RUANG PULANG YANG TIDAK SELALU BERWUJUD TEMPAT
Saya tumbuh dengan membawa banyak cerita, ada yang diciptakan sendiri karena terpaksa menjadi kuat, ada yang lahir dari pertemuan singkat dengan orang-orang yang datang hanya untuk meninggalkan jejak yang sulit hilang. Dalam perjalanan itu, saya pernah percaya bahwa semua hal bisa disimpan sendiri. Bahwa cukup menahan, cukup menelan, cukup berjalan, dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi semakin saya melangkah, semakin saya sadar bahwa manusia tidak pernah benar-benar baik-baik saja tanpa ruang untuk meletakkan apa yang mereka simpan. Ada cerita yang mudah diucapkan, tapi ada juga yang hanya hidup di kepala, mengendap seperti embun dingin yang menempel di pagi hari, tidak hilang tapi juga tidak sepenuhnya tinggal. Cerita-cerita itu terus menumpuk dalam diri, perasaan yang tidak selesai, percakapan yang tak pernah terjadi, pilihan yang terasa benar tapi menyakitkan, dan tawa-tawa yang dulu mudah sekali terlepas, namun kini harus dicari dulu sebelum ditemukan..
Mungkin itulah mengapa akhir-akhir ini saya lebih sering merasa ingin bercerita, meski tidak tahu kepada siapa. Bahkan tentang hal-hal sederhana buku yang dibaca, kalimat yang tiba-tiba mengusik, atau pemikiran kecil yang muncul saat malam terlalu sunyi. Saya tidak selalu butuh respons, kadang sata hanya ingin merasa bahwa apa yang dirasakan punya tempat untuk singgah. Bahwa cerita saya tidak menguap begitu saja di dalam kepala sampai saya sendiri tidak tahu lagi mana yang harus dipertahankan dan mana yang seharusnya dilepas..
Ada kalanya saya merasa seperti rumah yang tidak pernah selesai direnovasi, ada dinding yang retak, ada ruangan yang kosong tapi tidak pernah benar-benar sepi, ada pintu yang selalu dibuka untuk orang lain, tapi jarang dibiarkan terbuka untuk diri sendiri. Dan semakin saya dewasa, saya mengerti bahwa “rumah” tidak selalu berarti bangunan, ia bisa berupa seseorang, percakapan, kebiasaan kecil, atau bahkan ruang sunyi yang saya temukan saat menulis. Tempat di mana saya tidak harus menjadi kuat, tidak harus menjelaskan, tidak harus tersenyum jika memang lelah.
Yang saya butuhkan bukanlah banyak orang. Yang saya butuhkan adalah tempat untuk pulang, ruang yang menerima cerita-cerita tanpa menuntut akhir yang rapi. Ruang yang tidak menghakimi karena berubah, karena diam, karena ingin dipahami tanpa harus menjelaskan semuanya dari awal. Ruang yang membuat saya merasa bahwa meski hidup penuh titik-titik yang tidak terhubung, saya tetap punya tempat untuk meletakkan semuanya tanpa takut hilang.
Saya tidak mencari jawaban. Saya mencari ruang. Ruang yang bisa menampung perjalanan saya, perasaan saya, dan bahkan hal-hal kecil yang hanya ingin saya bagi tanpa alasan tertentu. Seperti buku yang membuat saya terdiam lama, atau kalimat yang mengajarkan saya bahwa tidak apa-apa merasa letih.
Pada akhirnya, mungkin yang paling manusiawi dari diri kita adalah keinginan sederhana ini, bahwa kita ingin didengar, meski tidak ingin dihakimi. Bahwa kita ingin pulang, meski tidak tahu di mana rumah itu berada.Dan bahwa kita ingin berbagi, meski satu-satunya yang kita cari hanyalah tempat untuk menaruh beban yang selama ini kita bawa sendirian.