Tertatih, Agar Tak Ingkar
Benar katamu,
ketika berjanji, maka yang harus di lakukan ialah berjanji pula untuk selalu menepatinya bukan untuk mengingkarinya.
Tapi,
Ada hal lain yang ku rasa dalam menepati janji ini
Aku, tertatih.
Tertatih untuk menepati janji ini.
Nyatanya, ucapan itu manis di bibir tetapi sepat di lakukan. Sulit.
Banyak sekali hal yang ku telan bulat-bulat karena janji ini. Aku takut ingkar. Bahkan terlalu takut untuk menjadi sedikit ingkar.
Banyak sekali hal yang ku singkirkan, bahkan termasuk egoku sendiri untuk melakukan ini-itu yang ku tau kau tak suka dengannya.
Banyak sekali hal yang urung ku lakukan, demi menepati janji ini.
Banyak sekali cibiran orang yang mengatakan, apa tak ada hal lain yang dapat kau lakukan selain menepati janji?
Aku melakukan hal lain, tetapi porsinya jauh lebih sedikit ketimbang dengan penepatan janji ini.
Aku tertatih
Tapi yang kau lakukan hanyalah tersenyum saja sembari membersamaiku.
Sungguh, sejujurnya aku butuh penguat lebih dari sekedar ulasan senyum dan keberadaanmu. Aku butuh penguat lebih dari itu, tidakkah kau paham?
Aku tertatih bak manusia yang tak biasa berjalan jauh, namun tetiba di haruskan melakukan perjalanan jauh yang entah kapan dan dimana akhir dan ujungnya.
Sampai kapan?
Sampai dimana titik aku harus terus tertatih?
Kau tersenyum, setengah menyeringai.
Oh tenanglah, ini belum seberapa. Aku yakin kau bisa menepatinya meskipun sulit,
Kau tak akan sendiri, karena kau tak akan kuat. Biar ku temani.
Aku hanya dapat menjawab dengan senyuman pahit. Ya, aku harus belajar tertatih lebih lama agar tak ingkar. Semoga saja.












