Di balik punggungmu, ada dunia yang sibuk merangkai cerita.
Sangat mudah bagi sepasang mata asing untuk melihat satu detik dari hidupmu, lalu merasa berhak menulis seluruh bab tentang siapa dirimu. Mereka melihatmu terdiam, lalu menyimpulkannya sebagai keangkuhan. Mereka melihatmu runtuh sekali, lalu menganggapmu lemah selamanya.
Tanpa pernah mengetuk pintu hatimu, mereka dengan percaya diri mendirikan menara asumsi di atas tanah yang bahkan tidak pernah mereka pijak.
Kebenaran sering kali terlalu sunyi, sementara asumsi selalu menemukan panggung yang bising.
Apa yang tidak mereka ketahui adalah riak di permukaan tidak pernah bisa menggambarkan dalamnya palung lautan. Di dalam dirimu, ada perang besar yang tidak pernah menyisakan tawanan. Ada malam-malam panjang di mana kamu harus membalut luka-lukamu sendiri dalam sepi, memastikan tidak ada keluhan yang bocor dan mengganggu kenyamanan mereka. Kamu sedang berjuang menyelamatkan apa yang tersisa dari jiwamu, berjalan tertatih di atas pecahan kaca yang dengan ringannya mereka sebut sebagai "jalan yang mudah."
Lalu, kepedihan itu berlipat ganda. Cerita fiksi tentang dirimu diberi sayap oleh bibir-bibir yang haus akan cerita. Asumsi itu terbang, tumbuh subur di kepala orang lain, hingga menjelma menjadi penghakiman yang terasa begitu nyata. Kamu dipaksa bersalah atas dosa-dosa yang hanya hidup dalam imajinasi mereka.
Letih yang kamu rasakan saat ini bukan hanya karena beban hidup yang sedang kamu pikul. Letihmu adalah akumulasi dari energi yang habis untuk menahan sesak, menyaksikan dirimu didefinisikan secara keliru oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu cara mengeja namamu dengan empati.
Namun, ingatlah satu hal yang utuh ini:
Laut tidak pernah berkurang kedalamannya hanya karena riak di permukaannya dinilai dangkal oleh orang yang berdiri di tepi pantai.
Perjuanganmu, air matamu, dan ketulusanmu adalah milikmu yang paling sakral. Kebenaran dari apa yang kamu lalui tidak membutuhkan validasi, ketukan palu, atau persetujuan dari mereka yang hanya bertamu di permukaan hidupmu. Biarkan mereka sibuk dengan narasi buatannya, dan biarlah kamu tetap fokus merawat apa yang nyata di dalam jiwamu.














