kau sangat kurang ajar berkeliaran setiap malam aku sangat kepayahan bukan karena waktu tidurku yang tergerus tapi aku yang bertahan tanpa ampun maaf, aku hanya terlalu berselisih perdebatannya masih sama takutku atau rasa tak tahanku
No title available
will byers stan first human second

izzy's playlists!

Origami Around
Sade Olutola
Noah Kahan
Claire Keane
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
Misplaced Lens Cap
RMH
Show & Tell

❣ Chile in a Photography ❣

shark vs the universe
Stranger Things
Xuebing Du

PR's Tumblrdome
YOU ARE THE REASON

★
The Stonewall Inn
seen from United Kingdom

seen from Morocco

seen from United States
seen from Ukraine

seen from United States
seen from United States

seen from Bolivia
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from France
seen from Albania

seen from United States
seen from Panama
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@envirainy
kau sangat kurang ajar berkeliaran setiap malam aku sangat kepayahan bukan karena waktu tidurku yang tergerus tapi aku yang bertahan tanpa ampun maaf, aku hanya terlalu berselisih perdebatannya masih sama takutku atau rasa tak tahanku
begitu tinggi keinginanku memperjuangkanmu, begitu hampir tak terkontrol aku ingin sekali selalu berada di dekatmu. kamu telah tau bagaimana perasaan yang tertanam dalam diriku. aku selalu takut kau berada di sisi orang lain. namun, maaf kasih, aku habis dilahap beban hidup.
tidurku tak lelap dihantui bintang-bintang, aku yang terlalu ingin menggapai bulan, sesak mulai menjalar.
tanyaku, apakah bulan bercahaya untukku? apakah bintang hanya terbang di dekatku? egoisku, mengharap bintang membawa bulan bersamanya
hari ini aku kembali mengingat cahaya yang tertanam dalam. rasanya esokpun akan kembali terjadi hal yang sama. senyumku menyambut sorot cahayanya. di tengah gelapku bulan datang, kokoh bercahaya.
sudah jelas-jelas aku mengatakan, sudah jelas-jelas aku menegaskan, tetap saja yang kau lihat hanya kegelapan yang nyaris tanpa kau biarkan sedikit cahaya. Lalu bagaimana aku menggambarkan sesuatu yang kau sendiri tak ingin lihat? sementara selama ini aku menelannya sendiri. Bagaimana menjelaskan sesuatu yang kau sendiri tak ingin dengar bahkan untuk sekedar bertanyapun rasanya kau tak pernah berniat? sementara selama ini hanya aku yang dibayangi.
aku beserta bayanganmu hari kemarinku sangat aku syukuri melihat kembali senyum dan matamu mendengar kembali tawa yang aku rindukan namun, akhir dari hari kemarinku adalah ketakutan kecemasanku muncul tak karuan kembali, aku tak mampu untuk tidur sampai pagiku kembali masih diselimuti bayangmu apa yang harus aku perbuat? apa yang harus aku katakan? apa yang harus aku lakukan? aku hanya tersadar rekahnya senyum dan matamu bukan punyaku bukan padaku
kamu adalah keindahan yang hanya bisa ku pandangi kamu adalah kesempurnaan yang tak bisa kutandingi kamu adalah harapan yang tak dapat kumiliki kaki rentanku enggan melangkah kaki rentanku tak tau arah kaki rentanku terdiam pasrah aku tersedak sesakku aku teracuni ketakutanku aku sekujur tubuh kaku
malam yang sepi untukku begitu dinikmati, hujan yang deras untukku begitu menenangkan, malam yang hujan, hujan yang malam, sampai lebih bertemu, sampai lebih menyatu, sampai lebih waktu, aku, kamu, untukku setimpal, bulan untuk sebuah hati
aku tak sedang bercanda, sampai aku berani melangkah, sampai aku berani bicara, tanpa aku peduli atas semua yang ku pegang, berbahagialah kamu, berhati-hatilah kamu, mungkin aku datang di waktu yang tak kamu tau.
aku terbangun, mendapati diri yang masih saja kaku, enggan beranjak, walaupun hanya untuk sekedar beralih.
aku tersadar, mendapati kosongnya pikiranku, kecuali satu, aku yang enggan menolak.
aku memapah, kondisiku yang kian parah, haruskah aku pasrah?, dengan egoisku yang kian mendarah.
yang selalu terlupa, yang dibiarkan menjadi hal biasa, aku, kamu, mereka, kadang kala merasa menjadi maharaja yang benar, kadang kala merasa orang lain mahabodoh, aku benar di atas semesta, dia salah di bawah jagat raya. yang lucu, bahkan ada saja yang sengaja melupa, menawarkan diri untuk dilahap pembenaran, membiarkan diri diterkam keegoisan. aku, kamu, mereka, lupa sadar diri, hakikatknya kita sama-sama manusia
iriku tak kemana, iriku sangat tertuju, aku menyukai apa yang orang benci, aku menghampiri apa yang orang hindari, aku, mencintai apa yang aku iri
aku tak bilang, aku diam, aku hening, bukan berarti hati dan pikiranku demikian. dari dalam, aku begitu berisik, berisikku perdebatan tentangmu. takutku begitu menguasai, takutku begitu memaksa, aku terpenjara dalam jutaan pilihan. aku bukan pengecut, terkadang aku lebih memilih rasa sakit, rasa sakit yang bisa aku nikmati. mari bertemu, mari bertegur sapa, aku selalu berada dalam nafas tulisanku.
lucunya aku, mengenang serpihan ingatan, yang sedang berusaha kau lupakan.
aku kembali, kembali pada hakikatnya aku, yang terlalu lama aku abaikan.
tentang maksudku padamu, hanya Tuhan yang tau seutuhnya
hanya Tuhan yang tau tentang aku, kamu, serta semuanya secara utuh
waktu yang berlalu, tak akan aku ucapkan selamat tinggal, aku masih membutuhkamu, akan selalu membutuhkanmu. dalam jalanku akan sering kali teringat, setiap hal yang telah aku rawat, setiap hal yang telah aku lewat. pentingku mengingat bukan untuk merawat rasa sesal, sekian banyak tertanam rasa kesal, telah banyak melewati jurang terjal, aku hanya perlu kembali mengingat tembok tebal, yang berkali aku kalahkan tanpa rasa jatuh yang fatal. aku hanya selalu takut di awal, memaki di akhir, namun hal baik yang ku ingat, aku selalu melawan di awal, meraih di akhir.