Waktu seketika berhenti pada jam empat pagi. Udara segar meraba masuk dalam paru – paru diikuti nikotin yang bebarengan masuk mendesak kerongkongan yang hanya cukup untuk menampung oksigen. Di atas beranda rumah, aku masih terjaga.
Ku lihat jam di dinding dan nampaknya, kejadian ini terulang kembali. Jarum jam tak bergerak, semua berhenti pada satu waktu yang sama “ apa yang harus aku lakukan lagi untuk menghabiskan waktu? Tapi bagaimana aku menghabiskan waktu karena waktu telah berhenti? Apakah waktu sudah habis bahan bakarnya sehingga berhenti? Apa yang harus aku lakukan?” batinku kebingungan.
Kejadian yang sama terjadi kemarin, tepatnya pada pukul sebelas malam. Jarum jam berhenti, tapi aku tidak sadar akan hal itu. Baru aku sadar setelah aku turun menuju toilet. Semua orang berhenti, kebetulan rumahku sering dikunjungi teman – teman. Semuanya mematung pada satu gerak, ada yang sedang mengobrol, ada yang sedang bermain gitar, bahkan asap rokok yang sedang dihisap oleh temanku berhenti, seakan udara yang tak terlihat pun ikut juga mematung.
Aku kebingungan, aku mendadak frustasi. Ku panggil – panggil nama mereka dan ku goyang – goyangkan badan mereka. Tak ada yang menyahut satupun!, ekspresi mereka tak berubah sama sekali. Aku stress berat, panik, ku buat kegaduhan, ku tampar satu persatu muka mereka, ku ejek mereka di depan mata mereka dan nihil. Ku berlari keluar rumah, ku berlari mengelilingi kampung, ku berlarian seperti orang gila mencari kehidupan, entah di jalan raya, entah di minimarket, tak ada tanda – tanda kehidupan.
Terseok – seok karena berlarian, nafas demi nafas ku ambil sangat cepat, tapi, di dalam satu tarikan nafas terasa sangat berat. Aku sendiri di dunia ini, aku cemas karena tak ada seorang pun yang tak dapat ku tolong. Akhirnya aku putuskan tuk menyerah, ku ambil beberapa bungkus rokok dan air minum di mini market dan berjalan pulang menuju rumah. Tak ada orang yang menegur, tak ada yang meneriakiku maling, dan tak ada seseorangpun yang melihat aku, tak berdaya.
Sesampainya di rumah, aku duduk di ruang tengah, tempat dimana semua teman – teman ku berkumpul pada jam sebelas malam. Kusulut sebatang rokok dan kuhembsukan asapnya ke langit – langit ruang. Sukma mendadak mengambil alih setiap raga dalam diri ku, aku menangis sejadi – jadinya, ku murka, aku marah besar! “ Tuhan! Kenapa kau berikan aku waktu? Kenapa Tuhan? Kenapa!?, berilah aku satu waktu saja Tuhan agar aku bisa bagi dengan salah satu teman ku ini! Satu saja Tuhan! Satu! Kalau tidak, jatuhkanlah! Maka aku tak segan untuk mencarinya entah di belahan dunia mana, hoi! Tuhan! Jatuhkanlah! Aku tantang kau! “
Hening, tak ada suara satupun sampai gema murka ku tak terdengar. Kedua tanganku menutup mukaku, aku tertunduk lesu, pakaianku basah karena tangis yang setiap tetesnya mengandung ketakutan yang luar biasa atas tak berdayanya aku seorang diri. “ Lalu pada siapa lagi aku akan mengumpat? Sampai – sampai Tuhan enggan menanggapi murkaku. Tapi apa Tuhan sengaja melakukan ini? Tapi apa juga Tuhan berhenti, mematung, karena kejadian ini?” entah lah. Tapi, yang pasti, aku ingin memastikannya sendiri, aku percaya, dan aku putuskan untuk menemui Tuhan seorang diri.
“ Tapi, bagaimana caraku tuk bisa bertemu dengan Dia? Apa aku harus mati dulu? Tapi kalau aku mati, apa arwahku bisa menghadap Dia? Toh semua waktu sekarang berhenti? Entah akhirat pun berhenti atau tidak? “ aku jadi ragu, aku bimbang akan semua hal. Yang pasti yang bisa kulakukan sekarang hanyalah duduk sambil memandangi teman – teman ku yang sedang berbahagia.
Ku ambil pisau dapur dan kembali ke ruang tengah, ku letakan pisau itu di depan ku dan ku lihat tajam pisau itu. “ Aku ingin bertemu dengan Dia, aku ingin menanyakannya secara langsung entah dengan jalan apapun! “ ku memantapkan diri, aku ambil pisau itu perlahan, ku letakan pada tangan. Mata pisau itu siap menyambar urat nadiku kapan saja. Ku beranikan diri, ku kumpulkan keberanian dan......
“ Dia mau bunuh diri ? ”
“ Mungkin, tapi aku tahu dia masih ragu “
“ Iya, dia masih ragu mengambil keputusan”
“ Bukan!, dia ragu tuk bunuh diri”
“ Bukan! Bukan!, dia ragu mengambil keputusan yang mana, dia kan selalu sungkan pada setiap hal, bahkan sungkan terhadap dirinya sendiri”
“ Aku sepakat bahwa dia selalu sungkan pada dirinya sendiri, dia selalu menayakan ku tentang hal – hal yang akan diambilnya, entahlah aku serahkan saja keputusan pada dia toh setidaknya aku sudah menawarkan pilihan?”
“ Tapi kau harus memikirkan yang lainnya juga jangan beri dia pilihan yang memberatkan dia, dia selalu bimbang akan kesedihan dan kegembriaan, sampai – sampai dia ragu tuk mengambil keputusan karena.....”
“ Ya, ya, ya dia selalu memilihmu sebagai putusan yang paling tepat kan? Dan kamu tidak memberinya solusi, hanya pelarian sesaat dan akhirnya seperti ini jadinya! Kalau dia mati, kita juga mati!”
“ Kau selalu seperti ini, selalu saja kaku, tak memikirkan perasaannya”
“ Memang! Aku seperti ini, lah memang aku terlahir seperti ini ,tak punya perasaan. Dan kamu, selalu saja memikirkan rasanya, rasanya, rasanya, lah kamu pernah mikirin solusinya? Jalan keluarnya ?”
“ Y.. y ya bagaimana ya, kan aku juga memang terlahir seperti ini, tak bisa berlogika sama sekali, eh, mari kita teruskan perbincangan kita, dia itu bingung karena tidak bisa mengambil keputusan bukannya dia bingung karena mau bunuh dir... ?”
“ Sudah kalian berdua! berhenti berdebat!! Kalian siapa?” kataku memotong pembicaraan mereka
“ Kami? Siapa? Hahaha, kau tak kenal kami?”
“ Ya! Aku tak kenal kalian siapa? “ kataku dengan pisau yang belum beranjak turun dari urat nadiku.
Mereka berdua tertawa terbahak – bahak mendengar peryataan ku itu, mereka berguling – guling, sampai – sampai ludah mereka kemana – mana seperti hujan.
“ Lucu ini orang “ kata laki – laki itu
“ Woi! Jangan kau kotori wajah mereka dengan ludah najis kalian!, kalau tidak, kalau tidak...”
“ Kalau tidak kau mau apa? Kamu bisa apa? Yang kau bisa hanyalah duduk dan..... bunuh diri ? hahaha“
“ Kau biadap! Kubunuh kau! “ Aku lemparkan pisau itu kearah mereka, dan sayang sekali pisau itu tak mengenai mereka
“ Sudah, sudah hentikan, tak baik kita saling berkelahi...”
“ Kalian yang memulai bukan aku! Kalian tak tahu kalau waktu sedang berhenti? Kalian tak mengerti kalau aku tak berdaya? Ha? “ Pelan – pelan air mata ku keluar kembali tapi kali ini setitik demi setitik
“ Kami sangat tahu kondisimu, mungkin, kami yang paling tahu pikiran dan perasaanmu sekarang ini jadi, tenangkanlah dirimu sejenak “ kata wanita itu
“ Gimana aku bisa tenang? Katanya kalian yang paling tahu aku? Seharusnya kalian sudah tahu “ kataku tak sabaran
“ Sudahlah dia itu tak bisa di lembutin terus, harus di pecut baru jalan “ gerutu lelaki di sebelah wanita itu
Aku beranjak dari tempat duduk ku siap menerkam lelaki asing itu, dengan mata kemerahan, gigiku saling menggigit, ku layangkan pukulan keras kepadanya dan ternyata, wanita itu dengan sigap berada di depannya dan malah wanita itu yang terkena pukulanku. Wanita itu jatuh tersungkur, hidungnya berdarah, tapi dia tak menjerit kesakitan atau dia hanya menahan rasa sakit? Kalau wanita biasa terkena pukulan itu pasti dia akan merintih kesakitan tapi wanita ini tidak. Lelaki itu dengan cepat melihat wajah wanita itu, dia memeriksa jika ada hidung atau rahang yang patah, tapi ternyata tidak ada luka yang begitu serius, dia hanya mengeceknya saja dan menatapku dengan tajam tapi kosong.
“ Untung aku tak diberikan rasa oleh Tuhan, kalau iya, aku bisa marah karena kau telah menyakiti saudariku “ kata lelaki itu
“ Apa maksudmu? Jadi kau tidak marah karena aku telah menyakiti saudarimu?” kataku penasaran
“ Tidak, tidak sama sekali, bahkan aku tidak tahu apa itu marah? Apa yang memicu marah? Siapa itu marah? Untuk apa marah? Bagaimana marah itu?” kata lelaki itu dengan ekspresi yang sama ketika pertama kali aku menjumpainya, kosong.
“ Jadi bagaimana wanita itu? Maafkan aku karena telah meninju saudarimu, tapi aku tak kan melupakan apa yang kau katakan tadi, itu membuatku sakit! “
“ Dia baik – baik saja tenang saja, kalau itu maumu tak apa aku juga tak akan memikirkannya lebih jauh, aku juga tidak peduli jika kamu sakit ketika mendengar ucapanku karena yang aku ucapakan adalah kenyataannya kan?, toh ada yang lebih penting untuk dipikirkan saat ini “
“ Kenyataan? Kenyataan?!” kataku sambil menahan dongkol yang semakin lama semakin menggunung
“ Lah iya kan? Kamu tak bisa berbuat apa – apa, tapi kau ingin menolong teman – teman mu, jangan sok jadi pahlawan. Kamu itu harus menolong dirimu sendiri dulu. Eh, malah kamu mau lari dengan bunuh diri “
“ Tapi aku ingin bertemu dengan Tuhan! Satu – satunya jalan ya mati!”
“ Ingin bertemu dengan Tuhan? Yakin? Atau lari dari Tuhan? Atau jangan, jangan....... lari dari kehidupanmu?”
“ Brengsek kau!!.....” hampir aku beranjak lagi dari tempat duduk ku tapi, mata wanita yang kutinju itu mengalihkan pandanganku. Akhirnya dia sadar, dia membuka matanya. Sekejap ku meminta maaf kepada wanita itu. Wanita itu memaafkan ku dan menganggap insiden ini wajar – wajar saja. Aneh. Ya. Aneh.
Mata wanita itu penuh dendam, penuh amarah, tapi juga penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan kesedihan, semuanya seakan bercampur menjadi satu. Dia tersenyum sangat lebar, dan juga sangat mengerikan ketika marah. Untungnya aku tak kena cemooh-annya, malah – malah saudaranya itu yang terkena semprot wanita itu. Aku tertawa seaakan aku tak mempunyai rasa salah sehabis melontarkan pukulan keras pada wanita itu. Mereka terpaku melihatku tertawa. Mereka bertanya mengapa aku tertawa.
“ Ya karena aku yang meninjumu dan yang kau salahkan adalah saudaramu! Hahaha..” aku masih tertawa
Seakan mereka menganggapku ada, tapi di saat yang sama mereka menganggapku tak ada. Mereka melanjutkan pertikaian mereka. Mereka saudara yang tak pernah akur rupanya. Tapi, mereka saling melengkapi satu sama lain, wanita itu selalu penuh dengan semangat sedangkan lelaki itu membalasnya secara dingin dan wanita itu mendadak marah karena tak ada tanggapan yang hangat dari lelaki itu.
Aku kembali pada masalahku. Kuacuhkan dua saudara itu yang masih saja berdebat tentang siapa yang salah. Aku ingin bertemu Tuhan, aku ingin melihat wajah Tuhan, aku ingin sekali bersalaman denganNya. Aku pikir dan timbang – timbang lagi caraku untuk bertemu Tuhan. Mungkin mati tidak menjadi solusi, tapi apa?, apa? Apa jalan yang tepat untuk bertemu? Karena aku yakin, Tuhan pasti maha adil dan mengadili untuk menimbang secara adil, itupun kalau akhirat tidak berhenti waktunya. Ku pejamkan mata, ku buang suara dua bersaudara itu, kutarik nafas perlahan, getir dingin perlahan masuk kedalam aortaku, semakin dalam, semakin dalam, perlahan bau anyir semerbak terbang, dan akhirnya aku bertemu Dia di kegelapan.
Aku Ingin Bertemu Tuhan
indisczinepartij
Dipamerkan di Lir Space
23 agustus 2018