Jangan Menempatkan Agama pada Perasaan : Islam Sudah Sempurna!
"Seandainya agama dibangun dengan dasar perasaan maka yang lebih berhak menjadi pemimpin itu wanita karena wanita lebih mengedepankan perasaannya".
Agama adalah petunjuk yang diciptakan bukan didasarkan pada emosi, selera pribadi, atau sekadar "perasaan hati". Bahaya sekali jika dalam memandang agama sesuai mood harian, bisa saja nanti kita menganggap tidak shalat juga tidak apa-apa.
Karena itu kita harus luruskan bahwa Agama dibangun dari Wahyu Allah yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Kurang sempurna apalagi bahwa Islam sudah menyediakan tuntunan untuk kita menjalani kehidupan baik untuk berhubungan dengan Tuhan dan berperilaku dengan sesama manusia.
Agama Berlandaskan Wahyu, Bukan Emosi
Islam adalah agama wahyu yang petunjuknya datang dari langit (Al-Qur'an dan Sunnah), sehingga kebenaran tidak ditentukan oleh apakah ajaran itu terasa enak atau tidak di perasaan kita.
Misalnya, kewajiban tentang menutup aurat bagi perempuan seperti berhijab tidak bisa dilandaskan bahwa kita suka atau tidak. Tidak bisa juga kita mencari pembenaran bahwa "yang berhijab saja belum tentu baik".
Secara logika saja, manfaat menutup aurat bagi perempuan itu banyak sekali diantaranya menjaga kehormatan dari pandangan laki-laki yang berpotensi mengundang syahwat.
Tidak peduli kamu suka atau tidak berhijab hukumnya wajib karena dasarnya sudah ada dalam Al-Qur'an salah satunya :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Arab-Latin: yā ayyuhan-nabiyyu qul liazwājika wa banātika wa nisāil-muminīna yudnīna 'alaihinna min jalābībihinn, żālika adnā ay yu'rafna fa lā yużaīn, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā
Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Referensi: https://tafsirweb.com/39189-ayat-tentang-hijab.html
Perasaan Manusia Sering Berubah-ubah
Perasaan manusia tidak konsisten; hari ini bisa senang, besok sedih. Menggunakan perasaan sebagai standar kebenaran akan menyebabkan pemahaman agama yang labil dan tidak konsisten.
Memutuskan hukum dalam Islam menurut Imam Syafi'i dalam Kitab Ar-Risalah hierarkinya adalah :
Al-Qur'an: Sumber utama dan pertama yang absolut.
As-Sunnah (Hadits Shahih): Haruslah hadits yang tsabit (tidak diragukan/shahih) dan sanadnya bersambung.
Ijma': Kesepakatan para ulama, yang dianggap kuat selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Qiyas (Analogi): Menganalogikan masalah baru yang tidak ada teks hukumnya dengan masalah lama yang sudah ada hukumnya berdasarkan kesamaan 'illat.
Imam Syafi'i secara tegas menolak dan mengharamkan penggunaan istihsan sebagai metode penetapan hukum Islam (istinbath). Dalam kitab Ar-Risalah dan Al-Umm, beliau berpendapat istihsan hanyalah subjektivitas akal (hawa nafsu) yang mencari kemudahan, bukan berdasarkan dalil Al-Qur'an, Sunnah, Ijma, atau Qiyas. Beliau bahkan menyebutnya sebagai tindakan membuat hukum sendiri.
Bahaya Bid'ah (Mengada-ada)
Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin pernah menyatakan bahwa jika agama dibangun di atas perasaan, maka semua ahli bid'ah (orang yang mengada-ada ajaran agama) akan dianggap benar karena mereka merasa amalan mereka baik.
Bid'ah bukan sesuatu yang dapat disepelekan. Bid'ah (perkara baru dalam ibadah yang tidak ada dasarnya dari Nabi SAW) berbahaya karena tertolaknya amalan, dianggap kesesatan, menghalangi seseorang dari syafaat Nabi, bahkan menjerumuskan.
Pelakunya sulit bertaubat, menanggung dosa jariyah, serta dianggap merusak kesempurnaan agama Islam.
Mengikuti dalil meski berat
Seringkali perasaan malas atau keinginan pribadi bertentangan dengan perintah agama. Meletakkan agama di atas perasaan berarti mematuhi dalil (kebenaran) meskipun hati atau nafsu merasa berat untuk melakukannya.
Harus juga kita sadari bahwa hawa nafsu adalah musuh terbesar manusia. Kita punya agama yang jadi aturan dan tuntutan untuk memeranginya.
Hati Mengikuti Dalil, Bukan Sebaliknya
Tujuannya adalah menundukkan perasaan untuk mengikuti wahyu, bukan menundukkan wahyu agar sesuai dengan perasaan.
“Perasaan maulid Nabi baik ah.. kan bentuk cinta kita kepada Rosul..” “Perasaan tahlilan kematian baik deh.. kan kita mendoakan si mayit..” “Kan isinya ibadah..”
Itu kan hanya perasaan saja belum tentu benar secara syari'at.
Kesimpulannya adalah "Jangan Meletakkan Agama pada Perasaan". Islam adalah Agama yang sempurna dan Mengatur hal-hal kecil (seperti adab makan/tidur) hingga masalah besar (pemerintahan dan hukum).
Jangan Berhenti Belajar !


















