"Tuhan tidak memberikanmu hidup yang kamu inginkan karena kamu juga tidak hidup seperti yang Tuhan inginkan."
Terjaga di sepertiga malam merenungkan hidup
Claire Keane

Love Begins
Fieri Frames

PR's Tumblrdome
occasionally subtle
art blog(derogatory)
One Nice Bug Per Day
The Bowery Presents

izzy's playlists!
Sade Olutola
almost home

pixel skylines
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium
noise dept.
$LAYYYTER

if i look back, i am lost
The Bright Sessions

Product Placement
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

seen from United States
seen from Iraq

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Spain

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Venezuela
seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from Mexico
seen from United States

seen from Brazil

seen from Germany

seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from Qatar
@dwianita2095
"Tuhan tidak memberikanmu hidup yang kamu inginkan karena kamu juga tidak hidup seperti yang Tuhan inginkan."
Terjaga di sepertiga malam merenungkan hidup
Ingatlah, Nak, saat kau tak punya siapa-siapa selain Allah, Allah saja bagimu itu cukup.
itulah salah satu pesan terakhir dari abaty rahimahullah. Sejak itu, putrinya ini tak pernah takut lagi menghadapi dunia, karena ayahnya telah menanamkan ke dalam jiwanya bahwa ia memiliki sebaik-baik penjaga, sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pembela, sebaik-baik pemberi rizki, sebaik-baik wali, yaitu Allah Azza wa Jalla.
Hasbunallaah wa ni'mal wakiil...
@rizqan-kareema
libatkan Allah
seorang sahabat kemarin menasihatiku.
"pernikahan itu tidak hanya terjadi antara dua pihak yang menikah. ada dan selalu ada pihak ketiganya, yaitu Allah. ijab kabul merupakan janji laki-laki kepada Allah.
jika diibaratkan, pernikahan itu seperti segitiga. di kaki-kakinya adalah yang menikah. di puncaknya adalah Allah. oleh karena itulah, satu-satunya cara untuk mendekatkan diri kepada satu sama lain adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah."
pasrahkan dan serahkan segala urusan kepada Allah. libatkan Allah dalam setiap langkah dan keputusan. Allah yang akan membereskan segalanya. sebab, cukuplah Allah sebagai penolong kita.
setuju aku pernah belajar konsep segitiga suami istri dan Allah di kelas online menejemen rumah tangga 5 tahun lalu
Kenapa Harus Sholat?
1. Karena Kita Butuh Allah
Bukan Allah yang butuh sholat kita. Bukan Allah yang jadi lebih besar karena kita ruku. Tapi kita-lah yang kecil, rapuh, dan hilang arah kalau nggak nyambung sama Dia.
"Wahai manusia, kalian semua fakir (butuh) kepada Allah, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(QS. Fathir: 15)
Sholat itu charger hati. Kita kayak HP yang dipakai terus tiap hari: ngerasa, mikir, kecewa, jatuh, semangat lagi, lalu capek lagi.
Kalau nggak disambung ke sumber energi yang bener, kita bakal ngedrop, stres, bahkan lost.
2. Karena Sholat Itu Obat
Kadang hidup nyakitin, kadang hati capek, kadang dunia kayak nggak adil. Tapi Allah ngasih cara buat kita bisa sembuh:
"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu."
(QS. Al-Baqarah: 45)
Sholat itu ruang curhat terenkripsi. Kamu bisa nangis, marah, jujur banget di hadapan Allah—tanpa dihakimi. Di situ, kamu bener-bener boleh jadi diri sendiri.
3. Karena Sholat Itu Pengingat Jati Diri
Di luar sana kamu mungkin ngerasa harus jadi “seseorang” buat diakui. Tapi dalam sholat, kamu cukup jadi hamba.
Kamu boleh nggak sempurna. Kamu boleh lemah. Kamu nggak harus punya pencapaian buat dicintai Allah.
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Sholat itu ngingetin kita: kita ini makhluk yang dicipta, ada yang ngatur, dan hidup kita ada arahnya.
4. Karena Sholat Menjaga Kita dari Keburukan
Tanpa disadari, sholat itu ngebentengin. Kayak shield spiritual.
"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar."
(QS. Al-Ankabut: 45)
Kalau kita konsisten sholat—meski kadang masih malas, masih berdosa—sholat itu perlahan akan membentuk hati kita.
Bukan cuma soal gerakan, tapi soal kesadaran di dalamnya.
5. Karena Sholat Itu Wujud Cinta
Kalau kamu cinta seseorang, kamu pasti pengen nyambung terus kan?
Sholat itu hubungan dua arah: kita ngomong ke Allah, dan Allah juga “jawab” lewat ayat-Nya yang kita baca.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang hamba berdiri untuk shalat, maka Allah menghadapkan wajah-Nya kepada hamba tersebut selama ia tidak berpaling...”
(HR. Bukhari)
Gimana nggak meleleh kalau tahu… Allah ngelihatin kita waktu kita sholat. Allah ngedengerin setiap keluh dan harap kita.
Jadi, kenapa harus sholat?
Karena di dunia yang penuh kebisingan, sholat adalah tempat paling sunyi yang bisa kamu pakai buat pulang.
Karena di hati yang penuh luka, sholat adalah ruang paling hangat untuk sembuh.
Karena di antara semua kewajiban, sholat adalah bentuk cinta paling nyata dari dan untuk Rabb-mu.
Mengilhami Keikhlasan dan Mengamini setiap Takdir
“Allah akan iya, ketika engkau sudah ikhlas pada semua yang tidak” - Cak Nun
Ketika engkau tidak lagi menggenggam dengan cemas, melainkan melepaskan dengan ridha. Saat itulah, langit mendekat dan bumi menjadi teduh.
Cak Nun mengingatkan kita bahwa kadang “iya”-Nya Allah tak muncul saat kita sedang ngotot, tapi saat kita tunduk dan berkata: “Jika bukan ini yang terbaik, aku pun siap dituntun ke yang lebih hakiki.”
Dalam penolakan, dalam kehilangan, dalam kegagalan—di situlah Allah sedang mengasah ruh kita untuk mengenal makna cinta yang sejati: cinta tanpa syarat, pasrah yang tidak pasif, tapi penuh iman.
Barangkali yang sekarang tertutup bukanlah pintu, melainkan mata hati kita. Dan ikhlas itu bukan menyerah, melainkan mempercayakan kendali pada Dia yang lebih tahu arah. Sebab jalan Tuhan seringkali terlihat sunyi, tapi justru di sanalah damai abadi bersembunyi.
Ketika ikhlas sudah sepenuhnya hadir pada semua yang “tidak”, di situlah semesta mulai mengamini doamu yang diam-diam dipeluk langit. Satu per satu, "iya" akan datang—bukan karena kau memaksa, tapi karena ikhlasmu mengetuk pintu-pintu arasy-Nya.
Sebab Allah tak pernah menjauh, hanya menunggu kau benar-benar pulang. Dan dalam pulang itu, tak ada yang lebih suci dari hati yang mengilhami keikhlasan dan mengamini setiap takdir,
Maka sekali lagi, biarlah nasehat Cak Nun ini meneduhkan langkahmu: “Allah akan iya, ketika engkau sudah ikhlas pada semua yang tidak.” Dan itu cukup, lebih dari cukup, untuk terus berjalan.
-Kaderiyen || Yogyakarta, April 2025
POV : Pencuri Kebahagiaan
Hidup lagi damai-damainya. Kamu sedang menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, dinafkahi dan diperlakukan dengan baik oleh pasangan. Tiba-tiba ada orang yang mengatakan kepadamu; "Jadi perempuan itu harus bekerja, biar nggak direndahin sama laki-laki. Bisa beli macem-macem sendiri. Jaga-jaga kalau ada apa-apa sama rumah tanggamu, kalau-kalau nanti suamimu selingkuh!" Hidup lagi damai-damainya. Kamu dan pasangan sedang menjalani kehidupan rumah tangga jarak jauh dan kalian saling setia. Dan kalian baik-baik saja. Tiba-tiba orang lain bilang," Ah belum ketauan aja itu pasanganmu di sana, pinter mainnya!" Hidup lagi damai-damainya. Kamu baru aja beli HP seharganya 20 juta, sesuatu yang udah kamu upayakan selama setahun terakhir dengan kerja tambahan macem-macem. Tiba-tiba ada orang yang mengatakan kepadamu ; "Beli hape mahal-mahal, mending ditabung atau dibeliin emas!" Hidup lagi damai-damainya. Kamu sekeluarga baru aja beli mobil LCGC baru, harganya sampai 200jt. Mobil baru dan mobil pertama kalian. Tiba-tiba ketemu temen yang bilang, "Yah, 200 juta sayang banget dibeliin mobil kaleng, kalau dibeliin bekas itu bisa dapat mobil yang lebih bagus!" Dan berbagai macam lainnya. Dia yang terluka hidupnya, dia yang dikecewakan sama keluarga, dia yang dikhianati laki-laki, dia yang tidak mampu beli, dia yang punya keinginan tak tercapai. Dia pula yang memaksakan orang lain untuk hidup dengan cara pikir dan pandangnya. Menyeret orang lain ke dalam luka dan traumanya. Hurt people hurt people. Kalau ada orang yang kamu kenal suka mencuri kebahagiaanmu, tinggalkan! Atau jangan-jangan, kitalah yang suka mencuri kebahagiaan orang lain?
libatkan Allah
seorang sahabat kemarin menasihatiku.
"pernikahan itu tidak hanya terjadi antara dua pihak yang menikah. ada dan selalu ada pihak ketiganya, yaitu Allah. ijab kabul merupakan janji laki-laki kepada Allah.
jika diibaratkan, pernikahan itu seperti segitiga. di kaki-kakinya adalah yang menikah. di puncaknya adalah Allah. oleh karena itulah, satu-satunya cara untuk mendekatkan diri kepada satu sama lain adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah."
pasrahkan dan serahkan segala urusan kepada Allah. libatkan Allah dalam setiap langkah dan keputusan. Allah yang akan membereskan segalanya. sebab, cukuplah Allah sebagai penolong kita.
setuju aku pernah belajar konsep segitiga suami istri dan Allah di kelas online menejemen rumah tangga 5 tahun lalu
Nasehat Mama: Harga Diri Seorang Laki-laki
Saya ingat ketika saya SMP saya pernah bertengkar dengan Ami. Lalu saya tidak sengaja dan tanpa sadar saya menimpali amarah Ami dengan mengatakan "Iya lah kumaha maneh we", dengan nada bicara yang lebih tinggi dari biasanya. Mendengar hal itu Ami marah besar lalu mengatakan hal yang lebih kasar. Saya menangis, sakit hati dengan ucapan dan nada bicara Ami. Karena itu pertama kalinya Ami berkata begitu. Mendengar kami yang bertengkar, Mama datang melerai, saya diminta masuk kamar, begitu juga Ami.
Di dalam kamar saya dinasehati
"Neng, Mama tahu mungkin Neng marah sama Ami. Tapi, tidak benar kalau Neng memanggil Ami dengan sebutan "maneh", selain karena kasar. Kata-kata dan nada bicara Neng tadi melukai harga diri Ami sebagai kakak laki-laki."
Setelah ditenangkan dan banyak dinasehati, ada salah satu nasehat yang saya kenang.
"Ami adalah pengganti bapak. Kalau misal nanti bapak lebih dulu meninggal, maka Ami yang akan mengambil tanggung jawab atas Neng, menjadi wali, menikahkan Neng. Berat tanggung jawab Ami sebagai kakak laki-laki, dunia dan akhirat. Jadi Neng harus bantu. Kalau Ami memang salah, kan bisa bilang baik-baik. Jangan! Jangan terbiasa meninggikan suara, apalagi kalau sama Mama, sama Bapak. Nanti Neng juga berumah tangga, Mama titip jangan sampai meninggikan suara ke suami. Bahaya."
Ketika dewasa, nasehat itu benar adanya. Relevan dengan hal-hal yang kerap saya jumpai disekitar saya.
Saya bersyukur, pernah dicontohkan berlainan. Pasti, rumah tangga Mama dan Bapak bukanlah yang paling ideal, tapi menjaga harga diri suami, menjaga wibawa seorang ayah. Itulah yang sering dicontohkan oleh Mama. Setidak kondusif apapun keadaan rumah tangganya, tapi Mama senantiasa menempatkan Bapak sebagai seorang pemimpin di rumah ini, dan kami diajarkan bagaimana bersikap sebagai seorang makmum.
*Ma, semoga apa yang Mama contohkan menjadi kebaikan yang terus bertambah kebaikannya. Ma, semoga bakti, taat dan kebaikan yang mama lakukan kepada bapak menjadi pahala yang mengantarkanmu ke Surga Allah.
Ma, aku bersyukur sekali. Mungkin dalam ukuran waktu Mama tidak bisa lama menemani, tapi Alhamdulillah atas izin-Nya setiap momen dan hari-hari yang dilalui justru menjadi pengingat yang abadi.
Mama memang telah tiada, tapi aku telah dididik dengan baik oleh Mama. Semoga kebaikan ini juga menjadi pemberat timbangan amal baik Mama kelak ya Ma!
Dalam kenang dan rindu, 21:29 WIB
buk pak, aku pikir dulu aku hanya anak perempuan manja yang gabisa apa-apa. tapi di umurku yang sudah 29 tahun ini, aku menyadari aku sekuat itu ya pak, buk.
terima kasih ya pak, buk. sudah membekali aku kesabaran, kekuatan dan kemandirian.
buk, pak. ikut suami merantau itu nggak mudah loh pak ternyata. jauh dari bapak sama ibuk ternyata menyadarkanku bahwa satu2nya yang bisa dijadikan sumber kekuatan itu ya Allah. bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
pak, buk. malam ini aku demam, gemetar, mual. aku sampai lupa kapan terakhir kali beneran sakit. karena biasanya memang sejak menjadi ibu tuh, aku sudah pasrah sama tubuhku. mau sakit gimanapun, aku seperti ada cadangan kekuatan iron man. yagimana ya pak, buk? ada tiga jiwa suci yang harus aku dan suami urusin.
tapi malam ini… rasanya keinget bapak ibuk terus. dari kemarin2 malah. tadi sore aja aku sengaja video call ibuk cuma buat ngadu kalau aku sakit. nggak kuat kalau nggak cerita. biasanya kuat, tapi kali ini rasanya pengen bersimpuh aja meluk ibuk yaaAllah. menye banget😭
“buk… aku sakit.” kataku.
aku sudah planning jangan sampai nangis. tapi kok ya tenggorokan tercekat juga, nggak kuat, air2 itu menganak sungai dari pelupuk mataku pak. tapi tentu saja aku memalingkan muka dari video call di hape bersama ibuk.
pak buk, ternyata dewasa itu seberat ini. berat sekali. ujung2nya semua perasaan harus kita sendiri yang menanggung, bukan orang lain. pada akhirnya, yang bisa diandalkan cuma Allah. bahkan diri sendiri pun ga bisa diandalkan.
pak, buk. rasanya pengen peluk bapak sama ibuk sekarang. tapi kok ya ga mungkin banget kalau sekarang.
pak buk, cuma mau bilang makasih sudah mendidik aku untuk menjadi kuat dan sabar di manapun aku berada. meski di ujung dunia sekali pun.
pak buk, aku akan meminta ke Allah, aku bersedia menjadi saksi. bahwa bapak ibuk nantinya masuk surga. karena sudah menanamkan kesabaran, kemandirian, ketangguhan dan kekuatan kepada anak2nya sebagai bekal hidup di dunia. sampai sekarang.
Mengejar syurga sendirian itu berat. Maka temukan partner ibadahmu agar syurga terasa dekat untuk diraih.
Ada beberapa "penemuan" penting dalam diriku sendiri yang terkatalis oleh perjalanan ini. Beberapa hal yang kemudian aku temukan, coba kutuliskan di sini : Pertama. Abis dari sana, ngerasa kalau "ke sana" itu harus semakin diperjuangkan berkali-kali, tidak hanya cukup sekali seumur hidup jika kita masih diberikan fisik yang kuat dan masih mampu untuk bekerja mencari rezeki sebaik-baiknya, karena shalat di sana pahalanya 100.000 (masjidil haram) dan 1.000 (nabawi) kali lipat dibandingkan tempat manapun di dunia ini. Sehingga, sekarang merasa sangat memprioriitaskan pengalokasian dana untuk bisa ke sana, berkali-kali. Harta terasa lebih ringan untuk dikeluarkan buat bisa berangkat umroh / haji. Terutama, ngejar buat bisa Haji Khusus / berangkat dari cara-cara lain agar bisa segera berhaji sebagai bagian melengkapi dari rukun islam. Kedua. Dunia ini dengan segala permasalahannya jadi terasa kecil, sesuatu yang sebelumnya mampu membuatku kepikiran berhari-hari, susah tidur, tidak tenang. Karena bener-bener bisa merasakan momen di mana saat di sana, upaya untuk bisa beribadah berada di titik yang belum pernah kumiliki sebelumnya. Perasaan ini masih terasa sampai hari ini, merasa lebih optimis. Meski dalam kondisi masih meraba/bingung pasca keluar dari pekerjaan sebelumnya, tapi tidak sampai membuatku stress. Ketiga. Berpasangka baik sama Allah adalah sebuah "obat" ketakutan, kekhawatiran, kecemasan yang paling baik. Siapa sangka, semua berlikunya jalan yang kulalui kemarin ternyata ujungnya adalah ke sini. Ke rumahNya, dengan membawa pulang semua pemahaman baru yang belum pernah kumiliki sebelumnya padahal di sana tidak sampai satu bulan, dan masalah yang kumiliki telah berbulan, bertahun kujalani. Jadi, kalau sekarang lagi ada masalah, teruslah berprasangka baik.
Alhamdulillah. Semoga kita semua bisa dipanggil (dan berkali-kali di panggil) ke sana. Aamiin.
Tuhan dan Sifat Transaksional Manusia
“Kok bisa ya dia hidupnya selancar itu, padahal sholatnya aja bolong-bolong”
“dia kerjaannya dugem tiap malem, tapi kok ya hidupnya lancar, lulus S1, kerja di perusahaan bonafide, lalu kuliah S2 ke Amerika”
Haffffttt..
Berkali-kali pikiran seperti itu muncul di kepalaku akhir-akhir ini, sampe sempet beberapa kali aku bertanya pada beberapa kawanku, kok Tuhan begitu?
menilas balik kejadian tahun lalu, masih ada part marah dalam diriku. Aku kurang apa ya saat itu? dan semua pertanyaan “ternyata aku belum cukup” untuk Tuhan “melihatku” dan “menolongku”.
Sejak kejadian itu, aku enggan “mendekat”. Bahkan meminta dengan sungguh pun rasanya enggan. Kenapa? Banyak muncul perasaan “Ngapain aku berbuat baik dan ‘beribadah’ toh nyatanya pertolongan Tuhan jauh adanya?
“Ya mending aku gausah beribadah dengan baik aja, toh nyatanya beribadah dan tidak sama adanya?”
Sampai kemudian hari ini aku berpikir, bahwa selama ini aku menganggap hubungan dengan Tuhan hanyalah hubungan transaksional. Jika aku beribadah dengan tekun, maka harusnya Tuhan memudahkan seluruh hidupku. Jika aku melakukan ritual A B C, Tuhan akan memberiku apa yang aku mau. Yap, mungkin itu yang selalu terngiang di kepalaku sejak kecil.
“kalau mau hidupnya lancar, rajin sholat Dhuha sama Tahajud”, lalu aku melakukan itu semata-mata agar urusan duniaku lancar. Maka, saat tidak datang sesuai mauku, aku marah.
“kalau mau dilancarkan saat ujian, baca surat A B C, dzikir X Y Z”, sampai ternyata ujianku tidak lancar, aku marah.
Sekali lagi, hubungan dengan Tuhan aku anggap hanya hubungan transaksional biasa. Jika aku beribadah dengan baik, Tuhan harus memberiku apa yang aku mau dalam hidup.
Tapi padahal, ibadah dan “kesuksesan” yang aku harapkan adalah dua hal berbeda. Ibadah adalah kewajiban sebagai seorang manusia, terlepas dari segala atribut yang melekat, bahkan terlepas bagaimanapun takdir yang membersamai manusia. Jika aku mempercayai Tuhan, maka aku juga harusnya melakukan ibadah-ibadah yang harusnya datang dengan “kepercayaan” itu.
Sedangkan kesuksesan, pencapaian, atau apapun itu namanya, tidak hadir dari “karena aku beribadah dengan giat, aku akan mendapat apa yang aku mau”. Tidak. Kesemuanya datang dari usahanya diri, dan tentu saja takdir yang mengiringi. Tapi sekali lagi, ibadah, bagaimanapun bentuknya, sebagus apapun, tidak kemudian serta merta membuat Tuhan memberikan apa yang kita mau.
Itu hak prerogatif Tuhan :) Manusia, yaudah, menjalani hidup dengan bahagia aja heheh toh kalau mau lebih dalam melihat, ternyata banyak sekali nikmat yang sudah Tuhan berituh.
Bandung, 23 October 2024
Kalau mau ujub, kalau mau sombong dengan jabatanmu, gelarmu, kecantikan atau ketampanan mu, kepintaran mu, hafalan - hafalanmu, atau semua yang bisa disombongkan ya gpp, boleh..., asal satu dirimu ga punya aib ataupun dosa.
Silahkan ujub, silahkan sombong, silahkan merendahkan orang lain.
Coba kalau aib-aib kita itu dibuka sama Allah, muntah itu orang lain melihat kita, jadi apa yang mau disombongkan?
Jika kamu mulai menyukai makan, maka berpuasalah.
Jika kamu mulai menggilai uang, maka bersedekahlah.
Jika kamu lebih banyak tidur, maka mulailah tahajud.
Jika mulai lebih sering mendengar musik, maka mulailah mendengar Alquran.
Karena kecintaan kita kepada dunia tidak boleh melebihi kecintaan kepada Allah. Jalan menuju Allah itu adalah jalan di mana; Nabi Adam kelelahan, Nabi Nuh mengeluh, Nabi Ibrahim di lempar ke dalam api, Nabi Ismail dibentang untuk disembelih, Nabi Yusuf dijual dengan harga murah–bahkan dipenjara, dan Nabi Zakariya di gergaji.
Juga dideritanya penyakit oleh Nabi Ayub, menangis luar bisanya Nabi Ya'qub, berjalan sendiriannya Nabi Isa, bahkan kefakiran dan kemalangan Nabi Muhammad SAW.
Maka Yaa Rabb, ingatkanlah kami bahwa tidak boleh ada yang kami cintai sebegitunya kecuali kecintaan kepada-Mu dan Rasul-Mu.
Bahasa Cinta-Nya
Banyak bahasa cinta-Nya yang mungkin sebelumnya sulit kita pahami, yang membutuhkan waktu sedikit lama untuk memahami maksudNya.
Ternyata, bahasa cinta-Nya Allah tidak hanya hadir lewat kejadian yang mengenakkan saja ya, bahkan kalau di runtut ke belakang, banyak juga kejadian yang kurang mengenakkan tapi justru itu malah mendekatkan kita kepada-Nya.
Harapan yang dipatahkan, kekecewaan, kegagalan, pengalaman yang kurang mengenakkan ketika bertemu seseorang, dan hal lainnya. Rasa kekecewaan itu yang akhirnya mendekatkan kita kepada-Nya, karena ternyata sadar bahwa kita tidak dapat berdiri di kaki kita sendiri, tidak bisa kita hadapi sendiri. Ternyata benar, kesedihan itu sebenarnya juga perasaan istimewa, karena perasaan itu mendekatkan kita kepada Tuhan.
Aku akhirnya memahami, bahwa apa-apa yang dihadirkan dalam hidup itu sebenarnya juga sebuah nikmat sekaligus ujian. Aku hanya bisa mengusahakan yang terbaik, dan ukuran kebaikan itu tidak pernah dalam ukuran kita, melainkan ukuran-Nya.
Aku percaya bahwa serangkaian kejadian dalam hidup di masa lalu itu membentuk pribadi kita saat ini, membentuk pribadi yang lebih bijaksana, pribadi yang lebih tenang, lebih bisa berfikir rasional, tidak gegabah, dan lebih legowo. Indah sekali bukan bahasa cinta-Nya?, yang perlu dilatih hanya sabar, sabar menjalani proses.
Banyak cara bagi Allah untuk mengantar kita untuk dekat kepada-Nya. Semoga hal-hal yang hadir di masa lalu mengantarkan ke takdir terbaik kita.
Bagaimana cara memahami bahasa cinta-Nya, entahlah, mungkin aku selama ini begitu bodoh dalam memahami bahasa-bahasa cinta-Nya, padalah begitu nyata, tapi sering kali terabaikan olehku. Hati ini seolah terkunci dan buta.
Ya Rabb... mudahkanlah hamba memahami bahasa cinta dari-Mu, buat hamba mengerti dan memahami, hingga muncul rasa takut akan jauh dari-Mu, membuat rasa rindu teramat pada-Mu, hingga membuat rasa ingin selalu bersama-Mu. Ya Rabb... bantu hamba, tolong hamba.
________Terima kasih sudah meningatkan untuk memahami bahasa cinta-Nya.
"Allah ngga butuh disembah oleh manusia. Itu aku juga percaya. Allah ngga se narsis itu.
Tapi, kita yang butuh sama Allah, bukan Allah yg butuh penghambaan dari kita. Tau diri dikit lah. kita itu lemah.
Kasih kantuk dikit aja langsung tepar. Masak sih ngga belajar dari hal-hal kecil gitu."
(kata-kata kak @saarahsatujuan ) dan aku juga setuju dengan semua itu kak.
__________
Kalau mau terus-terus mengedepankan pemikiran-pemikiran manusia, bakal berantakan semua urusan manusia itu. Jadi apa yang bisa mengerem pemikiran-pemikiran manudia yang terkadang salah? Terkadang muncul pemikiran kenapa kita harus sholat, kenapa kalau ngga sholat dosanya lebih besar dari zina, membunuh, mencuri dll? bisa dikatakan keluar dari islam atau pembatal keislamannya? kenapa harus puasa dsb. Bagaimana kita tahu semua itu, ya dengan belajar, belajar mengenal Allah, mengenal Rasul dan belajar mengenal Islam. Belajar ilmu-ilmu yang Allah turunkan.
Kalau ngga kenal maka tak sayang. Ya sudah mari kita kenalan biar akrab tapi juga tahu adab dan tahu diri.
_______Menuju tidur, buka pesan adanya pesan darimu @saarahsatujuan langsung buat reminder di sini. Aku sangat-sangat butuh pertolongan Allah yang masih dalam kefakiran ilmu ini.
Sedang Lelah Kah? Tenanglah, Ada Allaah....
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tattimush shalihaat.
Pontianak. 22072024. 05:38.
Tadi malam, media sosial cukup riuh.
Banyak kegelisahan.
Kegelisahan yang mengantarkan saya pulang ke sini lagi, menuangkan isi kepala, hal-hal yang sebenarnya ingin nyaring saya ceritakan, namun terhalang pengecutnya diri.
Kita mulai lagi dengan doa yang saya kutip dari akun instagram faridpta.
Doa yang ditulis dari kamar yang nyaman, semoga adalah doa yang Allaah perkenankan membawa dampak untuk mereka yang kesusahan.
Sedang lelah ya?
Saya juga.
Tapi kan kita punya Allaah.
Allaah yang semoga ridha memberikan kita ilmu, termasuk keutamaan membaca 2 ayat terakhir al Baqarah di malam hari agar kita dicukupkan.
Salah satu dialog di masa muda dengan seorang teman, yang semoga Allaah ridha kembalikan ia ke jalan kebaikan.... tentang pertanyaan saya mengapa ia memilih masuk ke dalam sistem yang rumit. Penuh idealisme masa muda, mantab ia menjawab... untuk mengubah sistem, kita harus berada di dalamnya. Jangan sekedar mengutuk gelap, namun nyalakan terang di dalamnya. Saya mengangguk memandang kagum padanya. Namun takdir menunjukkan, kini ia terseret dalam pusaran arus itu.
Kini saya yang berada di suatu sistem. Hal yang tidak pernah saya minta, maka semoga Allaah ridha menyelamatkan saya, semoga Allaah ridha saya membawa manfaat. Karena ini sungguhlah melelahkan.
Allaah tau saya lemah, maka jauh hari sebelum saya tau ini akan terjadi, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman baik... yang semoga Allaah melindunginya....
Di saat seolah sedang capek-capeknya, Allaah titipkan amanah jabatan yang ndak main-main. Kita memang ternyata akan diuji beberapa kali dengan ujian yang sama, pembedanya adalah keadaan ilmu yg dipunya.
Walau tentu diri masih jaaaaaauuuh untuk disandingkan dengan Ibunda Aisyah RA sang telaga ilmu. Namun tentu Allaah perkenankan kita meniru Beliau.
Kita saling mendoakan ya.
Salam,
ayuprissakartika.