Kalau kalian sudah bekerja, atau sedang menyambi bekerja sembari sekolah, atau ya oke bisa juga kalo kalian baru saja diterima di suatu universitas atau sekolah, lalu di hari-hari awal keberadaan kalian disana, kalian mendengar orang-orang disana mengeluh dan menjelek-jelekkan si tempat, terus bilang ke kalian “ngapain lo masuk sini, gue aja mau keluar”, please, just please, jangan langsung merasa menyesal saat itu juga. Jangan.
Gue cuma pengen ngingetin satu hal yang sebenernya mutlak, setidaknya, menurut pengalaman gue, tanpa bermaksud generalisasi;
SETIAP TEMPAT PUNYA JELEK-JELEKNYA SENDIRI.
Ngga ada, ngga bakal pernah ada, sebuah tempat kerja atau sekolah yang seratus persen setiap hari sepanjang tahun bakal enak terus, bakal bahagia terus, bakal ideal terus. Sama kayak hidup, roller coaster akan bakal terus terjadi, akan selalu ada enak dan ngga enak. Berhentilah mengharapkan sesuatu yang dari pangkal sampe ujung enak terus. Surga aja masih dibilang fiksi, anyway.
Ada tempat kerja yang gajinya gede, tapi tekanannya gila. Ada yang kerjanya nyantai, tapi gajinya kecil. Ada yang gaji gede, kerja nyantai, tapi peer pressure menyiksa. Ada yang temen kerjanya seru, tapi kerjaannya terancam bangkrut. Begitupun halnya dengan sekolah. Kondisinya mungkin ngga seberat pas kerja, tapi akan selalu ada jelek-jeleknya juga.
Ketika lo melamar kerja di suatu tempat, atau lo baru liat iklan loker dengan iming-iming ini dan itu, sangat wajar kalo lo akan tergiur dan melupakan printilan lain yang mungkin akan ganggu kenyamanan lo ketika bekerja. Apalagi sejak awal lo emang lagi butuh banget. Wajar banget juga kalo pas lo masuk dan ternyata kenyataan tidak sesuai harapan lo lalu lo menyesal dan mendadak ingin cabut. Bahkan sekalipun yang lo kerjain sudah sesuai dengan passion lo.
Well, secinta apapun lo sama sesuatu, akan selalu ada kemungkinan bosen kok. Ngga salah. Manusiawi aja. Gue sesuka itu sama taichan kulit deket rumah, tetep aja pernah muak dan ngga mau makan lagi sama sekali untuk beberapa periode waktu.
Akan selalu ada gaji yang kurang, keinginan atasan yang ngga sesuai sama harapan bawahan, bentrokan kebutuhan antara menyejahterakan karyawan dengan meningkatkan keuntungan perusahaan. Akan selalu ada temen kerja yang julid, yang drama, yang tukang ngadu, yang jutek, yang ngerjain apapun dianggep salah, yang selalu sirik dengan apa yang kita dapet, yang ngomongin di belakang, yang ngajak ribut, yang ngabisin makanan, yang tukang ngutang, yang muka dua, yang ngajak demo dua satu dua, yang nyuruh solat mulu, yang ngomongin cewek atau bokep mulu, dll. Seberagam itu, dan sekaligus se-diluar kontrol itu.
Di iklan loker, ngga ada tuh kolom testimoni pegawai yang udah lama ada disana, atau profil pegawai-pegawainya disana gimana. Jadi ketika lo memutuskan melamar, yang lo tau cuma lo merasa memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan, and case closed. Kejelekan-kejelekan perusahaan yang kemudian baru lo temukan setelah bekerja, adalah element of surprises yang akan lo terima, setuju ataupun tidak. Apalagi kalo udah tanda tangan kontrak.
Ketika sedang berada dalam kondisi tidak menyenangkan, melihat rumput tetangga lebih hijau tentu saja jadi pilihan yang mantap. Mendadak pengen jadi artis aja, selebgram aja, youtuber aja, kasir indomaret aja, sugar baby aja, dan kerjaan-kerjaan lain yang dianggep easy money. Dikira kerjaan lain nggapunya hard time-nya masing-masing.
Gue sering banget dibilang enak ya jadi dokter, banyak duitnya. Ngga pada tau aja gimana gue berdarah-darah cuma buat bayar kost-kostan. Ngga pada tau aja gimana rasanya jaga igd di rumah sakit tipe c rujukan bpjs.
Gue dulu pernah pengen banget kerja yang bisa sambil leyeh-leyeh dasteran di kasur, nggaperlu mandi, nggaperlu dress up, tapi duitnya banyak. Terus kejadian, gue kerja yang online based gitu, gajinya kalo di total jauh di atas UMR dan bahkan bisa membiayai gue hura-hura sepercik. Ternyata ya ngga se-menyenangkan itu juga kerjanya. Gue jadi harus kena CTS beberapa kali karena kebanyakan ngetik. Mata gue jadi minus dan gue males parah pake kacamata. Gue juga jadi terpaksa super fokus nggabisa bales chat dan nggabisa banyak ketemu orang kalo lagi kerja.
Gue juga punya temen yang jadi simpenan om-om. Parah sih, dia bisa nangis cuma karena pengen tidur tenang. Karena kalo lagi kerja, dia harus bangun lebih awal dan tidur paling terakhir setelah si om. Belum lagi badan pegel-pegel, kaki kram, atau pernah tuh dia di-anal beberapa kali, terus dia ngga bisa tidur telentang dan ngga bisa duduk karena kesakitan, belum lagi pas mau BAB. Padahal masih ada aja yang bilang jadi perek tinggal modal ngangkang. Enak.
Mau kerja di perusahaan internasional kek, atau di warung sembako di pasar kaget kek, selalu ada ngga enaknya. Percayalah, kehidupan tidak berjalan semulus itu, bahkan pada orang-orang yang beruntung sekalipun. Bahkan pada orang-orang beriman sekalipun. Bahkan pada orang-orang yang terlahir tajir sejak janin pun. Bahkan pada orang-orang yang menolong orang lain terus menerus bagai malaikat pun.
Ketika lo mengharapkan bisa bekerja dengan perjalanan yang mulus dan selalu riang gembira pergi kerja bagai Spongebob tiap mau ke Krusty Krab, lo belum saatnya bekerja. Bahkan Spongebob aja pernah males kerja.
Gue tidak bermaksud mengajarkan lo untuk diam saja juga kalau misalnya kerjaan lo sudah terlalu tidak sehat secara iklim dan pemenuhan hak lo sebagai pekerja. Silakan melawan kalau memang lo rasa perlu dan sudah terlalu tidak masuk akal untuk diteruskan. Silakan resign. Silakan pergi, kalau memang alasannya jelas dan semuanya sudah berantakan dan tidak ada yang memperbaiki. Tetap hitung untung rugi, tetap pertimbangkan banyak hal. Tapi maksud gue, zerro complain itu mustahil. Jadi jangan pernah berekspektasi segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja selamanya. Lo harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan tidak enak, lo harus siap dengan kekecewaan-kekecewaan. Lo harus siap dengan tekanan-tekanan.
Kalo lo merasa belum siap untuk bertahan dalam segala situasi dan kondisi, ya jangan bekerja dulu. Di rumah saja dulu, mendekat dengan lingkaran aman yang tidak akan membuat lo kedinginan dan kelaparan.
Chin up for everyone who’s under any work related problems! Kalian pasti bisa! Fight for it, or leave it for someplace better. But first,