Dulu, aku adalah orang pertama yang paling cepat meragukan isi kepalaku sendiri. Setiap kali ada gagasan, rasa, atau sudut pandang yang tebersit, kalimat pertama yang selalu singgah di pikiran adalah:
“Ah, ini pasti terlalu rumit, ngga penting, atau bakal keliatan aneh buat orang lain.”
Akhirnya, semua itu cuma dipendam rapat-rapat. Dipeluk sendirian karena merasa jalan pikiranku tidak akan pernah nyambung dengan siapa pun. Aku terbiasa berasumsi bahwa duniaku terlalu privat untuk dibagikan.
Sampai aku tiba di satu titik sadar: keberanian terbesar bukanlah saat aku mencoba terlihat sempurna di hadapan orang banyak, melainkan saat aku berhenti menyensor diri sendiri.
Ketika aku nekat mengekspresikan dan melepaskan apa adanya apa yang ada di kepala—tanpa peduli seberapa spesifik atau ganjil bentuknya—ternyata beban itu akhirnya lepas.
Pada realitanya, hidup ya dijalani saja. Tidak perlu pusing memikirkan penilaian orang atau apakah isi kepala ini terlalu beda. Saat aku berhenti menyensor diri, tujuannya bukan lagi soal mencari validasi, dipahami, atau didengar.
Bagi aku, jujur pada diri sendiri cukup menjadi cara untuk memecah keheningan di kepala, melepaskan apa yang selama ini diam-diam dipendam, dan bernapas lega tanpa harus sibuk mengatur bagaimana dunia akan meresponsnya.
Kadang kala, alasan aku tiba-tiba memilih untuk jujur dan terbuka pun bukan untuk membuktikan apa pun pada orang lain, melainkan karena aku sendiri yang butuh menyadari jalan pikiranku. Itu adalah cara pikiranku memproses ulang perjalanan mentalnya sendiri, dari yang tadinya penuh keraguan dan sensor, hingga sampai pada titik kelegaan untuk bisa melepaskan segalanya apa adanya.
Sebab, memeluk diri sendiri apa adanya jauh lebih melegakan daripada mati-matian terlihat normal demi menyenangkan dunia luar.











