Terlambat belum tentu buruk, lebih cepat juga belum tentu baik.
Yakini saja bahwa setiap ketentuan yang terjadi sama diri kita akan ada pelajaran berharga di dalamnya. toh, Allah Maha Tau apa yang dibutuhkan setiap hamba-Nya.

Love Begins
Claire Keane
RMH
Game of Thrones Daily
KIROKAZE
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Keni
★
occasionally subtle

Product Placement
sheepfilms

No title available

@theartofmadeline

Game Changer & Make Some Noise

roma★
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du
Monterey Bay Aquarium

tannertan36
Mike Driver
seen from Brazil
seen from Bolivia

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Singapore

seen from Taiwan

seen from South Korea
seen from United States
seen from Malaysia
seen from India
seen from Dominican Republic

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Estonia
seen from Côte d’Ivoire
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Kazakhstan
seen from Malaysia
@haniffh
Terlambat belum tentu buruk, lebih cepat juga belum tentu baik.
Yakini saja bahwa setiap ketentuan yang terjadi sama diri kita akan ada pelajaran berharga di dalamnya. toh, Allah Maha Tau apa yang dibutuhkan setiap hamba-Nya.
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Kita akan selalu dan terus melakukan kesalahan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Namun pada akhirnya, kesalahan bukan untuk disesali berlarut-larut, apalagi dijadikan alasan untuk menyalahkan diri tanpa akhir. Kesalahan hadir untuk diperbaiki agar kita bisa menjadi versi diri yang lebih baik dari hari kemarin.
Berbicara soal memperbaiki diri, diri kita ibarat sebuah kendaraan. Ada kalanya ia harus diservis, diperiksa, bahkan mungkin dibongkar beberapa bagiannya. Tetapi sebelum itu, kita harus tahu dulu spesifikasinya. Motornya seperti apa? Bannnya tubeless atau bukan? Mesinnya matic atau manual? Supaya kita tahu cara memperbaikinya dengan tepat.
Langkah selanjutnya adalah mencari tahu akar masalah dari “kendaraan” kita. Jangan sampai yang seharusnya ban bocor dan perlu ditambal, justru hanya kita isi angin saja. Bukannya selesai, masalah itu justru terus berulang. Bahkan bisa jadi semakin memperparah kerusakan, bukan memperbaikinya.
Begitu pun dengan manusia.
Kadang kita merasa lelah, marah, atau kehilangan semangat. Lalu kita menambalnya dengan hal-hal instan, seperti: mengalihkan perhatian, menyalahkan keadaan, atau bahkan menyalahkan orang lain. Padahal bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan situasinya, tetapi cara kita memandangnya. Bukan orang lain yang harus berubah, tetapi luka lama dalam diri yang belum bener-bener kita sembuhin.
Memperbaiki diri bukan sekadar mengganti “ban luar”, tetapi berani mencari tau akar masalah dan melihat apa yang sebenarnya rusak (Gpp bgt klo mau minta bantuan orang lain ntah psikiater atau sekedar teman dekat/curhat/diskusi sekalipun untuk mencari tau ttg ini). Apakah ada pola pikir yang keliru? Apakah ada ego yang terlalu dominan? Apakah ada rasa kecewa yang belum kita ikhlaskan?
Proses ini memang tidak nyaman. Seperti kendaraan yang harus dibongkar, pasti berantakan dulu sebelum rapi kembali. Tetapi justru dari situlah perbaikan yang sesungguhnya dimulai.
Karena sejatinya, menjadi lebih baik bukan tentang tidak pernah salah. Melainkan tentang berani jujur pada kesalahan, mencari akar masalahnya, lalu memperbaikinya dengan sabar dan konsisten supaya kita bisa terus memberikan manfaat semaksimal mungkin...
Dan mungkin, itulah cara manusia bertumbuh :)
Teruslah bertumbuh dan berdampak~
BTS: motor saya udah diisi angin berulang kali tapi yang terjadi justru kempes terus sehingga sangat menggangu mobilitas saya. Akhirnya saya cari tau akar masalahnya dengan meminta bantuan orang yg lebih ahli, ternyata ada sobekan pada bannya. dan ketika itu pula saya baru tau, ban yg saya pakai tubeless.... Jazakallah khoiron pak 🙂↕️🙏🏻
Mendengar dan Membina
Pada akhirnya, kita harus tahu kapan bergerak dan berhenti sejenak untuk mendengar.
"Masbro gimana enaknya pemira?"
"Mas kok aku ra semangat meneh koyok bien ya?"
"Kok sekarang dakwah kampus lebih longgar ya?"
"Boleh to mas nonton bioskop bareng ikhwan akhwat?"
"Kader sekarang kok gasuka baca buku ya mas?"
"Ada opsi lembaga dakwah kita mau vakum mas, gimana pandanganya?"
"Aku nggak punya tujuan hidup ki, bingung mau ngapain setelah ini"
Belakangan, aku mulai belajar jadi pendengar yang baik. Meski kadang geregetan juga dengan beberapa hal. Menahan untuk merasa tidak lebih tahu dan menggurui ternyata sesulit itu.
Murabbiku pernah bilang bahwa esensi tarbiyah adalah tumbuh dan berkembang. Lebih lanjut, seorang al-akh harus memiliki kemampuan mendengar dan memberi ruang bertumbuh bagi generasi setelahnya dalam beberapa fase bertarbiyah.
Banyak kaderisasi lembaga dakwah berhenti bukan karena kekurangan kader, melainkan kurangnya senior yang memberi tauris dan ruang berkembang yang proporsi bagi generasi setelahnya.
Fenomena semacam Kanda Karca, Sastra Mesin, dan Ichal Kate (baca : senior yang suka ngatur-ngatur) memang ada dalam organisasi. Meskipun varian seperti itu jarang di LDK karena banyak dari mereka yang meninggalkan pasca demis, alih-alih membersamai. Kalau bisa, jangan ada yang berlebihan seperti itu
Walaupun sebagian yang pernah kutanya memang hanya ingin didengar, divalidasi, dan diberi sedikit saran. Tetap beri mereka ruang untuk bertumbuh dengan tantangnya.
Tapi apakah cukup hanya dengan itu? Tentu tidak.
Kontribusi selain mendengar adalah membina. Ya membina. Sebuah agenda yang harus kita lakukan sebagai upaya tarbiyah madal hayyah.
Halaqoh, murabbi, dan mutarabbi adalah core dari gerakan dakwah. Seandainya bisa menstabilkan fase ini tentu dakwah kampus akan muntijah dan minim pertanyaan-pertanyaan di atas.
Bagiku ini kemenangan awal.
Kemenangan dakwah kampus tidak selalu diukur dari kontestasi pemira. Dakwah kampus bermula dari ikhtiar menjaga nilai-nilai kebaikan bagi kader dan masyarakat kampus --dilihat dari keteladanan para murabbi yang diteruskan oleh mutarabbinya.
Maka selain mendengar, memberi ruang bertumbuh, jangan lupa untuk membina satu-dua kelompok, ikhwah.
Ceritakan siroh, ingatkan nasihat para salafus shalih, dan tak lupa untuk mutabaah amal-amal kebaikan di dunia.
Mulailah satu atau dua orang saja agar firman Allah senantiasa menggema di dalam jiwa pemuda muslim.
Kita tidak berhenti hanya untuk membentuk EO Dakwah. Lebih dari itu, kita adalah tempat dimana lahirnya para muharrik (penggerak) dakwah.
Mereka akan bertebaran di penjuru muka bumi, memimpin dunia esok hari, dan yang tak kalah penting akan mengambil bagian dalam membebaskan Masjidil Aqsha.
Persiapkan dirimu dan generasi setelahmu. Mari menuju tak terbatas dan melampauinya.
Surakarta, 12 Desember 2025. Menulis apa yang ingin ditulis
Cara pandang kita terhadap kesulitan yang sedang dihadapi berpengaruh besar kepada reaksi yang akan muncul pada diri.
Perilaku (Reaksi) = Cara Berpikir
Maka hal pertama yang harus kita gali adalah memahami bagaimana selama ini kita memandang sesuatu.
Allah nggak kasih kamu ikan besar,
karena kamu belum bisa jaga ember kecil.
Kita sering merasa sudah siap untuk hal besar, rezeki yang banyak, peran yang besar, pengikut yg ramai, amanah yg tinggi.
Tapi lupa, bahwa semua yang besar itu selalu lahir dari hal kecil yg dijaga sungguh-sungguh.
Bagaimana Allah mau titipkan hal besar,
kalau yang kecil saja sering kita abaikan?
Shalat yang sering ditunda,
amanah kecil yg ditinggalkan,
kata-kata yg lupa dijaga,
padahal dari sanalah barokah dimulai..
Kadang apa yang kita pikir buruk adalah yang terbaik menurut Allah SWT.
(QS. Al-Baqarah: 216)
Akhir tahun 2025 ini dihadapkan dengan banyaknya musibah yang menimpa masyarakat Indonesia. Mulai dari tanah longsor, banjir kecil hingga banjir bandang. Mustahil peristiwa ini terjadi tanpa arti. Sebelum terlambat dan semakin memperparah keadaan, saatnya kita merenungi dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Semoga kita dijauhkan dari golongan orang-orang yang berbangga diri dengan kerusakan yang diperbuatnya.
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”
اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari
Belum pergi, Dia sudah pulang
- Buya Hamka -
Aku ingin mengajak kalian untuk merenungi QS. Ali-Imran ayat 159 yang bunyinya:
فبما رحمة مّن اللّه لنت لهم ولو كنت فظّا غليظ القلب لانفضّوا من حولك
"Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu"
Jika kita coba perhatikan, bagaimana konteks dibalik turunnya ayat ini yaitu ketika kaum muslimin mengalami "kekalahan" karena menghiraukan perintah Nabi. Ketika apa yang terjadi tidak berjalan sesuai ekspektasi atau istilahnya mereka 'ngeyel', apakah Allah meminta Rasulullah untuk menghukum mereka?
Tidak. Justru Allah meminta Rasulullah untuk selalu berlemah lembut. Perintah itu bukan tanpa alasan. Di akhir ayat,
"Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu"
Itu menunjukkan bahwa segala apa yang kita perbuat perlu mempertimbangkan antara mudharat dan maslahat yang akan terjadi.
Ini berlaku ketika kita bersosial di tengah masyarakat, akan ada hal² yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Di situlah Allah menguji kesabaran hamba-Nya agar senantiasa berlemah lembut dan bersikap adil dengan tetap mempertimbangkan maslahat dan mudharatnya.
Sumber:
Jurnal karya Muslihati, Hairul Hudaya (2022) dengan judul, "Kelembutan dalam Rumah Tangga: Studi Takhrij Hadis dengan Pendekatan Psikologi"
"Lulusan pondok kok pakaiannya begitu?? Kok nggak Syar'i (sesuai syariat)?" Dan kok-kok lainnya.
Bukan sekali dua kali, hal ini bahkan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Dan sering kali kata-kata ini dilontarkan oleh orang-orang di luar itu, bahkan orang yang disebut "santri" sekali pun.
Tulisan ini bukan untuk merendahkan atau menyinggung orang-orang yang tidak nyantri. Kalau mencari itu, bukan di sini tempatnya. Yang saya inginkan, tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi saya pribadi dan alangkah baiknya bisa diterima oleh orang lain.
Bila diperhatikan, ekspektasi yang diletakkan masyarakat kepada seorang "santri" itu cukup besar. Bukan menjadi beban, tapi jadikan ia sebuah pengingat, tameng, dan renungan tentang apa yang harus ku jaga dan kebermanfaatan apa yg bisa kuberikan...
Saya kira untuk seorang santri, saya berhusnudzon sudah paham dengan syariat Islam. Jadi, tidak perlu ber babibu untuk menjelaskannya.
Dunia Tempatnya Lelah
Bukan dunia kalau nggak lelah. Beramal baik capek, tapi melakukan perbuatan buruk juga capek. Mana yang kamu pilih?
أفلا تتفكرون
"apakah kamu tidak berpikir"
Sedangkan Allah akan membalas kesabaranmu dalam beramal Sholeh (melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya secara konsisten) di dunia dengan kenikmatan berupa surga. Bahkan karena kesabaranmu, para malaikat akan menyambutmu dengan sebuah penghormatan (QS. Ar-Ra'd : 24)
Lelah gpp asal hadiahnya surga 🤲🏻
Sumber: tafsir Ibnu al-Jauzi
Mindset memengaruhi cara pandang kita
Jika kita melatih untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, maka kenikmatan akan senantiasa menghiasi hari-hari kita.
QS. Al-Qamar dan QS. Ar-Rahman. Keduanya memiliki keterkaitan. QS. Al-Qamar menyebutkan kalimat "Fakaifa kaana 'adzaabii wa nudzur" sebanyak empat kali, yang menggambarkan kengerian serta menekankan peringatan tentang azab bagi orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya.
Sedangkan QS. Ar-Rahman menyebutkan kalimat "fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan" sebanyak 31x penyebutan. Ayat-ayat dalam QS. Ar-Rahman mengingatkan manusia, melalui akalnya, untuk selalu mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah dalam segala keadaan.
Hal ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah. Sifat-Nya sebagai Ar-Rahman mencakup seluruh makhluk di dunia, termasuk mereka yang tidak beriman, sementara sifat-Nya sebagai Ar-Rahim diberikan secara khusus kepada orang-orang beriman di akhirat.
Maka, cobalah untuk tidak selalu berfokus pada satu masalah, ujian, atau hal-hal yang tidak mengenakkan, hingga kita lupa bahwa begitu banyak nikmat yang telah diberikan-Nya. Nikmat itu bukan hanya berupa materi, tetapi juga takdir yang telah digariskan-Nya. Misalnya, ketika seseorang telah merencanakan sesuatu, tetapi Allah berkehendak lain. Hal itu mungkin terasa tidak nyaman, tetapi cobalah berpikir positif terhadap setiap ketentuan-Nya. Bisa jadi, Allah sedang mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih besar dari rencana yang kita buat sendiri.
Jangan lupa untuk beribadah. Ibadah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga wujud syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan, baik yang kita sadari maupun yang belum kita pahami. Sebab, meskipun Allah tidak pernah meminta imbalan atas kasih sayang-Nya, sudah selayaknya kita membalasnya dengan ketakwaan dan keikhlasan.
Sumber: Tafsir Mafatihul Ghaib, karya Imam ar-Razi
#ramadhan day 1