Pagi ini, aku tiba di tanah kelahiran kakekku. Sudah lama sekali rasanya aku tak mengunjungi kota budaya ini. Kau tau betapa aku rindu, akan nuansa dan keindahannya, akan romantismenya, dan kemampuan untuk bersinergi antara manusia dan alam. Sembari menunggu berangkatnya kereta yang akan mengantarku dari bandara ke pusat kota, lewat jendela kecil itu aku mengagumi bagaimana alam adalah pemberi kehidupan untuk manusia.
Tak jauh dari bandara, sebuah taman pembangkit energi tenaga angin dibangun di bibir pantai. Ribuan kincir angin berputar dengan indahnya sembari menari diterpa angin. Taman ini, membuktikan bagaimana hanya dengan angin, alam memberikan kehidupan yang berarti bagi manusia.
Beberapa tahun lalu, Indonesia dinobatkan menjadi negara percontohan untuk bagian pembangkit energi yang menggunakan 100% energi terbarukan. Energi angin, potensial air, sinar matahari, dan energi alam lainnya digunakan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Negeri ini tak lagi membakar batu bara besar-besaran seperti dahulu, mengekspornya ke negeri seberang, tak lagi mengeruk gunung, apalagi membakar hutan. Negeri ini telah bangkit, dari keterpurukannya seabad yang lalu.
Kakekku, sangat senang sekali menceritakan kisah perjalanan negeri ini padaku. Ia selalu bercerita tentang generasi emas. Sebuah generasi yang diisi oleh para pemuda cerdas bangsa ini. Generasi ini adalah sebuah inisiasi pemerintah dan hasil dari beasiswa pendidikan. Banyak putra putri bangsa disekolahkan di luar negeri untuk pada akhirnya kembali dan membangun Indonesia. Generasi ini banyak sekali membawa pengaruh, mengisi posisi-posisi penting dalam bidang sosial, politik pemerintahan, sains, teknika, kesehatan, dan lingkungan. Kakekku adalah salah satunya.
Fakta tentang pemanasan global adalah salah satu pekerjaan yang digarap secara serius oleh pemerintah. Konsep ramah lingkungan dilambungkan dan diperluas hingga ke segala sisi. Kakekku bilang, akan salah jika hanya kota saja yang menerapkan ramah lingkungan, sedangkan di ujung pulau asap pembakaran batu bara dan minyak bumi tetap mengotori langit. Karena itu, konsep ramah lingkungan harus dimulai dari sisi pembangkit energi, faktor produksi, perkotaan, hingga ke rumah-rumah penduduk.
Tak terasa setelah 20 menit perjalanan dengan kereta akhirnya aku sampai di stasiun pusat kota. Bersama ratusan penumpang lain aku turun dan berjalan menuju halte bus. Udaranya sejuk sekali saat itu, pohon-pohon ditanam dengan rapi, meneduhkan jalanan, tanpa adanya polusi udara. Kakekku bilang, dulu bus bus umum seperti berlomba-lomba siapa yang asap knalpotnya paling hitam, motor-motor jadul mengeluarkan asap mirip foging pemberantasan nyamuk, suara klakson bersahutan karena tingginya volume kendaraan di jalan. Aku sungguh tak membayangkan hidup di jaman itu.
Beberapa puluh tahun lalu, teknologi perkembangan batre sangat berkembang pesat di seluruh dunia. Indonesia bahkan memulai menjadi produsen kendaraan listrik didasari oleh perkembangan teknologi batre yang diaplikasikan pada kendaraan. Mobil, bis, kereta, kapal, bahkan pesawat terbang kini sudah menggunakan 100% energi listrik. Tak ada lagi asap mengepul di jalanan, semua kendaraan kini menjadi nol emisi, tak perlu lagi diuji.
Sebuah bis trans berwarna hijau datang, siap membawaku menjelajahi kota. Dari jendela bis, dapat terlihat hampir semua gedung-gedung menerapkan sistem green building. Seperti pengolahan air hujan untuk pengairan daerah hijau dalam gedung, pemanfaatan cahaya matahari untuk penerangan, hingga pemasangan mini solar panel dan turbin angin di atap gedung.
Pohon-pohon rindang meneduhkan tepi jalan, sungai-sungai dalam kota jernih airnya, udara terasa sangat segar, para pesepeda berlalu lalang, ribuan orang berjalan, beberapa andhong dan becak mengantarkan turis berkeliling. Kota ini hebat pikirku. Negeri ini bangkit, tanpa meninggalkan identitasnya.
Akhirnya aku sampai di depan rumah kakek. Sembari berjalan aku teringkat bahwa kakek pernah bercerita ia bangga karena lahir sebelum milenium. Ia selalu menganggap kami -aku dan orangtuaku- sebagai anak kecil karena lahir setelah tahun 2000. Kakekku dan jutaan manusia lainnya membangun negeri ini dengan berdarah-darah, menyelaraskan kodrat manusia untuk berjalan beriringan dengan alam.
Aku bergumam untuk tak pernah lupa dan selalu berjuang untuk negeri ini. Sembari aku menumpahkan air untuk membasahi nisan kakek dan berdoa agar ia selalu tenang disana dan perjuangannya tak sia-sia.