan dari isolasi sosial. Atas alasan "kesanggupan diri", anak lelaki dijauhkan dari pelukan dan sentuhan orang dewasa secara lebih dini daripada anak perempuan. Kelak, jika dia terlalu dekat dengan teman perempuan maka dianggap "banci" dan dengan sesama lelaki dianggap "kayu bakar". Ia hidup di dalam sekat sosial yang lengkap.
Aspek lebih lanjut dari isolasi sosial adalah supresi perasaan. Lelaki tidak boleh mengekspresikan perasaannya. Meskipun wajar bila anak mencari bantuan dari kaum dewasa, anak lelaki dibiarkan untuk mengatasi sendiri gejolak perasaannya, bahkan diyakinkan kepadanya bahwa mencari bantuan itu tindakan yang tidak OK. Anak gede tak boleh menangis. Tangisan pun terinterupsi. Linangan airmata dicueki, ditertawai, bahkan bisa diancam dengan kekerasan.
Tubuh lelaki mengalami desensitisasi (kemerosotan pada kepekaannya). Seiring pudarnya perasaan, lelaki "tidak bisa menyentuh" proses perasaan dalam tubuhnya sendiri. Lelaki justru belajar untuk memperkeras dirinya ketika melawan luka dan tekanan. Ia diyakinkan untuk menjalankan pekerjaan di bawah kekerasan, seperti militer dan tenaga kasar. Sensualitas sebagai makhluk yang berkerudung raga, mencecap perasaan, dan bernafas sepenuh-penuhnya, tidak pernah tertulis dalam sejarah hidupnya lantaran dianggap "tidak lelaki".
Umumnya lelaki tidak mempersoalkan perkara ini. Tentu saja. Lelaki telah kehilangan ingatannya sebagai makhluk yang terintegrasi atau terkoneksi. Kegembiraan lelaki adalah kegembiraan yang terpisah jauh dari pengalaman nyata sehari-hari, yang ia sendiri sulit membayangkan.
Meski demikian, ada saat-saat tertentu dimana lelaki tiba-tiba merasa "tidak hidup" lagi. Ini terutama ketika apa yang ditawarkan kepadanya di usai dewasa ternyata jauh lebih sedikit daripada kelimpahan yang ia yakini. Justru ketika ia yakin akan kemampuannya menghadapi isolasi sosial maka satu paket lengkap yang berisi keintiman, nafsu, dan sensualitas seakan ditawarkan kembali kepadanya secara serempak.
Seks menjadi jawaban sekaligus perangkap. Semua yang hilang ia peroleh kembali melalui seks. Tetapi, ingat, seks di sini hanyalah sebuah alat untuk meraihnya kembali tapi bukan sasaran sejati yang ia cari. Perempuan agak sulit membayangkan skenario ini. Semakin gencar mendamba seks, semakin lumpuhlah lelaki oleh tekanan psikis yang berat.
Hasrat seks lelaki telah direkayasa oleh kewajiban sosial. Media massa dan mitologi budaya membombardir citra-citra seksual untuk meyakinkan lelaki bahwa misteri hidup yang agung hanya dapat diperoleh melalui pengalaman seks. Maka, tanpa ia sadari, merasakan pengalaman seks dianggap sama dengan hidup di dalam cinta --- sebuah aspek yang paling esensial dari kemanusiaan. Nyaris semua mitos tentang "cinta sejati" dibangun di atas seks. Seks ia paksa menjadi duta besar cinta. Seksualitas Kamajaya dan Kamaratih ia paksa masuk ke dalam resepsi pernikahan yang sesungguhnya tidak bersifat relevan.
Akibatnya, aspek paling agung dari seks justru bisa terlupakan. Kenikmatan dan kehendak, vitalitas dan sukacita, telah terlempar dari dunia ingatan; lagi-lagi hanya menjadi citraan-citraan belaka. Kekuatan dan gairah yang luar biasa ini telah ditumpulkan selama bertahun-tahun. Ingatan akan gairah telah dibius di dalam tubuh lelaki, makhluk yang kini hidup dengan rasa janggal akan sesuatu yang telah hilang, sesuatu yang salah.
Keping-keping kemanusiaan yang tercecer ini semestinyalah dikumpulkan kembali. Pasangan hidupnya dapat mengambil peranan penting. Obsesi seks lelaki dapat disembuhkan dengan menghidupkan kembali aspek-aspek hakiki dari pengalamannya sebagai manusia. Lelaki harus lebih banyak belajar tentang kelekatan antar sesama, menjalin hubungan saling menolong, menyadari kenikmatan sensual ragawi, mengekspresikan rasa gairah, memberi kasih yang mendalam; tentang kondisi ketidakberdayaan manusia, membantu mereka yang berkesulitan, bersikap lembut; tentang bagaimana mendapatkan dan mempertahankan keakraban bersama banyak orang dalam berbagai jenis hubungan.
Jika seks membuat lelaki merasa sudah hidup tanpa kekurangan apapun, inilah pertanda hilangnya vitalitas dan kehangatan di tiap sendi hidupnya. Mengingat adanya luka sosial di dalam diri lelaki, ia harus bisa menjalin kedekatan bersama lelaki maupun perempuan yang ia pilih sebagai sekutu perjuangan dan alamat untuk mengungkapkan jati dirinya. Lelaki harus kembali kepada tubuhnya dan menaruh peduli secara mendalam. Karena lelaki pernah terasing dari sesamanya, tubuhnya, dan perasaannya, sekaranglah saatnya merebut kembali semua itu, agar pulanglah kemanusiaannnya. Dengan cara itu, berakhirlah rasa putus asa dan dahaga yang membuatnya terobsesi.
Diringkas dari: Steve Bearman dalam http://www.filmsforaction.org