Seorang perempuan menghubungi saya, bercerita tentang suaminya yang kerjanya hanya santai-santai di rumah.
Ketika diajak diskusi, sang suami bilang, bahwa dia begitu karena dulu sang istri sering ngatur-ngatur suami, jadinya dia malas untuk melakukan ini dan itu.
Sekarang, sang suami minta agar sang istri bertanggung jawab. Ia minta istri bekerja, dan cari penghasilan juga.
Kisah ini nyata, bukan buatan.
Kekanak-kanakan, itulah status yang sering saya berikan bagi mereka yang belum dewasa. Kekanak-kanakan itu tidak memandang usia, siapapun bisa mengalaminya.
Banyak orang di sekitar kita (atau bahkan kita sendiri), tidak sadar bahwa mereka masih kekanak-kanakan. Apa ciri orang kekanak-kanakan? Mudah, mereka tidak melakukan apa yang orang dewasa lakukan.
Saat ada masalah, anak-anak cenderung menyalahkan hal atau orang lain, sedang orang dewasa, mengambil tanggung jawab tersebut.
Saat ada hal sulit, anak-anak cenderung minta orang lan yang mengerjakan, sedang orang dewasa, belajar untuk melewati hal tersebut.
Saat ada masalah, anak-anak marah, tidak mau dengar, tidak mau diajak diskusi, sedang orang dewasa, mereka meredam emosi, dan mencoba mencari solusi.
Saat ada masalah, anak-anak selalu lihat ke belakang dan masa lalu, sedang orang dewasa, mereka fokus pada masa depan.
Jika anak-anak kekanak-kanakan, itu wajar saja, bahkan mungkin lucu. Tapi kalau orang dewasa kekanak-kanakan, itu tidak ada lucu-lucunya, kadang malah merepotkan orang lain.
Alasan kenapa orang masih kekanak-kanakan dan tidak dewasa, adalah karena mereka memang tidak pernah dididik menjadi dewasa, dan lingkungan membiarkan dirinya kekanak-kanakan.
Karena itu, jika kita menghadapi orang kekanakan-kanakan, kita harus dewasa. Karena solusi takkan lahir dari dua orang yang kekanak-kanakan.
Jadi, apakah kita ini masih kekanak-kanakan, atau sudah dewasa?
(KE)KANAK-KANAK(AN)
Bandung, 9 November 2020
@choqi-isyraqi