What's this? The red-lined bubble snail (Bullina lineata), a marine gastropod. Bizarre and beautiful, yes?
i am strange and i look like a peppermint. is that ok .
Jules of Nature

Game Changer & Make Some Noise
Show & Tell
occasionally subtle
The Bowery Presents
Misplaced Lens Cap
★
todays bird

No title available
Sade Olutola

bliss lane
Sweet Seals For You, Always

Kiana Khansmith
ojovivo
Not today Justin
hello vonnie
No title available

gracie abrams

No title available
No title available
seen from United States

seen from Panama
seen from Pakistan

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Colombia

seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from Uzbekistan

seen from Italy
seen from Türkiye

seen from Pakistan
seen from Saudi Arabia

seen from Türkiye
@inilailla
What's this? The red-lined bubble snail (Bullina lineata), a marine gastropod. Bizarre and beautiful, yes?
i am strange and i look like a peppermint. is that ok .
Kamu adalah satu-satunya orang yang akan selalu hidup dengan dirimu setiap hari. Tidak ada liburnya, tidak ada pergantian peran.
Dari pagi yang paling cerah sampai malam yang paling sunyi, kamu akan selalu jadi penghuni tetapnya. Menyaksikan, merasakan, menanggung, dan berharap.
Hanya karena kamu tidak seharusnya hidup sendirian, belum tentu egois jika meletakkan dirimu di urutan pertama.
Kamu adalah satu-satunya orang yang akan selalu hidup dengan dirimu setiap hari. Tidak ada liburnya, tidak ada pergantian peran.
Dari pagi yang paling cerah sampai malam yang paling sunyi, kamu akan selalu jadi penghuni tetapnya. Menyaksikan, merasakan, menanggung, dan berharap.
Hanya karena kamu tidak seharusnya hidup sendirian, belum tentu egois jika meletakkan dirimu di urutan pertama.
sebenarnya, manusia yang kurang empati itu mengerikan. jangankan untuk memahami kondisi orang lain, untuk sekadar menyadari bahwa tindakannya menyakiti saja pun mereka tak mampu.
dan yang lebih menyeramkan adalah, mereka tidak merasa bersalah. dalam kepala mereka, semua tampak wajar, semua terasa layak, bahkan ketika luka yang mereka timbulkan bersarang di hati orang lain dalam waktu yang lama.
Luka Batin yang Ditunggangi Setan
Aku pernah baca quote dari Carl Jung yang bagus banget. Katanya, "masalah-masalah terbesar dalam hidup pada dasarnya tidak dapat dipecahkan dan hanya dapat diatasi melalui tingkat kesadaran yang baru."
Analogi garam dan segelas air bisa mewakili konteks ini, which is kalau kita masukkan segenggam garam ke dalam segelas air, rasanya bakal sangat asin. Tapi kalau garam yang sama dimasukkan ke dalam danau, rasanya hampir nggak kerasa. Artinya emang nggak semua masalah benar-benar diselesaikan (di analogi itu, garamnya nggak berkurang), tapi kita yang bertumbuh melewatinya sehingga kita lebih besar dari masalah itu dan akhirnya masalah itu nggak matter dan mendesak lagi.
Masalahnya, nggak semua orang punya kesediaan, kesiapan, dan daya untuk meluaskan diri atau diluaskan oleh Allah.
Aku nggak sedang mengecilkan luka batin atau masalah yang dialami tiap-tiap manusia ya, karena aku tau setiap orang mengalami takarannya masing-masing yang unik dan khas, sehingga tempo batinnya pun bakalan beda-beda. Nah dalam proses itu, kalau seseorang emang bener-bener gak mau menyerahkan diri dan bergantung ke Allah, setan bisa masuk sebagai oportunis yang memperbesar, memelintir, dan mengarahkan luka.
Kita bisa liat kenyataannya bahwa banyak sekali yang memilih tak bertuhan melalui jalur emosional dan kemudian melogikakan pilihannya/kemungkarannya. Atau memilih jalur-jalur haram seperti:
karena duka fatherless, jadi alasan untuk melampiaskan ke lawan jenis melalui pacaran/zina
karena dendam/iri/dengki, melakukan ritual ilmu hitam untuk menjatuhkan orang lain
karena ujian kemiskinan, jadi bersekutu dengan iblis untuk jadi kaya, atau melakukan kriminalitas
Aku nggak bermaksud menyinggung siapapun. Ini pure hikmah yang aku peroleh dari sebulan lebih menyimak penelusuran di channel youtube Kisah Tanah Jawa. Harus kuakui, pikiranku baru terbuka bahwa manusia bisa sejahat itu demi nafs ammarahnya. Dan gak expect pelakunya sebanyak itu di dunia ini. Dan nggak ada akhir yang baik dari orang yang wafat dalam keadaan menjadi budak nafsunya.
At the end, setan nggak pernah membiarkan kita mendapatkan manfaat dari Al-Qur'an, dari sholat kita, dari silaturahmi kita, dan dari hal-hal baik yang kita lakukan. Makanya kemudian, sebuah kalimat dari Ust. Faizar (praktisi ruqyah) cukup membuatku termenung.
"Milikilah kesadaran uluhiyah. Kesadaran terstruktur bahwa kita cuma hamba dari Allah saja. Kita hanya tunduk pada Allah saja."
—lalu kulanjutkan, "Bukan hamba penyakit, hamba obat, hamba dari masalah, hamba kepribadian, hamba pandangan manusia, hamba trauma, maupun hamba anxiety, dan lainnya."
Di situ posisinya Ust. Faizar sedang menangani kasus perempuan yang sedang dilemahkan setan karena penyakit hati orang lain kepadanya, sekaligus perempuan itu sendiri punya luka batin yang tak terselesaikan yang menjadi kendaraan setan untuk melemahkannya.
Karena emang nggak bisa disangkal, luka batin yang ditunggangi setan bisa bikin manusia learned helplessness (merasa nggak punya kontrol atas dirinya, sampai akhirnya bahkan berhenti mencoba). Mirip dengan siapa ya kalo udah berputus asa dari rahmat Allah? Yes, iblis (balasa).
Dalam hal ini, aku juga jadi mendalamkan makna bahwa ketika orang-orang menyuruh sholat tuh sebenernya outcome-nya bukan auto sembuh. Kalo buatku sendiri akhirnya sholat tuh sebagai pembuktian bahwa aku bukan hamba dari apa-apa yang melemahkanku. Aku hamba dari hanya Allah, dari sumber Haula wa Quwwata. Aku hanya tunduk pada Allah. Aku merdeka. Dan aku nggak mengizinkan masalah atau luka mendistorsi cara pandangku terhadap Allah dan takdir.
Di surat Al-Hajj (22) : 53 juga dijelaskan bahwa :
"Dia (Allah) hendak menjadikan apa yang dilontarkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh (dari kebenaran)."
Rajin-rajinlah beresin hati, bersihin hati, dan luasin hati. Biasakan diri untuk memaafkan dan merelakan sesuatu yang bukan haknya. Jangan kasih bensin bagi hasad dengan gibah, tahassus, dan tajassus. Kadang-kadang penyakit hati emang seimplisit itu, sehalus itu, sesamar yang kata hadis mah, seperti semut hitam, berjalan di atas batu hitam, pada malam hari.
Terakhir, untuk siapapun yang punya pengalaman traumatis, mudah-mudahan Allah berikan daya untuk berikhtiar, agar bersedia memproses dirinya serta bersedia diperjalankan Allah menapaki jalan menuju pulih.
Aku juga mengutip apa yang Mas Amai (KTJ) ucapkan saat meruqyah 'pasiennya', "minta rasa cinta yang banyak sama Allah." Jujur nangis pas dengernya 😭😭😭. Beliau tahu betul problem orang-orang yang mudah dipengaruhi setan tuh salah satunya karena hati yang kosong dari meminta rasa cinta ke Allah. Hati yang ketika merasa tak berdaya, tidak meminta kekuatan dari Sang Sumber. Hati yang ketika dijahati dan dikecewakan dunia, tidak kembali kepada Sang Penyayang. Hati yang nggak mau dipeluk, disayang, dan dirahmati Allah.
Dua tulisan ke belakang emang masih refleksi tentang hal-hal begini, karena jujur sebagai lulusan S1 saintek yang lintas jurusan ke magister psikologi, mekanisme jiwa manusia tuh nggak kayak alam semesta yang konstan mengikuti rumus-rumus fisika. Jadi sisi reflektifnya datang dari case atau pendekatan yang berbeda juga. Mudah-mudahan bisa diambil baiknya. Last of the last, minta pertolongan dengan sabar dan sholat gais. Dunia makin gak baik-baik aja.
— Giza, masih refleksi tentang iman, sholat, dan dirinya
Cantik sekali kalimat ini;
“jalur langit memang tak terlihat oleh mata, tapi insyaAllah semua akan tertata”
Don’t let your empathy be greater than your self respect.
may your next ramadān be in makkāh and medināh. آمین
Tentang Sebuah Luka yang Nyata, dan Allah yang Jauh Lebih Nyata
Aku tahu, rasanya sesak sekali. Ada hari-hari di mana kamu hanya ingin diam, karena menjelaskan rasa sakitmu pun terasa melelahkan.
Luka itu nyata. Kecewa itu ada. Dan aku tidak akan memintamu untuk langsung berpura-pura baik-baik saja.
Tapi, bolehkah aku membisikkan satu hal?
Terkadang, Allah membiarkan hati kita dipatahkan oleh dunia, hanya agar tidak ada lagi ruang untuk selain Dia di dalamnya. Kita seringkali terlalu erat menggenggam sesuatu yang sejatinya bukan milik kita. Kita menaruh harapan setinggi langit pada manusia yang dasarnya adalah tempat salah. Lalu saat semua itu hilang, kita merasa hampa. Padahal, rasa hampa itu adalah undangan. Undangan dari Allah agar kamu kembali bersujud.
Bahasa-Nya begitu halus... Dia tidak memaksamu, Dia hanya membuatmu menyadari bahwa hanya di sajadah itulah kamu benar-benar menemukan telinga yang mendengar tanpa menghakimi.
Luka ini bukan hukuman. Luka ini adalah "alarm" kasih sayang-Nya. Dia merindukan rintihan doamu. Dia merindukan air mata yang jatuh karena takut dan harap kepada-Nya, bukan karena meratapi hamba-Nya.
Jangan fokus pada siapa yang menyakitimu, tapi fokuslah pada Siapa yang sedang menunggumu kembali.
Allah itu nyata. Kasih sayang-Nya melampaui rasa sakitmu. Janji-Nya tentang "kemudahan setelah kesulitan" itu pasti.
Pelan-pelan ya...
Biarkan luka itu sembuh bersama waktu dan ketaatan. Kamu tidak perlu berlari, cukup melangkah kecil menuju Dia. Sebab saat kamu mendekat pada-Nya sejangkal, Dia akan mendekat padamu sedepa.
Semoga hatimu segera diberikan ketenangan yang luas, seperti luasnya ampunan dan rahmat-Nya.
Amin.
Begitulah manusia. Pintar menciptakan badai di dalam kepala, lalu mengeluh karena merasa kehujanan.
Mungkin sudah waktunya kita berdamai dengan ketidaktahuan. Mengakui bahwa kita tidak selalu perlu tahu segalanya untuk tetap melangkah. Bahwa cemas tidak pernah benar-benar menyelamatkan apa pun—ia hanya menggerogoti hari ini demi besok yang belum tentu ada.
Dan barangkali, di antara segala keruwetan pikiran itu, yang paling kita butuhkan hanyalah percaya. Bahwa tidak semua yang belum terjadi harus ditakuti. Tidak semua kemungkinan buruk akan menjadi nyata. Dan tidak semua hal harus kita kendalikan untuk tetap baik-baik saja.
:)
Sembunyikanlah amal ibadahmu dari orang lain sebisa kamu menyembunyikannya. Sembunyikan dari menceritakannya (sum'ah) kepada orang lain atau memamerkan secara sengaja atau pun tidak (riya').
Karena sungguh Allah akan mengujimu atas amal itu setiap kali setelah ada potensi sum'ah atau riya' dilakukan. Dan sungguh menjaga niat sangatlah sulit, betul betul sulit. Bahkan sekelas ulama pun berulang kali mengatakan bahwa menjaga niat sangatlah berat.
Siapakah yang bisa menjamin niat kita tetap lurus karena Allah? Atau ibadah itu kita perjuangkan demi pandangan kagum dan ucapan "masya Allah" dari orang yang mengetahuinya?
Siapakah yang bisa menjamin bahwa kita akan tetap istiqomah menjalankan amal itu? Diri sendiri? Allahul mustaan, jangan sampai ada kesombongan, ujub pada hatimu dalam setiap amal ibadah yang dilakukan.
Sungguh, setiap amal itu bisa kamu lakukan, murni karena taufik dan pertolongan Allah. Dan sungguh, kapanpun Allah bisa cabut taufik itu. Lalu, amal ibadah yang sebelumnya kita rutinkan, kini hanya tinggal sejarah, tidak pernah dilakukan lagi oleh kita.
Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggamanNya, peringatan ini ditujukan terutama untuk diriku yang sangat lemah, lalu untuk kamu, yang aku cintai karena Allah.
Abis nonton Escape, doa ini gue catet di dalem kepala, karena sebagai manusia yang pikirannya sering kusut dengan berbagai macam penyesalan dan what ifs, wording doa ini pas banget buat gue:
"Yaa Allah, berikanlah aku kesabaran dalam perkara yang tak bisa aku ubah, berikanlah aku kemampuan dan kekuatan dalam perkara yang bisa aku ubah, dan berikanlah aku kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya."
Get addicted to Istighfar. Istighfar removes anxiety, answers your duas, erases your sins, and brings barakah into your life, health, and wealth. It makes your affairs easy and opens doors to sustenance. Keep your tongue moist with Istighfar, especially during your fasts.
Hidup tidak melulu perihal pencapaian besar yang berdampak bagi orang banyak.
Kadang, mampu bertahan saja sudah luar biasa hebat.
Kita sering lupa bahwa tubuh ini memiliki batas fisik yang nyata. Kita memaksakan diri untuk menggenggam segala hal, pekerjaan yang tak kunjung usai, tanggung jawab yang tumpang tindih, hingga perasaan-perasaan yang sebenarnya bukan lagi milik kita untuk dijaga. Kita bertingkah seolah-olah memiliki seribu jemari, padahal tanganmu cuma dua.
Jika engkau terus memaksakan diri untuk memegang semua beban itu sekaligus, pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa kau genggam dengan erat. Genggamanmu akan melonggar karena kelelahan, dan semua yang kau perjuangkan justru akan jatuh berserakan.
Pahamilah, bahwa melepaskan bukan berarti kalah. Melepaskan adalah cara untuk memberikan ruang bagi hal-hal yang benar-benar berharga untuk menetap. Jangan biarkan hatimu yang hanya satu itu menjadi sesak oleh riuh rendah dunia yang tak sanggup kau kendalikan. Belajarlah untuk memilih; genggamlah apa yang mampu kau rawat dengan sungguh-sungguh, dan lepaskanlah apa yang memang sudah seharusnya pergi demi menjaga kewarasan jiwamu sendiri.
Jangan hukum dirimu atas ketidakmampuanmu menampung samudera. Sebab hatimu bukanlah wadah tanpa dasar, Ia adalah ruang suci yang butuh ketenangan, bukan sekadar tumpukan. Hatimu hanya satu, jangan kau biarkan ia pecah hanya karena kau enggan melepaskan apa yang bukan lagi takdirmu.
Genggamlah yang memberimu makna, Lepaskanlah yang hanya memberimu luka. Sebab hidup yang tenang dimulai saat kau tahu kapan harus menarik erat, Dan kapan harus merelakan dengan lapang dada.
Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam banyaknya hal yang kau miliki, melainkan dalam keberanianmu melepaskan apa yang tidak lagi layak kau bawa.
@clichemistry