Kita Tak Pernah Benar-Benar Tahu
Manusia sering terburu-buru menilai. Padahal, yang terlihat belum tentu benar, dan yang benar belum tentu terlihat.
Kita mudah menyimpulkan hidup orang lain dari potongan cerita, dari status yang ditulis, dari ekspresi yang terekam sesaat. Lalu tanpa sadar, kita memberi label seolah tahu segalanya tentang seseorang. Padahal di balik senyum bisa ada lelah yang dalam.
Di balik sikap dingin bisa ada trauma yang belum sembuh. Dan di balik ketegaran yang kita kagumi, mungkin ada tangis yang tak lagi terdengar karena sudah terlalu sering jatuh. Kita tak pernah benar-benar tahu bagaimana seseorang bertahan. Kita hanya melihat hasil dari perjuangan panjang yang tak pernah disiarkan.
Maka sebelum menilai, tundukkan hati. Belajarlah melihat dengan empati, bukan asumsi. Karena bisa jadi, yang kita anggap sombong sedang berusaha kuat. Yang kita kira baik-baik saja justru sedang menahan hancur. Dan mungkin, yang paling membutuhkan doa bukanlah mereka yang terlihat sedih, tapi mereka yang paling pandai menyembunyakan sakitnya.
—Rini Alfianita, Rain 💧












