Hai rekan-rekan!
Kami baru saja merilis Buletin POCQI
Buletin ini berisi update praktik baik dan cerita inspiratif dari lapangan.
Salam kualitas,
Kerja sama Dinas Kesehatan Prov. Papua, Yayasan Gapai Harapan Papua, dan UNICEF.
cherry valley forever
AnasAbdin

No title available

JVL
dirt enthusiast

#extradirty
Claire Keane
Three Goblin Art

No title available

❣ Chile in a Photography ❣

Janaina Medeiros
TVSTRANGERTHINGS
macklin celebrini has autism
d e v o n
Keni
🪼

PR's Tumblrdome
styofa doing anything
Mike Driver

if i look back, i am lost
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Tunisia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from Poland
seen from T1

seen from United States

seen from South Africa
@gapaipapua
Hai rekan-rekan!
Kami baru saja merilis Buletin POCQI
Buletin ini berisi update praktik baik dan cerita inspiratif dari lapangan.
Salam kualitas,
Kerja sama Dinas Kesehatan Prov. Papua, Yayasan Gapai Harapan Papua, dan UNICEF.
📢 Hai rekan-rekan! Kami baru saja merilis Buletin POCQI 🎉 Buletin ini berisi update praktik baik dan cerita inspiratif dari lapangan. Mari
Workshop Penyusunan Strategi Mengatasi Hambatan Imunisasi di Kabupaten Mappi dengan Pendekatan Human-Centered Design
Mappi, 19-20 Februari 2025 – Dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi di Kabupaten Mappi, Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi bekerja sama dengan UNICEF menyelenggarakan Workshop Penyusunan Strategi Mengatasi Hambatan Imunisasi melalui Pendekatan Human-Centered Design (HCD). Kegiatan ini diikuti oleh 14 petugas kesehatan dari tiga puskesmas di wilayah Mappi, yakni Puskesmas Kepi, Puskesmas Kota 1, dan Puskesmas Bade. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Aula Puskesmas Kepi ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan pendekatan HCD dalam program imunisasi. Metode HCD memungkinkan tenaga kesehatan untuk lebih memahami tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengakses imunisasi dan merancang solusi yang berbasis pada kebutuhan nyata.
Foto 1. Foto bersama Kepala Dinas Kesehatan Kab. Mappi (Barisan depan, 5 dari kiri), fasilitator dari UNICEF (Rompi biru), dan peserta juga panitia pelatihan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi, dr. Ronny Herry Tomboka menyampaikan bahwa Kabupaten Mappi adalah kabupaten yang unik dari segi wilayah dan masyarakat, maka perlu strategi-strategi yang menyesuaikan kondisi di lapangan baik di tingkat Puskesmas maupun masyarakat. Pelatihan HCD ini diharapkan dapat mendorong Puskesmas memiliki strategi yang cocok dengan permasalahan di lapangan sehingga mampu meningkatkan cakupan imunisasi. Dr. Ronny berharap agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan lagi di masa mendatang dengan sasaran dari Puskesmas lain dan untuk program lain di luar imunisasi. Workshop ini menghadirkan dr. Husny Muttaqin dari UNCIEF sebagai fasilitator yang membimbing peserta dalam memahami konsep dasar HCD, mengidentifikasi hambatan dalam program imunisasi, serta menyusun solusi inovatif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan praktik langsung dalam menyusun strategi dalam pemecahan masalah di lapangan.
Foto 2. Fasilitator dari UNICEF, dr. Husny Muttaqin sedang memaparkan materi HCD
Salah satu peserta dari Puskesmas Kota 1, Rosmianti mengungkapkan bahwa pelatihan HCD sangat penting bagi staf Puskesmas karena ini membantu Puskesmas menemukan strategi-strategi yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri ke masyarakat sehingga Puskesmas mampu untuk mengetahui masalah-masalah yang ada di masyarakat. Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan dapat mengimplementasikan strategi yang telah disusun selama workshop untuk meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah masing-masing. UNICEF dan Yayasan Gapai Harapan Papua akan terus mendukung upaya ini melalui pendampingan dan monitoring berkelanjutan.
Foto 3. Peserta pelatihan sedang berdiskusi tentang masalah dan solusi yang bisa diambil sebagai langkah menjawab permasalah imunisasi di lapangan
Menjaga Nafas Kehidupan: Kolaborasi Kepala Kampung dan Puskesmas dalam Menanggulangi Tuberkulosis di Papua
Oleh: Windy Sumongga
Di tengah bentangan alam Papua yang memukau, tantangan kesehatan masyarakat masih menjadi perjuangan utama. Salah satunya adalah tuberkulosis (TB), sebuah penyakit menular yang tak hanya mengancam orang dewasa tetapi juga anak-anak. Di wilayah kerja Puskesmas Dosay, kisah inspiratif tentang kerja sama antara petugas kesehatan dan kepala kampung, Bapak Marwan, menjadi bukti bahwa kolaborasi adalah kunci keberhasilan melawan TB.
TB Anak: Ancaman yang Mengintai Generasi Muda
Tuberkulosis pada anak adalah masalah kesehatan yang serius namun sering kali kurang diperhatikan. Anak-anak memiliki sistem imun yang belum sepenuhnya berkembang, sehingga lebih rentan terhadap infeksi TB. Jika tidak segera diobati, TB pada anak dapat menyebabkan komplikasi berat, seperti kerusakan paru-paru permanen, TB meningitis yang menyerang otak, atau bahkan kematian.
Gejala TB pada anak sering kali tidak spesifik, seperti batuk berkepanjangan, demam ringan, lesu, penurunan berat badan, atau kehilangan nafsu makan. Karena itu, gejalanya sering disalahartikan sebagai penyakit ringan. Akibatnya, diagnosis TB anak sering terlambat, sehingga meningkatkan risiko penyebaran infeksi dan dampak yang lebih parah pada kesehatan anak.
“Banyak orang tua belum memahami betapa seriusnya TB pada anak. Jika tidak segera diobati, dampaknya bisa fatal,” ujar Ibu Ning, Penanggung Jawab TB di Puskesmas Dosay.
Melalui dukungan dari UNICEF dan Yayasan Gapai Papua, petugas kesehatan di Kabupaten Jayapura mendapatkan bimbingan teknis terkait TB anak dan pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Bimbingan teknis ini memberikan wawasan mendalam tentang penanganan TB pada anak, sementara pelatihan KAP membantu petugas mendekati keluarga dengan cara yang empati dan meyakinkan. Hasilnya, masyarakat mulai lebih terbuka terhadap layanan kesehatan, terutama untuk pengobatan TB anak.
Upaya Tanpa Henti dari Puskesmas Dosay
Menyadari bahwa keberhasilan pengendalian TB memerlukan pendekatan berbasis komunitas, Puskesmas Dosay tidak henti-hentinya menjangkau keterlibatan para kepala kampung. Namun, tantangan besar menghadang. Dari 5 kampung di wilayah kerja puskesmas, hanya 2 kampung yang bersedia membuka ruang untuk diskusi kesehatan bersama puskesmas.
“Kami tahu ini tidak mudah. Tapi kepala kampung adalah pemimpin yang suaranya didengar oleh masyarakat. Dengan dukungan dari kepala kampung membuat kader jadi tambah semangat kerja,” ujar Ibu Setiyoningsih, Penanggungan Jawab TB Puskesmas Dosay.
Dengan pendekatan yang penuh kesabaran, tim Puskesmas Dosay terus menjalin komunikasi dengan kepala-kepala kampung. Mereka tidak hanya menyampaikan data tentang TB, tetapi juga menunjukkan bahwa kesehatan adalah modal penting untuk membangun masyarakat yang produktif.
Bapak Marwan Hasyim: Pemimpin yang Peduli Kesehatan
Di tengah tantangan tersebut, Bapak Marwan, Kepala Kampung Sabron Sari yang dikenal dekat dengan warganya, tampil menjadi salah satu mitra terdekat Puskesmas Dosay. Ia dengan sepenuh hati memberikan waktu kepada Puskesmas Dosay untuk mensosialisasikan TB termasuk TB anak agar warganya terlindungi.
“Kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Bapak Marwan. Ia menyadari bahwa perannya sebagai kepala kampung dapat menjadi jembatan penting untuk mengatasi stigma dan meningkatkan kesadaran warganya tentang TB, serta mendorong penemuan kasus juga mendorong agar pasien TB tidak putus obat.
Sosialisasi oleh Puskesmas Dosay melibatkan kader, ketua RT, dan pasien yang sudah sembuh dari TB di Kampung Sabron Sari. Dalam kesempatan itu puskesmas mensosialisasikan tentang cara pencegahan TB, bagaimana penularannya, dan pengobatannya. Puskesmas juga menyampaikan bahwa anak-anak dapat tertular TB dari penderita TB dewasa. Maka puskesmas menghimbau agar orang dewasa bisa jeli melihat gejala-gejala TB pada anak dan tidak menyepelekannya. Apabila ditemukan anak dengan gejala TB maka anak harus segera dibawa ke puskesmas.
Foto. Kepala Kampung Sabron Sari memberikan arahan saat sosialisasi TB oleh Puskesmas Dosay
Foto milik Puskesmas Dosay
Kolaborasi yang Menginspirasi
Dengan dukungan penuh dari Bapak Marwan, Puskesmas Dosay bersama kader akan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk mencari suspek TB. Ibu Setiyoningsih berharap angin segar berupa dukungan dari kepala kampung akan memberikan semangat kepada 2 orang kader TB yang ada di Kampung Sabron Sari.
“Karena saat ini kepala kampung sudah tahu ada alokasi dari dana kampung yang bisa dimanfaatkan untuk pembayaran transport kader dan beliau komitmen untuk itu, maka ini akan jadi tambahan semangat kerja bagi para kader,” kata Ibu Setiyoningsih.
Harapan untuk Masa Depan
Kolaborasi antara Puskesmas Dosay dan Bapak Marwan menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan TB tidak hanya membutuhkan upaya medis, tetapi juga kemitraan yang kuat dengan tokoh masyarakat. Dukungan UNICEF dan Yayasan Gapai Papua, yang memperkuat kapasitas petugas kesehatan melalui bimbingan teknis TB Anak, pelatihan KAP dan media KIE, memberikan dampak nyata di lapangan. Sementara itu, kerja sama yang erat antara kepala kampung dan Puskesmas Dosay membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.
“Selain undangan dari Kampung Sabron Sari, puskesmas juga menerima undangan dari satu kampung lainnya. Tetapi yang menunjukan komitmen baru Kampung Sabron Sari saja. Kader dari Kampung Dosay juga sudah meminta waktu agar kita dari puskesmas bisa datang ke sana. Harapannya kampung-kampung yang lain di wilayah kerja puskesmas kami juga mau terbuka dan bekerja sama untuk menanggulangi TB,” tutup Penanggung Jawab TB Puskesmas Dosay.
PERJALANAN SERIBU MIL, DIMULAI DENGAN SATU LANGKAH
Salfatoriana Refra atau yang biasa di sapa Mami Ria adalah seorang Ibu 3 Anak yang berusia 40 tahun, berdarah asli Kei, Maluku Tenggara. Mami Ria yang berprofesi sebagai Bidan tercatat sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak tahun 2000 dan saat ini bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat sebagai kepala seksi Kesehatan keluarga dan Gizi.
Kabupaten Asmat adalah salah satu kabupaten dengan konteks yang kompleks dan rentan terhadap masalah kesehatan karena terbatasnya akses masyarakat ke layanan kesehatan dan kurangnya pengetahuan tentang manfaat layanan kesehatan. Disamping itu masyarakat hidup dengan cara berburu dan meramu sehingga sering kali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam jangka waktu yang lama. Karena konteks yang kompleks inilah, pada tahun 2017 akhir menuju 2018 tepat di distrik Pulau Tiga, terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Diare, Campak dan Gizi Buruk yang menyerang bayi-balita sehingga setidaknya ada sekitar 72 bayi-balita meninggal dunia (http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43363665.amp). Kejadian ini merupakan hal yang sangat memilukan, dan Mami Ria sungguh merasa sangat terpukul dan sedih melihat keadaan ini sehingga memutuskan untuk mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya agar dapat membantu penanganan KLB tersebut.
Pada tahun 2021, tenaga Kesehatan di kabupaten Asmat diajari tentang layanan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) melalui pendampingan UNICEF-GAPAI dan Mami Ria teringat akan peristiwa KLB yang pernah terjadi, dan merasa bahwa layanan MTBS bisa menjadi cara yang tepat untuk mendeteksi potensi KLB. Layanan MTBS dirasa sangat bermanfaat karena bisa mendeteksi beberapa penyakit sekaligus yang diderita oleh bayi-balita, termasuk melacak status gizi dan status imunisasi pada satu kali kunjungan ke Puskesmas.
Banyak hal yang telah dilakukan Mami Ria agar layanan ini bisa berjalan secara menyeluruh pada semua Puskesmas di Kabupaten Asmat. Sikap semangat dan selalu ingin mempelajari hal baru yang dimilikinya memotivasi tenaga kesehatan yang berusia lebih muda darinya. “Mami Ria biar usianya sudah tua tapi orangnya smart (pintar). Suka dengan tantangan baru dan bertanggung jawab sekali. Selalu tidak mengenal lelah untuk memberi masukan pengalaman dan selalu menginspirasi untuk memotivasi buat nakes (tenaga kesehatan) yang muda” kata Bidan Agnes, salah satu tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Atsj, Kabupaten Asmat.
Sejak pendampingan yang dilakukan UNICEF-GAPAI pada tahun 2021-2022, layanan MTBS baru berjalan pada 14 Puskesmas. Melihat keberhasilan layanan MTBS yang berpotensi menurunkan angka kematian pada kelompok rentan yaitu bayi-balita, membuat Mami Ria tidak hanya tinggal diam.
Mami Ria terus berupaya untuk mengusulkan penganggaran pelaksanaan kegiatan kalakarya MTBS pada tahun 2023 melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat. Proses pengusulan anggaran kegiatanpun dimulai dengan melakukan pembicaraan kepada kepala Bidang Kesehatan Masyarakat-Dinas Kesehatan kabupaten Asmat (Dr. Steven Langi) dan dilampirkan juga data LB3 Kab Asmat (Jan-Sept 2022). Tercatat melalui LB3 Asmat tahun 2022, ada 3.922 balita yang diperiksa dengan layanan MTBS dimana untuk klasifikasi yang ditemukan sendiri, ada 45 kasus Gizi Buruk, 999 kasus Diare dan 90 Kasus Campak dan juga klasifikasi penyakit lainnya. Jumlah ini mungkin saja bertambah jika layanan MTBS dikerjakan secara menyeluruh di semua Puskesmas di Kabupaten Asmat.
Pada tahun 2023 layanan MTBS berhasil dianggarkan oleh Pemda Asmat dan dikerjakan pada 22 Puskesmas yang saat ini aktif beroperasi di Kabupaten Asmat. Mami Ria merupakan orang yang selalu memotivasi agar layanan MTBS berjalan setiap hari, karena setiap kali kunjungan yang dilakukan oleh bayi-balita adalah suatu kesempatan langka, dan seharusnya tenaga kesehatan bisa memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan pelayanan terbaik yang mereka bisa.
Sejak layanan MTBS berjalan, Dinas Kesehatan kabupaten Asmat hanya memiliki setidaknya 2 kali penganggaran setiap tahun untuk memantau langsung jalannya layanan MTBS di Puskesmas mengingat biaya transportasi sangat mahal. Hal tersebut tidak mematahkan semangat Mami Ria karena tetap bisa memanfaatkan peluang yang ada dengan cara memantau layanan MTBS hampir setiap hari melalui WAG (WhatsApp Grup) MTBS-Asmat. Respon masing-masing Puskesmas juga sangat baik, karena merasa hasil kerja mereka bisa dilihat meski hanya melalui WAG, dan juga ada proses sharing informasi yang membuat Puskesmas yang 1 bisa belajar dari Puskesmas lainnya.
Tiada hari tanpa sapaan Mami Ria di WAG MTBS-Asmat. Sapaan Mami Ria yang sangat dikenal adalah: “Puskesmas tutupkah hari ini?” “Apakah jaringan lagi jelek kah?” anak-anakku semua di Puskesmas lagi libur kah? Ingat tetap kerja dengan hati”, “semua anakku di Puskesmas, hari minggu tidak ada layanan tapi tetap ada yang jaga, jadi tetap share hasil layanan”, dan masih banyak lagi sapaan lainnya. Pemantauan melalui WAG MTBS ini dilakukan untuk mengatasi kendala seperti tidak tepatnya penentuan klasifikasi sakit bayi-balita berdasarkan gejala yang dibuktikan pada pengisian form MTBS, alur pemeriksaan yang terlewat atau kurang lengkap dan mengecek ketersediaan obat atau alat yang dipakai pada pemeriksaan di layanan MTBS, juga memantau penemuan penyakit yang merupakan keterpaduan program kesehatan. Hal lain yang menraik juga, ketika ada kendala yang ditemukan terkait program lain yang ditemukan pada layanan MTBS, misalnya Malaria, Diare, Gizi, atau Imunisasi , biasanya langsung terjawab oleh masing-masing penanggungjawab program yang tergabung dalam WAG tersebut.
Ada satu Pengalaman yang tidak terlupakan bersama Mami Ria yang diingat stafnya (Ibu Jein Chelli), saat melakukan kegiatan kalakarya MTBS pada bulan Juni 2023. Mami Ria bersama stafnya melakukan perjalanan menggunakan transportasi laut melewati sungai besar menuju 4 Puskesmas yang masing-masing memakan waktu sekitar 5-9 jam perjalanan dengan waktu tempuh normal dari Agats. Perjalanan melewati sungai besar sangat beresiko, apalagi ketika tidak memperhitungkan waktu pasang-surut air laut karena bisa memakan waktu perjalanan lebih lama dari waktu tempuh normal. Pada waktu itu, seluruh wilayah Papua Selatan sedang terdampak oleh perubahan iklim, dan suhu menjadi sangat dingin. Seharusnya Mami Ria dan staf nya bisa melakukan perjalanan lebih jauh, tetapi karena hari hampir gelap Mami Ria memutuskan untuk menginap di salah satu Puskesmas yang saat itu cukup dekat dengan jarak mereka yaitu Puskesmas Daikot di Distrik Joutu yang jika ditempuh dengan waktu normal sekitar 7 jam perjalanan dari Agats. Sesampainya di dermaga, bersama dengan staf nya masih menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki sekitar 800 meter untuk sampai ke Puskesmas Daikot. Hari sudah gelap, curah hujan yang rendah, suhu menjadi sangat dingin dan berjalan di atas tanah rawa tidak mematahkan semangat dari wanita berusia 40 tahun ini. Menurut Mami Ria, usia hanyalah angka karena setiap orang diberikan hikmat dan kemampuan dari Tuhan untuk melakukan hal baik bagi sesamanya setiap hari. Puseksmas Daikot merupakan satu dari sekian banyak Puskesmas di Kabupaten Asmat dengan akses yang sulit dijangkau, tidak ada jaringan telekomunikasi dan listrik. Sesampainya di Puskesmas sekitar pukul 19.30 WIT, hanya bermodal mesin diesel untuk menerangi Puskesmas, Mami Ria dengan semangatnya tetap mengajari tenaga Kesehatan di Puskesmas Daikot bagaimana menjalankan layanan MTBS. Menurut Mami Ria, layanan MTBS merupakan layanan yang sangat membantu tenaga kesehatan pada Puskesmas di daerah sulit seperti di Kabupaten Asmat, karena layanan ini membantu tenaga kesehatan lebih terampil untuk melayani masyarakat, terutama bayi-balita.
Satu kutipan dari Mami Ria yang diingat petugas Puskesmas “Kenapa Kabupaten lain bisa maju, kenapa kita di pedalaman Asmat yang dengan berbagai masalah hambatan tidak bisa? Kita harus tunjukan kalau kita juga bisa” kata Bidan Lusia yang saat ini bertugas di Puskesmas Ayam, Kabupaten Asmat.
Mami Ria membuktikan bahwa segala kesulitan yang ada di kabupaten ini bukanlah sebuah hambatan. Hidup dan mengabdi di daerah dengan geografis yang sulit, proses mobilisasi yang diatur oleh cuaca dan keterbatasan akses untuk berkomunikasi dengan staf di Puskesmas, tetapi itu tidak mematahkan semangatnya karena mampu melihat peluang di setiap tantangan yang ada. Bagi Mami Ria, keberhasilan hanya terletak pada kemauan dan niat kita, ketika kita tidak menemukan solusi dari tantangan yang kita hadapi, mungkin saja cara yang kita pakai untuk memecahkan tantangan tersebut belum sesuai, artinya selalu ada jalan ketika ada kemauan dan semangat.
ADA CINTA DALAM OJT CENTER
Pada tanggal 26 November 1991 lahir seorang anak perempuan dari suku Toraja yang 26 tahun kemudian memutuskan merantau sehabis meraih gelar Amd.Keb. Kabupaten Lanny Jaya menjadi tempat tujuan akhir Ia merantau karena mengikuti salah seorang kakaknya, selain itu pemandangan alam yang indah membuatnya betah untuk menetap lebih lama. Sartika Mangera begitulah nama yang diberikan oleh orangtuanya.
Bekerja di Lanny Jaya sejak tahun 2018 di RSUD Tiom. Setelah setahun bekerja di RSUD Tiom, di Tahun 2019 ada Penerimaan CPNS, Ia mencoba untuk mendaftar dan memilih Puskesmas Malagaineri sebagai tempat penempatan dan Pada tahun 2021 keluar pengumuman ia dinyatakan lolos CPNS, wanita berhijab ini mulai aktif bekerja di Puskesmas Malagaineri sejak Februari 2022. Puskesmas ini adalah salah satu Puskesmas dengan pemandangan yang indah, sepanjang perjalanan dari Dinas Kesehatan atau Kota Tiom menuju Puskesmas mata kita akan disuguhkan dengan bukit tinggi di sisi kiri dan kanan, ketika mengambil foto rasanya kita ada dalam lukisan, Kita juga akan menemukan air terjun yang berasal dari bukit tersebut, ada sebuah sungai di bagian kiri yang bisa dipakai sebagai lokasi arung jeram, kemudian dipertengahan jalan kita akan dihadapkan dengan jalan terjal bebatuan lepas yang kapan saja bisa mencelakakan kita.
Awal bergabung banyak sekali kekurangan yang ada di Puskesmas seperti ada kampung yang belum menerima imunisasi, tidak ada buku register dan tidak ada laporan pelayanan imunisasi padahal pelayanan selalu dijalankan.
Tapi wanita yang suka berolahraga ini tidak menganggap hal itu sebagai tantangan ia justru mulai membantu tim melakukan pencatatan ketika Posyandu dan kemudian membuat pelaporan. ‘’Kalau beban sih tidak ya karena memangkan profesi kita yang harus menuntut kita bekerja dimanapun itu!’’Katanya sambil mengangguk. Alasan yang memotivasinya mau memperbaiki pelayanan di Puskesmas Malagaineri adalah tuntutan dan teguran dari Dinas tentang laporan Puskesmas yang selalu kosong. Selain itu wanita berlesung pipi ini juga senang melihat tumbuh kembang anak terutama anak yang sehat sehingga imunisasi itu penting untuk diberikan kepada anak-anak tersebut.
Menurut Tika jika program imunisasi tidak berjalan maka sangat berbahaya, anak-anak akan terkena penyakit seperti campak dan polio. Ia tidak mengetahui bahwa membuat pencatatan dan pelaporan adalah salah satu tugas dari seorang penanggung jawab imunisasi, sampai suatu ketika tepatnya bulan September Ia ditunjuk untuk mengikuti magang di Puskesmas Pirime. Di Puskesmas ini ia diajarkan tentang: jenis-jenis vaksin, manfaat dan cara pemberiannya, cara penyusunan vaksin, pemusnahan limbah vaksin, penggunaan my village my home, pembuatan microplanning dan penggunaan PWS. Hal tersulit yang masih harus dipelajarinya adalah pembuatan microplaning dan hal lain yang belum dilakukan adalah penyusunan vaksin dalam coldchain karena belum ada coldchain di Puskesmas sehingga vaksin masih dititipkan di coldchain Dinas Kesehatan. Dari magang tersebut Tika mendapatkan informasi jika Puskesmas Pirime dan Puskesmas Tiom adalah Puskesmas OJT center tempat dimana ia bisa melatih dan menambah pengetahuan. ‘’ Harapan sih untuk mereka, OJT center bisa memberikan ilmu kepada Puskesmas-Puskesmas lain terlebih lagi dalam pelayanan imunisasi terutamanya dan tidak pelit ilmulah kalo mo belajar!’’ Pintah wanita berhijab ini.
Bagi Tika menjalankan program imunisasi itu memiliki tantangan tersendiri. Hal yang menjadi tantangan seperti Ia harus mempelajari dan menghafal jenis-jenis vaksin, masih banyak masyarakat yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak ada kendaraan seperti ambulance yang bisa membantu pelayanan Posyandu, dan masih ada penolakan dari beberapa masyarakat terhadap program imunisasi ini.
Penyuntikan BCG dan meninggalkan jejak adalah satu keahlian Tika dibandingkan timnya, Ia sangat bersemangat memberikan BCG kepada anak-anak yang baru lahir, dan pemberian BCG terbanyak berasal dari Desa Mbu yang jumlah penduduknya lebih banyak dari desa lain. Hal berkesan yang terjadi dalam pelayanan di Posyandu Mbu, adalah mereka pernah ditolak oleh seorang penduduk desa ketika ingin melakukan pelayanan. Setelah dicari tahu penyebab penolakan karena orang tersebut ingin bergabung dan kini Desa Mbu sudah mau menerima pelayanan Posyandu. Bidan cantik ini mengakui bahwa ada perubahan yang dirasakan setelah mengikuti magang di Puskesmas OJT center. Ia menjadi lebih semangat, sudah memiliki buku register dan sudah menginput data PWS bulan Januari 2023 ini.
‘’Iooo kaka, Puskesmas Malagaineri yang pertama kirim laporan ditanggal 2 kalau saya tidak salah!’’ Puji Bu Lasma si penanggung jawab imunisasi Kabupaten itu sambil tertawa.
Bidan Tika berharap semua anak di Puskesmas Malagaineri bisa diimunisasi dan dilengkapi status imunisasinya, Ia juga berharap agar Dinas bisa segera membantu mengalokasikan anggaran untuk pembelanjaan mobil ambulance. Ketika ditanya apakah ia tidak takut menjomblo lebih lama karena bekerja di distrik yang jauh dari kota dengan wajah serius dan kemudian tertawa Ia menjawab perasaan takut tidak mendapatkan jodoh itu ada, namun tugas harus tetap dijalankan. Bidan tika mengajarkan bagaimana bertanggung jawab dan membuktikan tanggung jawab itu.
Mila: 5 Tahun Menggapai Harapan
Selama lima tahun terakhir, Mila telah berdedikasi sebagai staf Yayasan Gapai Harapan Papua (Gapai Papua), berjuang untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di pelosok Papua. Perjalanannya dimulai pada tahun 2019, ketika Papua menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio. Saat itu, Mila diberikan tanggung jawab besar untuk mendampingi Kabupaten Dogiyai, membantu masyarakat mengatasi ancaman polio yang membahayakan generasi emas.
Keberhasilannya di Dogiyai membuka pintu bagi lebih banyak kesempatan untuk berkontribusi. Setelah itu, ia dipercaya untuk menangani program imunisasi di wilayah-wilayah lain seperti Kabupaten Yalimo, Mamberamo Tengah, dan Biak Numfor. Di daerah-daerah tersebut, Mila bersama Dinas Kesehatan Kabupaten dan Puskesmas berusaha memastikan bahwa setiap anak mendapatkan imunisasi, yang menjadi kunci dalam mencegah penyebaran Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
Selama perjalanannya bersama Gapai Papua, Mila tidak hanya tumbuh secara profesional, tetapi juga secara pribadi. "Saya merasakan perubahan yang signifikan dalam diri saya, mulai dari pengembangan diri hingga relasi yang semakin luas," ungkapnya. Menurut Mila, kerja di Gapai Papua bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang hubungan kekeluargaan yang erat. "Tim kerja bukan hanya sebagai teman tetapi juga sebagai keluarga, yang banyak memberikan dampak positif di dalam kehidupan saya," tambahnya.
Pada tahun 2024, babak baru menanti Mila. Ia akan ditempatkan di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan, sebuah daerah baru dengan tantangan yang berbeda. Namun, semangatnya tetap membara. Mila sangat bersemangat, ia tidak sabar untuk segera tiba di Kabupaten Mappi dan menjadi bagian dari perubahan demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di Tanah Papua.
Kisah Mila adalah potret dedikasi tanpa henti, di mana kerja keras dan ketulusan hati mampu membawa perubahan nyata di daerah-daerah yang paling membutuhkan. Melalui pengabdiannya, Mila menjadi simbol harapan bagi masyarakat Papua, terutama bagi generasi muda yang menjadi tumpuan masa depan.
BERSAMA... KITA BISA LAWAN COVOD-19!
MARI JADIKAN MASYARAKAT YANG TANGGUH UNTUK LAWAN HOAX DAN PENYAKIT!!!
BERSAMA... KITA BISA LAWAN COVOD-19!
MARI JADIKAN MASYARAKAT YANG TANGGUH UNTUK LAWAN HOAX DAN PENYAKIT!!!
PORTAL PAPUA- Puskesmas Serui Kota menjadi OJT Center yang adalah tempat belajar/magang bagi seluruh Puskesmas di Kabupaten Kepulauan Yapen
Reportasepapua.co.id, Jayapura - Unicef bersama tenaga kesehatan Kampung Menawi Kabupaten Yapen menerapkan Penggunaan Program My Village My Home (MVMH) atau Kampungku Rumahku, Tujuannya untuk mencatat seluruh data dan tanggal imunisasi anak (sekitar 200 anak kampung Menawi) dari daftar tersebut akan terdekteksi berapa anak yang belum lengkap imunisasinya. Kampungku Rumahku dipasang di tempat yang mudah dilihat...
JAYAPURA - Kehadiran vaksinasi Covid -19 sejak awal menuai pro dan kontra. Adanya isu-isu negatif berkembang membuat program vaksinasi tidak berjalan lancar, dan banyak menuai penolakan masy
Covid 19 hingga kini masih terus perlu diwaspadai. Upaya-upaya yang dilakukan dalam mencegah terpaparnya covid 19 adalah dengan melakukan va
#pemkotjayapura #stunting #worldfoodday #carfreeday #tvpapua
PORTAL PAPUA- Unicef melalui Yayasan Gapai Papua bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, mengadakan event Kampanye Cegah Stunting Dalam R
JAYAPURA - UNICEF bersama Bappeda Provinsi Papua menggelar Papua Benahi Sanitasi (BISA) Tahun 2023. Kegiatan ini juga diikuti Yayasan GAPAI Harapan Papua, pemerintah Kabupaten/Kota dan pihak