(tidak) seperti biasanya
malam hari, kamu berangkat tidur seperti biasanya. kamu merebahkan diri di sebelah suamimu, seperti biasanya. seperti biasanya juga, dia melingkarkan tangan dan kakinya ke atasmu seakan kamu guling masa bayinya. karena berat tubuhnya, biasanya pinggangmu akan pegal-pegal pada keesokan hari. begitu pula tangannya yang pasti kram-kram karena menopang lehermu. tapi kamu tidak masalah. malam hari adalah dan hanyalah saat-saat dalam satu hari di mana dia bisa menjadi anak kecil lagi.
sejurusan dengkurannya mulai terdengar. dia sudah berangkat. tersisa kamu—yang tidak seperti biasanya—tidak mudah memejamkan mata. alih-alih, pandanganmu menelusuri setiap milimeter wajahnya. lalu seketika kamu sadar: ada gurat-gurat halus yang sepuluh tahun lalu tidak ada.
dipikir-pikir, sepuluh tahun itu baru seumur jagung. tetapi, dengan segala ujian pernikahan yang pernah menghampiri kalian, satu dekade pernah terasa satu abad. ada malam-malam yang tidak seperti biasanya, terasa sangat sangat panjang, seperti malam ini. lalu, seperti biasanya jika malam-malam seperti ini datang, air matamu menganak sungai tanpa suara.
suamimu itu, entah seberapa besar dan banyak yang tidak diceritakannya. mungkin ada cita-cita dan harapan yang terasa seperti beban. mungkin ada kekecewaan yang membuatnya bingung mengambil keputusan. mungkin ada luka-luka yang susah payah dia rawat seorang diri.
suamimu itu, jika dia mau, dia tidak perlu berupaya sekeras ini setiap hari. mendidik dirinya sendiri, mengganti versi dirinya yang tidak Allah ridhoi. dia tidak perlu memberimu segalanya, bertanggung jawab sebegitunya, atau menyayangimu sedemikian dalamnya.
suamimu itu, jika dia mau, mudah saja baginya untuk lari dari semua. mudah saja baginya untuk meninggalkanmu. dengan segala yang melekat pada dirinya, mudah saja dia menemukan orang lain yang lebih baik dari dirimu, keluarga yang lebih menyayanginya, yang menerimanya dengan lebih apa adanya.
tetapi dia tetap melakukannya dan tetap tidak melakukannya. dia tetap memperjuangkanmu dengan segenap dayanya. dia memberimu nafkah lahir batin terbaik, mendukung semua mimpimu, selalu menemanimu, mendengarkanmu, menjadi bahu dan telingamu.
dia memilih menikahimu setiap hari. dia memilih kamu dan anak-anak kalian sebagai bagian dari dirinya sendiri. dia menjadikan urusanmu urusannya. dia memilih memenuhi semua keperluan dan kebutuhanmu, menanggung semua harapan dan mimpimu sebagaimana semua kekecewaan dan luka-lukamu. sederhana: air matamu adalah air matanya; bahagiamu adalah bahagianya.
pada malam yang tidak seperti biasanya ini, kamu berpikir. suamimu ini, ada bagian-bagian dirinya yang mungkin membuatnya tidak cukup layak mendapatkanmu, menerima ketaatanmu dan kasih sayangmu. tetapi, mungkin juga kamu yang lebih tidak layak menerima semua yang dia upayakan, perjuangkan, berikan, bahkan korbankan. kamu bukan siapa-siapa, tetapi dia menjadikanmu bagian dari dirinya. bahkan, dia mengutamakanmu lebih dari dirinya.
pada malam yang (tidak) seperti biasanya ini, kamu berdoa amat panjang di dalam hati. “ya Allah, jika Engkau ridho, mampukanlah aku menjadi istri yang taat, yang menghiasi suamiku seperti pakaian nan indah. ya Allah, cenderungkanlah hatinya kepada kebaikan. jika aku adalah bagian dari kebaikan itu, cenderungkanlah hatinya kepadaku selalu.”













