Aku didiagnosa stress berat dan gangguan penyesuaian oleh psikolog setelah beberapa kali terapi. Aku bersyukur tidak sampai depresi, namun ini saja sudah cukup menggangguku.
Berusaha mencari tahu apa yang salah dan kenapa aku bisa sampai seperti ini, yang jelas semua berawal dari trauma, kesalahan memaknai kejadian buruk, yang akhirnya melahirkan kesalahan perilaku.
Titik dimana harusnya aku lulus dan wisuda, aku terkapar dalam rasa sakit, kecemasan, ketakutan, putus asa, kehilangan semangat hidup dan perasaan campur aduk lainnya. Hingga semua aktivitas harian terasa sangat melelahkan. Ketika bangun aku takut menghadapi kenyataan, dan melarikan diri dengan cara tidur, ketika tidur justru aku mimpi buruk, kemudian bangun lagi dengan sangat menderita.
Singkatnya, waktu memaksaku agar segera sembuh. Bahwa kondisiku saat ini, tentu mengubah cara pandangku selamanya : tentang bagaimana memaknai kehidupan.
Dulu, aku terbiasa menggunakan sudut pandang, hidup itu pencapaian, cita-cita setinggi langit angkasa, harus punya 1001 keinginan yang ditulis kemudian dipajang ditembok kamar, dan berjuang sampai semua daftarnya tercentang, tidak boleh menyerah, menangis tidak menyelesaikan masalah, positif thinking setiap hari, supaya otak yang hanya dipakai 10% bisa optimal menjadi 100% (akhirnya kusadari ini “pseudosains” alias sains yang hoax), semua ini membuatku gila.
Hidup tidak seperti pidato motivator. Hidup bukan hanya tentang pencapaian. Hidup itu belajar. Belajar ikhlas bila kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan ekspetasi. Belajar memaafkan semua hal yang terlibat dalam dalam proses bertumbuh kita, terutama bagi yang pernah menggoreskan luka. Belajar melepaskan apa yang harusnya kita lepaskan. Belajar merasa cukup dan tidak menyalahkan diri sendiri. Belajar berdamai dengan kegagalan dan ketakutan. Belajar untuk lebih banyak menerima daripada mengendalikan. Belajar untuk lebih banyak memberi daripada membeli. Dan masih banyak lagi.
Sekali lagi, hidup adalah tentang belajar.
Selagi masih bernafas, jangan pernah merasa terlambat karena merasa kalah cepat dengan orang-orang diseklilingmu. Kamu tidak terlambat, inilah waktu yang tepat untukmu, waktu yang sudah ditentukan oleh Tuhan, waktumu untuk belajar,
belajar memaknai kehidupan.