AWAL | AKHIR (By : Dehira)
'Klenting,klenting...' berkali-kali lonceng pintu café berbunyi,tanda pelanggan masuk atau pergi. Pagi ini dingin sekali, padahal sudah nyaris masuk angka 11 pagi. Kaca-kaca mulai mengembun, dan daun di pepohonan nyaris sempurna gugur.
"Kayaknya salju bakal turun hari ini ya,Ge!", Rania memecah hening, sembari menyeruput susu hangat yang dibiarkan sedari tadi. "Kayaknya iya..." Gema terdiam, lalu melanjutkan perkataannya, "Mau ngomong apa, Ra?". Akhirnya salah satu berani memangkas basa-basi yang memang sudah basi, 30 menit berlalu tanpa topik berarti. Gema merasa sesuatu pasti terjadi. Ra mematung sejenak, mengatur nafas dan berulangkali memijat tengkuk yang tak pegal.
"Ehmm... Besok tahun ke 5 kita kan,Ge?". Tentu ucapan ini bukan pertanyaan, melainkan titik penting dari sebuah persidangan. Gema diam, meletakkan kembali kopi yang tak sempat diseruputnya. Lidahnya kelu, Ge tau, salah sedikit bikin semua rencananya bersama Ra tak menentu. "Ra, tahun depan aku lulus...",Ge meneguk ludah, mencoba menatap Ra yang terpaku pada jendela.
Sedangkan Ra, dalam kepalanya ada ribuan alasan yang mudah saja membuat dia tak membahas 'tahun ke 5', ia tau ada banyak hal yang harusnya bisa dikompromikan. Terlebih Ge yang sibuk menamatkan pendidikan S2nya, dan Ra? Dia adalah pekerja. Ya, dia adalah pekerja yang akan menetap di Negeri Sakura dalam jangka waktu lama. Sementara Ge, tahun depan akan kembali ke Indonesia, menunaikan baktinya. Dan justru itu permasalahannya.
"Tahun depan kamu lulus. Aku tau, Ge. Tapi apa bisa kamu janji, tahun depan kita sudah ganti status?" 'strike 1', Ra tepat sasaran. Raut wajah Gema berubah, tak tau harus berkata apa. Ia tidak bisa berjanji, menikahi anak gadis orang, LDR, tanpa persiapan finansial yang matang. "Jangan khawatir masalah biaya, Ge.", 'Strike 2', Ge mendengus mendengar perkataan itu. "Mudah bagi kamu, Ra." Retak! Jawaban itu meretakan hati Ra, pun juga Ge. Ra menutup mata berharap tak ada kata lanjutan dari Gema. "Apa salahnya sih mundur 2 tahun lagi? Kasih aku waktu untuk selesaikan semua dan mengumpulkan dana. 5 tahun lho Ra! Nggak sebentar, toh kita juga bisa bertahan sejak aku S1 disini." Gema tahu, tak seharusnya ia berkata demikian, tapi ia sangat butuh pengertian. Bulir bening jatuh dari mata indah Ra. Suara Ra memberat dan berkata, "Tapikan kamu sudah janji.", 'Strike 3', Gema mengusap wajah dan menghela nafas panjang, tak tau harus berkata apa. Andai uang tabungannya tak raib tahun lalu, mungkin ia bisa tepati janjinya. Mereka terdiam 10 menit lamanya, membiarkan minuman-minumannya mendingin.
"Ge...", Ra memotong ucapan gema. "Bapakku sakit, Ge.. aku ga tau apa beliau bisa menunggu 2 tahun lagi." Ra berhenti sebentar, "Kalau liburan musim dingin ini bisa pulang.." belum sampai Ra menamatkan penjelasannya, Gema menyela, "Ga bisa, Ra. Maaf..". Itulah keputusannya. Kali ini bukan hanya mata Ra yang basah, pun juga Gema beserta seluruh hatinya. Tidak ada titik tengah seperti biasa. Semua rencana runtuh seketika, menyisakan hampa, berkemul angin musim yang mendingin, menyisakan ngilu dihati yang luka. Mereka tidak bisa apa-apa.