“Dan kembali, sayup hujan kini berganti saptawarna pelangi, sedang aku pada kepergianmu, entah mengapa masih saja sama.”
—
Noah Kahan
occasionally subtle

izzy's playlists!
Monterey Bay Aquarium
Not today Justin
𓃗

PR's Tumblrdome
No title available
Cosmic Funnies
Show & Tell

#extradirty
Fieri Frames

oozey mess

No title available
No title available
Cosimo Galluzzi
The Stonewall Inn
h
sheepfilms

Love Begins
seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Spain
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Russia

seen from Spain
seen from Uzbekistan
seen from Bangladesh
seen from Italy

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Colombia

seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Canada

seen from Italy
seen from United States
@ernasetyawatie
“Dan kembali, sayup hujan kini berganti saptawarna pelangi, sedang aku pada kepergianmu, entah mengapa masih saja sama.”
—
Selama bisa melakukan apapun sendirian tak usah minta bantuan orang lain, karena orang yang kita yakin akan selalu ada saat kita membutuhkan saja justru tak ada.
- R
Kini aku ada dalam hidupku sendiri, kamu pun ada dalam hidupmu sendiri. Tak seperti percakapan kita tempo hari. Kini kita berada pada hidup masing-masing seperti orang asing. Tapi aku ingin bertanya; apakah keadaan ini pun merubah perasaanmu padaku ?
Kalau aku tetap sama, masih menyayangimu tanpa karena ㅡ
Borobudur Temple | kyrenian
Location: Central Java, Indonesia
My country 😇
Kala Hujan di Kotaku
Di kotaku hujan dan kenangan beradu cepat untuk jatuh.
Di kotaku hujan dan rindu menderas bersamanya.
Di kotaku, hujan dan kenangan masih belum berkonsipirasi. Seolah enggan, katanya.
Kala itu, hujan di kotaku, ada yang datang meski tak diundang. Setelah kutanya ternyata ia adalah rindu. Adakah yang mau menghantarkan pulang? Kasihan ia, didakwa menyebar kenangan.
Hujan di kotaku, rupanya enggan merelakan sebuah pergi kepada rindu. Jutaan rintiknya satu per satu menjelma rindu, agar riuh dan tidak membuat rindu kesepian. Dibiarkannya rindu tetap tabah atas segala tuduhan perihal kenangan yang ditujukan padanya.
Hingga seketika… di sini hujan rindu. Merinaikan harap pada temu. Ketika menggelegar jantungku, di mendungnya cintaku.
Pada akhirnya, bias hujan mengembun pada jendela waktu. Memberi tahu bahwa terlalu lama kucumbu rindu. Merutuki suara hati, mendengar namamu yang kian kuminta dari waktu ke waktu.
Dan entah, hujan bulan apa yang akan mengizinkan kita menuai rindu serta menyenandungkan kata cinta. Untuk entah yang kita tak tahu pasti, yakini aku akan selalu disini, menanti dalam rindu, bersama bulir hujan yang bertasbihkan namamu.
Cintaku yang kan abadi, bersama hujan dan pelangi yang ku lebur menjadi satu kesatuan simponi, lalu ku rentangkan tanganku, agar kita saling berpeluk hangat merasakan dinginnya hujan di malam itu.
Menunggu hujan, bagiku menunggu kehatangan. Kau dan perbincangan lembut, kau dan senyum manis; membuat candu di dadaku. Aku rindu kota itu, aku rindu hujan, dan kamu ditengah percakapan kita.
Rumpun Aksara, April 2017
Karya: @putrawhillyam @jendelamerahjambu @tigapuluhnovember @ahmedfauzyhawi @duatigadesember @hujankopisenja @risnasanbe @rayuanhujan @ibnufir
“Dulu, aku dan kamu selalu berbincang perihal kesunyian. Sekarang, aku dan kesunyian selalu berbincang perihal kamu”
—
“Maybe love is like rain. Sometimes gentle, sometimes torrential, flooding, eroding, joyful, steady, filling the earth, collecting in underground springs. When it rains, when we love, life grows.”
— Carol Gilligan
“Aku kini mengerti kenapa kau tidak memilih aku. Tentu saja, siapa yang mau dengan perempuan yang hidupnya kacau seperti aku? Mana bisa menjadi pelipur lara bagimu, apalagi menjadi tempat yang kau panggil ‘rumah’. Mungkin kalau aku menjadi kau, aku juga tidak akan memilih aku.”
—
I hate me too. // A.W.
6 Juli 2017.
“Kembali melihatmu setelah sekian lama, malam ini aku bingung sendiri. Mana yang harus kususun lebih dulu: napas atau kata-kata. Mana yang harus aku sembunyikan lebih dulu: rindu atau air mata.”
—
“Terkadang aku rindu obrolan manis kita dahulu; masa dimana kamu masih senang bercerita perihal apa yang terjadi hari itu. Kamu bergumam menceritakan, sementara aku bergeming mendengarkan. Kamu dengan cerianya membuka topik perihal apa yang kamu senangi, apa yang kamu inginkan, apa yang kamu benci. Tak jarang kita membicarakan perkara masa lalu, kamu terbuka untuk mempercayakan semua luka dan laramu kepadaku. Pun tak jarang aku terlelap saat kamu tengah bercakap-cakap. Namun, kita tak seperti dahulu lagi. Entah kenapa atau memang begitu adanya; perpisahan menghempaskan semua perihal itu. Terlarutkan oleh kesunyian yang dibawa sang pilu. Aku terpaksa memeluk kesendirian, aku biarkan hati ini terbawa arus rindu yang menggelisahkan. Sampai akhirnya, aku bisa melupakan semua luka dan semua kesedihan.”
— Arief Aumar Purwanto | 17/02/2017
Wajah itu masih begitu mengganggu ingatanku...
-KataErna-
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Sebuah Pengingat : Catatan Sebelum Nikah
Bahwa, menikah adalah dalam rangka meraih ridha Allah jadi lakukan apa-apa yang bikin Allah ridha.
Bahwa, ada ruang privasi yang bertambah luas dan harus dijaga sedemikian rupa. Jadi partner yang baik, yang menjadi ‘pakaian’ bagi pasangannya.
Bahwa, ada perasaan orang lain yang harus dijaga. Teman-teman yang sedang berjuang di posisi yang sama. Jadi, alangkah lebih bijak, apabila selektif dalam memilih foto-foto romantis ke akun media sosial. Orang sekarang sangat visual. Selama bisa jadi obat hati, kenapa malah pengen jadi penyakitnya?
Bahwa menikah bukan sekedar pacaran yang halal. Faktanya values dari pernikahan jauh dari itu. Soal kolaborasi dalam kebermanfaatan. Soal menjaga ketahanan keluarga. Soal saling belajar dan mengingatkan.
Bahwa dalam kehidupan berumahtangga, sabar dan syukur harus senantiasa ditumbuhkan, sebagai perisai atas ego, amarah, dan prasangka yang bisa menggoyahkan kebaikan-kebaikan yang sebelumnya ada.
“Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya. Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiyah isteri Firaun” Rasulullah.
Bahwa pernikahan tidaklah mudah. Pasti akan datang yang susah-susah, maka selalu genggamlah dengan iman dan prasangka baik, yang susah-susah akan menjadi indah dan penuh hikmah. Ciee. haha. Bukan mudah yang utama dicari, tetapi berkah. Sakinnah, mawaddah, dan rahmah.
Bahwa ketika kita sendiri saja sudah produktif dan bermanfaat, ketika menikah harus dua kali produktifnya, dua kali bermanfaatnya, dua kali kebaikannya, dua kali melawan yang buruk-buruknya, dua kali hebatnya, dua kali tangguhnya.
Bahwa ketika kita hendak menikah, banyak sekali yang mensupport dan membantu kita dalam bentuk yang beragam. Dan setelah menikah, justru kurang etis rasanya kalau tiba tiba asik sendiri sama dunianya.
Bahwa yang lebih berhak atas anak laki-laki adalah ibunya, dan yang lebih berhak atas anak perempuan adalah suaminya. Jadi saat status berubah menjadi istri, jangan halangi suami untuk tetap berbakti kepada orangtuanya–malah harus disupport sebagaimana mestinya. Dan, menjadi istri bagaimanapun, ridha suamilah yang dicari (dan itu istiqamahnya berat, tapi bisa, semangat). Sebaliknya, saat menjadi suami, jadilah imam yang baik dan juga jadilah suami yang memudahkan ibadah istri.
Bahwa, perempuan bisa masuk surga lewat pintu manapun asal melakukan empat perkara : sholat lima waktu, puasa ramadhan, menjaga kehormatan, dan menaati suaminya (HR Ahmad&Thabrani). Bahwa jihadnya perempuan di rumahnya; menjaga kehormatannya, menjaga kesetiaannya, mentaati Tuhannya, dan patuh pada suaminya.
Bahwa, kita menikah berarti harus bisa menerima segala keburukan dan konsekuensi-konsekuensi di dalamnya. Pasangan juga manusia, banyak khilafnya. Tinggal bagaimana kita meluaskan samudera maafnya. Bahwa saat kita sedang mencicipi ‘pahit’, jangan lupa–bahagia itu kita yang ciptakan, inget yang manis-manis. Inget berjuangnya menuju pernikahan. Inget perjuangan-perjuangan unyu yang lain. Yang lovable jangan sampai lolos.
Bahwa, saat berumah tangga kita sedang belajar maksimal dalam menjalankan peran. Menjadi suami teladan, istri teladan, anak teladan, orang tua teladan. Sehingga jadi sebaik-baik keluarga. Jangan terlebih dahulu menuntut hak, ketika kewajiban masing-masing terhadap pasanganya masih belum terpenuhi.
Bahwa komunikasi tangguh diperlukan. Perbedaan pola komunikasi perempuan dan laki-laki memang benar adanya. Satunya Mars, satunya Venus. Nanti, seiring berjalannya waktu akan beradaptasi, Mari mengusaha dan bahu-membahu untuk menciptakan komunikasi yang baik dan tangguh. Bersama.
Bahwa…..sudah bisa masak berapa resep? :”“” wkwkwk sabar-sabarin yaaaa XD
Jangan Jadikan Aku Istrimu, Jika..
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.
Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.
Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.
Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.
Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu.
Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.
Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.
Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.
Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.
Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.
Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.
Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.
Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.
Nostalgia and I are pretty close these days. I want to push it away some days, but how can I when everything it reminds me of is so sweet? Your voice is a song I’ll never hear again. Your smile is a painting no museum has on display. These memories won’t stop haunting me, but I’d be lying if I said they were wholly unpleasant. The only thing unpleasant is the fact that memories are all they are. At the very least, I hope you think about me sometimes too.
Maxwell Diawuoh, Once A Day (02/01/2018)
kata-kata baik
berikut adalah pelajaran dan catatan untuk diri sendiri, dalam rangka memberikan doa terbaik untuk buah hati. karena anak baik lebih baik daripada anak pintar. karena anak berempati lebih baik daripada anak penurut. karena anak baik, pintar, dan berempati, adalah doa para ibu.
jangan katakan: duh, kasihan… kedinginan ya? alasan: bayi itu lemah, tetapi kita jangan “melemahkannya” dengan mengasihani. sejak kecil, ajak bayi untuk menjadi kuat dan berdaya. apa kondisinya? apa yang bisa kita lakukan? katakan: dingin ya nak? ibu pakaikan tutup kepala ya supaya hangat.
jangan katakan: nggak boleh nakal… nggak boleh rewel… alasan: menangis adalah satu-satunya cara bayi untuk menyampaikan sesuatu yang tidak (ny)aman. bayi menangis karena ada yang membuatnya tidak (ny)aman, bukan karena nakal. sebisa mungkin hindari mengenalkan kosakata negatif kepada bayi. lagipula, semakin sering kita berinteraksi dengan bayi, semakin mudah kita memahami arti tangisannya. katakan: ada yang nggak enak ya? sabar ya nak. mau mimik?
jangan katakan: jangan naik-naik! awas jatuh nak! alasan: bayi belum mengerti konsep risiko. tugas orang tua adalah memperkenalkan konsep tersebut, alih-alih mengungkungnya. katakan: kakak mau naik? boleh. tetapi harus hati-hati ya. pegangan yang kuat. ibu jagain di sini ya. kalau tidak hati-hati, bisa jatuh.
jangan katakan: kakak kejeduk ya? duh ini temboknya nakal. sini ibu pukul. alasan: yang nggak hati-hati siapa yang disalahin siapa. ajarkan anak untuk tidak menyalahkan lingkungan dan memeriksa diri, agar lebih bijak menghadapi semua. katakan: sakit ya nak? iya, kalau kurang hati-hati, bisa kejeduk. kalau kejeduk, jadi sakit. maaf ya nak, ibu kurang memperhatikan, jadi kakak kejeduk. lain kali kita lebih hati-hati ya.
hal-hal lain yang bisa ibu katakan: kakak sedih ya? tidak usah sedih. coba lihat, ada ibu di sini. ayoo lihat ibu dulu. semangat ya nak, kamu pasti bisa! terima kasih ya nak sudah membantu ibu. kakak makannya pintar. it’s OK nak…
katakan banyak terima kasih, maaf, dan tolong. hargai setiap usaha bayi untuk bertumbuh. ceritakan hal-hal yang dilakukannya yang membuat ibu senang, jugayang membuat ibu sedih. ceritakan meskipun ia belum mengerti.
semangat melatih isnting agar bisa memahami bayi, semangat membangun ikatan agar bisa mengikuti bayi. :D
Terakhir
Pada usiaku yang semakin banyak, ketika ketakutan semakin nyata tampak di depan mata, aku menjadi takterlalu banyak ingin. Di saat bersamaan, aku merasa takkenal dengan diri sendiri, namun juga menemukan ketenangan dalam tarikan napas yang berbeda.
Mungkin, seperti ini yang dinamakan mati…
Karena mati, takhanya lepas jiwa dari raga, takhanya tangis yang takbisa engkau bantu usap air matanya, takhanya lubang besar yang susah dijelaskan kedalamannya; mati adalah lepasnya keinginan untuk berjalan saat seharusnya kamu berlari, mati adalah berhenti menghendaki yang sewajarnya menjadi hak diri.
Sayangku, ini bukan Tuhan yang enggan lagi berbaik hati. Ini aku yg sudah menjadi bangkai sebelum dimakamkan. Hanya raga yang suwung, seonggok apa saja yang takbergerak.
Di luar tulisan ini, bila engkau bertemu denganku, lengkap bersama senyuman dan kekonyolan, itu adalah mukaku yang ke sekian. Adalah topeng yang kupakai untuk menutupi kegelisahan, juga untuk menjagaku dari pertanyaan-pertanyaan yang akutahu tidak atas dasar kepedulian.
Terakhir, sebelum berakhir, kamu tahu harus seperti apa menghadapi orang-orang sepertiku. Aku tidak mengandalkanmu, aku hanya percaya pada keyakinan, kesungguhan serta apa saja yang datang dari hati, yang digerakkan Tuhan.