aku sudah baik-baik saja. aku sudah tak lagi menangis, aku sudah lapang menerima segala kepahitan. karena memang ada hal-hal yang tidak akan bisa ku pahami sekeras apapun aku mencoba untuk mengerti. dan semakin keras aku mencoba untuk memahami hal itu tidak akan membuat semuanya baik-baik saja. maka jalan terbaik adalah dengan mengikhlaskan semuanya dan menerima bahwasanya ketetapan Allaah adalah yang terbaik. pengetahuanku saja yang terbatas.
aku sudah tak lagi menangis ya Allaah, aku sudah belajar untuk menerima segalanya. hatiku sudah jauh lebih lapang, bukan karena aku mendewasa, bukan. tapi mungkin barangkali karena doa-doa yang ku mintakan kepadaMu. meminta untuk diberi hati yang tenang dan kelapangan hati yang meluas.
aku sudah tak lagi kecewa ya Allaah. segala luka yang terjadi menjadi prosesi untuk diriku bertumbuh dan memaknai kehidupan. bahwa ini hanyalah dunia, tak boleh aku terlalu larut dan hilang arah hanya untuk mengejar sesuatu yang semu.
aku sudah baik-baik saja ya Allaah. meski setiap hari aku terus meminta kepadaMu u tuk selalu dikuatkan setiap waktu. karena memang kalau bukan atas pertolonganMu, diriku sudah kalah dan hancur sedari awal. aku memahami diriku yang begitu lemah dan tak memiliki daya sedikitpun.
aku sudah bisa tersenyum kembali ya Allaah. sesuatu yang begitu aku tangis pada akhirnya sangat ku syukuri. sebab keterbatasan pengetahuanku yang tak menjangkau hikmah atas kebaikan yang telah Engkau takdirkan kepada diriku.
segala puji hanya bagi Engkau ya Allaah. aku memujimu meski dilain waktu aku terjatuh dan hatiku goyah untuk mengeluh atas hal yang terjadi kepadaku.
jika nanti aku kembali terjatuh dan merasa begitu terluka, tolong aku untuk kembali ya Allaah. berilah aku kepahamaman bahwasanya rahmatMu begitu luas untukku, kasih sayangMu tak terkira untukku, dan ampunanMu selalu ada untuk diriku yang selalu berdosa ini. tolong aku untuk kembali meski dengan tertatih-tatih aku memulainya kembali.
Kita pernah menjadi sebuah ketentuan pada pertemuan yg saling mengisi hingga saling meniadakan. Namun pada langkah yg saling menjauhi, ketentuan terasa seperti sebuah perjudian antara waktu dan detaknya sendiri. Karena pada detik kesekian kita sadar bahwa penerimaan akan membuat kita merasa utuh jika sudah sepenuhnya.
Kadang, perjalanan membawa seseorang pada kehormatan, namun adakalanya terjebak pada penghianatan.intinya adalah sejauh mana manusia tetap teguh pada imamnya.
Sayangnya menambal luka bukan berarti menyembuhkan. Itu hanyalah upaya untuk melupakan sejenak. Luka yang ada itu kemudian kembali karena memang tak pernah aku terima sebagai pelajaran. Luka itu kembali karena tak pernah aku pahami dan maknai untuk kemudian diikhlaskan.
Sekarang Lagi Baca THE FOX CLUB, karakter Onyo ini karakter yg paling saya suka, dia sosok yg memang biasa saja tulus nya tu kelihatan banget plus jadi karakter dengan dominan baik. Bahkan sangat baik, jadi kalau ada yg deketin tuh anehnya kayak selalu menerima tanpa mikir dulu org yg datang ini apa ada maksud tertentu atau nga. And Onyo ini adalah tipekal kalau di dunia manusia pada umumnya noteband perempuan biasa saja tulus dan berhati baik sih.
Lahir sebagai seorang muslim adalah privilege terbesar yg patut di syukuri
Ummar bin Khattab, dulunya adalah orang yg paling membenci Islam, memerangi islam, bahkan ia ingin membunuh Rasulullah, yg menurut sebagian orang ia paling tidak mungkin masuk islam di zaman itu. Tetapi, ketika ia masuk Islam, Ummar menjadi sahabat terbaik dalam sejarah, setelah Abu Bakkar. la masuk ke dalam daftar sahabat yg di jamin masuk surga dan Allah buatkan untuknya rumah di surga. Ini adalah signal bahwa Islam tidak melihat masa lalu seseorang. Seburuk apapun seseorang di masa lalunya, rahmat Allah terbuka luas bagi siapa yg bertaubat.
Abu Lahab, ia adalah paman nabi, hidup bersama nabi, memiliki keponakan seorang nabi, tapi ia menjadi pemeran utama di balik penolakan dakwah nabi di Makkah. la memusuhi, menolak juga menyerang dakwah yg Rasulullah bawakan. Sebagaimana nasab tidak menjadikan seseorang mulia di sisi Allah, tidak pula sebagai jaminan hidayah itu datang kepada seseorang yg memiliki nasab yg mentereng. Tapi Allah memberi hidayah kepada siapa yg la kehendaki.
Bilal bin Rabbah, seorang budak berkulit hitam yg di rendahkan oleh kaumnya. Namun ketika bilal masuk islam, ia justru menjadi satu dari sekian sahabat yg juga Allah jamin surga. Ini adalah bukti bahwa Islam tidak melihat seseorang dari harta, rupa maupun kedudukannya. Tapi Allah melihat seseorang dari hati dan amalnya.
Namun, pernahkah kita berpikir? Para sahabat yg masuk islam terlebih dahulu mereka masuk islam dengan perjuangan, pencarian, bahkan sebagian dari mereka masuk islam harus berdarah-darah terlebih dahulu. Ada yg harus safar menempuh perjalanan bertahun-tahun, dibuang dari keluarganya, di miskinkan, di siksa, bahkan ada dari mereka yg di bunuh karena masuk islam.
Sedangkan kita? Allah tidak menyuruh kita memilih dari rahim siapa kita di lahirkan! Tapi Allah pilihkan kita lahir dari rahim seorang ibu yg beragama Islam! Kita lahir di atas kebenaran, di atas satu-satunya agama yg Allah ridhoi, di atas agama yg haq.
Pernahkah kita bersyukur atas nikmat yang begitu besar itu?? Berapa kali kita bersyukur karenanya? Atau justru ternyata kita kufur dengan keislaman kita?
Pernah Gak Terpikir Kenapa Rumah Tangga Itu Dinamain ‘Rumah Tangga’?
Rumah + tangga
Rumah itu berarti setelah menikah kamu dan pasangan ‘punya’ rumah yang kalian pegang kendali penuh di situ. Rumah di sini tak selalu dimaknai rumah fisik, melainkan juga bangunan abstrak bernama keluarga yang terbentuk setelah sahnya pernikahan.
Sedangkan tangga itu berarti tahapan. Bayangkan tangga darurat sebuah gedung pencakar langit. Seperti itulah ‘tangga’ dalam rumah tangga. Harus dilalui selangkan demi selangkah, dan rasanya lebih berat daripada berjalan di bidang datar.
Tangga inilah yang harus dilalui jika ingin rumahmu tumbuh jadi rumah yang besar, aman, dan nyaman.
Ingat, ini rumah tangga, bukan rumah eskalator atau rumah elevator. Gak ada jalan pintas untuk naik dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Setiap anak tangga harus dilalui satu demi satu. Harus ada effort. Harus ‘capek’ seperti naik tangga yang bikin kita ngos-ngosan. Tidak seperti orang naik eskalator yang hanya perlu melangkah satu kali, lalu dalam satu menit kurang lebih sudah sampai di lantai berikutnya.
Jadi apa artinya? Artinya jangan cuma bayangkan bagian enaknya berumah tangga. Sadari pula bahwa begitu detik pertama kamu menikah, peran dan tanggung jawab lebih besar sudah dipikul. Kamu bukan hanya kamu sendiri, tapi kamu adalah penghuni sebuah rumah yang harus terus kamu jaga, rawat, dan terus bangun sampai akhir hayat.
Jangan bayangkan bahwa tangga yang harus dilalui itu hanya yang sifatnya materil saja seperti punya anak, punya kendaraan, punya rumah, menyekolahlan anak, dan punya uang banyal, melainkan juga tangga-tangga kualitas seperti kebahagiaan dan kedewasaan kita yang harus terus naik nilainya.
Semakin lama kamu menikah kamu akan merasa cinta itu semakin abstrak, sedangkan yang kongkrit adalah tanggung jawab. Dan pada akhirnya kita akan jatuh cinta sekali lagi kepada kesungguhan dan tanggung jawab pasangan kita dalam menjalani perannya dengan sebaik-baiknya. Dari sini, keutuhan rumah tangga itu dipertahankan bukan dengan cinta, tapi dengan kesungguhan dalam menjaga tanggung jawab.
Berangkat dari kesadaran ini saya menyadari bahwa sangat mungkin rumah tangga ini kelak akan dihadapkan pada situasi-situasi yang tidak ideal. Karena itu, ikhtiar paling logis yang bisa saya lakukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga ini adalah dengan mengisi peran saya sebagai suami, kepala keluarga, dan ayah sebaik-baiknya.
Meski kadang rasanya lelah juga, sering patah juga, tapi menyempurnakan ikhtiar dalam mengisi peran setidaknya akan memperkecil probabilitas datangnya penyesalan di kemudian hari.
PULUHAN kilometer jauhnya dari Desa Rindangsari, seorang pria diseret masuk ke dalam gudang.
Namanya Bahar Karim, dia anggota forum yang menentang pembukaan lahan tambang di dekat desanya. Para preman yang dipimpin Daryono membawanya ke sini untuk dihabisi. Di dalam gudang sudah ada teman Bahar, yakni Sobri, yang juga sesama anggota forum. Keadaannya tak sadarkan diri, terikat di sebuah kursi. Dalam beberapa jam lagi, Sobri akan tewas jika tak mendapat pertolongan. Dan mungkin, Bahar juga akan menyusul nasib itu.
Malam sudah larut, dan tak ada orang yang berjaga di sekitar sini. Hanya ada hamparan rumput ilalang luas. Lima preman yang dipimpin Daryono memukuli mereka. Baru kemarin, Bahar dan Sobri akhirnya tahu bahwa para preman ini adalah suruhan dari kepala desa yang berkomplot dengan pengusaha tambang itu.
Sejak beberapa bulan lalu, para preman Daryono memang mengancam para anggota forum penolakan lahan tambang. Namun selama ini ancamannya memang tak pernah lebih dari sekadar omongan, dan para preman datang tiap beberapa minggu sekali. Sebulan belakangan, para preman bisa berjaga di beberapa tempat beberapa kali seminggu, untuk mencegat para anggota forum lewat dan menggertak mereka. Tapi lagi-lagi, selama sebulan ini tak pernah lebih dari itu.
Hari ini adalah hari tak terduga. Baru kemarin Bahar tahu bahwa kepala desanya ternyata setuju dengan pembukaan lahan tambang. Dan preman-preman Daryono adalah suruhannya.
Bahar jadi familier dengan alurnya. Pengusaha akan membayar pejabat kecil untuk berurusan dengan para pembelot. Dan jika mereka tidak mau, pilihannya antara mereka yang mati atau keluarga mereka diancam. Kepala desa dan sudah dibayar tinggi untuk memberi izin membuka lahan tambang, serta mengurus pembelot yang menjalankan aksi penolakan. Bahar yakin, dia dan Sobri dibawa ke sini karena mereka yang paling vokal bersuara.
Sobri duluan dibawa ke sana. Keadaannya sudah mengenaskan dan pingsan ketika Bahar tiba. Banyak sekali darah keluar. Giliran Bahar dipukuli hingga babak belur. Tubuhnya diikat ke kursi. Di tengah mengambil napas, Bahar kenal beberapa dari mereka. Daryono adalah pemimpinnya, sedangkan Haris dan Harun adalah dua bersaudara yang ikut geng preman Daryono.
Ketika pukulan hendak dilanjutkan, pintu terbuka. Sosok perempuan tinggi muncul di ambang pintu. Langkahnya mengarah menuju mereka. Semua preman bersiaga.
Untuk sesaat, Bahar mengira bahwa perempuan itu adalah perwakilan polisi yang datang untuk menyelamatkannya. Sampai akhirnya dia berkata, “Kalian semua disuruh buat ngabisin dia, atau disuruh mukulin aja?”
Namun tak ada yang menjawab untuk beberapa saat. Perempuan berambut cokelat panjang itu kembali melangkah mendekat. “Halo? Saya ngomong sama kalian semua.” Begitu berhenti di tengah para preman, penerangan lampu menunjukkan wajahnya, dan sebagian besar preman terlihat tegang. Bahar pun melihat wajah perempuan itu. Ada bekas luka bakar di dahi kirinya, sedikit tertutup poni samping dari rambutnya yang bergelombang. Warna kulitnya antara kuning langsat dan sawo matang. Dia mengenakan jaket kulit seperti pengendara bermotor.
“Eh, siapa nih cewek? Sembarangan lo masuk sini!” seru Harun sambil maju, seketika membuat para preman lainnya tegang. “Lo orang asing. Nggak usah ikut campur!”
Perempuan asing itu menyipit, lalu melirik para preman yang lain. “Dia anak baru?”
Daryono mengangguk.
Bahar mengernyit, tak paham. Apa perempuan itu bos para preman yang dipimpin Daryono? Tapi, sepertinya dia bukan bos yang memberi perintah dari perusahaan tambang. Karena kalau dia bosnya, harusnya dia tak perlu bertanya apa Bahar disuruh untuk dipukuli atau dihabisi.
Begitu cepat. Tangkas.
Bahar mendengar suara sambitan cepat diiring cipratan merah. Ada sebuah bola menggelinding di lantai hingga sampai di kakinya. Bola berwarna putih dengan pupil mata yang kini menatap Bahar.
Jerit Harun kemudian terdengar memilukan. Sementara itu, Haris berlari membawa celurit dan berteriak, “ANJING LO BERANI-BERANINYA SAMA ADEK GUE!”
Perempuan asing itu menepis serangan Haris, lalu memelintir tangan Haris hingga genggamannya ke celurit lepas. Haris menjerit kesakitan. Sang perempuan membengkokkan dan mematahkan kedua tangan Haris, mengambil celurit, lalu mengayunkannya ka ubun-ubun kepala Haris seperti memacul tanah. Celurit itu terpendam di sana.
Preman yang lain hanya terdiam dan menunduk, ketakutan. Gadis itu kembali menghadap Harun yang masih histeris. Dia meletakkan kedua tangan di kedua sisi kepala Harun. Menekannya seperti ingin mengempiskan bola. Harun melawan sekuat tenaga hingga seluruh darah berkumpul di kepalanya, wajahnya merah sekali dengan rona keungunan. Tak lama, ada bunyi retakan panjang seperti tulang retak berulang. Kemudian darah menyembur keluar bersama benda merah jambu kenyal dari kepala Harun.
Bahar mendadak mau muntah.
“Saya jadi agak telat karena ada orang yang gangguin saya,” ujar perempuan itu, mengelap tangannya yang berlapis sarung kulit ke kaus Harun. “Mentang-mentang udah lama nggak lihat saya, kalian jadi nggak infoin anak baru tentang saya, ya?”
Daryono sontak bersimpuh dan menunduk. “M-maafin kami, Dre!” ujar Daryono. Wajahnya pucat. Dia menurunkan kepala hingga bersujud di depan gadis asing itu. “Saya bakal ngajarin anak buah saya lebih baik lagi! Tolong maafkan kami!”
Para preman yang lain ikut bersujud. Dre berdecak.
“Berdiri. Saya bisa telat padahal harus dapat empat jeroan malam ini.” Dre mendesah, lalu melihat jumlah para preman yang tersisa. “Eh?”
“K-kenapa?” tanya Daryono usai berdiri. Mata masih terlihat ketakutan. “Ada apa?”
Dre mendekat, lalu memukul leher Daryono, membuatnya pingsan. Dia lanjut melakukan itu kepada preman lainnya. Yang lain tak sempat menghindar. Gadis itu terlalu cepat dan terlalu kuat. Kekuatannya terasa tidak manusiawi, apalagi jika Bahar mengingat bagaimana Dre menghancurkan tengkorak orang hidup-hidup.
Begitu selesai, Dre mengeluarkan empat preman yang pingsan dan memasukkannya ke mobil. Kemudian dia kembali membawa satu plastik sampah kosong ukuran besar dan alat kebersihan. Jasad Harun dan Haris dia masukkan ke dalam plastik sampah. Tulang-tulangnya dipatahkan untuk membuat kedua jasadnya padat dalam satu karung. Usai mengikatnya, Dre menghabiskan sepuluh menit untuk membersihkan darah di lantai, mengelap dan menyikatnya dengan sabun.
Dan, Bahar hanya menonton. Tak berani minta tolong. Dia tidak sedang diselamatkan, hanya kebetulan beruntung saja. Jika dia bersuara, salah-salah dia bisa berakhir di karung yang sama dengan Harun dan Haris.
Dre tidak bicara kepadanya sama sekali, tidak juga menolongnya lepas dari ikatan ataupun mengubur teman Bahar yang sudah mati. Bahkan tak ada perintah agar Bahar tutup mulut tentang kejadian ini. Usai pembersihan, Dre hanya memasukkan alat kebersihan dan plastik sampah ke mobil, lalu berangkat pergi.
Dan itulah cerita bagaimana Bahar bisa selamat.
Bahar tidak berkata banyak usai dia ditemukan oleh warga desa pada pagi harinya. Hanya berkata bahwa dia dipukuli, lalu pingsan dan preman sudah pergi. Sobri meninggal karena kekurangan darah dan telat diselamatkan. Anggota forum berduka, tapi lanjut untuk melakukan aksi. Bahar sendiri memang masih berani untuk melawan perusahaan yang bisa menghancurkan pertanian desanya. Dia hanya tidak yakin para pengusaha dan preman mana pun mampu melawan Dre.
Siang ini, gue makan bareng temen. Kami sama-sama capek banget. Dunia kami beberapa hari ini tuh sama-sama nggak ramah. Temen gue berbagi cerita sambil nangis. Gue biasanya ngasih kata-kata lembut ke dia. Tapi kali ini, gue juga sama-sama capek. Akhirnya yang gue bilang ke dia:
Selama ini, orang tuh memandang gue sebagai orang yang selalu mandiri. Bisa berdiri sendiri. Kalau dalam kelompok ada masalah besar, gue selalu di posisi nggak bisa lari. Dipaksa bertanggung jawab.
Gue udah berusaha banget untuk bertanggung jawab. Sekuat tenaga. Kalau kerjaan gue bagus, orang nggak akan inget. Gue nggak akan dapat apresiasi. Tapi begitu kerjaan gue nggak bener, nggak ada yang memaklumi.
Kita di posisi yang sama.
Sama-sama butuh kata-kata yang lembut. Butuh apresiasi. Butuh support system.
Ternyata, orang kayak kita tuh kuat bukan karena kita beneran kuat dari sananya. Tapi kita nggak pernah punya ruang buat jadi lemah. Gue tuh beneran pengen sesekali clingy, sesekali ada yang memaklumi, sesekali aja ada yang berkata baik ke gue.
Gua selalu dibilang rebel, susah diatur, susah taat aturan. Padahal gue tuh sebenernya lebih suka jadi follower. Asalkan yang nge-lead gue tuh reliable dan gue bisa trust. Aturan, dalam beberapa hal, nggak bisa membuat kebutuhan semua orang terpenuhi. Gue kritis tuh bukan karena sekedar rebel. Tapi sejak kecil gue tuh sering banget jadi korban aturan yang merugikan gue. Gue nggak mau orang lain ngerasain itu.
Lidah gue kelu. Habis itu kami sama-sama nangis wkwk. Setelah itu kami puas banget dan jadi ketawa. What a life.
Gue kalo bisa mendirikan klub tukang sapu kayaknya bakal ngumpul banyak.
...
Menjadi perempuan itu tidak mudah. Di ruang publik yang tidak ramah, pertama kali dateng tuh skill kita pasti diragukan. Untuk upgrade diri, belum tentu dapat support system.
Nanti ketika harus hamil dan menyusui, sering kena blaming:
"Salah banget merekrut perempuan"
Kalau misalnya kesulitan "menyeimbangkan" peran antara menjadi Ibu dan kerjaan kantor, kena blaming:
"Kamu tuh jadi Ibu kok nggak multitasking"
Belum lagi ketika di usia matang dan belum menikah, ada aja hal-hal yang menjadi celah untuk menurunkan nilai:
"Keburu tua dan expired"
"Terlalu pinter dan kritis makanya cowok tuh takut"
"Kalo terlalu memprioritaskan kerjaan, nggak akan capable buat mencintai keluarga"
.....
Nanti kalau misal ruang publik benar-benar menempa kami sampai kami benaran matang, kami juga disalahkan atas kematangan tersebut. Dibilang terlalu dominan, dibilang bikin insecure dan banyak lagi.
....
Dari semua kelelahan yang kami alami belakangan ini, alih-alih berpikir tentang support system sehingga kami bisa berkembang dengan baik, orang tuh lebih milih mengatur:
Bagaimana kami bertindak?
Bagaimana kami harus berbicara?
Padahal sebagai manusia, kami juga punya nalar dan kompas moral yang insya Allah nggak bakal harmfull ke orang lain. Tapi kenapa ya, untuk hidup dengan baik dan jadi diri sendiri aja, banyak banget hal yang harus ditabrak.
....
Pada akhirnya, gue tuh ikhlas aja dengan alam dan lingkungan yang demikian. Semoga Allah memberi kesabaran dan support system yang baik. Sehingga kami bisa menjadi manusia produktif yang semua potensi kebaikannya bisa keluar dan mengalirkan kebaikan bagi banyak orang.
Baca twitnya teh @urfa-qurrota-ainy dan berasa ada yang memahami isi otak gue selama ini. Buat perempuan, memilih suami itu artinya memilih bagaimana kelangsungan hidupnya nanti.
Apakah ia bisa tetap menjaga kebaikan-kebaikan yang sudah disemai? Atau justeru malah memberatkan?
Sudah lama banget berpikir bahwa pernikahan itu bukan perkara cinta. Di usia segini, gue tuh udah cukup realistis sampai level udah suka sama orang aja masih mikir apakah worth buat melanjutkan masa depan sama dia?
Pada akhirnya kita tuh pasti ingin kehidupan yang baik dan tenteram di dunia sekaligus mempersiapkan akhirat.
Makanya setiap ada omongan aneh-aneh tentang usia segini masih lajang, tidak ada balasan yang lebih baik selain:
"Mohon doa biar dapet jodoh yang baik di dunia dan akhirat"
Betapa sulitnya perempuan menempatkan diri di tengah laki-laki yang tidak memahami kedudukan perempuan dengan baik.
Punya kepribadian kalem dan penurut bisa diperlakukan dengan take for granted. Menjadi pintar, tegas dan kritis malah mendatangkan perasaan insecure.
Gue selalu berdoa semoga laki-laki yang baik dimudahkan hidupnya agar mereka bisa terus menambah ilmu dan memperlakukan perempuan di sekitar mereka dengan baik. Agar kita bisa hidup bersama sebagai hamba yang saling tolong menolong untuk berbuat kebaikan.
Ini tentu bukan bercerita tentangku, tapi tentang pengamatan. Sebagai penulis, beberapa kali melakukan proses interview, ngobrol, bertukar pikiran, dan sebagainya. Dulu, pandangan seperti ini tidak banyak kutemukan karena dulu usiaku masih 24 tahun saat memulai karir. Sekarang, tahun ini telah beranjak 33 tahun, sebentar lagi anak pertama masuk SD.
Dan beberapa kali juga, melalui istri, ditanya apa ada temanku yang bisa dikenalkan ke teman-temannya istri. Yang tahun ini, menjelang kepala tiga. Dari proses-proses yang risetku selama menulis dan apa yang terjadi, datanya tidak sesederhana itu. Kita berada di lingkungan yang baik, tidak serta merta membuat kita langsung ketemu pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan.
Dipadu padankan dengan obrolan bersama psikiater beberapa waktu terakhir. Ada beberapa pendapat subjektif yang bisa kuhadirkan dari seluruh kumpulan riset itu, nanti kalau kamu ada lainnya, boleh ditambahkan :
1. Kehidupan yang semakin materialistik, ukuran terhadap materi dan kesiapan materi menjadi parameter yang sangat menentukan dalam pernikahan. Dan ukuran ini membesar, seperti kepemilikan rumah, kendaraan, atau gaji dalam nominal tertentu, serta tuntutan hidup materialistik (apa-apa diukur dengan uang) ini berpengaruh pada pola pikir dan kesiapan orang untuk menikah. Memang, mempersiapkan finansial untuk menikah itu penting, tapi ketika semua keputusan berpusat pada uang - mendominasi pikiran. Itulah awal mula dari kondisi tersebut. Apakah kamu setakut itu pada masalah rezeki? Kondisi yang sangat mungkin berbeda dengan waktu orang tua kita dulu.
2. Kondisi mental dan emosional yang belum pulih. Percaya atau enggak, orang lain bisa merasakan apakah kita ini cukup stabil atau se-eror itu. Apalagi jika keeroran kita tervalidasi melalui asesmen. Kita perlu untuk mengakui dan menyadari kalau memang kita perlu meluangkan waktu untuk mengobati diri sendiri. Kalau pun butuh waktu beberapa tahun, ya itu bagian dari konsekuensi. Karena masuk ke dalam pernikahan memang memerlukan kondisi mental emosional yang cukup kuat. "Badai"nya sesuatu, dinamikanya sangat beragam, dan tantangan yang akan dihadapi sangat berbeda dengan saat kita masih single. Kita akan berkompromi dengan banyak sekali orang. Apalagi jika nanti kita memiliki anak. Mereka perlu orang tua yang sehat jiwa dan pikirannya. Agar jangan sampai, kalau saat kita memiliki trauma, ternyata tanpa sengaja menjadi penghambat bagi anak-anak kita.
3. Romantisasi keadaan. Belum menikah di usia tersebut sebenarnya itu bukan masalah, tidak ada panduan bahwa menikah itu harus usia 25-30. Tidak ada dosanya juga belum menikah di umur 30 lebih. Tapi, membiarkan diri meromantisasi keadaan sehingga dari sana kita merasa mendapatkan dukungan, validasi, pembenaran pendapat, dan apapun yang sebenarnya digunakan untuk menutupi kekhawatiran diri karena belum menikah. Alih-alih berusaha untuk membangun persepsi diri yang benar, pandangan hidup yang lebih luas, dengan demikian kita bisa memiliki value kita sendiri yang kuat, yang tidak goyah saat kita sendirian dikamar yang sepi, atau saat di tengah kumpulan keluarga.
4. Tidak siap dengan masalah. Kalau kata buku yang kubaca, menikah itu seperti memilih masalah yang akan kita jalani seumur hidup, jadi pilihlah masalah yang kamu mau menjalaninya. Tontonan berupa film, drama, dan romanitasi yang berseliweran di media sosial secara tak sengaja membangun kesadaran kita bahwa menikah itu pasti akan sebahagia itu. Ini juga berkaitan pada poin satu tadi salah satunya. Tidak siap dengan beragam masalah, harus beradaptasi dengan beragam kondisi, kompromi dengan pasangan, belum lagi hal-hal lainnya. Tidak setiap pernikahan itu selalu dimulai dengan sudah memiliki rumah, kadang harus ngontrak. Tidak dimulai dengan langsung ada mobil, harus kerja bertahun-tahun dulu. Belum lagi nanti kalau harus memilih sekolah anak yang disesuaikan sama budget keluarga. Belum lagi, bersosialisasi dengan masyarakat. Singgungan yang banyak itu akan menciptakan dinamika, salah satu dinamikanya adalah masalah-masalah tersebut. Belum lagi dinamika soal tinggal di mana, siapa yang akan ngejar karir duluan, dan berbagai pembagian peran dan tugas dalam keluarga. Apakah kamu siap menghadapi dan berkompromi dengan beragam masalah itu? Sesuatu yang memang sudah sepaket dengan pilihanmu untuk berkeluarga.
Apakah kamu bisa membayangkan?
Empat dulu, ada banyak temuan lainnya dari hasil diskusiku selama ini. Pendapat di atas sangat subjektif, benar-salahnya tidak mutlak. Tapi semoga bisa menjadi pelajaran penting. Pelajaran yang membuat kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas dalam mengamati sesuatu.
Ada tambahan?
(c)kurniawangunadi
Merasa perlu menulis ini karena di usia yang ke-33 ini, sering sekali dapet judgement problematik. Entah dikira pilih-pilih, nggak berani mikir masa depan, nggak berani bertanggung jawab sama keluarga, ambisius dengan kerjaan sampai dikira feminazi.
Padahal deep inside, kita cuma orang yang berusaha menjalani hidup dengan baik aja. Kebetulan aja jalan hidupnya nggak sama dengan masyarakat kebanyakan.
Lama banget nggak buka tumblr karena gue sekarang udah mulai belajar jadi narrative designer di game. Sekalinya buka nemu topik tentang kenapa belum menikah di usia segini?
Di usia 33, gue berada di tengah temen-temen yang anaknya baru masuk SD dan dari kolega gue di kampus, banyak juga yang anaknya udah lulus kuliah dan menikah. Perasaan tertinggal tuh sebenernya udah selesai dari dulu. Makin kesini yang pengen dilakuin ya justeru pengen punya kehidupan sehari-hari yang bisa dinikmati. Bukan yang mentereng banget. Pengen yang hangat aja.
Gue tuh sering banget dapet stigma bahwa perempuan yang belum nikah di atas usia 30 an tuh kalo nggak feminazi, problematik dan galak banget. Meanwhile gue hari ini malah bikin game sama gen Z yang rentang usianya belasan tahun lebih muda dari gue plus gue juga bukan leadnya. Beneran memulai belajar dari nol.
Soal menikah, ketimbang merenungi kenapa di usia segini belum menikah, gue malah berharap bisa pelan-pelan memperbaiki habit aja sih. Khususnya dari sisi mengelola ego dan keuangan.
Sebagai penderita ADHD, mood gue rentan terganggu oleh rutinitas yang berubah-ubah. Dan kalau mood sudah terganggu, belanja juga jadi kurang terkendali karena nggak sempet menyiasati gimana spend money dengan wise selama seminggu.
Instead of punya cita-cita yang tinggi, gue cuma berharap kelak punya lingkungan kerja dan keluarga yang ramah ADHD. Apakah lingkungan kerja gue yang sekarang udah ramah? Jelas belum.
Orang kayak gue cocok kerja di bidang yang gue suka dan banyak deep thinking di situ. Gue menikmati banget menghabiskan malam-malam gue untuk riset tentang konsep game ataupun ngoding. Ngerasa lebih hidup aja.
Sementara jadi dosen di Indonesia tuh ritme kerjanya sering terganggu karena interupsinya banyak sekali. Dulu sering stress banget kalau banyak kerjaan yang nggak selesai. Sekarang beneran mengusahakan yang terbaik. Tapi kalau nggak selesai, udah pasrah aja sambil berharap Allah mengampuni segala keterbatasan gue sebagai manusia.
Di luar belajar jadi narrative designer dan dosen, gue juga kadang masih menikmati drama korea. Pulang ke rumah kalo weekend dan ngasuh ponakan. Atau kadang-kadang random nonton youtube mukbang. Kayak hari-harinya manusia biasa aja.
Makanya kadang-kadang ketika ada judgemen yang gimana banget tentang perempuan yang belum menikah di usia segini, gue merasa perlu bertanya:
"Kenapa tidak memulai segala judgement tersebut dengan praduga yang baik?"
Tentu tidak semua di dunia ini adalah tentang gue and I don't take it personally. Tapi memulai segala penilaian dengan praduga yang kurang baik tuh seringnya menghasilkan stigma yang tidak baik juga. Sebagai orang yang sering banget kena stigma entah karena belum menikah, entah karena fisik yang beda, entah karena gue perempuan...................untuk mengenal manusia lain tuh kita jadinya harus nembus barrier. Kalau kamu bukan di pihak yang kena stigma, kamu nggak akan relate.
Nggak akan relate gimana rasanya ketika kamu cuma menjalani kehidupan sehari-harimu yang biasa banget lalu tiba-tiba orang menilai kamu sebagai orang yang sombong dan seleranya tinggi soal pria. Atau kamu yang lagi berusaha menyelesaikan masalah finansial keluarga lalu tiba-tiba dijudge sebagai orang yang takut menikah karena takut bertanggung jawab.
Gue rasa, ada banyak manusia medioker kayak gue yang sebenernya hanya ingin menjalani mundane life yang nyaman. Kebetulan aja takdir hidupnya nggak kayak orang kebanyakan. Jadinya harus dealing dengan opini orang lain yang embuh banget wkwkwk.
Saling mendoakan saja semoga hidup kita semakin baik dan hati kita semakin tenang.
Gak semua orang layak didorong untuk segera menikah. Bahkan beberapa orang perlu diingatkan agar sabar dan tidak gegabah.
Menikah itu baik dan utama, tapi gak semua orang bisa dipukul rata. Alih-alih didorong buat menikah, ada yang justru lebih perlu didorong untuk giat belajar dan bekerja dulu. Karena menikah itu bukan cuma perkara hari ini, tapi juga soal masa depan.
Jangan cuma senang karena berhasil memotivasi seseorang untuk menikah. Momen akad dan resepsi pasti bahagia. Tapi hari-hari setelahnya amat panjang dan pasti ada ujiannya.
Ada orang lebih memilih nikah muda karena broken home tapi kondisinya gak punya pekerjaan, pendidikan, dan ilmu yang cukup terus jarak kelahiran anak-anaknya terlalu dekat. Dikiranya menikah itu jalan keluar dari semua permasalahan, ternyata malah membawa permasalahan baru.
Lantas apa tidak boleh menikah? Bukan begitu. Boleh, tapi menikahlah dengan penuh kesadaran atas situasi hari ini dan kemungkinan-kemungkinan di masa depan, menikahlah dengan penuh tanggung jawab, menikahlah dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. jangan gegabah.
Kalau kondisi ekonomi kurang baik, gak usah maksain diri, gaya hidup yang sesuai saja, dan pandai-pandai mengatur jarak kelahiran anak. Ini penting disadari buat pasangan-pasangan muda.
Aku ingin toss dengan Albert Camus, katanya kita hidup untuk mempersiapkan kematian yang dikehendaki. Aku tidak tahu rasanya mati itu bagaimana. Dalam kesengsaraan, mati tampak bercahaya. Dalam kebahagiaan, mati tampak gelap.
Mati berubah makna, seiring hidup tubuh menerima kejadian.
Meski ada kesengsaraan, tapi anehnya mati tidak tampak megah seperti jembatan ampera. Ternyata, di balik penderitaan ini, bersembunyi harapan besar untuk hidup yang harum. Meski mati berarti membusuk, tetapi sekarang belum waktunya. Sekarang masih waktunya sarapan dengan kupat tahu, olahraga, berusaha keras, mencari pasangan, bertengkar dengan teman, membicarakan selena gomez, diam-diam menyukai seseorang. Ya aduh, banyak sekali, kan, yang harus aku lakukan.
Jadi, aku ingin hidup yang bermanfaat. Kecil besar, urusan langit. Urusanku, semampuku.
Ya tuhan, muliakan orang-orang di sekitarku, agar mereka bisa menjagaku dengan baik. Kadang-kadang, aku ini perlu dijaga juga, loh. Aku kadang ceroboh memilih orang-orangku. Tapi, ya, aku tahu pasti di sana tempatku belajar yg memang tidak berkesudahan.
aku ingin belajar kembali untuk bermanfaat seperti sekotak sereal dan keras kepala punya keyakinan lagi seperti rakun yang belagu di pinterest.
Ya tuhan, sembuhkan orang-orang yg membuatku sengsara, ya. Aku tidak ingin repot-repot menyerah. Agar aku bisa tetap mempersiapkan kematianku sebaik mungkin. Kau tentu tidak ingin aku mati dalam keadaan yang payah, kan?