Untuk Sahabat yang Tak Pernah Menjadi Kekasih
Kadang aku bertanya-tanya, apakah kau pernah lelah menungguku?
Karena jika aku mengingat kembali masa-masa itu, yang kulihat adalah dirimu yang selalu ada.
Di bangku kelas yang sama.
Di perjalanan-perjalanan kecil yang kita buat sendiri.
Di tempat-tempat baru yang kita datangi hanya karena rasa penasaran pada dunia yang masih begitu luas untuk dijelajahi.
Kita berjalan berdampingan begitu lama hingga aku mengira kita akan selamanya menjadi teman.
Aku tidak pernah menyadari bahwa diam-diam kau menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan.
Atau mungkin aku menyadarinya.
Hanya saja aku pura-pura tidak tahu.
Lalu suatu hari kau datang membawa keberanian yang telah lama kau kumpulkan.
Kau menyerahkan perasaan yang selama ini kau simpan rapat-rapat.
Bukan karena ada yang salah denganmu.
Bukan karena kau kurang baik.
Bukan karena kau tidak pantas dicintai.
Aku hanya tidak menemukan perasaan itu di dalam diriku.
Aku takut jika kita mencoba dan gagal, aku akan kehilangan sahabat yang selama ini berjalan di sisiku.
Dan lebih dari itu, aku takut memberikan harapan yang tak mampu kupenuhi.
Maka aku memilih kejujuran yang mungkin menyakitimu.
Hari-hari terus berjalan.
Namun kau tetap menjadi dirimu.
Tetap menjadi tempat pulang bagi banyak cerita yang tak pernah sempat kubagikan kepada orang lain.
Lucunya, kau adalah segala hal yang dulu kuinginkan dari orang lain.
Kau peka terhadap hal-hal kecil yang bahkan sering luput dari perhatianku sendiri.
Kau selalu tahu kapan aku sedang sedih meski aku berpura-pura baik-baik saja.
Kau selalu tahu kapan aku membutuhkan teman meski aku tak pernah meminta.
Kau adalah jawaban dari banyak doa yang pernah kupanjatkan.
Namun entah mengapa, kau tidak pernah menjadi jawaban bagi hatiku.
Bertahun-tahun aku mencoba memahami itu.
Mengapa seseorang yang begitu baik tak berhasil membuatku jatuh cinta?
Mengapa seseorang yang selalu ada justru tak pernah mampu menyalakan api yang sama di dalam dada?
Aku tak pernah menemukan jawabannya.
Mungkin memang tidak ada.
Mungkin hati adalah satu-satunya hal di dunia yang tak pernah bisa dipaksa menerima logika.
Aku masih mengingat hari ketika Bapak bertanya sebelum aku menikah.
"Dia tidak bisa jadi pertimbangan?"
Aku tahu Bapak menyukaimu.
Aku tahu banyak orang menganggap kau pilihan yang lebih baik.
Dan mungkin mereka tidak salah.
Tetapi waktu itu jawabanku tetap sama.
"Aku tidak mencintainya, Pak."
Namun mungkin itulah kalimat paling jujur yang pernah kuucapkan tentang kita.
Hari ini, setelah waktu berjalan begitu jauh, aku melihatmu telah menemukan kehidupanmu sendiri.
Aku melihatmu membangun rumahmu sendiri bersama seseorang yang kau pilih.
Dan anehnya, hatiku ikut lega.
Karena jika dulu aku tak mampu membalas perasaanmu, setidaknya hidup telah menghadiahkan seseorang yang bisa mencintaimu dengan cara yang pantas kau terima.
Mungkin kita memang tidak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih.
Mungkin peranmu dalam hidupku memang hanya sampai pada seorang sahabat yang mengajarkanku arti ketulusan.
Dan jika suatu hari nanti kita sama-sama menoleh ke belakang, aku berharap kau tahu satu hal.
Aku tidak pernah menolakmu karena kau kurang.
Aku menolakmu karena hatiku tidak mampu pergi ke tempat yang sama dengan langkahmu.
Dan setelah semua waktu yang berlalu, aku masih belum menemukan jawaban atas satu pertanyaan yang sama:
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu baik, begitu tulus, dan begitu setia...
Tidak pernah berhasil membuatku jatuh cinta?
Agustus - di bulan lahir kita.