Pencobaan sebagai Jalan Tuhan Mendewasakan kita
Yakobus 1:2-4, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
Menurut Firman Tuhan pencobaan harus disikapi dengan sukacita (kebahagiaan). Bayangkan kondisi orang Kristen yang menerima surat ini dari Yakobus. Saat surat ini dituliskan mereka sedang terpencar ke seluruh penjuru karena dianiaya oleh sebab nama Kristus. Mereka dinasehatkan Yakobus untuk menganggap penganiayaan tersebut suatu kebahagiaan atau sukacita. Karena tujuan pergumulan tersebut adalah menimbulkan ketekunan yang akan menghasilkan pribadi yang utuh dan tidak kekurangan apapun. Wah itu merupakan suatu hal yang luar biasa. Menjadi sempurna dan utuh.
Bagaimanakah Tuhan mengerjakan hal itu? Sebelum menjawabnya mari kita sifat dasar pergumulan atau pencobaan itu. Dalam ayat 13-15
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. 1. Pencobaan/pergumulan tidak berasal dari Allah 2. Pencobaan/pergumulan berasal dari keinginan-keinginan kita sendiri 3. Apabila keinginan itu dibuahi akan menghasilkan dosa 4. Apabila dosa terus dikerjakan akan melahirkan maut
Sungguh luar biasa bahwa Tuhan mengijinkan keinginan duniawi kita untuk membentuk kita dalam ketekunan. Keinginan itu bukan dimaksudkan agar kita jatuh dalam dosa. Namun agar kita dapat dengan tekun mematikan keinginan-keinginan tersebut sebelum dia menjadi dosa.
Sungguh Allah menunjukkan karakternya sebagai seorang Ayah. Dia tidak menghilangkan semua impuls-impuls kedagingan kita secara otomatis ketika kita lahir baru. Tapi Dia melatih kita untuk meregangkan dan membentuk otot kita untuk secara sadar mengasihi dan memilih Allah lebih utama daripada diri kita sendiri. Allah mengguakan pergumulan untuk mendewaskan dan menguatlan kita. Inilah yang dimaksudkan dengan "mematikan dalam diri" dalam surat Paulus kepada jemaat Kolose.
Kolose 3:5 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”
Dan Tuhanpun tidak sekedar mengijinkan kita diuji oleh pergumulan, Diapun menyediakan segala sumber daya supaya olehnya kita bisa tambah kuat dan menang. Yakobus menyatakan bahwa Tuhan telah menyediakan Hikmat dan Firman bagi kita.
Yakobus 1:5, 25 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
Jadi sekali lagi…
anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”










