Check out this awesome 'GUNDAM' design on @TeePublic!

Love Begins
Not today Justin

titsay

⁂

Kaledo Art
KIROKAZE
Game of Thrones Daily
d e v o n
RMH
No title available
Sweet Seals For You, Always
Misplaced Lens Cap

if i look back, i am lost

izzy's playlists!

ellievsbear
Mike Driver
wallacepolsom
No title available
DEAR READER
taylor price

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from Lithuania

seen from Singapore
seen from Mexico

seen from United States
seen from United States

seen from Colombia
seen from United States
seen from South Africa

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from North Macedonia
seen from Netherlands

seen from South Africa
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@ihdizein
Check out this awesome 'GUNDAM' design on @TeePublic!
lebih baik berkarya dari pagi, dari pada berkarya sampai pagi
Bukan Konsumsi Publik
Hampir terlelap sebelum menulis ini, setelah ide tulisan ini muncul pun saya masih berusaha untuk terus terlelap tidur. namun ternyata mata ini masih enggan terpejam. mungkin karena ini masih dibawah jam 10 malam. selama kuliah DKV rasanya sudah tak terhitung berapa kali begadang bahkan sampai tak tidur untuk beberapa hari demi menyelesaikan tugas kuliah. tugas yang sebenarnya sudah diberikan satu pekan sebelumnya. namun tetap saja H-1 menjadi pilihan untuk memulai mengerjakan tugas itu, karena katanya deadline membuat hidup jauh lebih hidup.
setelah lulus kuliah saya memang sudah jarang begadang. tidur kurang dari jam 12 malam. mungkin karena alasan jam kerja yang sudah tertata dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore, dari hari senin sampai hari jum'at. tuntutan untuk bertangung jawab juga menjaga fokus bekerja membuat saya mulai belajar membagi waktu antara bekerja dan istirahat. mengutip dari perkataanya Emte bekerja dari pagi lebih baik dari pada bekerja sampai pagi. kadang saya malah rindu untuk begadang. melihat jam yang masih menunjukan pukul 10 malam ditambah besok hari sabtu jadi kerja libur. mungkin tak ada salahnya untuk menulis ini, tapi akan mulai dari mana?
mungkin mulai dari judul tulisan ini yang terinspirasi saat membaca story dari kenalan saya di instagram @astroruby. saat dia membuat story tentang pertanyaan kenapa dia jarang menunjukan wajah aslinya di sosial media seperti kebanyakan pengguna sosial media lainya. yang kemudian dijawabnya dengan kata bukan konsumsi publik. memang jika kita lihat akunya dia tak pernah memposting foto dirinya. kalaupun memposting itu sudah dalam bentuk ilustrasi karakternya. di sisi lain ada yang sudah berhijab bahkan bercadar masih memposting fotonya ke sosial media. padahal dari yang saya baca jika cadar atau hijab bertujuan untuk menutup dan menjaga kehormatan. namun fotonya dipost dan dilihat oleh banyak orang yang mungkin bukanlah mahramnya. sementara di kajian yang pernah saya ikuti dalam islam seorang laki-laki dianjurkan untuk menundukan pandanganya terhadap lawan jenis. dan sekarang menundukan pandagan bukan hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya.
juga kehidupan pribadi kita. sewaktu kuliah saya pernah ditawari pekerjaan sebagai admin website berita oleh teman saya Yosia ardianto. sebelum menerima pekerjaan itu dia mengingatkan untuk tidak memberitahukan atau memposting pekerjaan saya ke sosial media. karena penasaran alasanya kenapa jadi saya tanyakan. itu karena dia takut nanti teman-teman angakatan kuliah ada yang iri. bisa saya pahami karena waktu itu adalah masa angakatan kami sedang mengerjakan tugas akhir. waktu yang kurang tepat rasanya jika saya memposting tentang pekerjaan juga mungkin untuk sama-sama menjaga perasaan.
meski saya akui masih sulit sejujurnya untuk tidak mempublish pencapaian ataupun hal yang menjadi kebanggaan ke story instagram atau status whatsaap. saya pribadi kerap kali masih ingin membagikan atau istilahnya riya kepada orang lain dan sejujurnya saat saya membagikan itu ada keinginan untuk diakui, ada keinginan untuk dipuji orang lain. dan iya kita sama - sama tau bahwa hal ini tidak diperbolehkan dalam islam. mengutip sebuah hadist.Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’.(HR. Ahmad 5: 429.)
di hari raya idul fitri misalkan saat memposting foto kita bersama ayah dan ibu, bisa jadi ada teman kita yang ayah atau ibunya sudah tidak ada lagi. dan jika kita berada diposisinya kemudian melihat postingan kebersaman dengan orang tua mungkin akan terasa sedih. juga saat berada di tempat makan dan membuat instastory makanan-makanan sementara bisa jadi ada teman kita yang sedang menahan lapar. malam ini saya diiznkan mengingat kembali semua ini untuk saya jadikan pengingat paling tidak diri saya sendiri untuk memikirkan dampak dari apa yang saya saya posting kepada orang lain, insyaAllah.
Photo by Steinar Engeland on Unsplash
deadline membuat hidup lebih hidup
Pelajaran yang bisa saya ambil dari menulis skripsi, bahas ilmu dunia saja mesti menggunakan rujukan yang jelas, apalagi bahas agama. Masa pake “menurut saya” lah siapa saya.
Minimal
Tulisan baru di blog lama, kembali ke tumblr setelah akun Medium terkena suspend beberapa bulan lalu. hal itu berakibat pada hilangnya tulisan dan akun saya dari medium secara umum. untungnya masih bisa diakses secara pribadi dan masih bisa membackup tulisan-tulisan sederhana ini. dari hal itu saya sempat malas untuk menulis, namun satu sisi saya juga ingin mengabadikan apa yang saya alami ke dalam sebuah tulisan, juga menyuarakan apa yang saya pikirkan. hal itu cukup berharga paling tidak untuk diri saya sendiri.
Minimal, dosen saya Pak Eko Haryanto yang juga paham tentang dunia arsitektur pernah mengatakan bahwa konsep minimalis adalah menggunakan yang perlu dan meniadakan yang tidak perlu. dalam penataan ruangan misalnya trend interior saat ini kata beliau mulai didesain sederhana.
ingatan tentang minimalis muncul saat saya mulai banyak pikiran dan kemudian berpikir bagaimana jika saya menerapkan minimalis dalam saya berpikir. jadi meniadakan pikiran-pikiran yang tidak perlu dan memikirkan hal yang perlu saja.
setelah lulus kuliah Ibu beberapa kali mulai menanyakan tentang pernikahan, dan kadang saya hanya mengalihkan pertanyaan itu dengan topik lain meski ibu sadar jika saya hanya mengalihkan pembicaraan. melihat ke belakang ibu saya selalu mewanti-wanti untuk tidak pacaran. bukan karena alasan agama, keluarga saya pun bukan keluarga yang sangat religius. toh juga saat itu teknologi belum secanggih saat ini. informasi kampanye tentang menikah muda dan anti pacaran belumlah ada, apalagi indonesia tanpa pacaran. alasan itu lebih karena ekonomi. saya diminta untuk tidak neka-neko pacaran dan fokus untuk belajar.
tak terasa waktu itu telah terlewati dengan saya yang tak pernah pacaran sampai saat ini, sampai saya lulus kuliah, Allhamdulillah. belakangan ini saya juga mulai berbikir akan useless rasanya jika saya berpikir terlalu jauh namun kenyataanya masih begitu banyak hal yang perlu untuk disiapkan. melihat realitas yang ada, kenyataan tetaplah tak sesederhana yang disuarakan kompor menikah muda. mungkin saat ini adalah masa untuk saya bekerja dan menyiapkan tabungan untuk masa depan. meski kita tak pernah tau tentang masa depan kita akan seperti apa, tapi tak apa toh masa depan juga bukan hanya tentang pernikahan namun juga kematian.
Photo by Helena Hertz on Unsplash
bagaimana kalo konsep minimalis bukan hanya diterapin di bidang desain, tapi juga pikiran. jadi cuma mikirin hal yang perlu dan engga mikirin yang tak perlu
yang beli ipad pro cuma buat paperless
kenapa gak pernah selfie?, bukan konsumsi publik
bagaimana mau menghalalkan anak orang, menghalalkan software aja belum kesampaian
useless juga kalo udah mikir jauh tapi belum punya cukup tabungan, tapi masih pengin beli gundam.
Setelah Lulus Kuliah
Sudah satu bulan wisuda, satu hari setelahnya saya memutuskan untuk segera kembali ke kampung halaman. meninggalkan kota Semarang tempat saya merantau selama kurang lebih lima tahun untuk belajar tentang desain. mungkin karena sudah tidak ada alasan lagi berada di kota ini juga rasanya ada banyak hal yang mesti disegerakan.
Desain, dulu mengambil kuliah ini karena ingin menghindari pelajaran matematika. lima tahun belajar tentang desain bisa dibilang waktu yang cukup lama, tapi Alhamdulillah masa kuliah sudah terlewati. menjelang wisuda saya mulai berpikir akan kemana setelahnya? bahkan mungkin jauh sebelum wisuda, seperti beberapa fresh graduate lainya yang mungkin sering bertanya-tanya akan kemana setelah lulus kuliah nanti. bekerja atau melanjutkan pendidikan lagi. pilihan bagi saya tentulah bekerja tapi ke mana? beberapa bulan sebelum mendekati wisuda saya sempat ikhtiar mencari lowongan pekerjaan di Linkind dengan harapan saat saya lulus nanti sudah tidak perlu lagi mencari pekerjaan, namun hal itu tidak membuahkan hasil.
hingga suatu hari sebuah direct message masuk ke akun Instagram saya. seorang yang saya kenal saat ini sebagai art director sekaligus teman tempat saya bekerja. dia (karena umur kami yang tidak terpaut jauh) menawarkan pekerjaan sebagai UI designer di studio barunya, Fikri studio. UI designer, hal yang sejujurnya baru saya pelajari di awal tahun ini, menyadari hal itu saya berusaha menjelaskan bahwa saya baru belajar tentang UI dan takut mengecewakanya. tapi Alhamdulilllah dia mau mengajari saya dan bahkan menunggu saya hingga lulus kuliah. Allhamdulillah saya sudah mendapatkan pekerjaan sebelum lulus kuliah, pekerjaan itu menjadi salah satu alasan untuk menyegeragakan kuliah dan meninggalkan kota Semarang.
Sepulangnya dari Semarang saya kembali ke desa, menjalani kehidupan pasca kampus yang kata orang tidak lagi idealis. mencoba berbaur kembali dengan masyarakat desa pikiran tentang gaya hidup yang instagramable dan layak untuk masuk instastory sedikit mulai berubah. mungkin karena kehidupan di desa yang masih sederhana dan apa adanya. beberapa kali saya bertemu dengan teman sepermainan yang kini telah melangkah menuju pelaminan, melihat kehidupan rumah tangga mereka di desa hidup itu rasanya jadi sederhana. sesederhana bangun pagi, beribadah, bekerja dan menjalani kehidupan mereka tanpa perlu memikirkan perkataan orang lain.
baru seumur jagung bekerja di studio UI/UX saya manjadi icon designer sekaligus illustrator. Hal yang baru, mengingat dulu yang saya pelajari adalah illustrasi. tapi mungkin ini adalah kesempatan saya untuk mempelajari hal baru. sebuah tulisan yang pernah saya baca saat kita lulus kuliah kita bukan buku yang penuh dengan catatan, melainkan buku kosong yang halamanya bertambah dan siap untuk diisi. dari tulisan itu saya mulai belajar untuk tidak membatasi belajar hal-hal baru.
ini mungkin tidak semua tapi saya bersyukur saya mulai membangun portfolio semasa kuliah. jika tidak salah ingat sejak semester tiga saya mulai memanfaatkan waktu luang untuk berkarya dan menguploadnya ke situs-situs portfolio dan sosial media seperti behance, dribbble, facebook dan juga instagram. dari situ bisa jadi merupakan langkah ikhtiar saya untuk menjemput rezeki juga jalan saya mendapatkan pekerjaan. karena lewat perantara portfolio yang saya upload di Behance tawaran untuk pekerjaan ini datang.
Jika tidak salah ingat selama kuliah saya pernah mencoba berbagai pekerjaan, dari mulai jualan donat, freelancer illustrator, ilustrator di Hijab Alilla, ilustrator buku anak, dan terakhir bekerja di sebuah situs berita online. namun beberapa pekerjaan itu kurang bisa saya pertangung jawabkan karena alasan kuliah atau bisa jadi saya yang kurang bisa menghargai pekerjaan yang sudah saya dapatkan. dari hal itu sekarang saya belajar untuk lebih menghargai pekerjaan yang sudah saya dapatkan dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, InsyaAllah.
Photo by Icons8 team on Unsplash
Terima Kasih Semarang
Belum lama saya mengetahui jika penulisan kata terima kasih itu dipisah bukan disambung. tak terasa sudah tiga pekan saya meninggalkan Semarang setelah lima tahun menjadi mahasiswa seni rupa konsentrasi DKV di kota pahlawan.
Allhamdulillah selama di semarang saya dipertemukan dengan banyak teman-teman baik, dengan teman-teman Ikhwan rosul yang merupakan sebuah kos binaan mengajak saya untuk terus belajar memperbaiki diri dengan adanya kajian rutin juga saling mengingatkan untuk sholat berjamaah di masjid. rohis, organisasi yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang juga mengajak dalam kebaikan. teman-teman di jurusan seni rupa yang saya rindukan.
sejujurnya kadang saya masih merasa berada di semarang. bukan hal yang bisa dengan cepat rasanya melupakan banyak kenangan di semarang selama lima tahun di sana. tapi bagaimanapun hidup harus terus berjalan, senang bisa mengenal kalian semua, Terima kasih :)
Photo by Matt Jones on Unsplash
Di Persidangan
Sudah beberapa pekan blog ini tak terjamah, juga sosial media saya lainya. meski ke-alphaan saya di sosial media tak begitu penting untuk diceritakan, tapi paling tidak bisa saya gunakan untuk mengawali tulisan ini.
Hari rabu 19 September lalu saya Allhamdulillah baru saja melaksanakan sidang proyek studi, saya senang, orang tua senang, teman-teman juga senang. satu hari bahagia sebelum hari bahagia lainya katanya. saya sempat berbipikr untuk tidak mengabarkanya kepada teman-teman saya lainya, mungkin karena toh ini hanya sidang, hal yang bisa jadi biasa saja jika dibandingkan dengan teman-teman atau ade angkatan saya yang sudah kuliah S2 atau dapat beasiswa ke luar negeri, sidang ini pastilah hanya sebuah pencapaian kecil. namun mungkin hidup juga bukan hanya tentang orang-orang yang luar biasa, bisa jadi juga tentang orang-orang “biasa” yang menjalani hidupnya. Iya pada akhirnya saya mensyukuri semua ini, Allhamdulillah.
Di hari saya sidang banyak teman-teman saya yang menyempatkan datang ditengah kesibukan mereka. jika saya boleh sebutkan sebagai ucapan terima kasih ada Lilis, Lili, Aan, Nizar, Dina, Rendy, Tiara, Ica, Babas, Mas guntur, Yulia, Erlin, Luluk putri, dan teman-teman yang mengirimkan pesan WA menyampaikan dukungan serta ucapan selamat.
Sidang itu jadi moment saya untuk mempertangung jawabkan Proyek studi yang telah dikerjakan selama lebih dari satu tahun di hadapan dosen dan beberapa teman saya di ruang persidangan yang menuntut saya untuk mempersiapkan diri berbicara menyampaikan presentasi sebaik mungkin. saya pernah membaca sebuah nasihat “siapa yang naik mimbar tanpa persiapan maka ia pun akan turun mimbar tanpa penghormatan”.
Ikhtiar menyiapkan segala yang terbaik, soal nanti hasilnya akan seperti apa tinggal tawakal, toh tiada daya dan upaya tanpa kuasaNya.
Allhamdulillah Allah memudahkan dan saya bersyukur karena mendapatkan dosen pembimbing yang sabar dan juga bersahabat, ibu Rahina dan bapak Rondhi terima kasih telah sabar membimbing saya juga kepada dosen-dosen seni rupa lainya.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(QS. Al Insyirah: 5-7).
Sidang pun selesai, hari itu terlewati. sejenak saya merenung tentang bagaimana saat persidangan itu terjadi? Jika untuk sidang proyek studi saja saya berusaha memberikan yang terbaik, lalu bagaimana saat “dipersidangaNya” nanti, saat kita menghadap Allah kelak? menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai bentuk pertangung jawaban kita selama di dunia. waktu yang terus berjalan, usia yg semakin menua, dan kematian yang pasti akan datang.
Photo by Dan Gold on Unsplash
Jalani Dulu
Kapan lulus? merupakan pertanyaan yang kerap kali saya terima sebagai mahasiswa tingkat akhir. meski bukan paling akhir karena “masih”, atau lebih tepatnya “sudah” semester sebelas dari jatah empat belas semester yang diberikan kampus. bisa jadi untuk beberapa jurusan lain di semester ini belum lulus bahkan sidangpun belum merupakan sebuah beban tersendiri. tapi di DKV entah mengapa belum lulus di semester ini masih terkesan wajar, mungkin karena yang baru wisuda di rombel saya baru satu orang. mestinya ini jadi cambuk untuk kami bahwa jika teman saya bisa lulus cepat mengapa saya tidak?
satu sisi saya seakan iri dengan teman saya yang sudah lulus, namun satu sisi saya masih bisa bersyukur ketika melihat teman-teman yang benar-benar sudah semester akhir. semester 14 untuk S1 dan semseter 10 untuk D3 yang masih berikhtiar menyelesaikan kuliahnya. jika saya pikir lagi ternyata masih ada yang lebih berat dari yang saya alami namun mereka terus berjuang.
Flashback beberapa bulan lalu sekitar bulan Juli kerap kali saya berbagi cerita dengan mereka saat rasa malas menghampiri diri atau sekedar berbagi beban tentang apa yang saya rasakan. dari situ beberapa teman bilang “jalani saja dulu” meski mereka tau akan peraturan bahwa waktu kuliah tinggal beberapa bulan lagi dengan resiko D.O jika Agustus belum juga dinyatakan LULUS dengan sebelumnya melewati proses pameran dan sidang.
Di bulan Agustus ini saya mendapat kabar bahagia dari mereka bahwa ada perpanjangan waktu sampai akhir September untuk mereka bisa menyelesaikan masa studinya. Allhamdulillah, saya banyak mengambil hikmah dari seringnya bertukar cerita dengan mereka, tentang bagaimana tidak menyerah dan terus berikhtiar semampu kita dan mengabaikan kekhwatiran yang terjadi nantinya.
entah apa yang terjadi jika mereka menyerah saat mereka tau bahwa Agustus sudah harus pameran, sidang dan dinyatakan lulus. mungkin kesempatan perpanjangan waktu tak bisa mereka manfaatkan. namun Allah maha baik dengan tambahan waktu lebih dari satu bulan.
senang rasanya mendengar dan melihat foto mereka saat selesai sidang. jika mereka masih mau terus berjuang bahkan di titik akhir. lalu bagaimana dengan diri ini?
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ( QS. Ar-Ra’du 11 )
Case Study: Aplikasi Ta’aruf
Catatan: Ini hanyalah sebuah ide aplikasi, saya sendiri belum pernah ta’aruf apalagi menikah. Jadi analisa masalah dan juga pembuatan designnya masih berdasarkan asumsi.
Background
Teman-teman dalam lingkaran saya Allhamdulillah termasuk dalam orang yang sholeh dan sholehah, InsyaAllah. Pembahasan tentang menikah kerap kali saya dengar bukan hanya saat kami berkumpul, bahkan sampai pada sosial media yang tak jarang masih menyinggung tentang pernikahan, akun-akun dakwah di berbagai sosial media juga.
Untuk masuk pada jenjang pernikahan perlu persiapan serta pemikiran yang matang, sebuah ikhtiar seseorang baik jasmani maupun rohani untuk mendapatkan pasanganya. Cara yang umum dilakukan orang adalah dengan pacaran. Namun pacaran tidak diperbolehkan dalam agama saya (islam), meski islam tak mengenal istilah pacaran namun islam mengenal ta’aruf.
Ta’aruf adalah cara mengenal pasangan tanpa pacaran yang diajarkan oleh Islam. Tapi saya merasakan istilah ta’aruf mulai mengalami penyempitan makna menjadi “pacaran islami”. Mereka bilang hubungan mereka ta’aruf tapi masih chatting, berpegangan tangan, berkholwat atau sejenisnya dan dengan keukuh menganggap apa yang dilakukanya adalah ta’aruf, bukan pacaran.
Saya pribadi tidak banyak mengetahui bagaimana ta’aruf yang semestinya dilakukan, tapi berdasarkan kajian yang saya dengarkan dari Ust. felix, kemudian motion graphic Hijab Alila yang berjudul ATM saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ta’aruf berarti saling menggenal. Ta’aruf antara lelaki dan wanita berarti saling mengenal sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. dan ada 3 hal yang perlu diketahui antara ta’aruf, khidbah/lamaran, nadzor/melihat calon pasangan.
Catatan yang diperhatikan terkait ta’aruf
Sebelum akad nikah kedua calon pasangan baik lelaki ataupun wanita statusnya adalah orang lain. Mereka tidak mahrom jadi berlaku aturan wanita yang bukan mahrom tidak diperkenankan berduaan, bercengkrama dan seterusnya baik langsung maupun lewat media lainya. Luruskan niat ta’aruf karena itikad baik untuk menikah bukan untuk koleksi kenalan atau icip-icip karena tindakan ini termasuk mempermainkan orang lain dan bisa termasuk kedzoliman. Menggali data pribadi dengan tukar biodata secara tertulis sehingga tidak harus bertemu untuk saling cerita, tulisan mewakili lisan. Tidak berkomunikasi langsung tapi melalui pihak ke-3.
Jika suatu saat saya ingin menikah tanpa proses pacaran namun dengan ta’aruf. Mempersiapkan banyak hal baik secara materil, moril dan mencari seorang perantara untuk menghubungkan saya dengan calon istri.
What If?
Saya membayangkan bagaimana jika seorang yang ingin ta’aruf bisa dengan mudah menemukan pihak ke-3 sebagai perantara untuk melakukan ta’aruf. Atau, mungkin orang yang ingin menjadi perantara dan berkeinginan membantu mereka yang belum menemukan pendamping hidupnya.
Ide AplikasiPada awalnya saya sempat berpikir untuk mengadaptasi sistem pada datting apps karena tujuanya sama-sama diperuntukan untuk mencari pasangan. Namun setelah saya pikirkan lagi menikah merupakan hal yang serius dan bukan lagi untuk main-main. Apalagi sudah ada batasan jelas bahwa saat ta’aruf pun statusnya masih orang lain yang belum mahrom dan tidak diperkenankan bercengkrama baik langsung maupun lewat media lainya. Dari situ maka konsep berubah dari yang awalnya mempertemukan dua orang yang sama-sama ingin ta’aruf menjadi memepertemukan orang yang ingin ta’aruf dengan seorang perantara.
1. Pendaftaran User
Aplikasi ini dimulai dengan pendaftaran user menggunakan email beserta biodata pribadi.
2. Home
Pada bagian home terdapat menu Al-quran, Perantara, Tabungan, dan Majelis pra nikah. menu ini saya pilih berdasarkan pertanyaan kepada diri sendiri tentang apa saja yang sekiranya saya butuhkan sebagai persiapan sebelum menikah. menu ini bisa digunakan sebagai bekal ilmu untuk memfasilitasi proses Ta’aruf.
3. Perantara
Pada menu perantara memungkinkan untuk memilih orang ke-3 untuk menjadi perantara mereka berdua.
4. Chat
Chat dibuat sebagai sarana mendiskusikan apa saja yang perlu dipersiapkan. fokus kepada fitur chat dan menambahan lampiran untuk melampirkan file biodata maupun foto yang nantinya digunakan selama proses ta’aruf.
Kesimpulan
Dari proses yang saya lakukan tujuan dari aplikasi ini bisa disimpulkan sebagai tempat untuk mencari dan berinteraksi antara seorang yang ingin taaruf dengan pihak ke-tiga sebagai perantara. Hal ini dilakuaan untuk menghindari kholwat antara mereka.
Saya pernah membaca tulisanya Kangkikur saat memulai proses taaruf yang dalam tulisanya dia samasekali tidak menyimpan kontak dari calon istrinya. Artinya selama proses ta’aruf sampai walimahan komunikasi tidak dilakukan secara langsung, namun lewat seorang perantara. Berat? iya berjuang.
Tulisan pertama tentang case studi. Maaf saya masih dalam proses belajar UI, Jika ada saran atau apapun terkait ide aplikasi ini silahkan dituliskan di kolom komentar.Terima Kasih :)
Sudah Pagi
Pagi, bangun, cek hp, buka WA, chat grup rame mau nimbrung tapi sungkan pengin keluar tapi segan, buka tutup beranda, dan bercanda tanpa makna. kebiasaan un-faedah yang sering kali saya lakukan hampir setiap pagi. Sebuah tandatanyapun kemudian muncul. Sebenarnya bagaimana cara mengawali hari dalam Islam sesuai dengan ajaran Rosullullah Saw. Beberapa menit mencari saya pun menemukan kajian ustad Budi Ashari yang membahas tentang bagaimana Rosullulah memulai harinya.
1. Shalat Sunnah Qobliyyah Shubuh 2 Rokaat: Nabi mengawali hablum minallah (hubungan dengan Allah), dengan melakukan shalat ringan dua rakaat (Qobliyyah Shubuh). Dari Aisyah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Dua rakaat (sebelum) Shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).
2. Memperbanyak dzikir: Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”Jabir menjawab, “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670) An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan).
3. Mendatangi orang terdekat dan terkasih dalam hidup: Untuk mengawali hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), beliau nya. Yaitu istrinya. Beliau menyambut pagi dengan merekahkan senyum bagi istrinya. Kalimat lembut yang hadir dari hati menyapa penuh makna. Bayangkan seorang istri yang membuka cahaya harinya dengan perbincangan penuh kasih sayang dari suaminya! (DR. Abdul Wahhab Ath Thurairy)
4. Melaksanakan shalat dhuha: Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR Muslim).
Semoga dari sunnah-sunah itu perlahan, mulai dari hal yang terkecil, yang paling ringan kita bisa mengamalkanya. mandi jugaRefrensi: Cara Nabi Mengawali Hari
Photo by Danielle MacInnes on UnsplashPhoto