Mata membasah,
lidah jangan mengaku gembira.
Mulut membisu,
tapi doa jangan sesekali senyap.
- sederhanaindah
tumblr dot com
we're not kids anymore.
styofa doing anything

blake kathryn
Cosmic Funnies
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available

shark vs the universe
Show & Tell
he wasn't even looking at me and he found me
Monterey Bay Aquarium

izzy's playlists!
YOU ARE THE REASON
NASA
Cosimo Galluzzi
TVSTRANGERTHINGS
will byers stan first human second

seen from India

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from Belgium

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Sweden

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@julliesua
Mata membasah,
lidah jangan mengaku gembira.
Mulut membisu,
tapi doa jangan sesekali senyap.
- sederhanaindah
Mintalah kelapangan. Kau selalu butuh itu.
Selepas Kecewa, Kuingin Engkau Saja
Aku sudah pernah kecewa dengan keinginan-keinginanku. Saat itu, aku merasa inginkulah yang terbaik untuk kuwujudkan sehingga aku pun berjuang mati-matian untuk dapat mewujudkannya. Tapi ternyata, kisah takdir diputar-balik oleh-Nya menjadi sesuatu yang lebih baik. Kukira aku akan menangis atau kecewa, tapi ternyata atas seizin-Nya aku bersyukur berkali-kali pada akhirnya. Lalu aku tersadar, tentang kebaikanku itu aku hanya bisa berprasangka dan menduga-duga, sementara Dia sudah tahu segalanya.
Aku sudah pernah kecewa dengan kriteria-kriteria bahagia yang kubuat. Saat itu, aku merasa bahagia adalah jika begini dan begitu sehingga aku pun berjalan ke arahnya. Tapi ternyata, diperlihatkan-Nya kepadaku tentang orang-orang yang mengakhiri hidup atau hidup dalam kegamangan di tengah-tengah segala sumber kebahagiaan yang telah mereka punya. Lalu aku tersadar, tentang kebahagiaanku itu aku hanya pandai mengira-ngira, sementara Dia sudah memiliki segala jawabannya.
Aku sudah pernah kecewa dengan rencana-rencana yang kususun. Saat itu, aku merasa bahwa aku adalah pusat kendalinya hingga aku pun mencoba mengendalikan banyak hal dengan segala yang kupunya. Tapi ternyata, sebaik apapun rencana, kegagalan tetap saja bisa menjadi bagian dari takdir-Nya. Manusia hanya seolah-olah berusaha, tapi usaha itu pun sebenarnya tak berkontribusi besar terhadap apa yang menjadi ketetapan-Nya. Lalu aku tersadar, tentang rencana-rencanaku itu aku hanya bisa menyusunnya sementara Dia yang akan menjadi muara segala takdir dan ketetapan lewat keputusan terbaik-Nya.
Lalu, apa yang sebenarnya aku inginkan? Bagaimana rencanaku di dalam pintu-pintu takdir itu? Adakah satu dua hal yang ingin kusampaikan? Apakah aku ingin sesuatu, yang jika sesuatu itu dikabulkan-Nya, maka tunailah hajat-hajatku?
Allah, jangan Engkau tanya aku tentang hal itu. Aku tak cukup berani untuk mendikte takdir-Mu lagi. Aku memang punya jawaban, tapi apalah artinya jawaban itu jika isinya hanya penuh dengan prasangka dan dugaan-dugaanku sebagai manusia yang hanya bisa mengira-ngira? Apalah artinya jawaban itu jika pada akhirnya aku malah menjadikan jawaban-jawaban itu sebagai tujuan alih-alih bersabar dan belajar menerima ketetapan?
Allah, jangan Engkau tanya aku tentang hal itu. Aku, yang bahkan tak tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri ini, memangnya bisa apa selain menyerahkan segala urusanku kepada-Mu? Aku, yang bahkan buta tentang kebaikan-kebaikan dirku ini, memangnya bisa apa selain berprasangka baik kepada-Mu? Aku, yang bahkan terkadang kalah melawan diriku sendiri ini, memangnya bisa bergantung pada siapa lagi selain kepada-Mu?
Allah, atas segala ingin dan jawabanku, biarlah itu kulangitkan pada-Mu sebagai caraku mengalirkan doa-doa dan perasaan-perasaanku saja. Hanya dengan begitu, aku sudah lega, aku sudah bahagia. Keputusan-Mu pasti baik dan tidak akan pernah mendzalimiku, lantas apa yang kutakutkan lagi? Kebaikan-Mu pasti menyelamatkan dan tidak akan pernah menyakitiku, lantas apa yang kuragukan lagi?
Allah, selama Engkau ridha, mauku sudah tak penting lagi. Gembirakanlah aku dengan ketetapan-Mu, mudahkanlah aku untuk bersyukur atas semua jawaban-Mu, rendahkanlah hatiku untuk selalu berprasangka baik atas-Mu, dan tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. Lalu jika semua yang terjadi adalah yang sesuai dengan inginku, janganlah Engkau biarkan kebahagiaan membuatku terlena dan menahan langkah kaki dan hatiku untuk tetap berjuang di jalan-Mu.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Lanjutkan membaca
Paling tekankan ini, jangan sampai terlupa. “Tidak ada yg mengerti kamu selain dirimu sendiri.” Juga, “jika yg kau harapkan adalah pengertian dari orang lain, maka kau pasti akan kecewa.”
Nasehat-nasehat yang menenangkan hati adalah nasehat yang berasal dari hati, ia menyentuh bagian terlembut penulis sebelum menyentuh hatimu. Syukur itu mudah bagi mereka yang sedang tertimpa musibah, dan susah bagi yang sedang tenggelam dalam kenikmatan. Jika ia mudah bagimu, seharusnya tiap terbuka matamu dari lelapnya tidur, akan ada kalimat hamdalah dan zikir yang terucap, pertanda ada kesyukuran bagi jiwa yang masih bisa beribadah dan bernapas.
Banyaknya kesulitan yang kamu hadapi, seharusnya menjadikanmu semakin ingat denganNya, semakin mensyukuri apa yang masih tersisa dari dunia untukmu. Seorang yang tenggelam dalam lautan kenikmatan, bukan selalu berarti Allah sayang padanya, kadangkala ia adalah bentuk ujian untuk hambanya, lulus atau tidaknya tergantung bagaimana ia menggunakan dan mensyukuri nikmatnya, masih ingat atau sudah terlupa.
Bahagia, sedih, cobaan, tangisan, syukur, tenang, semua akan berada dalam putaran hidupmu. Untuk memilihnya pun tergantung bagaimana hatimu saat dalam susah dan lapang.
Jika datang padamu tentang banyaknya kenikmatan, rajin-rajinlah sedekah, sering-seringlah membantu orang, meski hanya 1 persen dari kenikmatan yang kamu dapat, untuk melatih syukur dan ingat pada tuhanmu. Meski hanya sedikit yang kamu berikan.
Mari berdiskusi pada diri masing-masing, tentang nikmat yang lupa tersyukuri dan sudah sejauh apa kita yang berlari dari tuhan.
Wahai hati, melembutlah.
Note to myself
@jndmmsyhd
Bagaimana jika ratusan ribu rakaat shalat kita, ribuan lembaran tilawah Al-Quran kita, jutaan infaq, lelahnya puasa, qurban-qurban kita, hingga seluruh amal shalih kita, tidak sama sekali memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat?
Bagaimana jika semua usaha-usaha itu Allah anggap kosong? Tidak memiliki nilai. Tidak memiliki bobot pahala sama sekali.
Pernahkah membayangkannya? Membayangkan bahwa bekal yang selama ini kita anggap penuh, ternyata lompong tak terisi.
Kamu bisa pejamkan mata sekarang, dan mulai untuk beristighfar.
Just me
Bahkan aku sudah tak menulis diari lagi
Pun memperdengarkannya ke telinga-telinga lain
Kini hanya antara Tuhanku
dan diriku
Aku tercukupi
mimpi mimpimu bukan perihal bagaimana nanti penerimaan manusia kepadamu sayang! Mimpimu tetaplah melangit. Upayamu tetaplah yang terbaik. Sekalipun kamu harus berulang kali jatuh dan lelah dibuatnya. Sekalipun tak satupun ada yang mau mempercayai dan mendukungmu. Sekalipun engkau merasakan jalanmu untuk meraihnya demikian sepi dan sendiri. Tak apa, jujurlah pada Allaah. Tetaplah di atas jalan-Nya. Percayalah Allaah akan tuntun, Allaah akan arahkan. Khawatirmu luruhkanlah, ada Allaah.
Menyapa Mentari
“Hati kita adalah kepunyaanNya. Jika ia gelisah, pastilah ia tersebab jauh dari pemilikNya”
— :)
mimpi mimpimu bukan perihal bagaimana nanti penerimaan manusia kepadamu sayang! Mimpimu tetaplah melangit. Upayamu tetaplah yang terbaik. Sekalipun kamu harus berulang kali jatuh dan lelah dibuatnya. Sekalipun tak satupun ada yang mau mempercayai dan mendukungmu. Sekalipun engkau merasakan jalanmu untuk meraihnya demikian sepi dan sendiri. Tak apa, jujurlah pada Allaah. Tetaplah di atas jalan-Nya. Percayalah Allaah akan tuntun, Allaah akan arahkan. Khawatirmu luruhkanlah, ada Allaah.
Menyapa Mentari
Menunggu Giliran
Juli, 2018.
Suatu malam, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Tampak beberapa notifikasi muncul dari layar handphone saya.
Tidak lama berselang, saya mengambil handphone saya, kemudian saya membaca satu demi satu pesan yang masuk. Ternyata pesan tersebut berasal dari rekan saya sesama dokter muda.
Tanpa banyak pembukaan, rekan saya langsung bercerita;
aku td abis ngambu (memberi bantuan napas)
trs dpt renungan
pasiennya plus (ini istilah kami untuk menyebut pasien yang meninggal)
berarti td ada malaikat izrail diantara aku dan si pasien
malaikat izrail begitu dekat ya ternyata
bisa aja td malaikat izrail ada karena giliran aku.
tp ternyata aku msh dikasih kesempatan. yg plus pasiennya. tinggal gimana urutan aja ya
yakan!! td tuh aku tbtb sekelibat ada pikiran gitu
kayak “ya Allah bisa2 aja td tuh yg mau disamperin tuh aku, tp ternyata bukan”
serem :(
Selang beberapa hari sejak rekan saya bercerita, saya mendapat giliran jaga. Saat itu, kami merawat satu balita yang cantik parasnya. Pasien ini mengalami suatu penyakit yang cukup jarang terjadi (ah, sayang sekali saya lupa apa nama penyakitnya, yang pasti pasien tersebut seringkali mengalami kejang, namun sebabnya belum diketahui secara pasti, sehingga perlu ada sampel yang dikirim untuk penelitian yang dilakukan oleh rekan dokter di belahan bumi lain). Anak ini tidak henti-hentinya mengalami kejang dalam dua hari terakhir (tutur sang ibu). Karena saat itu kondisinya yang semakin memburuk (pasien sudah tidak sadarkan diri), dan setelah dilakukan informed consent kepada orangtua sang balita, akhirnya balita tersebut harus kami ambu.
Hal yang paling saya takutkan dalam hal mengambu pasien ialah; saya tak ingin pasien saya menghembuskan napas terakhirnya ketika saya sedang mengambu mereka. Rasanya saya sangat tidak kuasa menahan sedihnya kehilangan, merasa hampa, dan ketakutan.
Saya selalu berdo’a, “jika pasien harus berpulang, saya mohon jangan di hadapan saya atau ditangan saya, yaa Allah”. Kiranya itu do’a yang selalu saya ulang selama saya mengikuti kegiatan koas (dokter muda) selama 1,5 tahun.
Namun ternyata, hal yang paling saya takutkan terjadi juga, gadis cantik yang sedang dalam kondisi terlemahnya, ternyata sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Tepat di hadapan saya, di tangan saya, gadis kecil itu menghembuskan napas terakhirnya. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Rasanya emosi saya tak karuan. Selama mengambu, saya mencoba menahan tangis, mencoba melafalkan do’a, dan mencoba berbicara dengan gadis kecil yang cantik tersebut agar ia bertahan. Ternyata, kasih sayang dan kerinduan Allah, lebih besar dari rasa sayang dan rindu keluarga pada senyum dan gelak tawanya. Rezekinya sudah sempurna di muka bumi. Di malam tersebut, ia harus pulang.
Ditengah kesedihan yang menyelimuti, tiba-tiba ingatan saya melompat pada pesan yang disampaikan rekan saya beberapa hari yang lalu. Ternyata, pada saat mengambu, saya pun berada di tempat yang sama dengan malaikat izrail.
Desember, 2018.
Jam menunjukkan pukul 11:32. Muncul pesan di whatsApp yang berasal dari teman SMA saya. Saya baca pesan tersebut, tanpa basa-basi, isi pesan tersebut berbunyi seperti ini;
Aku semalem mimpi
Kita jalan , tp di pemakaman gitu
Makamnya kecil kecil, tp bagus pmakamannya kaya taman
Deg! Saya langsung kaget. Entah apa maksud dari mimpi tersebut. Namun satu yang pasti, pesan tersebut seketika membuat wajah saya pucat pasi, tangan kaku tidak mampu bergerak, jantung berdebar, dan kaki saya menjadi terasa sangat lemah, tak mampu berdiri.
24 Januari 2019.
Setelah memutuskan mengaktifkan kembali akun instagram, saya kembali menengok apa yang teman-teman saya bagikan pada instagram stories mereka. Satu hal yang menjadi perhatian saya; Beberapa rekan saya, termasuk kakak tingkat saya membagikan ucapan duka pada salah seorang kawan, yang saya tidak mengenal beliau, namun wajahnya begitu familiar bagi saya. Saya penasaran, namun saya tak kunjung berani untuk menanyakan siapa beliau. Hingga akhirnya, salah satu kakak tingkat saya, Kang Imut, membagikan unggahan berupa foto disertai ucapan untuk almarhun pada whatsApp stories. Saya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya siapa sosok almarhum, kemudian beliau membalas;
Orang sholih…
Fkep Unpad 2011 vien
Aktivis di salman juga
Rasanya, sakit yang menusuk hingga ke hati. Orang-orang yang selama hidupnya dikenal sebagai sosok yang shalih, lebih cepat berpulang ke sisi-Nya, karena Ia lebih cinta kepadanya. Dan teringat kata-kata bapak; “ulama-ulama yang shaleh udah lebih cepet meninggalnya, mungkin nanti yang tersisa cuma mereka yang belum lurus agamanya”. Jika harus berkaca, siapalah diri ini, ibadah masih alakadarnya, banyak dosanya, amal pahalnya mungkin minus sekian-sekian. Takut mati, tapi bersiap pun tidak. Belum punya bekal pulang ke kampung akhirat, tapi dibenaknya hanya perkara dunia dan dunia saja. Astaghfirullah.
Sesungguhnya, tiap-tiap yang bernyawa, pasti akan merasakan dan bertemu dengan kematian. Hanya saja, kita tak pernah tahu, kapan kita bertemu bertemu dengannya. Semua sudah tertulis di lauhul mahfudz. Kita hanya menunggu giliran yang sudah disuratkan olehNya. Bisa jadi, saya bertemu dengan malaikat Izrail sesaat setelah saya menuliskan tulisan ini, atau dalam beberapa waktu dekat ini, atau masih diberikan kesempatan beberapa saat kemudian. Tugas kita di dunia hanyalah untuk beribadah, mempersiapkan bekal terbaik sebelum kita bertemu dengan ajal kita untuk kembali ke kampung akhirat nanti. Semoga, Allah memberikan karunia kepada kita semua, untuk kembali berpulang ke kampung halaman kita dalam keadaan husnul khatimah; ditempat yang baik, di waktu yang baik, dengan cara yang paling baik, dan dalam keadaan puncak keimanan kita kepadaNya. aamiin.
Bandung, (melanjutkan tulisan yang belum selesai sejak) Juli 2018. 00:30.
Sy juga pernah begitu dekat dengan malaikat izrail. Waktu itu yg dijemput papa. Sy berada tepat di samping papa.
Yang Menjaga Pintu
Hai, anak lelaki. Kalau nanti kau menemukan gadis itu sedang membuka pintunya, beruntunglah. Mungkin kedatanganmu sudah ia siapkan dari jauh-jauh waktu. Hanya tinggal mengucap salam, melepas alas kaki, lalu bicarakan niat baikmu. Jangan terlena dan lalai, karena bisa jadi akan ada orang lain yang lebih dulu bertamu.
Kalau gadis yang kau temui itu sedang menutup pintunya, janganlah patah semangat lalu bergegas pulang, mungkin pintu itu hanya perlu di ketuk agar kau diizinkan masuk. Mungkin juga sedang sibuk bersiap, sehingga lupa membuka pintu untuk siapapun yang akan bertamu.
Kalau gadis yang kau temui itu sedang menutup pintunya, dan juga terkunci pagarnya. Jangan dulu bersedih. Coba cari tahu lebih dulu, mungkin ia hanya sedang tidak berada di rumah saat itu.
Mungkin dia juga sudah siap untuk menerima tamu, tetapi tidak pada hari itu, hari dimana kamu datang kerumahnya. Mungkin ia juga sudah siap untuk kamu ajak bicara, tapi tidak pada hari itu, mungkin esok lusa.
Masih ada waktu, tidak banyak, tapi semoga sama-sama saling bersiap.
Yang Menjaga Pintu - Danny Dzul Fikri Suatu malam Oktober di Surabaya
Masih ada waktu, bersegeralah
Ku titipkan pesan rindu pada sosok laki-laki itu lewatmu, Angin. Temui dia dengan sapaan lembut. Terpa ia dengan kehangatan yang menyamankan kalbunya. Ia, yang selalu dalam do'a sujudku. Ia, yang hanya Tuhan yang tau betapa aku mencintainya.
Angin, damaikanlah untuknya. Laki-laki yang menikah dengan Ibuku. Ayahku.
Ah kangen papa
“Nemu deh resolusi 2019, simple tapi berat : perbaiki penyakit hati - penyakit hati yang bikin hidup dan iman jadi sekarat.”
—
Seburuk itu ya ternyata diri gw
Diri gw juga ternyata
Just....
Susah-susah kita mengharap perhatian makhluk
Padahal kita lebih butuh perhatian-Nya
“Kapan kau ada waktu? sesekali mampirlah ke sini, lihat seberapa hebat aku merindukanmu.”
— (via mbeeer)
Lihat seberapa hebat aku merindukan dirindukanmu.