Don’t stress. Do your best and Allah will do the rest.

JBB: An Artblog!
Claire Keane
Sade Olutola
No title available
styofa doing anything

Origami Around

⁂
YOU ARE THE REASON

pixel skylines
No title available

titsay
Three Goblin Art
No title available

@theartofmadeline
Cosmic Funnies
Jules of Nature
TVSTRANGERTHINGS
Xuebing Du
tumblr dot com
$LAYYYTER
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from Lithuania

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from China
seen from Slovakia

seen from Nigeria

seen from Colombia
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Finland

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Spain
@firstanovia
Don’t stress. Do your best and Allah will do the rest.
Semua terlukis kala itu, lagi, dan lagi.
Mata tertuju pada satu titik, dimana ada satu kata pelosok kala itu, lantas aku pun langsung mencari sebuah tempat itu, dan hasilnya, nihil. Lantas kuputuskan untuk menjemput panggilan itu, mengikuti acara tersebut.
(20/01/17)
Pagi menyambut cerah kali ini, semua elemen telah bersiap sedari matahari belum terlihat cahaya cantiknya. Peserta datang, dan semua panitia bergegas pada posisi masing-masing, kelas inspirasi dimulai.
Menari, yang kali ini dianalogikan sebagai bersenam, semua mengikuti dengan senang hati, senyum dan tawa pun menghiasi, ini baru langkah awal. Dilanjut acara kelas, dimulai dari mendongeng, menggambar cita-cita, dan diakhiri dengan hadiah. Kemudian diluar kegaduhan muncul, orang penting di daerah ini telah tiba, membuat seisi kelas riuh ingin melihat keluar, “seperti apa sih ibu wakil bupati ini”, ujar salah seorang volunteer. Seakan tak ingin kehilangan momen, kelas diselesaikan, dan dilanjut dengan kelas aspirasi. Orang petinggi di daerah ini berorasi dengan lantang, dan dilanjut dengan aspirasi warga daerah sini, tentang keadaan jalan dan kesehatan mereka. Disamping sedang diadakannya kelas aspirasi, kelas kesehatan pun andil turut serta mengisi acara ini.
Pukul 12.00 acara ini selesai.
***
(19/01/17)
Semua elemen berkumpul di masjid agung kabupaten Tegal, pembekalan dan briefing sebelum perjalanan menuju dusun Karangsari, desa Wotgalih, kabupaten Tegal. Karangsari, nama yang asing, nanti akan menjadi sebuah rindu.
Perjalanan menggunakan motor selama 1 jam 39 menit, tak mudah memang, melewati jalanan menanjak nan licin.
Tak cukup sampai disitu halangan yang ada, lepas mengendarai motor, jalan setapak selama 1 jam 30 menit sudah menanti.
Naik turun jalanan lumpur nan licin, sedikit menyusahkan, namun tak mampu menghentikan niat baik dari orang-orang pilihan Tuhan ini, untuk melihat betapa dahsyatnya kuasa ilahi dibalik bukit sana.
***
(20/01/17) sore.
Langit cerah, secerah perjalanan kami, senyum dan tawa menghiasi wajah kami setelah melalui hari yang begitu penuh sarat akan makna. Berkumpul dan tinggal disana, membawa hati kami terunggah untuk peduli pada sesama, saling membantu, dan tak angkuh dengan lainnya, rela menolong dan membantu sesama adalah hikmah dari perjalanan ini, dan tentunya, tak lupa rasa syukur yang terus menghiasi hati kami, bahwa kami masih lebih beruntung.
Kami pulang ~
Tentang sepotong episode, catatan seorang mahasiswa baru.
Biarkan aku mengenalkan padamu sebagian keluargaku di Solo, kami memang tak lahir dari rahim yang sama, kami hanya lahir dari sumber pencarian jati diri yang sama, mata air ilmu penuh kesejukan di kaki gunung Ciremai.
ya, sebutlah dengan nama ISLAH Solo Raya 20. (*nb: ISLAH = Ikatan Silaturahim Alumni Husnul Khotimah)
Siapa yang tahu, semua akan berjalan seperti ini? dengan jalan cerita yang penuh liku? dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah kau ketahui akan membersamaimu? Setidaknya, untuk beberapa tahun kedepan di kota Solo.
Semua yang ada, peristiwa yang terjadi, dan orang-orang yang hadir telah sedemikian rupa Allah setting, Dia hadirkan untuk menguji kita, seberapa kuat kita untuk terus saling menguatkan?
Hari berganti, sedikit episode telah banyak menggores berbagai rasa. Yakinilah, tak semua bagian kisah selalu berakhir indah. Tapi juga yakinlah, selalu ada yang terbaik di dalam setiap keputusanNya. Mungkin terkadang ada wajah yang lesu ketika raga-raga kita bertemu barang satu-dua jam. Aku mengerti, dan mungkin yang lain sama halnya demikian. Ada raut yang kerap kali terhias peluh dan lelah, melihatkan keharusan kita untuk terus menyemangati satu sama lain. Mungkin sebuah kalimat sederhana seperti “semangat yang besok ujian” tak memberi sedikitpun bantuan untuk mengerjakan soal keesokan harinya, namun kata sederhana tak selamanya tentang materi, tapi tentang rasa. Apalagi kau tak pernah tahu, bahwa ada do'a-do'a yang mungkin melangit setelahnya.
Semangatmu yang berkobar ketika awal kita bertemu, terkadang mengiang di langit-langit kamarku.
“Aku jurusan ini, aku jurusan itu, hai calon ini, hai calon itu”,
terlalu hebat untuk terus diulang.
Semangat itu, yang juga menjadikanku terus bertahan, menjadikanmu masih terus menderu meraih asa. Koar penuh energi, melarung semua resah kita ke lautan derita.
Bagiku, cukup letakkan optimisme di masing-masing jidat kita. Tak akan mudah memang perjalanan kita selanjutnya, aku bahkan seyakin itu mengatakan bahwa ada batu yang jauh lebih besar dibanding kerikil di momen yang pernah kita lewati sebelumnya.
Batu besar itu bukan akan menghalangi jalan kita, karena kita akan menghancurkannya bersama. Sedikit berlebihan mungkin, semua tulisanku diatas. Hah. Tapi biarlah, sendu malam ini bersaksi.
Bahwa diri-diri inilah yang akan menegakkan kalimatMu, memegang panji-panjinya erat.
Setidaknya, azzam itu telah kita pancangkan kuat di tanah harapan ini. Ada sebersit ketakutan tentang sejuta mimpi yang sedang kita rajut. Ada juga ratusan milyar keyakinan sebagai jawaban atas semua ketakutan itu.
Semua berpilin begitu indah, seindah dekapan malam menyelimuti. Ada ukhuwah yang harus selalu dirawat, agar mekarnya kelak memesona semua mata.
Apa lagi selain itu? Tak ada yang lain, hanya menyampaikan semangat dan do'a untuk kalian semua. Semangat bermanfaat, menebar karya, dan terus menegakkan agamaNya.
Teruntuk yang spesial, rumah pulang kedua, ISLAH Solo Raya 20.
Pertemuan kita terlalu singkat mungkin untuk melukiskan sebuah perasaan yang mendalam tentang ini. Biarlah deburan ombak pantai krakal menjadi saksi bisu atas semua. Dan juga untuk segala doa, semoga diamini oleh semesta.
Selamat menebar kebaikan dimanapun kalian berada! Terimakasih sudah hadir dan memberikan banyak pelajaran :)
-Islah Soloraya 20-
Malam ini aku belajar banyak Tentang rindu yang seperti candu Tentang rasa yang memaksa dewasa Tentang keadaan yang seringkali bergurau lucu Mengeluh tak apa. Namun tak perlu risau akan semua. Toh semuanya sudah ada sutradaraNya. Semoga Aku Kamu Kita Semua Selalu dalam naunganNya.
Ada banyak hal yang bisa kau bagi dengan orang lain. Tapi, sayangnya banyak di antara mereka yang hanya sekadar ingin tahu dan penasaran. Sisanya cukup bisa berempati.
Pada akhirnya yang harus menjadi tempatmu berbagi hanya Dia. Hanya Dia yang paling tahu dan mengerti apa yang harus kau lakukan selanjutnya. (via febriantiambar)
jadi, tidak perlu ngambek karena balasan chat dari teman hanya “Oh” :D
(via muhammad--adil)
Pernah berada di jalan yang sama, bukan berarti tujuan kita juga sama.
(via rantingkecil)
Karena untuk mencapai satu tujuan, ada banyak jalan.
Jangan Cintai Islam Apa Adanya
@edgarhamas
“Jika kau belum bertualang dan berjuang untuk sesuatu atau siapapun yang kau cinta”, begitu kata Shakespeare, “maka diam sajalah ketika kau kehilangannya.”
Kalau kata mas Tulus, “jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan”, maka, kiranya untuk Islam syairnya bisa kita modifikasi, “jangan cintai Islam apa adanya, berilah sesuatu biar kita jalan ke depan.”
Islam dan dakwah ini ibarat kereta. Kereta ini tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Namun semakin kita memberi yang sekedar sisa untuknya, kita malah akan melambatkan lajunya, sebab kita terlalu berat beban, namun sedikit kontribusi. Terlalu banyak bercanda justru ketika kereta sedang rusak parah.
“Jangan pikirkan apa yang sudah kau terima dari negara”, kata Kennedy, “namun pikirkanlah apa yang sudah kau berikan untuknya.” Kiranya bisa kita ubah nadanya, “jangan pikirkan apa yang sudah kau terima dari dakwah, namun cobalah pikirkan apa yang sudah kau berikan untuknya.”
Dakwah telah membesarkan kita, mempertemukan kita dengan orang-orang hebat, menyatukan kita dengan gelombang dahsyat, meramu kita dari nol sampai jadi ahli nyaris di segala bidang. Setelah semua itu, apakah dengan naifnya kita pergi dan tak kembali? Pergi dan berkata pada yang lain bahwa kehebatan kita adalah hasil usaha kita sendiri?
Sadar tak sadar, keahlian dan kebesaran kita adalah berkat ruang-ruang dakwah yang memberi kita panggung untuk beraksi. Ruang-ruang dakwah memberi peluang kita untuk unjuk gigi ketika yang lainnya tak menganggap kita ada. Akhirnya kita bisa bicara di depan publik, bisa menulis dan dibaca khalayak ramai, punya relasi bisnis yang menggurita, link tokoh yang luas dan mudah aksesnya.
Setelah semua itu, kita masih berpikir bahwa itu semua adalah berkat usaha kita? Kita tenggelam dengan diberi, diberi dan terus diberi. Setelah kenyang, kita asyik lalu undur diri. Hidup tidak serendah itu, kan?
Ayo melibatkan diri. Berikan sesuatu, biar dakwah terus melaju. Apapun itu, senadakan saja dengan bakatmu. Islam dan dakwah tidak melulu ditebar dengan orasi di atas mimbar. Ia bisa dengan pena, kata, kerja, karya, media, produk, poster, atau apapun itu. Ketika engkau memutuskan “untung rugi hidupmu, kau nilai dari untung ruginya Islam”, itu pun sudah indah sekali.
Jangan cintai Islam apa adanya, Berilah sesuatu biar kita jalan ke depan.
Orangtua selalu bilang pas aku baru mau masuk pondok, “sabar aja mba cuma 6 tahun ko kamu disini, habis itu kamu bebas mau kuliah dimana aja.” Pas udah mau masuk kuliah orangtua bilang gini, “belajar mba sekarang yg bener udah mau kuliah, nanti kalo udah kuliah bebas kamu sendiri yang ngatur waktunya.” Pas kaka mau lulus, “belajar mba dea nanti kalo udah selese kuliah bebas mau kerja dimana aja enak.” Tapi kenyataannya, setelah setelahnya malah kupikir tidak akan pernah ada namanya kebebasan. Bukankah semakin dewasa kita semakin disibukkan oleh berbagai masalah kehidupan? Intinya, “tidak ada waktu beristirahat kecuali nanti di surga-Nya.”
Mantabjiwa. Laa raihatan illa fil jannah yaa 😂
HAKIKAT HARI ITU
Sebenarnya, air mata kita kemarin tepat saat dauroh terakhir di Mayang dengan nuansa ‘masa depan’ itu;
cerita indah hari ini bagi siapapun yang melepaskan tangan mengikhlaskan pelukan nya untuk sahabatnya;
dan kenangan-kenangan kita se per sekian detik di masa lalu pada tahun 3-6 tahun terakhir;
Bukan lah berakhir karena adanya batas waktu perpisahan sekarang atau nanti di hari besar kita 25 Mei 2017 dimana bulir bulir air mata justru mungkin mengarus deras.
Tapi, hakikatnya ini adalah sebuah awal baru di hidup kita. Sebuah permulaan,teman.
Ini bukan tentang kesedihan berkepanjangan,
Tapi hakikatnya ini adalah tali kekuatan harus diabadikan.
Ini bukan tentang kesenjangan berteteskan kan rindu yang berkelanjutan.
Tapi hakikatnya ini adalah wadah untaian nasihat yang kerap harus di ungkapkan sesama terhadap waktu yang tak pernah berhenti.
Ini bukan tentang kebebasan yang menyejukkan derai tawa dunia baru.
Tapi hakikatnya, ini adalah rintangan melangkahkan kaki membawa berbobot bobot beban amanah yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita pikul.
Ini bukan tentang pribadi kita perseorangan.
Tapi, tentang indahnya keabadian hakiki di taman indah janji-Nya ketika kita tidak berhenti gugur di tengah jalan.
Menyebarkan semerbak harum bunga di penjuru dunia.
Bersama bunga-bunga indah lainnya.
Ingatlah, Taman tidak akan menjadi taman yang indah menawan, ketika hanya ada SATU bunga disana. Walaupun dia adalah bunga yang keindahannya tiada tara se peradaban dunia.
Taman akan menggemparkan kemegahannya, ketika BERIBU-RIBU bunga tertanam disana. Karena setiap bunga itu akan menghembuskan nafas wanginya dan membagikan wangi parfum itu ke bunga-bunga lainnya.
Salam cinta berselimutkan ukhuwah karena Allah.
Alsandair El-Shanum
HAKIKAT HARI ITU
Sebenarnya, air mata kita kemarin tepat saat dauroh terakhir di Mayang dengan nuansa ‘masa depan’ itu;
cerita indah hari ini bagi siapapun yang melepaskan tangan mengikhlaskan pelukan nya untuk sahabatnya;
dan kenangan-kenangan kita se per sekian detik di masa lalu pada tahun 3-6 tahun terakhir;
Bukan lah berakhir karena adanya batas waktu perpisahan sekarang atau nanti di hari besar kita 25 Mei 2017 dimana bulir bulir air mata justru mungkin mengarus deras.
Tapi, hakikatnya ini adalah sebuah awal baru di hidup kita. Sebuah permulaan,teman.
Ini bukan tentang kesedihan berkepanjangan,
Tapi hakikatnya ini adalah tali kekuatan harus diabadikan.
Ini bukan tentang kesenjangan berteteskan kan rindu yang berkelanjutan.
Tapi hakikatnya ini adalah wadah untaian nasihat yang kerap harus di ungkapkan sesama terhadap waktu yang tak pernah berhenti.
Ini bukan tentang kebebasan yang menyejukkan derai tawa dunia baru.
Tapi hakikatnya, ini adalah rintangan melangkahkan kaki membawa berbobot bobot beban amanah yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita pikul.
Ini bukan tentang pribadi kita perseorangan.
Tapi, tentang indahnya keabadian hakiki di taman indah janji-Nya ketika kita tidak berhenti gugur di tengah jalan.
Menyebarkan semerbak harum bunga di penjuru dunia.
Bersama bunga-bunga indah lainnya.
Ingatlah, Taman tidak akan menjadi taman yang indah menawan, ketika hanya ada SATU bunga disana. Walaupun dia adalah bunga yang keindahannya tiada tara se peradaban dunia.
Taman akan menggemparkan kemegahannya, ketika BERIBU-RIBU bunga tertanam disana. Karena setiap bunga itu akan menghembuskan nafas wanginya dan membagikan wangi parfum itu ke bunga-bunga lainnya.
Salam cinta berselimutkan ukhuwah karena Allah.
Alsandair El-Shanum
Itu adalah sebuah cinta suci yang tersembunyi dalam do'a. ketika banyak yang berdo'a, yang menang adalah yang paling dekat dengan Allah
Faiz Nurhadi (via slwnabila)
Do you know what should you do? Allah is the one who can make everything easy
Menulislah…
Bila kau punya nyeri Nyeri yang sakit sekali Sampai pernah kaurasa Dadamu sesak luar biasa Menulislah.. Keluarkan ia melalui kata-kata Hatimu butuh terapi Agar ia senantiasa ceria lagi
Bila kau hendak memberontak pada dunia Merasa ada yang salah Dan ingin membuatnya berubah Menulislah.. Suarakan isi kepala Buat banyak orang tahu dan menerima
Bila kau merasa tak puas diri Terlalu lemah untuk mengakui Bahkan semesta seperti ikut menghakimi Menulislah.. Jangan membelenggu diri sendiri Bebaskan! Lepaskan!
Bila kau merasa ingin berteriak Namun khawatir dicemooh khalayak Menulislah.. Bahasakan kegelisahanmu Hindari ia dari berdiam diri dalam kepala
Bila kau jatuh cinta Dan ingin sendirian saja Dalam diam Tak merasa seorang perlu tahu Apalagi membantu Menulislah.. Karena isi hati tetap perlu dikeluarkan Walau dengan hati-hati
Menulislah.. Dunia dan isinya, akan baik-baik saja Isi kepala dan hatimu, layak dibebaskan dari penjara jiwa.
Medan, 25 Mei 2016
- Tia Setiawati
Menulislah. Karena terkadang hanya kertas dan pena yang dapat mewakili.
Menulislah…
Bila kau punya nyeri Nyeri yang sakit sekali Sampai pernah kaurasa Dadamu sesak luar biasa Menulislah.. Keluarkan ia melalui kata-kata Hatimu butuh terapi Agar ia senantiasa ceria lagi
Bila kau hendak memberontak pada dunia Merasa ada yang salah Dan ingin membuatnya berubah Menulislah.. Suarakan isi kepala Buat banyak orang tahu dan menerima
Bila kau merasa tak puas diri Terlalu lemah untuk mengakui Bahkan semesta seperti ikut menghakimi Menulislah.. Jangan membelenggu diri sendiri Bebaskan! Lepaskan!
Bila kau merasa ingin berteriak Namun khawatir dicemooh khalayak Menulislah.. Bahasakan kegelisahanmu Hindari ia dari berdiam diri dalam kepala
Bila kau jatuh cinta Dan ingin sendirian saja Dalam diam Tak merasa seorang perlu tahu Apalagi membantu Menulislah.. Karena isi hati tetap perlu dikeluarkan Walau dengan hati-hati
Menulislah.. Dunia dan isinya, akan baik-baik saja Isi kepala dan hatimu, layak dibebaskan dari penjara jiwa.
Medan, 25 Mei 2016
- Tia Setiawati
Menulislah. Karena terkadang hanya kertas dan pena yang dapat mewakili.
sedini ini ada yang rindu keningmu;sajadahmu.
(via jalansaja)
Yang jarang kau sadari Bahwa Dia merindukan keluh kesahmu.
Ingin sejenak ku mendadak bisu Agar kau tak pernah tersua dalam geming keabadianku Hingga sukmaku tak pernah lagi Jeritkan asmamu Ingin sejenak menembus purnama Agar kau hilang Agar kau tak lagi bersarang disini Agar kau fana dan tak abadi Tapi ternyata tuhan lebih tahu Bahkan kau masih disana Entah berpijak pada apa Entah dengan hati seperti apa -dikutip dari coretan harian cermet-
Kau terlalu berdusta sehingga menjadikanmu jujur bahwa kau telah berdusta (atas perasaanmu sendiri).
-kataorang- (via belladinnas)
Adakalanya kita harus berdusta. Untuk menyelamatkan hati hati yang terluka.
Tenang aja Kak, yang nggak usaha aja Allah kasih, apalagi kita yang usaha maksimal, masa iya Allah nggak kasih? Allah nggak pernah mengabaikan.
Kata Ayah, pagi ini… (via dialogdiberanda)
Walau terkadang Allah ngga ngasih apa yang kita inginkan. Tapi, mungkin itulah yang sebenarnya kita butuhkan.