Mengapa Akhirnya Aku Percaya bahwa Kita Perlu Menghindari Jalan Menuju Dosa.
Manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus menguji batasnya.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah soalan yang sudah sering dibahas: mengapa manusia yang mengaku beriman harus menghindari kesempatan atau celah yang memungkinkan terjadinya maksiat dan dosa sedini mungkin.
Disclaimer lagi. Ini salah satu contoh yang kebetulan tersedia di dekatku. Contoh kasus pada catatan ini bukan sedang membahas siapa yang lebih baik atau lebih buruk. Bukan pula menghakimi mereka yang pernah atau bahkan masih berada di tempat-tempat seperti itu. Lebih merupakan pengingat untuk diriku sendiri—atau untuk Akku, jika suatu hari ia kembali lupa pada keterbatasannya.
Aku mengenal seorang perempuan. Sebut saja Akku. Akku mudah sekali penasaran pada hal yang menurut banyak orang, tidak perlu diberi rasa ingin tahu. Setelah sekian puluh tahun hidup, ini kesekian kalinya Akku penasaran dengan suasana bar. Akku pernah bilang, "aku pernah melihat konten tentang diskotik POV seorang Newbie. Alih-alih bergoyang di lantai dansa, dia malah lebih sibuk memungut uang uang di bawah kaki orang-orang yang sibuk berdansa. Benar begitu?"
Aku adalah manusia pertama yang mendengarnya dari Akku. Entah apa jawaban yang berhasil Akku himpun dari orang-orang berpengalaman di sekitarnya. Yang jelas, karena merasa kini sudah cukup dewasa—dengan mengajak seorang yang paling Akku percaya—pada suatu malam, Akku berhasil menembus masuk ke dalam sebuah bar di pusat kota.
Singkat cerita, tak ada uang-uang seperti konten yang pernah dia saksikan, sebab bar yang didatanginya berada di salah satu hotel bintang 5. Dan yang disadari oleh Akku kemudian adalah, ternyata untuk memenuhi rasa ingin tahunya itu, tidaklah murah walau Akku tahu tak ada yang gratis di zaman ini. Ada cost ratusan ribu/pax untuk sebuah meja. Ada biaya mental sebab di dalam sana, dia harus bertarung dengan dirinya sendiri—walau menguji batas diri memang tujuan Akku datang ke tempat itu. Dan, jika lengah, bisa saja ada biaya yang jauh lebih mahal—yang harus dibayarnya dengan "hati".
Kurasa, persoalannya sejak awal bukan pada kemampuan Akku menolak godaan. Persoalannya adalah keputusan untuk sengaja membawa dirinya berdiri di hadapan godaan itu.
Meski berhasil keluar dari sana tanpa menyentuh sesuatu yang katanya seteguk sama saja dengan berbotol-botol itu, ada alasan yang sangat kuat mengapa baiknya kita memotong jalur menuju dosa atau maksiat sedini mungkin, dan bukan baru bertarung saat godaan itu benar-benar ada di depan mata.
Pertama. Manusia memiliki keterbatasan dalam menahan godaan. Jika sengaja menempatkan diri dalam situasi yang mendekati maksiat, seseorang sedang menguras energi mental untuk terus-menerus berkata "tidak". Lambat laun, pertahanannya akan runtuh. Semakin lama seseorang berada di dekat sebuah godaan, semakin akrab pula pikirannya terhadap godaan itu. Sesuatu yang semula terasa asing perlahan berubah menjadi biasa. Ini berkaitan dengan alasan yang Kedua. Jarang sekali sebuah maksiat dimulai langsung dari pelanggaran besar. Biasanya, ada langkah-langkah kecil yang tampak remeh dan seolah aman.
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an berkali-kali menggunakan diksi "jangan mendekati", bukan sekadar "jangan melakukan". Dalam larangan zina, misalnya, yang dilarang bukan hanya perbuatannya, melainkan juga jalan yang mengarah ke sana.
Prinsip ini tampaknya berlaku jauh lebih luas daripada satu jenis dosa. Banyak larangan dalam agama bukan hanya melarang akibat akhirnya, tetapi juga mengingatkan agar kita tidak berjalan menuju sebab-sebabnya.
Kenapa?
Karena dosa hampir tidak pernah datang dengan wajah yang menakutkan. Ia datang sebagai satu langkah kecil yang tampak masuk akal. Setelah langkah pertama berhasil dilewati tanpa sesuatu yang terasa buruk, langkah kedua menjadi lebih mudah. Lalu ketiga. Hingga akhirnya batas yang dulu tampak jelas berubah menjadi kabur.
Menghalangi diri di langkah pertama jauh lebih mudah dibanding mengerem di langkah kelima.
Ketiga. Melindungi ketenangan hati yang sudah dimiliki. Sekali memberi celah pada maksiat, rasa bersalah (guilt) dan kecemasan akan langsung datang merusak ketenangan tersebut. Menghindari celah dosa adalah cara terbaik untuk memagari dan melindungi nikmat kedamaian hati saat ini.
Dan tak ada yang tahu kapan seseorang melampaui batasnya. Seperti halnya tidak ada yang bangun pagi lalu memutuskan untuk tersesat. Orang-orang biasanya hanya mengambil satu langkah kecil yang terasa aman, lalu satu lagi, lalu satu lagi, hingga suatu hari saat menoleh ke belakang, barulah ia sadar, kalau ia sudah berdiri jauh dari tempat semula.
Choose your battles. Tapi mendekati pintu-pintu dosa untuk membuktikan bahwa diri cukup kuat melewatinya adalah pertempuran yang, mungkin menghasilkan sesuatu, tapi apakah sungguh-sungguh sebanding dengan tenaga dan banyak aspek yang harus dikeluarkan? Tampaknya juga terlalu melelahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bisa tidak dibuka sejak awal.












