"Rough sea" by Giovanni Allievi
$LAYYYTER
Xuebing Du
Cosimo Galluzzi

JVL
Sweet Seals For You, Always

No title available
Monterey Bay Aquarium

blake kathryn
Not today Justin
I'd rather be in outer space 🛸
trying on a metaphor
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
styofa doing anything
Jules of Nature
No title available

ellievsbear
occasionally subtle
Cosmic Funnies
art blog(derogatory)

Andulka
seen from Russia
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from South Korea
seen from Philippines

seen from Uzbekistan
seen from United States
seen from Germany

seen from Lithuania

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United States
seen from India

seen from United Kingdom
seen from Australia

seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Malaysia
@diutara
"Rough sea" by Giovanni Allievi
Kunci ibadah adalah DI PAKSAKAN
Tidak ada kata " saya tidak ada waktu ", tapi yang ada adalah " saya tidak memberikan waktu ".
Di coba dengan konsisten selama 14 hari habis Maghrib atau Isya 1 halaman, setelah sholat subuh 1 halaman. Insyaallah pelan-pelan akan nambah dengan sendiri nya halaman per hari yang di baca, karena sudah mendapatkan kenikmatan membaca Al-Quran.
Jika tidak sekarang di paksakan, kapan lagi ?
Sangat sayang di lewatkan hari begitu saja tanpa ada membaca Al-Quran. Padahal keutamaannya sangat lah banyak.
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR At-Tirmidzi).
"Bacalah Alquran, sesungguhnya ia pada hari Kiamat akan datang memberi syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).
"Orang yang mahir membaca Alquran maka dia bersama-sama dengan malaikat yang mulia dan taat, sedangkan yang membaca Alquran dengan terbata-bata dan merasakan kesulitan maka baginya dua pahala." (HR Muslim).
Rasulullah Bersabda : "Barangsiapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini," (H.R. Abu Daud)
Allah berfirman: “Dan Kami turunkan di dalam al-Qur’an suatu yang menjadi obat (penyakit manusia) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS al-Israa’: 82).
Selain itu, dalam Surat Ar-Ra’du, Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an). Ingatlah, hanya dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an) hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).
“Deep conversations with the right people are priceless.”
— Unknown
ayah dan makanannya
bagi ayah, makanan itu cuma punya dua rasa, alias enak dan enak sekali. setiap ayah makan, ayah selalu pasang ekspresi "nikmat". kadang jempolnya ikut diacung-acungkan--membuat siapapun yang lihat akan kabita, ingin makan juga. ayahlah yang membuat menu sesederhana apapun menjadi istimewa.
tentang makanan, ayah adalah ayah yang selalu ingat akan keluarganya. sebungkus nasi kotak berkat tahlil atau akikah, sebungkus snack konsumsi rapat, atau apapun itu, lebih sering ayah bawa pulang daripada makan sendirian. di rumah, kami semua akan bersuka cita mengelilingi kotak itu sambil membagi-bagi bahkan berebutan lauk.
kadang malu juga rasanya. ayah suka bawa pulang makanan sisa kondangan keluarga atau tetangga. sekarang-sekarang, baru paham maksudnya. ayah hanya ingin berbagi dengan keluarganya.
beberapa waktu sebelum ayah meninggal dunia, saya mengantar ayah menghadiri kegiatan di sebuah hotel. ayah tidak membiarkan saya langsung pulang. saya "diseret" ke restonya untuk ikut sarapan all you can eat.
"malu ah yah, kan bukan jatahnya," kata saya. dengan santai ayah justru minta ke panitia supaya saya bisa ikut makan. alhasil, saya ikut sarapan.
catatan kenangan ini hadir karena saya sedang sangat merindukan ayah dan makanannya. rasanya, rindu saja melihat ayah makan sehingga selera makan kita ikut bertambah. rasanya, rindu dirayu-rayu ayah untuk makan ini itu, diajak ke berbagai tempat untuk makan.
dan, sangat rindu digosok-gosok punggungnya ketika sedang tidak ingin makan, entah karena sedih atau sakit.
semoga sekarang ayah sedang menikmati sajian-sajian terbaiknya Allah. untuk setiap nafkah yang diberikannya kepada keluarganya. untuk setiap kebahagiaan, rasa nyaman, rasa aman yang dihadirkannya. untuk setiap tetes kasih sayangnya, semoga Allah membalas dengan bergelas-gelas air surga.
Love is not enough. Look for someone you can grow with. Who holds the same values, mindset and attributes as you.
“I will keep telling you that you are important, deserving, loving, intelligent, inspiring, beautiful and strong until you believe it for yourself.”
— Unknown
saya ingin waktu berjalan sesuai waktunya. tidak ada waktu yang ingin saya ulang, saya hanya ingin menikmati waktu yg ada sekarang, tanpa menyesali waktu yg telah berlau, tanpa mengkhawatirkan waktu yg belum atau barangkali tidak akan datang. saya hanya ingin hidup di waktu saat ini
Kala lelah menyapa dalam upaya beribadah, pejamkan mata dan suarakan lirih di dalam dada:
Ya Rabb, aku lakukan ini hanya untukmu ya Rabb. Tidak ada yang lain. Sungguh, tidak ada yang lain. Aku tau bahwa ini tak mudah, namun jangan pernah Engkau biarkan aku menyerah.
Engkau adalah alasan & Engkau adalah jawaban. Engkaulah yang telah memilihkan jalan, maka bersamailah hamba selalu di dalam naungan keridhaanMu.
Semoga Engkau berkenan terima semua persembahan ini ya Rabb. Agar nanti Engkau izinkan kami yang rapuh ini, mampu... mampu untuk bersimpuh menemuiMu—melihat indah wajahMu di keabadian surga milikMu.
Saya suka banget jalan-jalan ke kota besar karena ada banyak banget manusia di sana. Saya tuh introvert tapi saya suka memotret interaksi manusia yang natural banget dengan sesamanya. Entah duduk berdua bareng temen, jalan bareng orang tua, jalan bareng pasangan dan seterusnya.
Selain itu, saya suka motret gedung tinggi atau bangunan gedhe yang kerasa suwung. Semua seperti memberi gambaran bahwa tanpa interaksi antar manusia, semua hal akan terasa dingin.
suatu sore yang gerah di Surabaya. “rejeki nikah, Kica! rejeki nikah!” mas yunus memekik tiba-tiba, melompat memeluk saya.
“kenapa mas? kok seneng banget?”
“iyaaa,” mas yunus mencium pipi saya berkali-kali, “Kica, doain ya. aku ditawarin seniorku kerja di Jakarta setelah residensi. belum pasti sih. baru ditawarin gitu aja. tapi aku seneng banget.”
“ALHAMDULILLAAAAH!” gantian saya yang memeluk mas yunus, “selamat ya mas. aku doain terus. katanya gimana?”
“aku bilang kalau aku baru akan lulus 4.5 tahun lagi. terus katanya, nggak papa selama belum kiamat. hahaha.”
“ya ampun. insyaAllah ya mas. padahal sekarang baru semester 2 ya. semoga 9 semester lagi tawarannya masih berlaku.”
“iyaa… bentar-bentar. aku mau telepon Ibu.”
mas yunus mengambil ponsel buru-buru, menelepon Ibu buru-buru, bercerita pada Ibu buru-buru–dan seketika saya meleleh karenanya. dalam hidup mas yunus, tidak pernah ada orang yang lebih utama daripada ibunya.
“Bu, doain Yunus ya Bu. Yunus akan merencanakan untuk tinggal di Jakarta setelah residensi. biar deket sama Ibu Bapak. doain Yunus. doain Yunus.”
entah berapa kali mas yunus menyebut minta doa. memang begitu, yang menjadikan mas yunus dirinya yang sekarang tidak lain dan tidak bukan adalah doa Ibu Bapak.
mas yunus kembali merangkul saya, “Kica, aku pesimis banget tadinya bisa kerja di Jakarta atau sekitarnya. melamar jadi dokter baru di rumah sakit itu nggak seperti melamar jadi staf baru ke perusahaan. yang diperlukan koneksi, bukan kecakapan.”
“gitu ya…”
“aku kan nggak punya koneksi siapa-siapa, Kica. jadi kemungkinannya kecil untuk bisa masuk ke rumah-rumah sakit besar. ini beruntung banget seniorku ngehubungin tiba-tiba. rejeki nikah.”
“alhamdulillah ya mas. aku seneng banget juga bisa deket Bogor. kalau kita tinggal di Jakarta kan aku ngelawan arus kereta untuk berangkat ke atau pulang dari Bogor. jadi nggak desek-desekan banget.”
“doain ya Kica. ini rumah sakit rujukan nasional untuk saraf dan bedah saraf. kalau kerja di sana, kayak seniorku ini, nanti akan disekolahkan lagi. semacam subspesialis gitu. biasanya di luar negeri, 3 bulan sampai 1 tahun.”
“aamiiin. alhamdulillah ya. semoga.”
“kerja di sana enak soalnya pengembangan karirnya bagus, insyaAllah akan sekolah lagi, akan belajar banyak karena itu rujukan nasional, pendapatannya juga lumayan, deket sama Ibu Bapak. tapi yang paling utama, kamu bisa deket sama Ayah Ibu, deket sama Bogor, sama iDS. ini kayak mimpi banget dapat tawaran kayak gini.”
“hmm…”
“Kica, semoga Kica lebih bahagia lagi kalau kita tinggal di Jakarta ya.”
saya mengamini dalam hati. pernah suatu malam di depan mas yunus, saya menangis karena kangen rumah, kangen Bogor. semalaman pula mas yunus mengusap-usap punggung saya sambil menenangkan, “sabar ya Kica. sabar ya Kica. aku sayang kamu. aku minta maaf ya Kica. sabar ya Kica…”
mas yunus senyum-senyum sambil bolak-balik menatap layar ponselnya. jarang-jarang mas yunus sebahagia ini. yap, tentu saja bahagia itu menular.
saya punya ide, “kalau gitu dirayain yuk. nanti buka puasa, gimana kalau makannya…”
“pizza hut!” kami menyebutkannya bersamaan.
“yuk yuk!” mas yunus mencium pipi saya berkali-kali lagi.
“mas yunus aku doain semoga dapat berita baik setiap hari.”
“kenapa Kica?”
“biar romantis setiap hari. haha.”
lalu tangan-tangan mas yunus mendarat di pipi-pipi saya. kedua pipi saya ditarik ke kanan kiri. kemudian saya dikilik-kilik.
yah, udahan deh disayang-sayangnya. sekian.
fast forward 5 tahun
sejak kejadian di atas, setiap kali lewat RS PON, saya bilang kepada mbak yuna. “nah, itu rumah sakitnya Bapak nanti.” begitu pula ibu, ayah, apalagi ibu dan bapak mertua–kami semua mendoakan supaya mas yunus bisa bekerja di RS PON. doa itu hanya berdasar pada satu hal yang kami semua mengerti: sepertinya mas yunus akan bahagia kalau bekerja/berkarya di RS PON.
lima tahun kemudian, banyak hal berubah. saya dan mas yunus sama-sama berkenalan dengan kenyataan. nggak semudah itu cari tempat kerja/praktik. nggak selamanya kita punya pilihan. ketika mas yunus akhirnya selesai residensi, kami mencoba menjajaki berbagai kemungkinan. kami juga harus menerima bahwa bekerja di RS PON bukan salah satu kemungkinannya.
tapi mungkin Allah mendengar doa orang tua kami. jadilah kemungkinan yang tidak mungkin itu menjadi mungkin lagi. mas yunus memulai magang di RS PON 3 bulan yang lalu. kemarin, kami menerima berita bahwa mas yunus telah melalui magang dengan baik. semoga, Allah memudahkan proses administrasi selanjutnya.
yang ingin saya bilang, saya bangga sekali akan pilihan yang diambil mas yunus. tujuannya adalah menjadi bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. sementara, mas yunus sangat menikmati meneliti–selain melakukan operasi. RS PON menjadi pilihan terbaik sebab macam kasus di sana sangat beragam. peralatan yang tersedia pun lengkap. mas yunus bisa terus menulis, berbagi ilmu, juga belajar dari senior-seniornya.
berkali-kali mas yunus tanya kepada saya, tidak apa-apakah jika mas yunus tidak memilih tempat yang memberikan imbalan terbaik. tentu saja pertanyaan itu membuat kami berdua sama-sama geli. sebab, pada akhirnya kami tahu bahwa hal-hal yang membuat kami bahagia lebih daripada itu.
membaca kembali tulisan lama, saya gemas sendiri. saya menye sekali yaa. haha, maklum saat itu masih pengantin baru. maafkan yah, teman-teman yang membaca.
akhir-akhir ini kami sering berkata pada diri sendiri: hasil itu haknya Allah. sementara usaha itu kewajiban manusia. tugas kita mengurusi yang menjadi kewajiban dan menyandarkan sisanya kepada Allah.
selamat yaa, mas yunus. senang sekali bisa menemani sampai pada titik ini. semoga sabar, bahagia, bersyukur, dan sehat selalu.
Hanya boleh aku makhluk yang diciptakan untuk tidak menyakiti kamu.
Maka menyakiti kamu hanya akan menjadikan aku makhluk tidak berguna.
Aku ingin menjadi tenang mu, yang tatapannya harus menjadi tatapan paling meneduhkan bagi mu. Yang rambutnya paling halus untuk dibelai oleh mu, yang lengannya paling tegar untuk tempat bersandar mu, hanya boleh aku yg menatap mata mu dekat, hanya boleh aku yang kamu dekap erat, yg pahanya paling empuk untuk tempat mu terpejam sejenak, hanya boleh aku yg akan menelusuri rambut mu dengan jemari ku, sampai kamu tua, hanya boleh aku yg tidak meninggalkan kamu hingga kamu meninggalkan dunia ini. Hanya boleh aku
Mohon jangan mengenal kata menyerah untuk ku, mohon jangan berhenti walau hanya barang sejenak.
Aku sayang kamu, itu yang harus kamu percaya
Ndak boleh.
Sejenak saja pun tidak boleh. Tidak boleh pergi tidur dalam keadaan bersedih hati atau kecewa karena saya. Ndak papa kamu hina, maki saja sekalian silahkan juga ndak papa.
Tapi mohon jangan pergi tidur jika kamu menyimpan amarah atau kecewa sedikitpun karena ulah saya.
Izinkan saya memohon meskipun menganggu waktu tidur mu, izinkan saya mendengar kamu bernafas seraya saya berdoa semoga reda kecewa mu.
Manusia satu ini, takut, diam saja seraya berharap dalam mengutuk diri sendiri, berharap manusia ini semakin bijak, tdk lagi menjadi orang bodoh, tak menyadari yang dilakukannya menyakitkan perasaan orang yang dia sayangi, sekarang rasakan sendiri remuk hatinya, diri menghukum dirinya sendiri.
Di dunia, hanya boleh aku yang tidak menyakiti kamu, hanya boleh aku. Hanya boleh aku, satu satunya ciptaan Tuhan yg dicipta untuk tidak menyakiti kamu. Maka jika ia melanggar, dia sedang menyakiti dirinya sendiri, memang bodoh.
Jangan pergi, sejenak pun jangan. Sampai aku bisa jadi kebanggan. Hingga nanti hadir, hari disamping aku tersenyum haru bisa merasa layak kamu miliki. Bisa merasa membuat kamu menang atas luka yg pernah kamu rasa.
Hanya aku, ciptaannya yang tidak boleh melukai kamu, mohon percaya
Kamu boleh gak percayain aku unk bangunkan kamu, atau unk mengerjakan assessment kamu, tp mohon.. jgn gak percayain aku unk perasaan. mohon jangan pernah pergi, atau barang sekedar break sejenak
yang harus selesai
gini loh, dek. habis menikah itu, masalah tuh tambah banyaaak, bukan jadi berkurang. kamu harus mikirin keuangan keluarga, kesehatan keluarga, pendidikan anak-anak, aktualisasi masing-masing anggota keluarga. itu dalam lingkup besarnya. dalam lingkup kecilnya? mikirin hari ini mau makan apa, jemuran sudah kering belum, pintu sudah dikunci belum. banyak yang diurus.
jadi, kalau memang niat menikah, ya kamu harus selesai dulu, dek, sama hal-hal dasar yang jadi pasaknya rumah tangga. kepercayaan, percaya nggak sama calon pasangan? kejujuran, bisa nggak kamu jujur sama diri sendiri dan sama calon pasangan? komitmen, kesetiaan, mau menerima, hal-hal seperti itulah.
kalau kamu dan calon pasanganmu sudah selesai sama hal-hal dasar itu, artinya kalian sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah. belum benar-benar siap menikah loh. kenapa? karena habis itu yang harus diobrolin masih banyak.
gimana kalian mengatur keuangan keluarga. mau tinggal di mana dengan cara apa, ngontrak kah nyicil rumah kah. gimana caranya bertukar sepatu biar sama-sama baik sebagai menantu. besok kalau punya anak gimana mendidiknya. apa bentuk melayani dan taat menurut masing-masing. rencana jangka panjang masing-masing dan gimana kalau itu harus dilebur. bahkan, bisa sampai seputar mau punya ART apa enggak. suka ngosek kamar mandi enggak. mau punya anak berapa (ini kendali Allah memang tapi bisa juga direncanakan).
juga, yang mungkin tabu diomongin di depan, seperti gimana kalau sampai terjadi masalah dan amit-amit harus berpisah. apa arti kekerasan dalam rumah tangga menurut masing-masing. dan lain-lain.
wajar sih, kalau saat mau menikah, kamu diselimuti kekhawatiran. akan langgeng nggak ya, dia akan setia nggak ya, akan bahagia nggak ya. itu memang tugasnya setan supaya yang mau menikah ragu-ragu dan nggak jadi menikah.
tapi, dek. ada banyak banget yang lebih penting dan utama untuk dipikirkan dan direncanakan daripada itu, apalagi daripada masa lalunya atau kekhawatiran tentang kesetiaan dia di masa depan.
intinya ya dek, setiap orang pasti punya masa lalu sehingga kamu nggak usah mikirin masa lalu calon pasanganmu. nggak usah, nyusahin. sekaligus, kamu jangan berharap deh bahwa kamu bisa mengubah seseorang. kalau sayang ya pasti dia menjadi dirinya yang terbaik. lagian, nggak enak menjalani hubungan yang penuh dengan tuntutan.
dah, selesaikan dulu yang dasar-dasar. kalau sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah, persiapkan diri (dan calon pasangan) untuk menikah. baru deh menikah.
prinsipnya kan, nanti gimana bukan gimana nanti. semangat persiapannya!
“If you hesitate between me and another person, don’t choose me.”
— Unknown
“It’s time to distance yourself from the people who let you down, the inconsistent ones.”
— Billy Chapata
“Get comfortable with being alone. It will empower you.”
— Unknown