Kau tahu...??
Terlelap dalam rindu itu lebih menyakitkan dibanding terbangun dengan mengingatmu..
selembut embun di awal sunrise, selayak rindu yang tak pernah terpahami...
teruntuk sebuah nama, berbahagialah 😊
"selamat pagi embun, kopi, dan rindu"

Andulka
Mike Driver
Three Goblin Art
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

shark vs the universe
he wasn't even looking at me and he found me
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
Stranger Things

No title available
ojovivo
Sade Olutola
h

PR's Tumblrdome
sheepfilms
Monterey Bay Aquarium
YOU ARE THE REASON
Game of Thrones Daily
EXPECTATIONS
Show & Tell
seen from Russia

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from Australia
seen from Jordan
seen from Argentina

seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Mexico
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@endahg
Kau tahu...??
Terlelap dalam rindu itu lebih menyakitkan dibanding terbangun dengan mengingatmu..
selembut embun di awal sunrise, selayak rindu yang tak pernah terpahami...
teruntuk sebuah nama, berbahagialah 😊
"selamat pagi embun, kopi, dan rindu"
Perasaan cinta ini bukanlah seperti embun pagi, Nona. Yang akan menghilang seiring waktu, ketika ia terkena sinar matahari yang menyingsing di ufuk Timur setiap pagi.
@hardkryptoniteheart || 22/06/2024 || 14:40 ||
Seperti embun yang memilih menguap ke angkasa ketika mentari pagi menyapa. Seperti senja kala jingga, kebersaman yang indah untuk kemudian memilih tenggelam dibatas cakrawala. Atau-kah seperti sepasang rel kereta yang berjalan bersisian namun tak punya kesempatan untuk bersama. Seperti apapun itu; kita abadi dalam bait-bait puisi dan sajak-sajak patah
26112023
TIDAK SEKUAT ITU
Orang yang kau pikir kuat itu, tak sekuat yang kau bayangkan.
Senyumnya di hadapanmu, bukan karena ia kuat, bukan. Ia hanya tidak senang saja, melihat orang lain sedih karenanya.
Ketabahannya di hadapanmu, bukan karena ia tangguh, bukan. Ia hanya tak mau saja, nampak lemah di hadapanmu.
Diamnya di hadapanmu, bukan karena ia tak punya masalah, bukan. Ia hanya tak mau saja, menambah beban pikiranmu yang nampaknya juga punya masalah.
Tapi, ia tak sekuat yang kau bayangkan.
Ia manusia biasa, ia juga merasakan kesulitan.
Banyak hal yang mampu membuatnya merasa bahwa dunia itu tidak adil, banyak hal yang mampu membuatnya merasa bahwa apa yang ia lakukan itu salah, banyak hal yang mampu membuatnya bersedih, bahkan untuk sekedar senyumpun, ia enggan.
Ia manusia biasa, ia juga berkeluh kesah.
Hanya saja, kau tak pernah tahu. Karena segala masalahnya, ia ceritakan hanya pada-Nya.
Di atas hamparan tempat ia bersujud, ia lampiaskan segala kesalnya, masalahnya, keluhnya, kesahnya, kekhawatirannya, kesedihannya, ia lampiaskan segalanya kepada Tuhan-Nya. Dinginnya malam selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengeluarkan segala hal yang mengganjal di hatinya.
Bukan, bukan karena ia tidak mau bersosial, bukan. Hanya saja, ia tidak mau menambah beban teman-temannya dengan menceritakan segala permasalahnya. Dan baginya, itu merepotkan orang lain.
Bukan, bukan juga karena ia sok suci, bukan. Tapi baginya, itu sudah cukup menenangkan jiwanya. Karena ia paham, Tuhan tidak membalas jawaban hamba-Nya dengan sebuah obrolan, tapi melalui cara-cara mengejutkan. Yang pasti, ia percaya, apapun bentuknya, pastilah jawaban Tuhan itu selalu terbaik.
Orang-orang yang nampak kuat itu, tidak sekuat yang kau bayangkan.
Ia manusia biasa, Ia juga seorang hamba, maka ia pun tak lepas dari ujian-Nya.
TIDAK SEKUAT ITU Bandung, 15 Januari 2018
Kepada yang Pernah Patah
Aku tau kau sudah lelah.
Merasa dunia tidak begitu adil oleh karena kau selalu menjadi pihak yang ditinggal pergi.
Kau menghabiskan puluhan purnama dan tiga kali revolusi bumi untuk bisa sembuh dari sakit hati. Mencoba merangkak keluar dari lubang yang mereka gali, namun belum sampai menyentuh cahaya, mereka sudah menendangmu kembali ke dasar sana — berkali-kali.
Kau mulai putus asa. Mulai dengan terpaksa menerima kenyataan bahwa hidupmu akan seperti ini saja untuk sekarang dan seterusnya. Menjadi satu tubuh yang selalu mengalah demi ego orang lain. Yang selalu menelan semuanya sendiri tanpa ada yang sudi mendengarkan tidak dengan risih. Yang menjadi telinga tanpa ada kesempatan berbicara. Yang diminta untuk selalu mengerti, tanpa boleh sekali saja dimengerti.
Kau mulai berpikir kau tidak akan pernah menemukannya. Seseorang yang benar-benar mencintaimu apa adanya. Kau mulai tertawa sinis pada cerita-cerita picisan. Mengutuk keromantisan. Menganggap sebuah tawa bahagia adalah hal nisbi yang tak mungkin kau dapatkan secara ikhlas. Mulai enggan bahagia karena kau tau, luka yang akan datang selanjutnya.
Kau enggan lagi percaya. Terlebih pada mereka-mereka yang datang. Di kepalamu sudah khatam bahwa kau ditakdirkan untuk tidak pernah menemukan seseorang yang akan menyayangimu sebesar kau menyayanginya.
Tapi..
Suatu hari..
Kau akan bertemu seseorang yang tidak pernah kau duga-duga sebelumnya. Seseorang yang ternyata selama ini untukmu selalu ada, ketika kau sibuk mencari-cari ke seluruh belahan dunia. Pada akhirnya kau menemukannya. Seseorang yang tanpa kau sangka ingin begitu kau jaga selamanya.
Seseorang yang membuatmu bertanya-tanya,
“Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”
Seseorang yang memberikanmu kebahagiaan yang selama ini kau pikir hanya ada di dalam cerita. Seseorang itu akan membuatmu kembali percaya. Tak pernah lelah kakinya meyakinkanmu bahwa kau juga berhak untuk bahagia. Meruntuhkan segala tembok es yang kau bangun sekian lama.
Suatu hari kau akan menemukannnya.
Seseorang yang membuatmu bertanya, ‘apakah aku pantas dicintai dengan sebegininya?’, dan tanpa sempat kau membubuhkan tanda tanya, ia sudah langsung menjawab, ‘kau pantas.’ dengan tegasnya.
Suatu hari kau akan menemukannya. Kau hanya butuh waktu sedikit lebih lama ketimbang biasanya.
Jangan menyerah, ya!
Diperjuangkan
Beberapa waktu yang lalu, ketika berbincang dengan seorang teman tentang sebagian perempuan yang ingin diperjuangkan oleh laki-laki dalam mendapatkannya, dia berkata,
“aku ga tahu Din rasanya diperjuangkan lelaki segitunya untuk mendapatkanku, semua biasa aja, bahkan oleh suamiku sebelum kami menikah.
Tapi setelah menikah, aku tahu rasanya diperjuangkan dengan segitunya oleh lelaki selain ayahku : diperjuangkan supaya aku bisa hidup layak dan tidak kekurangan, supaya aku tetap sehat, supaya aku hidup nyaman di bawah naungannya, supaya aku aman, supaya aku merasa dicintai, supaya aku menjadi perempuan yang lebih baik, supaya aku selamat. Tidak hanya agar selamat dan bahagia di dunia, tapi juga di akhirat dan setelahnya. ”
Setelah mendengarnya, rasanya perempuan seperti kita, terutama yang belum menikah, perlu mengevaluasi lagi keinginan diperjuangkan laki-laki. Perjuangan seperti apa yang diharapkan? Sekedar perjuangan mendapatkan hati kita? Dengan kasih ini itu, ngajak kesana kemari, nggombal ini itu? Atau perjuangan yang seperti apa?
Kalau kita belum apa-apanya, rasanya kok ya malu minta diperjuangkan. Walaupun tahu logikanya demikian, pasti ada sisi perempuan yang memang ingin diperjuangkan untuk didapatkan, ya gak sih? Haha.
Katanya, laki-laki itu pejuang dan pemburu. Hanya saja, ilmu serta pengalaman yang mengarahkan pada apa dan bagaimana mereka berjuang dan berburu. Apa perjuangan memang dilakukan untuk mendapatkan kebaikan, atau sekedar kesenangan?
Kalau lihat suami sendiri dan suami-suami lain yang berjuang, rasanya gimana gitu. Ada yang pontang panting kuda bunting berupaya memenuhi nafkah untuk keluarga, ada yang berupaya mendekatkan istri sama keluarganya (ini juga bentuk perjuangan loh), ada yang berupaya mendidik istrinya yang naujubillah bandelnya, ada yang berupaya menjadi bapak luar biasa untuk anaknya yang berkebutuhan khusus, dan ada pula suami yang berupaya menyehatkan diri supaya lekas punya momongan. Masyaa Allaah gitu rasanya. suka terharu, nulis ini aja sambil berkaca-kaca.
Perjuangan dan beratnya rindu Dilan bukanlah apa - apa, meski penggemarnya pastilah banyakan Dilan.
Berdoanya semoga kita jadi istri yang bersyukur, meski syukurnya tidak bisa mengimbangi kenikmatan yang diberikan Allah berupa suami - suami yang berjuang. Iya loh itu kenikmatan, sebab ada juga suami yang enggan berjuang bahkan dalam hal paling mendasar sekalipun.
Yang belum punya suami, kalau nanti ada rejekinya semoga nanti dikasih suami yang memperjuangkanmu dalam kebaikan, menjagamu sebagai titipan berharga. Kalau takdirnya jomblo selamanya, semoga selalu dalam kesabaran dan diganti pahala tak terhingga. Peluk cium untuk jomblowati-jomblowati di jagad Tumblr.
“Kau harus mengerti, aku bukan sedang meninggalkanmu. Tapi jika yang biasanya selalu peduli lantas sekarang memilih pergi, maka baiknya tanyakan pada dirimu sendiri perihal apa yang membuat mereka enggan kembali.”
—
RTM: Menyatukan itu bukan berarti menyempurnakan.
Nanti, saat kamu sudah menemukan dia yang mendapatkan hati dan juga dirimu, jangan terlalu berharap tinggi pada ekspektasi. Sisakan ruang kosong untuk menampung rasa "memaklumi".
Saat ekspektasimu terlalu tinggi, bisa jadi nanti mudah bagimu untuk kecewa. Maklumilah bahwa pasanganmu itu manusia yang salahnya selalu ada dan akan terus berganti kesalahannya, bahkan menyatukan dua hati bukan berarti menyempurnakan semuanya, jika sudah sempurna maka tidak akan ada yang namanya saling memaafkan kesalahan dan saling mengingatkan soal kelalaian.
Bagimu yang sedang menunggu atau mencari, perbaikilah dirimu sembari mengusahakan untuk menjemput dan dijemput. Bagimu yang sedang berlayar dengan kapal dan nahkodanya, salinglah memperbaiki dan menasehati dengan sebaik-baik kata dan perilaku, pasanganmu layak mendapatkan pengingat tanpa melukai.
Perjalanan ini, jika tidak karena mencari pahala dan berkahnya Allah, akan mudah bagi kita untuk marah dan mencaci, mudah bagi kita untuk mencela dan mengganti. Niatkan saja semuanya untuk Allah, soal apresiasi atau tidak itu urusan belakang, yang terpenting adalah apresiasi Allah dengan pahala yang kamu dapatkan. Entah atas perjuanganmu melayani, atau mencari dan menunggu dengan menjaga diri.
Menyatukan itu tidak harus menyempurnakan, tapi membersamai dalam perjalanan dan mengobati luka perjalanan bersama-sama. Memadamkan api jika salah satu ada yang terbakar, menghangatkan hati jika salah satu ada kedinginan karena emosi yang selalu bergejolak.
Menikah itu perlu ilmu, bukan hanya ilmu biologis. Tapi ilmu menata hati dan rasa, menata marah dan bahagia, menempatkan cemburu dan perhatian pada tempatnya.
Selamat bertumbuh.
@jndmmsyhd
Bersyukur itu bukan hanya tentang nikmat yang bertambah, melainkan juga nikmat yang tak dicabut. Apa yang kita miliki, itulah yang semestinya lebih dulu kita syukuri.
Taufik Aulia
Bahagia adalah Cara Hidup
Kamu sedang lelah berjuang.
Kamu telah merangkak, berjalan, berlari, demi menyusuri jalan panjang yang dulu kamu yakini.
Kamu juga sudah banyak berkorban: waktu, tenaga, pikiran, kesempatan-kesempatan kecil untuk rebahan.
Tetapi, hidup memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Rupanya, semakin jauh jalan itu kamu tempuh, semakin tampak itu hanyalah jalan buntu. Apa-apa yang kamu harap ada di sana, apa-apa yang kamu kira akan membuatmu bahagia, ternyata cuma fatamorgana.
Lalu, kamu barangkali mulai berpikir untuk berhenti dan mencari jalan lain.
Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa.
Bahkan jika kamu hendak berputar arah sekarang juga, lakukan saja.
Tak ada yang sia-sia.
Barangkali, Allah ingin memberimu lebih banyak pengalaman. Yang sudah pasti berarti bagimu. Kini, ataupun nanti.
Kita cuma manusia lugu, sementara Allah Maha Tahu.
Lagi pula, bukankah bahagia adalah cara hidup? Bukan kondisi statis yang mungkin terwujud hanya jika kita mencapai target tertentu.
Kita bisa merencanakan sesuatu sambil berbahagia. Kita bisa berjuang sambil berbahagia. Kita bisa mengoreksi langkah-langkah hidup yang kita ambil sambil berbahagia.
Bahkan, ketika hidup menabrakkan kita pada batu kegagalan sekalipun, kita bisa babak belur sambil berbahagia.
***
Buku jangan dulu patah
Titik Temu.
“Gunung/Pantai.” “Gunung.” “Baca buku/Nonton film.” “Baca buku.” “Sunset/Sunrise.” “Sunset.” “Hitam/Putih.” “Hitam.” “Berada dalam gelap gulita/ketinggian.” “Gelap gulita.” “Jadi untuk apa pertanyaan-pertanyaan itu?” “Sekadar mencari tahu sebanyak apa poin-poin yang tadi kutanyakan, centangnya sama dengan pilihanku.” “Untuk?” “Ya kalau di bagian yang sama, suatu saat kita bisa duetkan menjalaninya? Pasti jadi lebih seru.” “Dari mana kamu yakin di antara semua jawaban yang aku pilih tadi nggak ada yang mengecoh kesimpulanmu?” “Nggak apa-apa. Justru kalau ada yang berbeda bukannya bisa jadi selingan sewaktu-waktu kalau salah satu dari kita ada yang jenuh?” “Umm, boleh juga.” Hei, bukannya baru saja kita sepakati sebuah titik temu? Dan ini baru permulaan. (Sebuah percakapan yang diabadikan oleh seseorang di dalam bukunya, berjudul: “Titik Temu.”) Pernikahan adalah penyatuan dua pribadi ‘unik’ (dengan cara masing-masing) di mana mereka tumbuh dengan karakter, kebiasaan dsb yang sudah terbentuk sedemikian rupa. Perbedaan adalah keniscayaan. Hal yang juga berkorelasi dengan ‘Makna Sepakat‘ dalam buku, “Menentukan Arah.” karya Masgun.
“Tidak semua hal, suami dan istri akan satu suara. Ada hal-hal yang masing-masing memiliki sudut/makna yang berbeda. Selama tidak terletak pada hal-hal akidah (sesuatu yang sifatnya umum). Wajar jika ada perbedaan pandangan atau pendapat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana suami dan istri bisa menemukan titik komprominya? Titik temu (kesepakatan).
Sebab, sebuah keniscayaan bahwa tidak akan kamu temukan yang 100% sama semua sudut pandangnya denganmu. Untuk itu, perlu kamu temukan titik temunya.
Menjadikan sesuatu yang tadinya berbeda; satu suara dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai sumber konflik di kemudian hari.”
Selamat menuju titik temu :)
“Never be jealous of something someone has, it could be their test”
Setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing, tertulis dan terjaga ‘naskah’ hidupnya di lauhul mahfudz, sudah yang terbaik dari Allah.
Lalu mengapa masih harus sibuk melirik lirik 'naskah’ hidup orang lain, menganalisa, mengomentari, membanding bandingkan sehingga akhirnya iri dan bahkan sibuk ingin menjalani 'naskah’ hidup orang lain yang dikiranya lebih enak.
Sebulat apakah kepercayaan kita pada Allah, bahwa semua Perencanaan dan KetetapanNYA adalah sudah yang terbaik bagi masing masing diri kita, dan DIA tidak pernah ingkar janji?
Padahal dari kelebihan yang Allah berikan kepada seseorang, ada amanah besar untuknya disana, ada pertanggung jawaban baginya di akhirat kelak.
Dan saya kutip ucapan bapak: “Bila kita iri dengan 'nikmat’ yang dimiliki orang lain, maukah bertukar 'nikmat’ sekaligus bertukar 'cobaan’ yang orang tersebut alami? Baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui? Bapak yakin, jawaban HAMPIR semua orang adalah 'tidak’. Maka dari itu, iri nya dibuat beda yah? jadikan cermin, lalu perbaiki apa yang kurang didalam diri.”
The Beautiful Mess
Pada beberapa waktu, aku memilih untuk berbaring di atas kasur. Tak ada yang kulakukan kecuali menatap langit-langit kamar. Teriakan anak-anak memantul dari dinding-dinding ruangan, bersaing dengan suara langkah kaki-kaki kecil yang tidak lelah berjalan, berlari, dan melompat-lompat ke sana ke mari. Tidak, rumahku tidak sunyi. Rumahku begitu ramai. Tapi, anehnya, aku merasa kesepian. Kepalaku penuh, tapi mulutku kehilangan kata-kata.
Terkadang, menjadi orang tua yang bertanggung jawab itu sulit. Sesuatu dalam diriku berkata aku bukan ibu yang baik. Aku tidak mengurus anak-anak dengan cakap. Aku gagal menyelesaikan tugas rumah tangga di pagi hari. Aku bahkan lebih memilih berbaring di kasur daripada menemani anak-anak bermain.
Ketika aku mulai menangis, anak-anak menghampiriku satu per satu. Si sulung membujukku agar ke ruangannya, menemaninya menyusun balok atau puzzle. Sementara si bungsu merengek dengan bahasa yang meski tak ada dalam kamus, entah mengapa selalu dapat kupahami; bahwa dia ingin selalu di dekatku, dan aku selalu di dekatnya.
Melihat wajah-wajah lugu nan memelas itu, air mataku tambah meleleh. Mengapa harus selalu aku? Mengapa mereka selalu menempel padaku? Mengapa mereka terus memanggil-manggil namaku? Aku tidak pantas mendapatkan mereka.
Aku bangkit dari tempat tidurku untuk melihat separah apa kekacauan yang harus kubereskan di ruang-ruang. Mainan, makanan berceceran, furnitur bergeser, piring-piring menumpuk, cucian kotor di keranjang. Aku melihat wajahku di cermin, di situ aku melihat kekacauan yang lebih parah. Oh, Tuhan. Aku buru-buru memalingkan muka, tak ingin melihat wajahku sendiri.
Anak-anak masih berlarian ketika aku memasuki ruang tengah, alias ruang bermain, alias ruang untuk menampung semua kekacauan. Si sulung melihat kehadiranku dengan girang, si bungsu tak kalah girangnya, seolah aku adalah bintang idola paling cantik, paling keren, paling hebat, yang paling mereka nantikan kehadirannya. Tak ada yang melihatku seperti itu, selain anak-anakku.
"Ibu sini!" ujar si sulung memberi tempat di antara kekacauan itu, bak fans yang memberi karpet merah untuk menyambut idolanya.
Mereka tak mengatakannya, tapi, matanya terlihat sangat berbahagia dengan kehadiranku. Binar matanya seperti bintang yang paling terang. Tak ada yang menatapku seperti itu, selain anak-anakku.
Mereka tak mengatakannya, tapi, mereka tidak peduli pada kekacauan di ruangan ini, tidak juga pada kekacauan yang ada padaku, ibunya. Mereka tidak butuh aku yang cantik, tidak butuh aku yang pandai menyelesaikan pekerjaan rumah dengan sempurna, mereka tidak peduli aku jago bikin mainan atau tidak, masakanku indah dipandang atau tidak, mereka hanya butuh aku. Perhatianku. Kehadiranku. Aku yang apa adanya.
Terkadang aku berbaring di kasur dan menangis sendirian, merasa aku adalah ibu yang gagal dan tidak berguna. Tapi, aku salah. Aku tidak gagal, aku hanya tidak sempurna--dan semua orang pun demikian. Sesekali aku lelah, sesekali aku ingin menghilang di kamar mandi--yang disusul oleh tangisan dan teriakan dari balik pintu, lima detik kemudian.
Tapi, ketika melihat wajah anak-anakku saat mereka terlelap, mendengar tawa mereka atas kekonyolanku, merasakan pelukan mereka di punggungku (yang mendadak dan membuatku meringis kesakitan), mendengar mereka bersahut-sahutan memanggilku, meminta bantuanku untuk semua masalah mereka: mencari mainan; sisir; sikat gigi, aku sadar, karena mereka, hidupku punya alasan.
Tuhan mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu, untuk mengurus makhluk kecil yang sangat bergantung padaku. Makhluk yang tidak peduli pada wajahku, amarahku, kegagalanku. Makhluk yang menganggapku sebagai semestanya, sekaligus mataharinya. Makhluk yang membuat hidupku jungkir balik, terbang dan jatuh, mendaki dan meluncur, tertatih dan tersungkur, tetapi sekaligus mengubahnya menjadi jauh lebih bermakna.
Adakalanya, perempuan tak paham dengan dirinya sendiri. Maka ia membutuhkan seseorang yang bersedia memberinya sebuah cermin. Agar ia bisa bercermin, sehingga ia bisa tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
— ulim asfuriyah
Klo km bertanya kenapa?! Coba kembalikan pertanyaan itu dan jawab!
"Tempat yang semestinya nyaman, tak lagi dirindu bahkan dirasa"
-umaira- Ruangkata | 14 Desember 2019 | 9.47 PM
“Jodoh”
—
“Belum tentu yang nanti dirimu nikahi adalah benar-benar berjodoh denganmu”
Kalimat itu meluncur ketika bapak diminta memberikan pesan kepada seseorang yang akan menikah.
“Saya yakin kalimat itu belum selesai, tapi saya ingin mengetahui kelanjutannya setelah bapak mengetahui alasan saya menikah adalah kami saling mencintai”.
“Menikahlah baru kamu akan tahu apakah dia berjodoh denganmu atau tidak. Jodoh itu proses untuk menyerasikan atau menyelaraskan kepatutan dirimu dengan kepatutan orang yang menjadi pilihanmu. Dalam proses itu, masing-masing saling membersihkan kaca di hati masing-masing dan saling bercermin sebagai proses belajar untuk tumbuh bersama secara fisik, emosi, mental, bahkan secara spiritual, dan yang terakhir ini yang paling penting.
Jadi, menikah itu adalah bagian dari proses. Karena, boleh jadi kalian saling mencintai, namun tidak mampu menyelaraskan satu sama lain. Karena berjodoh tidaknya akan teruji setelah kalian menjalani pernikahan itu sendiri. Itu sebab menikah adalah setengah atau separuh dari agama. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu perkara yang merusak agama seseorang adalah kemaluan. Kemaluan yang mengantarkan pada zina. Menikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang muslim telah terjaga, dan sisanya, Allah Ta'ala memerintahkan agar bertaqwa pada separuh yang lainnya.
Menikah itu ibarat membangun sebuah rumah, pastinya membutuhkan pondasi. Dan pondasinya adalah empat sudut, saling mencintai karena Allah adalah salah satu sudutnya. Sedangkan sudut yang lain adalah satu aqidah, kemapanan karakter (kemapanan finansial akan didapatkan orang yang memiliki kemapanan karakter), dan ilmu.
Kalau pondasinya tidak kuat, sebuah rumah tidak akan bertahan lama, kalaupun bertahan, akan rapuh.
Yang egonya masih sangat kuat akan mengatakan, ternyata akhirnya diakuinya, ia tak mampu melihat dirinya dalam cerminmu. Kamu dapat disebut berjodoh jika kamu telah mampu saling membangun untuk membersihkan cermin masing-masing tanpa perlu memecahkan cermin di depanmu.
Kamu berjodoh karena rasa cinta mu mampu menolong membersihkan kacamu agar pasanganmu pun mampu bercermin darimu, yang terlihat dalam sikap saling, yaitu untuk tumbuh bersama dalam suasana wata'awanuu ‘ala al birri wa at taqwa, saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Kalau kacanya tetap kotor? Terimalah, dan beri ia kesempatan untuk belajar dari cerminmu sampai ia mampu membersihkan cermin nya. Jangan sampai memecahkan cermin masing-masing, yang artinya jika sampai pecah, maka kalian sebetulnya tidak berjodoh.
Sedangkan yang benar-benar berjodoh, adalah kalian yang tetap bersama sampai membawa pasangan kalian ke surga-Nya. Semoga kalian memiliki empat pondasi tersebut, dan mampu membawa keluarga kalian ke surga-Nya.”
*hasil rekaman percakapan ini sudah diizinkan bapak untuk di share dalam bentuk tulisan.
Kadang Saya Lupa kalau Saya Punya Kamu
Maaf, tapi kadang saya benar-benar lupa kalau saya punya kamu.
Seorang yang benar-benar paling bisa saya andalkan, apapun keadaan saya.
Seorang yang mampu membuat saya bangkit lagi, sedalam apapun saya terjatuh.
Seorang yang bisa membuat saya tersenyum bahkan tertawa walau saya sedang dalam keadaan yang benar-benar berat.
Seorang yang tidak pernah sekalipun membiarkan saya menyerah, walau keadaan sering kali membuat lelah.
Seorang yang menghentikan setiap tetes air mata, ketika saya benar-benar sudah sampai pada titik terlemah.
Seorang yang menggerakkan hati saya untuk mau terus melangkah, melangkah, bahkan berlari saat kaki ini kadang meminta untuk berhenti.
Maaf, saya kadang lupa kalau saya punya kamu. Seorang yang selalu saya lihat dalam cermin. Yang tersenyum kalau saya tersenyum. Yang ikut menangis, kalau saya menangis.
Saya kadang lupa, kalau yang bisa membuat saya bahagia lagi saat saya terpuruk ya, saya sendiri.