“Enam tahun saya atheis. Dan buku beliau yang buat saya kembali. Buku Berguru kepada Allah.” Mendengarnya, aku amat terkejut. Bagaimana pria ini tahu? Ah iya, tidak penting. Yang aku tahu, seketika senyumku mengembang dan hatiku tersenyum bangga. Pada saat yang sama pula, rasa takutku meleleh. Dan aku bangga pada ayah.
Aku amat meyakini, apa yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak-Nya. Sekali pun kesalahan dan kesakitan yang menimpa, tak lepas dari campur tangan Yang Masa Kuasa. Ada kalanya kita menyesali dan meratapi, mengeluh dan menangis. Tapi, bukankah kupu-kupu yang indah pun harus melalui sulit dan sakitnya proses bermetamorforsa dulu? Dahulu ialah seekor ulat yang dianggap hama. Lalu Tuhan anugerahi ia sebuah kesempatan perjalanan hidup istimewa hanya antara dia dan jiwanya. Sebuah momen penting bagi makhluk kecil ini untuk mengenali dirinya. Momen terbaik untuk menjalin komunikasi dengan jiwanya sendiri dan Sang Pencipta.
Sementara itu, dalam keadaan tak berdaya di dalam kepompong, si ulat harus bersabar menahan keterbatasan dan mungkin rasa sakit demi melewati perubahan fisiknya. Dalam proses ini ia tidak mengeluh atau protes kepada Tuhan, tetapi sebaliknya. Ia ikhlas dan pasrah menjalani ketentuan-Nya. Belum usai perjuangannya. Setelah melalui proses panjang, dalam kondisi terlemahnya, ia juga perlu berusaha menjalani proses terpenting, yaitu mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk merobek kulit kepompong yang menyelimutinya. Hingga tibalah pada proses mendebarkan yakni detik-detik ia meneggakkan kedua sayap cantiknya ke udara. Inilah proses yang menguji kesabaran dan ketangguhannya sebagai sesosok makhluk kecil yang dahulu dianggap perusak, makhluk kecil yang tak berdaya di dalam kepompongnya, hingga berubahlah ia menjadi sosok makhluk kecil yang kecantikannya mempesona. Tidak hanya itu, ia juga diberi tanggungan misi hidup yang baru, sebuah misi hidup mulia yang memberi manfaat bagi makhluk lain ciptaan-Nya. Kini ia membantu penyerbukan bunga-bunga secara alami sehingga ia menjadi sahabat para petani.
Bagiku, proses metamorfosa pada manusia adalah proses sepanjang masa. Sebuah proses pembentukan jiwa. Dirimu hari ini tentu berbeda dengan kamu di hari kemarin, sebulan lalu, setahun lalu, lima tahun lalu, atau tujuh tahun lalu. Begitu pula aku. Dalam prosesku bermetamorfosa, aku amat merasakan diuji begitu berat di berbagai aspek. Dari kesabaran, keikhlasan, ketangguhan, keimanan, dan lain-lain. Bukan satu atau dua kali akhirnya kembali terjatuh. Iya, berkali-kali. Tapi, aku selalu yakin, jika kita menyadari bahwa Tuhan itu sangat dekat, maka kemudahan pun akan Ia limpahkan, ada saja jalan yang Tuhan berikan. Kadang sakitnya memang tak bisa dipungkiri, namun Tuhan turunkan pertolongan berupa rasa syukur ke dalam hati kita yang benar-benar nyata adanya.
Pada proses metamorfosa, salah satu pertolongan Tuhan adalah ketika aku semakin didekatkan dengan sosok-sosok positif, menginspirasi, dan benar-benar tulus mengulurkan tangannya. Tak jarang, mereka datang dari kalangan sederhana, yang dianggap bukanlah siapa-siapa, tapi di mataku tersimpan nilai luar biasa. Kadang mata hati kita tertutup karena terlena dan terfokus pada orang yang nggak layak, padahal begitu dekat sosok yang mencintai kita tanpa ego dan kepentingan pribadi lainnya. Sahabatku, Nadhira Arini. Dia salah satu wanita yang luar biasa dalam hidupku. Begitu bersih hatinya, wanita bervisi hidup mulia, dan aku beruntung punya sahabat seperti Dhira.
Tepat satu bulan lalu, aku memutuskan untuk pergi ke Bandung. Menjalani misi hidup dengan berbagi pada seorang guru, Ihsanun Kamil, suami dari Fufu Elmart. Namanya tentu nggak asing, ya? Menurutku, saat itu beliau adalah orang yang paling tepat untuk bicara tentang kehidupan. Sebagai salah satu langkah dari misi hidupku, aku merasa perjalanan ini amat berat. Energi yang terkuras pun besar rasanya. Awalnya aku putuskan untuk pergi sendiri, ibu sempat menawarkan diri, tapi momen ini kurang tepat rasanya. Walaupun sebenernya ingin sekali ditemani, tapi ibu pasti akan lelah lama menunggu sendirian dari pagi hingga petang. Tiba-tiba Dhira menghubungiku dan menawarkan diri. Sahabat mana yang bisa menolak? Apalagi aku penakut. Nggak akan berani tidur sendiri di kamar hotel. Bisa-bisa tengah malam pindah tidur di lobi bareng resepsionis! Hehe.
“Ini pilihan yang tepat, Cha. Setahun lalu, gue udah lewatin perjalanan ini. Dan gue inget, waktu itu rasanya berat banget buat gue. Nggak mungkin kan gue biarin sahabat gue ngelewatin ini sendirian? Apa gunanya gue sebagai sahabat.” Itu adalah kalimat dari Dhira yang berharga dan bersejarah bagiku. Tulus hati ia korbankan waktu, materi, dan tenaga demi sahabatnya ini.
Perjalananku ke Bandung layaknya sebuah perjalanan sakral yang dipersiapkan dengan proses panjang, lantaran butuh kesiapan hati pula untuk menjalaninya. Dan pada momen inilah aku kembali dipertemukan dengan sekumpulan orang-orang hebat yang sedang berjuang untuk hidupnya. Enam orang dengan kisah hidup yang berbeda. Jika Tuhan berikan kita sebuah pertemuan, pastilah ada pesan yang ingin Ia sampaikan. Pesan itu begitu halus, lihat dan dengarlah dengan hati. Siapa sangka, seorang Ihsanun Kamil pernah menjadi atheis enam tahun lamanya. Terkejut bukan main begitu ia sebutkan bahwa buku ayahku adalah salah satu penolongnya kembali pada Allah. Itu adalah titik puncak bagiku setelah melalui pembicaraan berat sepanjang hari dengannya. Aku masih bisa merasakan, seketika senyumku mengembang. Bukan hanya wajahku yang menyungging senyum, hatiku pun tak dapat menahan senyum terlebarnya. Yang Kang Canun sampaikan adalah energi baru yang seketika begitu deras mengaliriku. Rasanya rontok segala ketakutan dan energi negatif lainnya.
Ini keajaiban. Dahulu, oleh Tuhan ia dipertemukan dengan ayahku meski hanya lewat buku. Ia bilang, ayahku luar biasa, buku-buku beliaulah yang telah menolongnya dari lubang hitam. Tahu mengapa aku sangat terkejut? Jika tidak ditanya, aku tidak pernah menyebutkan siapa ayahku termasuk kepada Kang Canun. Apalagi sebelumnya kami hanya bertemu dua kali. Pertemuan yang amat singkat. Dan di pertemuan ketiga, aku pun tidak pernah menyebutkan hal tadi, ia pun tidak tahu apa-apa tentangku sampai pada detik-detik perjumpaan kami di Bandung. Tidak penting bagaimana ia bisa tahu. Memang sudah jalan Tuhan bahwa kini aku yang ditolongnya, seorang anak dari pria yang amat ia kagumi. Inilah alasan terbesar-Nya mempertemukan kami.
“Helping a person will not necesarilly change the world, but it can change the world for that person.”
Perjalanan sakralku ke Bandung adalah tentang penerimaan, kesyukuran, dan memaafkan. Tiga hal yang nampak sederhana, tapi betapa aku relakan waktu dan tenaga untuk pelajari jauh-jauh ke Bandung dengan seorang Ihsanun Kamil. Beliaulah guru yang melalui bukunya telah mengangkat jiwa banyak orang dari titik terendahnya. Ia pun memberi insight baru padaku tentang kesakitan, kesalahan, dan masa lalu. Baik yang berhubungan dengan orang lain dan tentu juga diriku sendiri. Aku teringat pesan seseorang, manusia tempatnya salah dan lupa, bahkan diri ini pun seringkali mengecewakan dirinya sendiri. Hanya Allah yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Maka, maafkanlah mereka, maafkan pula dirimu sendiri.
Bukan melupakan, tapi menerima. Bukan sekedar menyesali, tapi sungguh-sungguh berikhtiar untuk memperbaiki diri dengan cara yang ahsan. Bukan mengeluh, tapi bersyukur. Bukan membenci, tapi memaafkan. Terima, syukuri, maafkan. – Essenza.
Sebagaimana yang aku kisahkan sebelumnya, apa yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak-Nya. Sekali pun kesalahan dan kesakitan yang menimpa, sekali pun rasanya perih sekali. Pasti ada rahasia besar dibalik rencana-Nya. Pada suatu dini hari yang amat pilu, Dhira melempar sebuah pertanyaan padaku, “sahabatku sayang, pernah dengar kisah tentang seekor kerang kecil yang menangis kesakitan?” aku menggeleng lalu ia melanjutkan, “kerang kecil itu mengerang karena tubuh lunaknya terasa perih sekali. Ia mengadu pada sang ibu, ohh.. ibu perih sekali tubuhku karena pasir yang masuk ke dalam cangkangku menusuki tubuh ini. Ibu kerang menjawab lembut, kuatkan hatimu dan menangislah anakku sayang lalu balutlah pasir itu dengan getah di tubuhmu. Kerang kecil menuruti nasihat Sang Ibu. Ia bersabar, menangis, dan bertahan dari pasir yang melukai tubuhnya. Tahukah kau? Setelah melewati hari, bulan, hingga satu tahun menahan rasa sakit yang menimpanya, dari luka dan tangisnya terbentuklah butir-butir berkilau bernama mutiara. Derita yang ia lalui kini begitu mahal harganya dibanding seribu kerang lain yang berakhir menjadi kerang rebus.” Barangkali, inilah yang disebut sebagai perjuangan untuk rise above the crowds. Duniaku yang berhenti pun berputar kembali berkat tangan Allah menarikku dari suatu masa yang menakutkan.
Perjalanan ke Bandung merupakan satu dari ribuan langkah yang telah aku ambil dalam misi hidupku. Sebuah misi dalam metamorfosa. Sejak mengenal hijab, satu per satu Allah tanggalkan berbagai hal yang mungkin akan membawaku jauh dari-Nya. Ya, banyak hal dan amat panjang prosesnya. Bahkan sesederhana keputusanku untuk tidak pacaran sampai kelak akhirnya tiba hubungan yang penuh ridha-Nya, belum terlambat, kan? Dan pada akhirnya aku ingat, apa yang sejauh ini terjadi adalah bentuk pengabulan atas doa-doaku terdahulu. Tuhan Maha Mendengar, bahkan tanpa aku ucapkan keinginan itu secara verbal. Agar perjalanan metamorfosis ini terjaga, tak jarang Tuhan menarikku jauh sekali. Anak panah perlu ditarik dahulu agar ia bisa melesat, begitu pesan Kang Canun.
“Remember the time you thought never could survive? You DID, and you can do it again.”
Apapun keputusan yang kamu jalani hari ini untuk bermetamorfosa, tentu akan mendapati berbagai rintangan yang akan menguji kesungguhanmu. Itu pasti. Tapi ingatlah masa-masa tersulit yang pernah kamu lalui sebelumnya, bisa jadi hari ini kamu jatuh di lubang yang sama atau lubang-lubang mengerikan lainnya. Kawan, sungguh manusia tempatnya salah dan lupa. Maka ingatlah saja apa yang dahulu telah membuatmu bangkit dan berjalan sejauh ini. Libatkanlah Tuhan di setiap langkahmu, bangun kembali jiwa dan ragamu, kuatkan kembali hati dan tekadmu, berangkat dan teruskanlah perjuanganmu untuk menjadi kupu-kupu yang akan mengembangkan sayap-sayap cantiknya ke udara. Kupu-kupu cantik yang mengemban tugas mulia.
Sadarkah? Apa yang sedang kita perjuangkan hari ini adalah demi jiwa yang matang, jiwa yang kuat, jiwa yang mulia, jiwa yang dekat dengan Sang Pencipta. Kelak, keindahan jiwa kita akan terpancar dengan sendirinya. Maka tergetar hatiku untuk memperjuangkannya dengan cara yang ahsan. Tahukah? Apa yang telah kita perjuangkan pada proses metamorfosis ini adalah tentang kecantikkan jiwa. Inner beauty. Kawan, mari sebut saja ini sebagai perjalanan Beautymorphosis.
Inspired by: Beautymorphosis by Kastini S. Kaspan.