Tanpa kita sadari, terkadang, alasan terbesar mengapa kita sering kali kecewa oleh orang lain, karena selama ini kita memandang mereka dengan asumsi yang kita buat sendiri. Meskipun sudah banyak kenyataan yang terjadi untuk menyadarkan kita bahwa selama ini mereka jauh dari apa yang kita sangkakan.
Mengira seseorang jatuh cinta atau punya perasaan berlebih ke kita hanya karena dia berlaku baik dan ramah ke kita, padahal pada dasarnya dia hanya memang seseorang yang baik pada semua orang, dan tidak membeda-bedakan pertemanan.
Mengira seseorang tidak menyukai atau marah ke kita hanya karena mungkin dia lambat atau tidak membalas pesan kita sama sekali padahal kita melihatnya mengunggah status atau sedang online. Padahal ada banyak sekali kemungkinan mengapa seseorang tidak bisa membalas pesan yang kita kirimkan saat itu juga: mungkin mereka butuh waktu untuk mencerna, sedang sibuk dengan sesuatu, atau sesederhana pesan kita tidak cukup penting untuk dibalas saat itu juga.
Mengira seseorang begini dan begitu hanya dari segelintir sikap yang ditunjukkan. Bahkan jangankan sikap, kita terlalu sering sibuk menerka-nerka perasaan seseorang hanya dari pesan sekilas atau unggahannya di media sosial, yang bisa saja tidak berarti apa-apa.
Namun, sekali lagi, kita terlalu nyaman untuk hidup dalam kepala dan segala asumsi dan ekspetasi yang kita buat akan banyak hal. Sesuatu yang seringnya hanya menyakiti kita, tetapi kita malah menyalahkan orang lain akan ekspetasi yang kita buat sendiri tentangnya. Padahal orang lain sama sekali tidak punya kewajiban untuk menjadi seperti apa yang kita harapkan, atau kita inginkan.
Hidup dalam kepala sering kali memang terasa lebih baik, karena tanpa kita sadari kita menjadikan semua khayalan kita sebagai bentuk pertahanan diri dari segala kenyataan yang sudah kita tahu, tetapi kita menolak untuk menerimanya. Karena selalu lebih mudah menyalahkan orang lain daripada menyalahkan diri sendiri.
Sampai kapan kita akan menjadi candu dengan rasa sakit yang ditimbulkan oleh kekecewaan kita terhadap segala harapan yang kita bangun terlalu tinggi terhadap seorang manusia?
Terkadang, tidak ada yang lebih sering menyakiti kita dibanding pikiran dan perasaan yang kita buat-buat sendiri tentang orang lain.