lah, tadi kita sholat apa?
sore itu, hari sabtu, dimana kubuka materi 4 dengan pertanyaan âKalian yakin dengan agama islam?â semua mata tertuju padaku. melihat tajam, seakan berbisik didalam hati sambil bergumam âini pemateri kafir? atau memang ilmu keislamannya dangkal?â.
semua tatapan mata itu kubalas dengan senyum murah yang diujungnya semakin membuat mereka bingung. kembali kuulangi pertanyaan itu. masih saja sekitar 20an pasang mata itu menatap dengan heran. senyumku pun semakin lebar dan semakin murah memperhatikan tingkah mereka.
âberarti kalian tidak ada yang percaya islam?â, kembali mulutku bergumam. tatapan yang tadi bingung berubah menjadi sedikit kesal. mulut yang tadi terkunci perlahan berbisik antara satu dengan yang lain. kukembalikan dengan senyum murah yang membuat mereka semakin geram.
limabelas menit sudah berdiri, dan mereka masih belum menemukan jawaban pada diri mereka sendiri. kembali kulempar pertanyaan yang akhirnya membuka mulut-mulut bungkam itu, âkalian islam kan?â. seketika kelas riuh dengan jawaban âyaa islam lah mas..â diujung terdengar celetukan âinikan pelatihan pemuda muslim, lantas kalo ga islam ya gabisa ikut masâ. panitia yang standby dibelakang pun keheranan.
jawaban tersebut lantas kutimpali dengan pertanyaan pertama, âtapi kalian yakin ga dengan islam?â. kembali mulut-mulut itu terbungkam. dan senyumku semakin merekah.
dari pertanyaan sederhana inilah akhirnya kusadari seberapa pentingnya berislam. alasan yang menjadikan semakin terikatnya hati ini dengan keislaman. layaknya kebahagiaan dalam kehidupan, masing-masing pribadi akan mencari cara menggapai kebahagiaannya. lantas bagaimana dengan islam?
satu tangan akhirnya mangacung dibelakang, âizin ke belakang masâ, gemuruh tertawa pecah dikelas. menit keduapuluh belum satupun menanggapi pertanyaan ku tadi. kemudian berdirilah satu tangan dengan manset lengan panjang. ya, seorang perempuan. âsaya yakin masâ, lantang dengan nada ragu. âkenapa kamu yakin?â, balasku singkat. âyaaaa, karena Allah sudah menjelaskannya diayat sekian dan surat sekianâ jawabnya ketus. senyumku merekah, wajah mereka seakan lega mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut.
âokee, rukun islam ada berapa?â, tanyaku.
âlimaaaâ, jawab mereka serentak.
lugas, cepat, dan tepat mereka babat semua rukun islam. kembali kulemparkan pertanyaan. âbuat yang cowo nih, seminggu ini berapa kali shubuh di mesjid?â, kembali mulut yang bersemangat tadi bungkam. âyang cewe, seminggu ini udah berapa juz ngajinya?â, dan jawaban yang kuterima adalah tatapan kosong dengan raut muka sedikit sebal.
âterus, bagian mana yang menjadikan kalian yakin dengan islam?â, kembali mata-mata itu berfikir keras mencari jawaban yang bisa melegakan mereka. seperti orang kehausan ditengah gurun, semua mata mencoba meraba ke segala arah, menggapai apapun sehingga bisa menghilangkan dahaga. âatau islam tidak betul-betul agama yang kalian inginkan? atau bisa jadi agama lainlah yang bisa menuntun ke surga?â. suasana hati panas, mata membelalak, satu tangan berdiri, âiman kan diyakini dengan hati, dilafazkan dengan mulut, dan dilakukan dengan perbuatan mas, jadi ya cukup dengan diyakini saja..â. saut seorang anak muda dengan perawakan kurus dan jangkung. terlihat dari kakinya yang panjang.
âcukup dengan meyakini saja? kemudian bagaimana orang diluar sana yang tidak percaya dengan quran untuk bisa yakin?â, kembali mulut-mulut berbisik riuh. sudah sejam pertanyaan itu menjadikan mata-mata itu kebingungan. bertanya, berfikir, bahkan meng-suâudzon-i pemateri yang mulai lelah berdiri.
kembali kutimpali pertanyaan itu, âokee, pertanyaan selanjutnya, islam itu agama yang benar? atau agama yang paling benar?â, semakin membelalak dan kebingungan. senyumku kembali merekah menikmati kebingungan mereka. yang menurutku, pertanyaan ini akan semakin memperkeruh suasana.
terdiam sesaat, menjelang pukul setengah lima sore, terdengar lantunan adzan di beberapa masjid disekitar tempat dauroh dilaksanakan. bukan hanya satu masjid, bahkan lebih dari tiga-empat masjid mengumandangkan adzan. sepasang mata dihadapanku membelalak, ditengah suasana kebingungan akan jati diri keislamanya, raut wajah yang menyatakan âjujur, aku panik!!â, seorang wanita dengan kerudung segi empat polos, tanpa kaus kaki, dan memakai kemeja berbahan flanel dengan ringan berucap, âlaah, tadi kita sholat apa?â.