Book Review : Muslimah Dalam Dekapan Sunnah
1. Keberadapan masjid apabila sesuai fungsinya akan membentuk peradaban. Masjid adalah mercusuar ilmu.
2. Rasulullah ketika hijrah ke madinah, beliau membangun masjid, mempersaudaran muhajirin dan ansar, membangun pasar.
3. Yang kita khawatirkan bukanlah ketika hati kita tidak bersyukur. Tapi, ketika hati kita tidak lagi sensitif untuk memahami dan mengetahui. Banyak suami yang kehilangan sensitifitasnya terhadap istri, begitupun sebaliknya. Suami dan istri kehilangan sensitifitas untuk melihat kebaikan dari pasangannya.
Imam Ibnu Qoyim berkata bahwa: “hati yang tidak sensitif terhadap karunia itu lebih parah daripada hilangnya kesyukuran. Karena hilangnya kesyukuran pasti dimulai dari hilangnya sensitifitas hati kita untuk mengerti setiap karunia dan anugrah yang diberikan oleh Allah.
4. Maka, kita perlu memohon kepada Allah anugrah hati yang sensitif akan tanda kekuasaan Allah dan meminta agar selalu dalam perlundungan Allaah tanpa ditinggalkan Allah meskipun hanya sekejap mata.
5. Kita hidup di zaman fitnah, yang berat adalah menyelamatkan pola pikiran kita agar pikiran kita sesuai kitabullah dan sunnah. Dewasa ini, sering kita melihat banyak manusia itu dzohirnya muslim, tapi pola pikirnya bukan seorang muslim. Itulah penyebab manusia bisa dijadikan objek di zaman fitnah ini (brainwash). Seolah olah islam itu Cuma sholat, puasa, haji, dan umroh.
6. Di zaman fitnah, wanita dijadikan komponen utama untuk dilepaskan dan dibuat jauh dari agama. Karena ketika banyak wanita yang rusak, maka akan mudah untuk merusak suatu peradaban.
7. Disebutkan oleh Syeikh Adhil Hasan, setidaknya ada 6 pola untuk menyerang kaum muslimah untuk merusak islam, antara lain:
Menghilangkan kepekaan — muslimah dibuat memandang biasa suatu kerusakan dan kedzoliman. contoh: memandang biasa zina, menganggap biasa ikhtilat, riba, L987, khamar, dsb. Dampaknya tentu ke peradaban karena mau tidak mau pasti ketika seorang menjadi ibu, maka dia akan mengajari anaknya kelak. Kalo pola pikirnya sudah rusak dan tidak sesuai dengan syariat, pasti akan muncul keburukan yang dahsyat dampaknya.
Memanipulasi agama dan menyamarkan —seolah kebebasan dalam mendapatkan legitimasi agama (disuaran wanita memiliki keinginan sebuah porsi liberal) artinya kemerdekaan dimana perempuan tidak mau dituntun berdasarkan kitabullah. Setiap perempuan bebas berpendapat apa yang dimau, sehingga mengaburkan tujuan hidup adalah dengan menghamba kepada Allah dimana mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Allah semata – mata untuk syurga. Misal: childfree, kebebasan wanita dari agama.
Tontonan yang menyelipkan hal-hal negatif dan liberal — ahli parenting berpendapat “perhatikanlah yang dilihat oleh anak – anakmu karena apa yang dilihat itu jadi buah pikiran. Nah, buah pikiran ini bisa mematahkan kebaikan – kebaikan yang diajarkan atau ditanamkan oleh orang tua.”
Diberikan kekuatan argumen sehingga membuat kegaduhan.
Dijadikan bagaimana socmed itu untuk melancarkan poin – poin liberal (pentingnya menjadi muslim bukan hanya dzohir) —mengembalikan peran wanita sesuai syariat.
Menanamkan keraguan dalam kewajiban—banyak wanita yang masih ragu untuk berjilbab karena mendapatkan masukan-masukan dalam pola pikirnya secara liberal.
Selain itu, pacaran. Pacaran dicampuradukkan dengan taaruf. Dikatakan kalo pacaran itu perkenalan yang disamakan nilainya dengan taaruf, padahal kenyataannya berbeda jauh.
Contoh sebagai renungan: ada 2 wanita . si A hidup tidak mengikuti syariat, hidup dalam kebebasan. Memiliki pola pikiran bahwa “childfree itu oke-oke saja.” Namun ketika melewati umur 30 dan 40; maka akan merasakan kosong hatinya meskipun secara dzohirnya tampak bahagia.
Si B hidup mengikuti syariat. Ketika menjelang 40 dia merasakan anaknya sudah mulai menjadi birrul walidaini, maka dia akan memperoleh ketenangan.
Disinilah kita dapati, meskipun pada mulanya orang yang mengikuti syariat (dipandang kolot atau tidak modern), tapi ujung hidupnya akan ada anugrah dan nilai – nilai kehidupan yang luar biasa. Sesungguhnya syariat itu diberikan untuk dijalankan untuk mencapai kemuliaan.
Sedangkan wanita yang menganggap wanita itu gaharus punya anak (menganggap anak itu beban), merasa kalo wanita tidak memiliki keharusan untuk mencari jodoh, menganggap perzinahan itu gapapa asal sama – sama dalam consent; maka nanti diusia dia 40 an, akan timbul rasa kosong atau hampa. Makin berumur makin engga tenang.
“hati itu pasangannya ketenangan, bukan kepuasan.”
Syariat itu benar, meskipun orang hari ini banyak menilai syariat itu tidak benar, namun tetap dan pasti bahwa; suatu saat nanti syariat itu akan menunjukkan kebenaran dan menimbulkan ketenangan bagi manusia – manusia yang meyakini Allah dan menjalankan syariat.
Ada kerabat dari ayah ustadz oemar mita yang terkena pemikiran komunis (tidak percaya tuhan). Ini waktu muda dia beringas, ikut PKI, meremehkan orang sholat, membully orang yang taat. Sampai suatu saat dia digerogoti usia, dia baru sadar bahwa manusia itu membutuhkan Allah. Untung saja beliau masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertaubat di usia senjanya, hingga ketika dia mulai merintih kesakitan di masa tuanya, dia selalu menyebut “Allaah, Allaah..”
the point is— syariat meskipun ditentang oleh orang, maka akan ada suatu waktu dimana syariat itu memberikan kebaikan untuk hidupnya.
8. Hadist Abu Zaid bin Khudri, ada seorang wanita yang mendatangi Rasulullah lalu wanita ini berkata “yaa Rasulullah, sesungguhnya kaum laki – laki telah mengambil bagian dari-Mu dan sabda – sabda Mu begitu banyak dibanding kami”
Irinya wanita zaman rosul tuh bukan bersifat di bidang finansial atau duniawai. Tapi irinya kaum wanita adalah kaum laki – laki enak bisa mendampingi rasulullah terus (mendapatkan hadist). Irinya urusan akhirat.
Yasudahlah rasulullah meminta buat mereka (muslimah) berkumpul pada hari – hari tertentu. Realisasinya yaitu Rasulullah mengajarkan kepada para muslimah mengenai apa saja yang diajarkan oleh Allaah kepada para kaum laki – laki kepada para muslimah. Salah satu yang diajarkan Rasulullah kepada muslimah—“tidaklah diantara kalian lalu ditinggal mati oleh ketiga anaknya kecuali itu menjadi hijab antara dia dengan neraka.”
Lalu ada seorang muslimah yang bertanya, “bagaimana jika kami ditinggal oleh dua, dua, dua, yaa Rasulullah?”
Maka Rasulullah menjawab, “jika kalian ditinggal oleh dua, dua, dua, dan kalian rida atas apa yang terjadi, maka itu juga akan menjadi hijab diantara kalian dengan neraka.” (HR. Bukhori Muslim)
Maka, ada 10 pelajaran yang diperoleh dari hal ini, yaitu:
1. Dianjurkan untuk mengkhususkan hari mengajar kaum wanita tanpa keikut sertaan kaum laki – laki disitu— kaum wanita juga perlu diperhatikan untuk mendapatkan pendidikan. dikhususkan hanya wanita juga untuk menjaga dari ikhtilat. Diharapkan mampu membentuk wanita dengan pola pikir sesuai kitabullah dan sunnah.
selain itu, ketika berumah tangga, adanya kewajiban suami untuk mendidik istri (lewat majelis ilmu berdua atau lewat percontohan dan dialog dari suami terhadap istri)— kewajiban istri mengikuti arahan suami asalkan sesuai dengan kitabullah dan sunnah.
2. Harus ada waktu – waktu khusus untuk wanita diprioritaskan (women’s day)— waktu untuk seorang wanita belajar dalam majelis ilmu. hal ini untuk mempersiapkan dan membentuk peradaban yang terbaik.
3. Haramnya ikhtilat— Hendaknya kaum wanita tidak bercampur dengan laki – laki. Perlu adanya upaya untuk menjaga wanita dan mencegah adanya ikhtilat. Ikhtilat mampu merusak dan berdampak besar. Ikhtilat mampu memunculkan “melihat” sesuatu yang berakhir negatif (pentingnya ghadul bashor).
4. Memperhatikan perbedaan laki-laki dan perempuan baik di ranah ilmu maupun praktis—Ilmu yang ditransfer itu disesuaikan dengan fitrah laki – laki dan perempuan. Pentingnya belajar psikologi perempuan dan laki- laki.
5. Wanita identik dengan sifat malu, maka sifat malu ini harus diperhatikan. Jangan dipaksakan untuk mengeluarkan atau menyingkirkan sifat asli wanita yang pemalu dengan metode – metode tertentu. Mungkin, misalkan di majelis ilmu, bisa ditanyakan lewat kertas. Supaya mereka tetap berada pada fitrahnya perempuan yaitu mempunyai rasa malu. Karena tidak setiap laki – laki melihat wanita itu hatinya bersih. Maka dalam konsep syariat, maka seorang suami perlu menjaga isterinya untuk tidak bermudah – mudahan terlihat oleh lawan jenis. Jadi suami memiliki pemahaman dan berkewajiban menjaga isteri dan menjaga marwah isteri serta anak keturunan yang wanita.
6. Dipenuhi kemauan para wanita untuk dapat menimba ilmu— menunjukkan bahwa rasulullah langsung merespon dengan baik atas permintaan mereka. Rasulullah paham kalo menjaga pola pikir wanita itu penting. Wanita pada dasarnya adalah madrasah utama dan pertama untuk anak keturunannya kelak.
7. Memotivasi kaum wanita yang kehilangan anak untuk bersabar. Memastikan wanita itu memiliki kesabaran yang luar biasa. Meskipun mereka merasa itu anak mereka, namun sesungguhnya anak itupun merupakan titipan Allah. Maka wanita perlu dididik untuk mengerti konsep bersabar dan paham ilmu agama.
Meninggalnya anak sebelum baligh itu memilki keutamaan yang besar— suatu saat bisa menjadi hijab bagi orang tua dari neraka. Alloh jika menyayangi seorang hamba, maka Alloh memanggil malaikat maut dan bersabda; “aku cinta dengan keluarga itu, kamu cabut nyawa buah hatinya.”
Para malaikat maut lalu turun pada keluarga yang dicintai Alloh tersebut, lalu mencabut nyawa buah hati mereka, dan menjadikan itu ujian kehilangan atas buah hati mereka.
ketika keluarga tersebut mendapatkan ujian dari Alloh dan mereka tetap memuji Alloh dengan kalimat istirja’. — Lalu Allaah senang dan rida serta bersabda:
“bangunkanlah mereka sebuah rumah di syurga, dan namamai rumah tersebut dengan rumah pujian. Rumah itu tidak digapai dengan sholat, rumah itu tidak bisa digapai dengan puasa, rumah itu hanya bisa digapai dengan orang yang kehilangan anaknya lalu menerima dan rida dengan bersabar. rumah itu disebut dengan baitul hamdi.”
Ada 2 ujian jika diujikan oleh seorang hamba lalu hamba itu rida atas ketetapan Alloh, maka tidak ada balasannya kecuali syurga:
1. Kehilangan penglihatan lalu dia ridho.
2. Kehilangan anak lalu dia ridho.
a. antusiasnya para sahabat untuk belajar agama.
b. ketika belajar, kita akan diuji oleh keberkahan ilmunya. apakah kita mampu mempraktekan akhlak atau tidak. karena perempuan itu sering banget mudah berkomentar yang juga banyak keburukannya daripada manfaatnya. Jangan sampe apa yang dikomentari jauh lebih berdosa daripada pahala ilmu yang dikaji.
c. bolehnya wanita untuk berdiskusi dengan laki – laki. dengan catatan mampu menjaga diri dari keburukan dan menjaga syariat.
d. pentingnya wanita berkomunitas dalam kebaikan, memiliki kesempatan ke majelis ilmu untuk terus belajar agama.
e. wanita wajib memelihara fitrah rasa malu. Pentingnya menjaga pergaulan untuk menjaga diri dari ikhtilat.
(Ustadz Abu Bassam Oemar Mita)